[ppi] [ppiindia] SURAT KEPADA ORANG SEKAMPUNG:PROSES DESIVILISASI?! [1]A
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Mon, 31 Jan 2005 13:14:36 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
SURAT KEPADA ORANG SEKAMPUNG
PROSES DESIVILISASI?! [1]
Harian nasional "Suara Pembaruan, Jakarta, tanggal 29 Januari 2005 menurunkan
sebuah berita berjudul "Nasib Budaya Dayak Ngaju Mencemaskan". "Saat ini tidak
cukup banyak warga Dayak Ngaju yang mengerti budayanya. Generasi tua yang
memahami budaya Dayak Ngaju makin lama makin menyusut. Pada saat yang sama
minat generasi muda untuk memahami budaya daerahnya juga makin meredup" tulis
Suara Pembaruan yang mendasarkan evaluasinya atas wawancara dengan dosen
antropologi agama, Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan Evangelis, Marko Mahin di
Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Lebih lanjut dalam wawancara tersebut
Marko Mahin menyebutkan bahwa menurut pengamatannya, generasi muda Dayak Ngaju
yang berada di kota-kota besar di Kalimantan, apalagi di luar pulau Kalimantan
tidak mempunyai pengetahuan tentang budayanya.
"Kenyataan tersebut tampaknya menimpa pula saudara kami dari Dayak lainnya.Yang
menyedihkan, situasi menjadi semakin runyam karena kurangnya penerbitan apalagi
penerbitan yang menggunakan bahasa lokal,", kata salah seorang pendiri Lembaga
Studi Dayak 21 yang berdarah Dayak Ngaju itu.
Menjawab pertanyaan, Marko menilai pemerintah hanya sibuk dengan urusan
pembangunan fisik bangunan sekolah dan upaya meluluskan siswa sekolah. Namun
program tersebut gagal mengenalkan mereka pada budayanya sendiri. Ketiadaan
program dan konsep ditambah oleh "kurangnya penerbitan apalagi penerbitan yang
menggunakan bahasa lokal" dilihat oleh Marko Mahin sebagai sebab-sebab dari
"nasib budaya Dayak Ngaju [menjadi] mencemaskan". Konstatasi keadaan yang
dikemukakan oleh Marko Mahin secara lain diketengahkan juga Nurchalis Madjid
dari Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3), Nurhalis Madjid.
Menurutnya, masalah kebudayaan daerah kurang mendapat perhatian dari dunia
pendidikan.Kandungan lokal yang menjadi jargon dunia pendidikan baru menyentuh
masalah bahasa lokal sementara kajian budaya belum menjadi prioritas utama.
"Sulit sekali menemukan jurnal kebudayaan di Kalsel. Coba Anda ke kampus-kampus
dan cari jurnal kebudayaan, pasti sangat sulit menemukannya karena memang t
idak ada," keluhnya. Padahal kampus bisa dibilang sebagai salah satu pusat
kebudayaan dan orang-orang bersekolah setingkat akademi, merupakan lapisan
masyarakat tersendiri yang laiknya peka terhadap perkembangan dan punya
wawasan.
Inti permasalahan yang diajukan oleh Marko Mahin dalam pembicaraan dengan
wartawan Suara Pembaruan dan juga diketengahkan oleh Nurchalis Madjid, di atas
menyangkut masalah: [1]. perlu atau tidak kita mengenal budaya diri sendiri;
[2]. mengapa budaya lokal menghadapi "nasib" yang "mencemaskan".
[1]Budaya Lokal Sebagai Hakekat Diri.
Pada berbagai kesempatan, baik melalui tulisan maupun penuturan pikiran lisan
di seminar, konfrensi, lokakarya ataupun di ruang-ruang kuliah, pertanyaan Sun
Tzu: Siapa dirimu?" sering dan berulang-ulang saya ketengahkan. Di tengah
santernya pembicaraan tentang globalisasi, ketika orang-orang sampai di
daerah-daerah merasa diri sudah menjadi manusia global, pertanyaan ini saya
kira makin mendesak pentingnya. Apakah manusia global itu? Apakah globalisasi
itu? Apakah globalisasi memang tidak memerlukan lagi budaya diri, menghapuskan
batas nasionalitas? Apakah globalisasi sama dengan universalitas?
Pengamatan saya selama bekerja beberapa tahun di Kalimantan Tengah dan
mencermati berbagai pendapat melalui tulisan-tulisan serta seminar-seminar
mulai dari tingkat lokal hingga tingkat nasional di Indonesia, meninggalkan
kesan bahwa globalisasi umumnya ditafsirkan sebagai memudarnya nasionalitas,
negara dan lokalitas. Globalisasi secara nilai dipandang identik dengan
universilitas dan dianggap hidup di era "globalisasi" secara otomatis seseorang
menjadi manusia global dengan nilai-nilai universal. Sedangkan saya memandang
bahwa globalisasi tidak lain dari perkembangan mutakhir dari kapitalisme
setelah melampaui tingkat imperialisme fisik yang dipandang oleh Lenin sebagai
"tingkat tertinggi kapitalisme". Tanpa mengurangi jenialitas Lenin, tapi secara
teori globalisasi membuat perumusan Lenin tertinggal perkembangan seperti
halnya Karl Marx dibatasi oleh daya manusia untuk meramal perkembangan ketika
ia berbicara tentang kapitalisme. Maka menabikan Marx dan Lenin adalah suatu
kekeliruan, walau pun dari pemikiran-pemikiran mereka terdapat hal-hal yang
masih relevan. Penabian seorang anak manusia bertentangan dengan hukum
dialektika dan secara secara sukarela mengurung pikiran diri sehingga
menumpulkan daya analisa serta merabunkan mata, membiarkan diri yang hidup hari
ini dengan patokan-patokan kadaluwarsa. Padahal aktualitas tidak memerlukan
nabi yang memenjarakan spiritualitas kita.
Di Indonesia, penafsiran lain tentang globalisasi paling utama ditawarkan oleh
majalah yang diterbitkan oleh INSIST Yogyakarta di bawah pimpinan DR. Mansour
Fakih alm. sedangkan di tingkat dunia peranan organisasi ATTACK dan Forum
Sosial yang bermula dari Porto Allegre dengan slogan "Dunia tidak untuk
diperdagangkan", dan Dunia lain mungkin dibangun" patut dicatat. ATTACK
mengajukan konsep globalisasi alternatif yang bertolak belakang dengan
globalisasi kapitalisme yang berintikan perbudakan global di mana Bank Dunia
dan IMF berdominasi.
Perbudakan global memerlukan lenyapnya atau melemahnya lokalitas, nasionalitas
dan negara. Secara teori kepentingan ini ditopang oleh teori "the end of
history" F.Fukuyama, "benturan budaya" S. Huntington dan paling akhir
diteoritisir oleh G.Bush.Jr. dengan "poros kejahatan dan kebaikan", serta
"membebaskan bumi dari otoritarianisme".
Muncul berkembangnya separatisme, "Nasib Budaya Dayak Ngaju Mencemaskan" yang
mencemaskan, saya kira, tidak terlepas dari perkembangan dunia dan yang
diteoritisasikan oleh para ilmuwan sosial -- karena kepentingan memerlukan
pengesahan "ilmiah" dan pengesahan-pengesahan lainnya. Jika teori dan dasar
pembenaran lainnya tidak berfungsi efektif, maka tindak kekerasan paling brutal
sekalipun harus melikwidasi jutaan nyawa pun jadi dipandang "sah". Agresi dan
intervensi atas nama "demoratisasi" dan "Hak Asasi Manusia" [HAM], atas nama
sivilisasi, "misi suci" dilancarkan. Kekuasaan politik lokal hanyalah alat
pelaksana pencapaian kepentingan. Hal ini bisa dilihat dari sejarah komunitas
Dayak Kalteng sendiri sebagai salah satu misal.
Apa yang diperlihatkan oleh sejarah komunitas Dayak Kalteng?
Paris,Januari 2005.
------------------
JJ.KUSNI
[Bersambung....]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] SURAT KEPADA ORANG SEKAMPUNG:PROSES DESIVILISASI?! [1]A