[ppi] [ppiindia] Seks Komersial, Antara Deru dan Debu
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 14 Aug 2006 10:26:34 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/14/11lapsus01.htm
Seks Komersial, Antara Deru dan Debu
MESKI sesekali hujan, musim kemarau tahun ini menyebabkan debu berterbangan ke
seluruh Kota Bandung dan sekitarnya. Di daerah pinggiran kota, seperti di
Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung, pencemaran udara diperparah oleh
beroperasinya pabrik-pabrik dan penambangan kapur di kawasan pegunungan
Masigit. Para pelancong dapat menderita sesak napas saat "menikmati" udara
perjalanan Padalarang-Cianjur yang tercemar mulai dari Situ Ciburuy, hingga ke
Kecamatan Cipatat. Belum lagi, pencemaran ditambah suara bising truk pengangkut
pasir dan bus-bus jurusan Jakarta-Bandung yang masih bertahan, meski sudah ada
jalan tol Jakarta-Bandung atau bus jurusan Sukabumi-Bandung.
DERETAN warung di Kp. Cibogo Desa Citatah Kec. Cipatat Kab. Bandung yang
sudah semakin sepi ditinggal pelanggan.*WAKHUDIN/"PR"
Di antara deru kendaraan bermotor dan pabrik pembakaran gamping di sekitar
perjalanan yang berkelak-kelok itu, kita dapat menyaksikan sekira 50 warung
dibangun dipinggir jalan di Kampung Cibogo. Di bagian depan warung tersebut,
tiang menancap setara dengan tingginya jalan raya. Namun di bagian belakang,
tiang-tiang warung tersebut terpancang setinggi antara 5 hingga 10 meter,
dengan kemiringan tanah lebih dari 50 derajat, dan menurun hingga ke jurang. Di
bagian lembah ini berdiri ratusan rumah penduduk.
Di antara warung-warung tersebut terdapat ruang yang cukup lebar di seberang
bagian utara yang dapat digunakan parkir lebih dari 20 kendaraan, juga
dikelilingi bangunan-bangunan warung sederhana. Di antara warung-warung itu
terdapat kafe, tempat karaoke, diskotek, dan pertunjukan musik dangdut. Di
seberang bagian selatan, meskipun merupakan bukit yang curam juga terdapat
sebuah bangunan yang digunakan sebagai ruang pertunjukan musik.
Setiap malam, tempat-tempat ini tidak terlalu ramai. Namun, Sabtu di akhir
bulan Juli, terlihat dua mobil dan 5 sepeda motor diparkir di depan pertunjukan
dangdut di tepi bukit di seberang bagian selatan. Para penumpangnya yang
sebagian besar kaum pria masuk ke dalam ruangan. Mereka disambut puluhan wanita
bergincu merah menyala yang rata-rata berusia antara 20 hingga 30 tahun.
Pakaian mereka pun tak ubahnya para artis dangdut yang sering kita saksikan di
televisi, setelan kaus lengan panjang dan celana panjang ketat dengan
warna-warna yang mencolok.
Masuk ruang hiburan tidak dikenakan charge. Para tamu hanya membayar minuman
yang mereka pesan dan sesekali membayar uang sawer untuk penyanyi saat
menyamperinya. Para tamu bisa ditemani perempuan yang juga berdandan seperti
penyanyi saat menikmati musik. Namun, mereka juga boleh menolak tawaran itu
jika sedang ingin menyendiri. Karena tawaran dilakukan berulang-ulang, tamu
biasanya tidak tahan untuk menikmati dangdut sendirian, sehingga akhirnya ia
turun berjoget ditemani perempuan yang sudah lama menunggunya.
Perempuan-perempuan yang menemani berjoget dan minum di tempat hiburan
tersebut, juga bisa diajak keluar ke mana pun tamu mau. Semua bergantung pada
"transaksi" yang disepakati. Mereka boleh dibawa ke hotel-hotel kecil di
sekitar Padalarang atau di Kota Bandung, Lembang, atau bahkan di tempat di
sekitar tempat hiburan tersebut. Namun, setiap tamu yang mengajak cewek Cibogo
ini dikenakan charge Rp 50.000,00 yang disebut dengan "uang cabut". Sebab,
setiap perempuan yang tidak lain adalah para pelacur ini memiliki induk semang
masing-masing sebagai mucikari.
Namun para tamu yang tidak mau membayar "uang cabut" tersebut, dapat
menuntaskan nafsunya di warung remang-remang yang mengelilingi tempat hiburan
di Cibogo ini. Warung-warung tersebut, selain menyediakan aneka macam minuman
juga terdapat satu atau dua kamar yang dapat disewakan untuk melakukan hubungan
seks short time. Harga sewanya antara Rp 20.000,00 hingga Rp 50.000,00. Namun,
perempuan yang diajak kencan biasanya mengenakan tarif Rp 50.000,00 kepada
tamunya.
Warung remang-remang ini sendiri biasanya menyediakan seorang hingga lima orang
wanita tuna susila (WTS). Para tamu yang hanya menginginkan layanan seks dapat
langsung menuju warung-warung ini, tanpa harus terlebih dahulu mencari WTS di
tempat hiburan. Meskipun namanya warung dan dibangun di atas jurang, namun di
dalamnya biasanya terdapat ruang yang lumayan lega. Ruang terbuka yang tak ada
meja kursi ini biasanya dapat digunakan untuk berjoget atau berdansa bersama
cewek kencannya. Sebab, di depan ruang lega yang membelakangi jalan raya
tersebut terdapat TV dilengkapi seperangkat CD dan DVD player yang dapat
mengiringi para tamunya melantai. Jangan membayangkan ruang ini mewah,
rata-rata lantainya terbuat dari papan dan TV yang mengiringi mereka berjoget
pun berukuruan paling besar 21 inci atau bahkan 14 inci.
TV dan alat-alat elektronik lainnya memang hanyalah asesoris tambahan, bisnis
para cewek penunggu warung yang utama adalah pelayanan seks secara komersial.
Sedangkan bisnis utama pemilik warung adalah minuman, baik beralkohol rendah
maupun yang berkohol tinggi. Para pekerja seks komersial (PSK) sendiri tidak
dikenai pungutan dari hasil melacurnya dengan tamu. Namun, mereka berkewajiban
memasarkan minuman dan rokok milik warung tersebut. Caranya, biasanya WTS
tersebut membeli minuman dan rokok untuk tamu dan untuk dirinya sendiri, tapi
semua biaya dikenakan kepada tamunya. Bahkan, para PSK tersebut seringkali
minum bir berulang-ulang dengan berbagai macam campuran, minuman berenergi
aneka macam merek, dengan demikian pemilik warung pun diuntungkan dengan
semakin banyak keluarnya uang dari tamu.
Namanya juga bisnis seks, ilegal dan haram jadah. Segala macam hal sering
dilakukan untuk mengeduk uang para tamu, tanpa harus memberikan pelayanan yang
sebanding dengan uang yang dikeluarkan tamu. Keterampilan para PSK memoroti
uang tamu adalah keterampilan yang melekat pada setiap PSK. Anehnya, para
lelaki hidung belang tak pernah kapok. Kaditu deui kaditu deui...! (Wakhudin/
"PR
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Seks Komersial, Antara Deru dan Debu