[ppi] [ppiindia] SURAT KEPADA ORANG SEKAMPUNG:PROSES DESIVILISASI?! [1]A

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

SURAT KEPADA ORANG SEKAMPUNG


PROSES DESIVILISASI?! [1]


Harian nasional "Suara Pembaruan, Jakarta, tanggal 29 Januari 2005 menurunkan 
sebuah berita berjudul "Nasib Budaya Dayak Ngaju Mencemaskan". "Saat ini tidak 
cukup banyak warga Dayak Ngaju yang mengerti budayanya. Generasi tua yang 
memahami budaya Dayak Ngaju makin lama makin menyusut. Pada saat yang sama 
minat generasi muda untuk memahami budaya daerahnya juga makin meredup" tulis 
Suara Pembaruan yang mendasarkan evaluasinya atas wawancara dengan dosen 
antropologi agama, Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan Evangelis, Marko Mahin di 
Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Lebih lanjut dalam wawancara tersebut 
Marko Mahin menyebutkan bahwa menurut pengamatannya, generasi muda Dayak Ngaju 
yang berada di kota-kota besar di Kalimantan, apalagi di luar pulau Kalimantan 
tidak mempunyai pengetahuan tentang budayanya.


"Kenyataan tersebut tampaknya menimpa pula saudara kami dari Dayak lainnya.Yang 
menyedihkan, situasi menjadi semakin runyam karena kurangnya penerbitan apalagi 
penerbitan yang menggunakan bahasa lokal,", kata salah seorang pendiri Lembaga 
Studi Dayak 21 yang berdarah Dayak Ngaju itu.


Menjawab pertanyaan, Marko menilai pemerintah hanya sibuk dengan urusan 
pembangunan fisik bangunan sekolah dan upaya meluluskan siswa sekolah. Namun 
program tersebut gagal mengenalkan mereka pada budayanya sendiri. Ketiadaan 
program dan konsep ditambah oleh "kurangnya penerbitan apalagi penerbitan yang 
menggunakan bahasa lokal" dilihat oleh Marko Mahin sebagai sebab-sebab dari 
"nasib budaya Dayak Ngaju [menjadi] mencemaskan". Konstatasi keadaan yang 
dikemukakan oleh Marko Mahin secara lain diketengahkan juga Nurchalis Madjid 
dari  Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3), Nurhalis Madjid. 
Menurutnya, masalah kebudayaan daerah kurang mendapat perhatian dari dunia 
pendidikan.Kandungan lokal yang menjadi jargon dunia pendidikan baru menyentuh 
masalah bahasa lokal sementara kajian budaya belum menjadi prioritas utama. 
"Sulit sekali menemukan jurnal kebudayaan di Kalsel. Coba Anda ke kampus-kampus 
dan cari jurnal kebudayaan, pasti sangat sulit menemukannya karena memang t
 idak ada," keluhnya. Padahal kampus bisa dibilang sebagai salah satu pusat 
kebudayaan dan orang-orang bersekolah setingkat akademi, merupakan lapisan 
masyarakat tersendiri yang laiknya peka terhadap perkembangan dan punya 
wawasan. 


Inti permasalahan yang diajukan oleh Marko Mahin dalam pembicaraan dengan 
wartawan Suara Pembaruan dan juga diketengahkan oleh Nurchalis Madjid, di atas 
menyangkut masalah: [1]. perlu atau tidak kita mengenal budaya diri sendiri; 
[2]. mengapa budaya lokal menghadapi "nasib" yang "mencemaskan".


[1]Budaya Lokal Sebagai Hakekat Diri. 

Pada berbagai kesempatan, baik melalui tulisan maupun penuturan pikiran lisan 
di seminar, konfrensi, lokakarya ataupun di ruang-ruang kuliah, pertanyaan Sun 
Tzu: Siapa dirimu?" sering dan berulang-ulang saya ketengahkan. Di tengah 
santernya pembicaraan tentang globalisasi, ketika orang-orang sampai di 
daerah-daerah merasa diri sudah menjadi manusia global, pertanyaan ini saya 
kira makin mendesak pentingnya. Apakah manusia global itu? Apakah globalisasi 
itu? Apakah globalisasi memang tidak memerlukan lagi budaya diri, menghapuskan 
batas nasionalitas? Apakah globalisasi sama dengan universalitas?

Pengamatan saya selama bekerja beberapa tahun di Kalimantan Tengah dan 
mencermati berbagai pendapat melalui tulisan-tulisan serta seminar-seminar 
mulai dari tingkat lokal hingga tingkat nasional di Indonesia, meninggalkan 
kesan bahwa globalisasi umumnya ditafsirkan sebagai memudarnya nasionalitas, 
negara dan lokalitas. Globalisasi secara nilai dipandang identik dengan 
universilitas dan dianggap hidup di era "globalisasi" secara otomatis seseorang 
menjadi manusia global dengan nilai-nilai universal. Sedangkan saya memandang 
bahwa globalisasi tidak lain dari perkembangan mutakhir dari kapitalisme 
setelah melampaui tingkat imperialisme fisik yang dipandang oleh Lenin sebagai 
"tingkat tertinggi kapitalisme". Tanpa mengurangi jenialitas Lenin, tapi secara 
teori globalisasi membuat perumusan Lenin tertinggal perkembangan seperti 
halnya Karl Marx dibatasi oleh daya manusia untuk meramal perkembangan ketika 
ia  berbicara tentang kapitalisme. Maka menabikan Marx dan Lenin adalah suatu
  kekeliruan, walau pun dari pemikiran-pemikiran mereka terdapat hal-hal yang 
masih relevan. Penabian seorang anak manusia bertentangan dengan hukum 
dialektika dan secara secara sukarela mengurung pikiran diri sehingga 
menumpulkan daya analisa serta merabunkan mata, membiarkan diri yang hidup hari 
ini dengan patokan-patokan kadaluwarsa. Padahal aktualitas tidak memerlukan 
nabi yang memenjarakan spiritualitas kita.


Di Indonesia, penafsiran lain tentang globalisasi paling utama ditawarkan oleh 
majalah yang diterbitkan oleh INSIST Yogyakarta di bawah pimpinan DR. Mansour 
Fakih alm. sedangkan di tingkat dunia  peranan organisasi ATTACK dan Forum 
Sosial yang bermula dari Porto Allegre dengan slogan "Dunia tidak untuk 
diperdagangkan", dan Dunia lain mungkin dibangun" patut dicatat. ATTACK 
mengajukan konsep globalisasi alternatif yang bertolak belakang dengan 
globalisasi kapitalisme yang berintikan perbudakan global di mana Bank Dunia 
dan IMF berdominasi.  


Perbudakan global memerlukan lenyapnya atau melemahnya lokalitas, nasionalitas 
dan negara. Secara teori kepentingan ini ditopang oleh teori "the end of 
history" F.Fukuyama, "benturan budaya" S. Huntington dan paling akhir 
diteoritisir oleh G.Bush.Jr. dengan "poros kejahatan dan kebaikan", serta 
"membebaskan bumi dari otoritarianisme". 


Muncul berkembangnya separatisme, "Nasib Budaya Dayak Ngaju Mencemaskan" yang 
mencemaskan, saya kira, tidak terlepas dari perkembangan dunia dan yang 
diteoritisasikan oleh para ilmuwan sosial -- karena kepentingan memerlukan 
pengesahan "ilmiah" dan pengesahan-pengesahan lainnya. Jika teori dan dasar 
pembenaran lainnya tidak berfungsi efektif, maka tindak kekerasan paling brutal 
sekalipun harus melikwidasi jutaan nyawa pun jadi dipandang "sah". Agresi dan 
intervensi atas nama "demoratisasi" dan "Hak Asasi Manusia" [HAM], atas nama 
sivilisasi, "misi suci" dilancarkan.  Kekuasaan politik lokal hanyalah alat 
pelaksana pencapaian kepentingan. Hal ini bisa dilihat dari sejarah komunitas 
Dayak Kalteng sendiri sebagai salah satu misal.


Apa yang diperlihatkan oleh sejarah komunitas Dayak Kalteng?


Paris,Januari 2005.
------------------
JJ.KUSNI


[Bersambung....]

 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: