[ppi] [ppiindia] Seperti Ayam Mati di Lumbung Padi

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**MEDIA INDONESIA
Minggu, 23 Oktober 2005



Seperti Ayam Mati di Lumbung Padi
Komaruddin Hidayat, Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


SEMASA masih belajar di sekolah dasar dulu, ada pelajaran menghafal dan 
mengarang dengan judul pepatah yang merupakan local wisdom, sebuah nasihat dan 
kebajikan khas Indonesia, salah satunya yang jadi judul tulisan ini. Bahwa 
Indonesia itu negeri yang kaya raya. Tetapi kalau rakyatnya malas dan bodoh, 
maka bagaikan ayam mati di lumbung padi, atau seperti semut mati di tumpukan 
gula. Pepatah itu kalimatnya pendek, namun sarat makna sehingga mudah dihafal, 
dan pesannya langsung menggugah perasaan. Sayang, rasanya anak-anak kita 
sekarang tidak akrab dengan warisan pepatah-pepatah lama, namun lebih hafal 
dengan bait-bait lagu pop serta jargon-jargon bahasa iklan yang miskin nilai 
pendidikan. Pelajaran mengarang telah diganti dengan menghafal rumus matematika 
untuk mengejar target nilai ujian nasional.

Saya sendiri bukan ahli ekonomi. Tetapi dengan melihat langsung nasib negara 
kita yang alamnya kaya raya, namun pemerintah dan rakyatnya miskin terjerat 
hutang, kesimpulannya sederhana saja; bahwa sejauh ini pemerintah gagal 
mengelola kekayaan alam serta gagal dalam menyejahterakan rakyatnya. 
Penyebabnya yang lebih tepat bukannya hanya bodoh dan malas, tetapi juga miskin 
moral. Sungguh tragis, di bumi yang demikian kaya raya setiap saat berita yang 
menonjol selalu saja seputar utang, berhantam gara-gara uang, suap dan sogok, 
pemutusan hubungan kerja, anak putus sekolah, dan semacamnya. Benar-benar kita 
bagaikan ayam kelaparan dan mati di lumbung padi.

Ada kisah singkat yang menarik direnungkan. Ada dua pemuda sedang duduk-duduk 
santai di tepi pantai. Keduanya menikmati indahnya lautan yang membiru dan 
diterpa cahaya matahari sore menjelang petang. Mereka tak habis-habisnya memuji 
keagungan dan kebesaran Allah. Mereka memuji laut yang luas dan warnanya yang 
biru berkilauan, serta kandungan mutiaranya yang termasyhur dan selalu dicari 
dari manusia, bahkan juga menjadi kebanggaan permaisuri raja. Mahasuci Allah 
yang telah menciptakan alam semesta ini!

Kekaguman, ketakjuban, dan pujian dua pemuda tentang lautan tadi rupanya 
didengar dua ekor ikan yang sedang berenang ke tepi pantai. Salah seekor di 
antara mereka berkata, "Wah, ternyata manusia memuji-muji pantai dan lautan. 
Mengapa kita tidak turut melihat, seperti apa indahnya lautan yang dipuji-puji 
manusia" Ikan lainnya menyahut, "Ya, kata manusia tadi lautan juga memiliki 
mutiara yang sangat indah dan mahal harganya, bahkan jadi kebanggaan permaisuri 
raja." Kedua ekor ikan tadi pun sepakat untuk meneruskan perjalanan dengan 
tujuan ingin menemukan dan menikmati indahnya dan luasnya lautan.

Demikianlah! Dua ekor ikan tadi terus saja berenang bermil-mil untuk menemukan 
lautan yang telah dipuji-puji manusia. Dari hari ke hari, dari minggu ke 
minggu, dari bulan ke bulan, bahkan tahunan, dua ekor ikan tadi merasa tidak 
menemukan lautan sehingga akhirnya mati.

Cerita dua ekor ikan yang mencari lautan tadi menjadi renungan dan pelajaran 
berharga bagi kita. Mungkinkah nasib kita seperti ikan tadi? Mereka 
sesungguhnya sudah di dalam pelukan lautan yang begitu luas, indah, dan nyaman, 
namun keduanya tidak mampu merasakan dan melihatnya. Begitu luas dan lapangnya 
lautan sehingga dia tidak pernah menolak aliran sungai dari manapun datangnya, 
entah bersih ataupun kotor airnya. Permukaan airnya ditawarkan pada matahari 
untuk memproses terjadinya penguapan sehingga tidak lagi asin rasanya, lalu 
dikirim ke darat melalui angin untuk menyuburkan bumi demi memenuhi kebutuhan 
manusia.

Begitu indah dan kayanya nusantara ini, tetapi kita tidak bisa mensyukuri. 
Tidak mampu menatap dengan hati jernih, pikiran cerdas dan tangan terampil 
sehingga rakyatnya jatuh miskin, para politisi dan pemimpinnya saling bersaing 
berebut kuasa dan harta, dan secara perlahan namun pasti negara semakin miskin 
seiring dengan kematian nurani dan akal sehat.

Tidak sekedar kemiskinan materi dan moralitas, jangan-jangan kita juga akan 
mengalami krisis spiritual yang menjadi ruh kehidupan itu sendiri. Seperti 
halnya ikan dan lautan, manusia hidup dalam jagat raya yang demikian luas dan 
penuh pesona serta selalu menyediakan apa yang kita butuhkan. Masihkah kita 
bertanya adakah dan di manakah Tuhan sebagaimana ikan akhirnya mati tanpa 
menemukan lautan? Akankah kita terus 'berenang' seperti ikan yang mencari 
lautan, lalu mati tanpa menemukan lautan yang kita cari? Kita memang bukan 
ikan. Kita adalah manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling 
sempurna di antara ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya.

Tuhan adalah Sang Pelukis Agung, alam semesta adalah kanvas dan hasil 
lukisan-Nya. Tuhan adalah Sang Penari Agung, gerak alam raya yang demikian 
akbar adalah bayangan tarian-Nya. Tuhan Maha Pengasih, semesta yang begitu 
memesona adalah belaian kasih-Nya pada manusia.

Atau mungkin saja manusia bagaikan kelelawar yang tidak bisa terbang siang 
karena matanya tidak mampu menatap gemerlap cahaya matahari? Atau mungkin mata 
hati kita yang tertutup. Ketika kita memulai pekerjaan dengan membaca bismillah 
al-Rahman al-Rahim, pada tahap awal bisa jadi kita maksudkan untuk memohon 
bimbingan dan rida-Nya agar yang kita lakukan mendatangkan keberhasilan dan 
keberkatan. Tetapi jika kita terus hayati lebih dalam lagi, bisa jadi kita akan 
sampai pada kesadaran bahwa apa kita berbuat atas nama Tuhan sehingga harus 
dipertanggungjawabkan pada-Nya.

Dan kalau kita masuk dan pasrah lebih dalam lagi pada Allah, kita sadar bahwa 
kita sesungguhnya tidak memiliki daya dan upaya, bahkan kita tidak memiliki 
diri kita sendiri sehingga sesungguhnya kita berbuat dan hidup ini sudah di 
dalam genggaman kekuasaan Allah. Tetapi mungkin sekali kita bagaikan ikan yang 
selamanya dalam pelukan lautan, tetapi tidak pernah menyadari. Bukankah salah 
satu sifat Allah adalah al-Muhit, yang Maha Melingkupi? Bisakah kita keluar 
dari pelukan kasih-Nya Allah bersabda; ke mana pun kau pergi dan memalingkan 
muka, tak ada yang kamu tatap kecuali wajah Allah.

Jangan sampai kemiskinan harta, moral, intelektual, dan spiritual melanda para 
pemimpin kita khususnya, agar nasib kita tidak seperti ayam mati di lumbung 
padi, atau semut di tumpukan gula, atau bagaikan ikan yang tidak sanggup 
menatap indahnya dan luasnya lautan.

Semoga di bulan Ramadan Allah membukakan hati dan pikiran kita untuk merenung 
dan mensyukuri anugerah-Nya berupa alam Indonesia yang indah dan kaya raya ini. 
****

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: