[ppi] [ppiindia] Sebuah Renungan Akhir Tahun
- From: "Listy" <listy@xxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "[ppiindia] (E-mail)" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Fri, 31 Dec 2004 11:19:56 +0700
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
> _____________________________
> Sebuah Renungan Akhir Tahun
>
> Seorang pejabat keluar dari sebuah hotel mewah. Ia baru saja menyelenggarakan
> seminar dan malam amal untuk mencari dana bagi anak- anak miskin yang
> berkeliaran di jalan. Ketika akan masuk ke mobil mewahnya, seorang anak
> jalanan mendekatinya dan merengek, ''Pak, minta uang sekadarnya. Sudah dua
> hari saya tidak makan.'' Pejabat itu terkejut dan melompat menjauhi anak itu.
> ''Dasar anak keparat yang tak tahu diri!'' teriaknya. ''Tak tahukah kamu
> bahwa sepanjang hari saya sudah bekerja sangat keras untukmu?
>
> Pembaca yang budiman, kalau Anda ingin melakukan renungan di penghujung tahun
> ini, saya anjurkan Anda untuk merenungkan satu hal saja: ''Seberapa besar
> tingkat kepedulian Anda kepada sesama?'' Dari skala 1 (sangat buruk) sampai
> dengan 5 (sangat baik), dimanakah posisi Anda? Jawabannya tak perlu Anda
> kemukakan, tapi cukup disimpan untuk diri Anda sendiri.
>
> Mengapa saya menganjurkan Anda melakukan hal ini? Ini tak lain untuk
> kepentingan diri Anda sendiri. Selama Anda masih berkutat dengan diri
> sendiri, selama itu pula jiwa Anda tak akan pernah tumbuh. Kita hanya akan
> mengalami transformasi yang luar biasa begitu kita mulai memikirkan orang
> lain. Seorang pengarang, Joseph Campbell, mengatakan, ''Pada saat kita
> berhenti berpikir tentang diri kita sendiri, kita sebenarnya tengah mengalami
> perubahan hati nurani yang sungguh heroik.''
>
> Hal ini mudah diucapkan tetapi amat sulit dilakukan. Para politisi kita amat
> royal melontarkan kata-kata ''demi kepentingan rakyat.''
> Seorang pejabat yang mengaku paling dekat dengan wong cilik kenyataannya
> malah menyakiti hati rakyat dengan tanpa malu-malu menghadiahkan dirinya
> sendiri rumah senilai 20 miliar. Para politisi lain juga tanpa malu -malu
> berlomba-lomba meluncurkan buku biografi politik yang dipenuhi kata-kata
> ''demi kepentingan rakyat.'' Buku- buku biografi semacam ini sebenarnya
> merupakan ''pelecehan intelektual'' belaka. Kenyataannya, amat sulit bagi
> kita menemukan kontribusi mereka bagi orang banyak.
>
> Memikirkan orang lain memang sangat sulit dilakukan, apalagi di zaman
> sekarang. Setiap hari kita disibukkan dengan pekerjaan yang tak
> habis-habisnya. Namun sekadar memperhatikan diri Anda sendiri akan
> menghasilkan kesulitan yang cukup serius dalam jangka panjang.
> Anda akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan spiritual Anda.
> Banyak orang yang beranggapan bahwa hal ini adalah kewajiban. Mereka salah
> besar! Memperhatikan orang lain adalah kebutuhan Anda untuk menikmati hidup
> yang penuh makna. Memperhatikan orang lain adalah cara terbaik untuk mencapai
> hakikat kemanusiaan yang sejati.
>
> Seorang filsuf terkemuka pernah mengatakan, ''Manusia dilahirkan dalam
> kondisi telanjang, dan ketika meninggal ia dibungkus kain kafan. Apakah hanya
> itu keuntungan yang ia dapatkan sepanjang hidupnya?'' Sayangnya dunia kita
> sekarang telah begitu materialistisnya, sehingga banyak orang beranggapan
> bahwa perhatian tersebut bisa digantikan dengan uang. Padahal walaupun uang
> memang penting, ia tak akan pernah dapat menggantikan perhatian, pengertian,
> kehadiran dan kasih sayang.
>
> Betapa banyak contoh yang bisa kita ambil dari kehidupan kita sehari- hari.
> Banyak anak yang tumbuh tanpa perhatian yang semestinya dari orang tua
> mereka. Banyak orang tua yang berdalih bahwa quality time jauh lebih penting
> ketimbang quantity time. Padahal, kasih sayang dan pengertian hanya akan
> terbina melalui proses yang perlahan-lahan dan membutuhkan banyak waktu.
> Betapa banyak para profesional yang cukup puas dengan memberikan sejumlah
> uang kepada orang tua mereka tanpa pernah mau tahu mengenai keadaan mereka
> yang sesungguhnya.
> Orang-orang seperti ini telah salah kaprah dalam memahami hidup seolah-olah
> segala sesuatunya bisa dibeli dengan uang.
>
> Kahlil Gibran pernah mengatakan, ''Bila engkau memberi dari hartamu, tiada
> banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian
> yang penuh arti.'' Memberi tidak harus bernuansa materi. Bahkan memberikan
> perhatian sebenarnya jauh lebih be> rarti ketimbang memberikan materi yang
> sifatnya amat terbatas.
>
> Cara menunjukkan kepedulian kita adalah dengan mendengarkan. Seorang anak
> pernah mengungkapkannya dengan sangat baik, ''Di masa pertumbuhanku, ayahku
> selalu menghentikan apa yang sedang dia kerjakan dan mendengarkanku saat aku
> begitu bersemangat menceritakan apa yang telah aku alami seharian.''
> Mendengarkan dengan benar adalah melupakan diri sendiri dan memberikan
> perhatian lahir dan batin yang tulus. Dengan mendengarkan kita dapat
> menangkap bukan hanya apa yang dikatakan tetapi juga apa yang dirasakan.
>
> Mendengarkan amat penting untuk bisa memberikan sesuatu yang benar- benar
> dibutuhkan orang lain, bahkan sekalipun mereka tidak mengatakannya. Kahlil
> Gibran pernah mengatakan, ''Adalah baik untuk memberi ketika diminta, tapi
> jauh lebih baik lagi jika memberi tanpa harus diminta.''
>
> Sumber: Sebuah Renungan Akhir Tahun oleh Arvan Pradiansyah, direktur
> pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) dan pengarang buku
> Life is Beautiful
>
>
>
>
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Sebuah Renungan Akhir Tahun