[ppi] [ppiindia] Sebuah Renungan Akhir Tahun

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **




> _____________________________
> Sebuah Renungan Akhir Tahun 
> 
> Seorang pejabat keluar dari sebuah hotel mewah. Ia baru saja menyelenggarakan 
> seminar dan malam amal untuk mencari dana bagi anak- anak miskin yang 
> berkeliaran di jalan. Ketika akan masuk ke mobil mewahnya, seorang anak 
> jalanan mendekatinya dan merengek, ''Pak, minta uang sekadarnya. Sudah dua 
> hari saya tidak makan.'' Pejabat itu terkejut dan melompat menjauhi anak itu. 
> ''Dasar anak keparat yang tak tahu diri!'' teriaknya. ''Tak tahukah kamu 
> bahwa sepanjang hari saya sudah bekerja sangat keras untukmu?
> 
> Pembaca yang budiman, kalau Anda ingin melakukan renungan di penghujung tahun 
> ini, saya anjurkan Anda untuk merenungkan satu hal saja: ''Seberapa besar 
> tingkat kepedulian Anda kepada sesama?'' Dari skala 1 (sangat buruk) sampai 
> dengan 5 (sangat baik), dimanakah posisi Anda? Jawabannya tak perlu Anda 
> kemukakan, tapi cukup disimpan untuk diri Anda sendiri.
> 
> Mengapa saya menganjurkan Anda melakukan hal ini? Ini tak lain untuk 
> kepentingan diri Anda sendiri. Selama Anda masih berkutat dengan diri 
> sendiri, selama itu pula jiwa Anda tak akan pernah tumbuh. Kita hanya akan 
> mengalami transformasi yang luar biasa begitu kita mulai memikirkan orang 
> lain. Seorang pengarang, Joseph Campbell, mengatakan, ''Pada saat kita 
> berhenti berpikir tentang diri kita sendiri, kita sebenarnya tengah mengalami 
> perubahan hati nurani yang sungguh heroik.''
> 
> Hal ini mudah diucapkan tetapi amat sulit dilakukan. Para politisi kita amat 
> royal melontarkan kata-kata ''demi kepentingan rakyat.'' 
> Seorang pejabat yang mengaku paling dekat dengan wong cilik kenyataannya 
> malah menyakiti hati rakyat dengan tanpa malu-malu menghadiahkan dirinya 
> sendiri rumah senilai 20 miliar. Para politisi lain juga tanpa malu -malu 
> berlomba-lomba meluncurkan buku biografi politik yang dipenuhi kata-kata 
> ''demi kepentingan rakyat.'' Buku- buku biografi semacam ini sebenarnya 
> merupakan ''pelecehan intelektual'' belaka. Kenyataannya, amat sulit bagi 
> kita menemukan kontribusi mereka bagi orang banyak.
> 
> Memikirkan orang lain memang sangat sulit dilakukan, apalagi di zaman 
> sekarang. Setiap hari kita disibukkan dengan pekerjaan yang tak 
> habis-habisnya. Namun sekadar memperhatikan diri Anda sendiri akan 
> menghasilkan kesulitan yang cukup serius dalam jangka panjang. 
> Anda akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan spiritual Anda. 
> Banyak orang yang beranggapan bahwa hal ini adalah kewajiban. Mereka salah 
> besar! Memperhatikan orang lain adalah kebutuhan Anda untuk menikmati hidup 
> yang penuh makna. Memperhatikan orang lain adalah cara terbaik untuk mencapai 
> hakikat kemanusiaan yang sejati.
> 
> Seorang filsuf terkemuka pernah mengatakan, ''Manusia dilahirkan dalam 
> kondisi telanjang, dan ketika meninggal ia dibungkus kain kafan. Apakah hanya 
> itu keuntungan yang ia dapatkan sepanjang hidupnya?'' Sayangnya dunia kita 
> sekarang telah begitu materialistisnya, sehingga banyak orang beranggapan 
> bahwa perhatian tersebut bisa digantikan dengan uang. Padahal walaupun uang 
> memang penting, ia tak akan pernah dapat menggantikan perhatian, pengertian, 
> kehadiran dan kasih sayang.
> 
> Betapa banyak contoh yang bisa kita ambil dari kehidupan kita sehari- hari. 
> Banyak anak yang tumbuh tanpa perhatian yang semestinya dari orang tua 
> mereka. Banyak orang tua yang berdalih bahwa quality time jauh lebih penting 
> ketimbang quantity time. Padahal, kasih sayang dan pengertian hanya akan 
> terbina melalui proses yang perlahan-lahan dan membutuhkan banyak waktu. 
> Betapa banyak para profesional yang cukup puas dengan memberikan sejumlah 
> uang kepada orang tua mereka tanpa pernah mau tahu mengenai keadaan mereka 
> yang sesungguhnya. 
> Orang-orang seperti ini telah salah kaprah dalam memahami hidup seolah-olah 
> segala sesuatunya bisa dibeli dengan uang. 
> 
> Kahlil Gibran pernah mengatakan, ''Bila engkau memberi dari hartamu, tiada 
> banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian 
> yang penuh arti.'' Memberi tidak harus bernuansa materi. Bahkan memberikan 
> perhatian sebenarnya jauh lebih be> rarti ketimbang memberikan materi yang 
> sifatnya amat terbatas.
> 
> Cara menunjukkan kepedulian kita adalah dengan mendengarkan. Seorang anak 
> pernah mengungkapkannya dengan sangat baik, ''Di masa pertumbuhanku, ayahku 
> selalu menghentikan apa yang sedang dia kerjakan dan mendengarkanku saat aku 
> begitu bersemangat menceritakan apa yang telah aku alami seharian.'' 
> Mendengarkan dengan benar adalah melupakan diri sendiri dan memberikan 
> perhatian lahir dan batin yang tulus. Dengan mendengarkan kita dapat 
> menangkap bukan hanya apa yang dikatakan tetapi juga apa yang dirasakan.
> 
> Mendengarkan amat penting untuk bisa memberikan sesuatu yang benar- benar 
> dibutuhkan orang lain, bahkan sekalipun mereka tidak mengatakannya. Kahlil 
> Gibran pernah mengatakan, ''Adalah baik untuk memberi ketika diminta, tapi 
> jauh lebih baik lagi jika memberi tanpa harus diminta.''
> 
> Sumber: Sebuah Renungan Akhir Tahun oleh Arvan Pradiansyah, direktur 
> pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) dan pengarang buku 
> Life is Beautiful 
> 
>  
> 
> 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: