[ppi] [ppiindia] SURAT KEMBANG KEMUNING: "HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [22]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sun, 31 Oct 2004 14:03:49 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
SURAT KEMBANG KEMUNING:
"HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [22].
Menjelang akhir laporan dan komentar ini, aku ingin kembali menyinggung soa=
l filem tentang Pramoedya A.Toer dan Agam Wispi yang diputar seusai Madame =
Rudi Wester, Penasehat Urusan Kebudayaan Pada Kedubes Kerajaan Belanda untu=
k Paris, mengucapkan kata pembukaan Hari Sastra. Di sini yang ingin kusingg=
ung kembali terutama adalah filem dokumenter biografis tentang Pram yang di=
produksi oleh Yayasan Lontar Jakarta dan dan disudradarai oleh Srikaton. Ba=
giku filem yang dibintangi oleh Pram sendiri ini sangat mengesankan. Di fil=
em dokumenter biografis ini nampak Pram sangat mengkhayati segala kata-kata=
dan gerak-gerik tubuhnya, mimiknya, katakanlah "akting"nya sangat ekpresif=
. Barangkali Pram akan menyebutku bercanda jika ia membaca tulisan ini kala=
u kukatakan bahwa Pram lalai mengembangkan potensinya sebagai aktor. Akting=
Pram tidak kurang ekspresif dari Rendra jika sedang berada di panggung. B=
arangkali di sini pulalah terdapat ketajaman dan ketelitian Srikaton sebag=
ai sutradara serta John McGlynn sebagai pemburu bakat.=20
Aku mendengar Oei Haidjoen [OHD] dan teman-teman dari Jaringan Kerja Budaya=
[cq. Hilmar Farid] memang sedang merencanakan penulis biografi Pram. Tentu=
saja penulisan biografi Pram sangat penting, lebih-lebih Pram sendiri tela=
h memberikan sokongan kuat atas prakarsa ini, bahkan kudengar prakarsa ini =
justru datang dari Pram sendiri.=20
Pram adalah penulis yang melintasi sekian zaman dan angkatan dalam sejarah =
sastra Indonesia -- bagian dari sejarah Indonesia sendiri. Hanya dalam per=
bandingan, apalagi dengan kapasitas minim orang seperti aku -- melihat sebu=
ah filem lebih gampang dicerna dibandingkan dengan membaca buku [tanpa meng=
urangi nilai buku!].Melalui filem, berbagai unsur pancaindra digunakan sehi=
ngga dari segi ilmu komunikasi mempunyai keunggulan tersendiri, beda dengan=
jika membaca sebuah buku yang terutama menggunakan indra mata. Buku dan fi=
lem untuk dokumentasi [dengan segala fungsi dokumentasi] saling melengkapi.=
Aku sangat berharap John McGlynn dan "crew" Lontar-nya melanjutkan kegiata=
n membuat filem-filem dokumenter tentang tokoh-tokoh sastra-seni dari kala=
ngan mana pun. Aku katakan dari "kalangan mana pun" karena Indonesia bahka=
n kehidupan ini sendiri adalah kemajemukan. Mengingkari kemajemukan tidak a=
kan mungkin mencerminkan keutuhan sejarah dan hidup. Indonesia bukanlah han=
ya yang "kiri", "tengah" dan "kanan", tapi adalah semuanya. Aku melihat kei=
ndahan dalam pengertian tanggap zaman dan aspiratif pada ungkapan "bhinneka=
". Penemuan "bhinneka" kukira merupakan kemampuan anak negeri "zamrud khatu=
listiwa" dalam menyimpulkan pengalaman anak manusia melalui pengalaman hidu=
p di kampungnya bahwa "kemanusiaan itu tunggal" [istilah Paul Ricoeur] dan =
kebudayaan itu "bhinneka". Kongkretnya aku usulkan ada filem dokumenter ten=
tang Arief Budiman, Arifin C. Noer, Rendra, Goenawan Mohamad, Oei Hai Djeon=
, dan lain-lain...
Adanya perumusan "bhinneka" ini juga memperlihatkan bahwa ras dan warna kul=
it bentuk hidung bukan pertanda keunggulan. Kesimpulan-kesimpulan bijak, da=
lam dan universal beginilah yang dirumuskan dalam pepatah-petitih tetua ana=
k negeri "zamrud mutiara". Sehingga hanya mendewakan Barat dan "Yunani Kuno=
" jika menggunakan istilah Mao Zedong, mengabaikan akar kukira tidak lain d=
ari suatu kecupetan anak negeri yang hilang jati diri.
Justru adanya jati diri yang diungkapkan dalam bentuk artistik ekspresif ol=
eh Pram sang aktor inilah yang membuat filem dokumenter biografis tentang P=
ram sangat mengesankan. Melalui riwayat Pram yang dituturkan melalui filem =
produksi Yayasan Lontar, aku melihat kehidupan anak negeri yang sekarang pe=
naka perahu diombang-ambingkan segala ancaman, tapi menolak menyerah. Ingin=
memperlihatkan bahwa manusia tidak terkalahkan . Riwayat Pram sebagai lamb=
ang memperlihatkan bahwa kepapaaan tidaklah fatal. Pram memperlihatka, tida=
k gampang dikalahkan, bahwa "langit tidak akan runtuh" dan jika langit men=
dung tidak berarti "matahari harapan telah remuk berkeping-keping" bagaikan=
meteor jatuh. Manusia di mana pun tidak gampang dikalahkan. Seperti maanus=
ia Dayak mengatakan anak manusia adalah "rengan tingang nyanak jata" [anak =
enggang putera-puteri naga], mampu membuat kehidupan dari "besi tenggelam m=
enjadi besi timbul" [dari sanaman leteng menjadi sanaman lampang]. Konsep-k=
onsep manusiawi universal Dayak inilah yang kudengar kembali ketika menden=
gar pendapat-pendapat dan pengalaman Pram melalui filem produksi Yayasan Lo=
ntar disutradarai oleh Srikaton. Apa yang dikatakan Pram bukan hanya sikap =
seorang pengarang, tapi mengandung sesuatu yang hakiki. "Kalau takut jangan=
jadi pengarang", ujar Pram. Pendapat ini juga menjadi pendapat dan sikap L=
u Sin dalam pesan kepada anak tunggalnya: "Kalau takut gila jangan jadi pen=
garang". Dan dalam budaya Dayak semangat ini terjabar dalam konsep "rengan=
tingang nyanak jata", "isen mulang", "lahap", "manakir petak", "lawung bah=
andang" [ikat kepala merah].
Dari pendapat dan sikap Pram serta budaya Dayak yang mengasuh masa bocahku,=
aku hanya bisa tersenyum tapi sekaligus sedih membaca pendapat bahwa "disk=
ontuinitas sejarah" yang sama dengan "kehilangan akar" tidak menjadi perso=
alan bagi bangsa ini. Dalam ilmu sejarah sikap begini disebut sebagai "akr=
onologis" yang sangat ditentang oleh aliran Annales, suatu aliran yang mema=
ndang arti penting kesinambanungan bahwa masa lampau, hari ini dan hari dep=
an bukanlah pulau-pulau terpencil tanpa jembatan penghubung. "Diskontuinit=
as sejarah" kukira sama dengan sikap takut melihat wajah diri yang bopeng, =
takut pada kebenaran lalu ingin melupakan masa lalu serta kejahatan yang pe=
rnah ia lakukan. Padahal berbuat salah adalah suatu hak asalkan kita mau me=
mperbaiki kesalahan karena mengkoreksi diri pun adalah suatu hak. Karena it=
u sering dikatakan bahwa "kesalahan adalah guru yang baik". Dari segi lain =
membenarkan "dikontinuitas sejarah" sama dengan takut bertanggungjawab, pad=
ahal sikap tidak bertanggungjawab hanya menambah jumlah kesalahan seperti o=
rang "lempar batu sembunyi tangan". Sama halnya dengan seorang pembunuh ata=
u pemerkosa tapi takut dan tidak mau mempertanggungjawabkan tindakannya, ma=
lah mau tampil sebagai seorang "hero", pahlawan. Jika pahlawan, maka manusi=
a begini tidak lain pahlawan kepengecutan. Sedangkan Pram yang kuanggap seb=
agai lambang pikiran dan perasaan anak negeri "zamrud khatulistiwa" mengata=
kan "sejarah adalah rumah tempatmu mengembara".Dari segi dialektika Hegel, =
tanpa usah menyebut Karl Marx , serta hukum saling hubungan, perubahan kuan=
titas menjadi kualitas, membenarkan "diskonkutinuitas sejarah" juga tidak b=
isa dipertahankan. Jika demikian apa arti pembenaran "diskonutinuitas sejar=
ah" kecuali sikap ahistoris dan anti ilmu serta anti realita? Adakaah arti =
lain sikap membenarkan "diskontinuitas sejarah" selain sikap seorang pengec=
ut yang takut pada diri sendiri dan takut melihat borok di wajah diri? Indo=
nesia dan umat manusia tidak memerlukan manusia dengan sikap tanpa tangungj=
awab begini, ketika tetua kita mengajarkan "tangan mencencang bahu memikul"=
?=20
"Keberanian seperti halnya otot dan fisik kita perlu dilatih. Aku pun perna=
h takut, dan aku melatih diriku untuk berani menjawab tantangan hidup", uja=
r Pram.Inti permasalahan di sini, seperti yang dikatakan Pram dalam filem d=
okumenter biografis di atas: "Siapa aku? Apa yang kumaui?". Setelah menjawa=
b pertanyaan-pertanyaan hakiki ini, Pram selama 50 tahun merdeka selama 30 =
tahun saya hidup tanpa kemerdekaan. Artinya selama tiga puluh tahun di Repu=
blik yang menyebut dirinya merdeka dan menghargai kemerdekaan Rebublik itu =
telah merampas kemerdekaan Pram dan selama tiga puluh tahun pula mimpi Pram=
diuji.Sastrawan Indonesia manakah yang telah mendapat ujian dan perlakuan =
begini?=20=20
Setelah menjawab kedua pertanyaan hakiki di atas, sesuai dengan pesan ibuny=
a, Pram tidak pernah lari dari masalah. "Jangan lari dari masalah", ujar Pr=
am. Dibandingkan dengan sikap Pram ini, berapa banyak kita yang lari terbir=
it-birit dari masalah dan buruan masa silam? Salah satu ujudnya adalah teor=
i "diskontinuitas sejarah". Lari tidak memecahkan soal tapi hanya menunda g=
ugatan soal yang selalu menagih tanggungjawab. Lari bukan pula tanda keagun=
gan jiwa dan keperkasaan. Mendingan seperti Celine yang konsekwen membela H=
itler. Kita lebih menghargai manusia yakin seperti ini daripada pengecut. M=
engikuti filem ini aku bertanya-tanya: Tidakkah manusia merdeka tipe Pram i=
ni yang diperlukan oleh Indonesia? Ketika manusia tipe Pram direnggut kemer=
dekaannya oleh Republik Indonesia, pertanyaan yang menyusul timbul: Inikah =
Republik dan Indonesia yang kita impikan ketika memproklamasi kemerdekaan p=
ada 17 Agustus 1945? Tidakkah perenggutan kemerdekaan Pram merupakan pertu=
njukan hakiki apa Republik dan Indonesia selama ini?=20
Kalau Pram mengatakan bahwa karya-karyanya "adalah anak kandung rokhani"nya=
, lalu karya-karya yang ditulis oleh manusia pengecut dan eskapis, tidakka=
h merupakan karya-karya eskapis dan munafik penuh ketakutan hanya cari se=
lamat pulalah yang akan muncul sambil tanpa keengganan sebagai "kompensasi"=
berbicara tentang kebolehan diri sendiri, sekalipun secara hakiki tanpa ke=
bolehan apapun untuk kepentingan bangsa dan kemanusiaan. Sastrawan tipe beg=
ini kukira tidak lain dari jenis pengarang yang melakukan masturbasi kejiwa=
an untuk meredakan kegalauan diri penuh kemunafikan. Melalui kehidupannya y=
ang selama 30 tahun tanpa kemerdekaan selama 5O tahun Indonesia merdeka, me=
mbelejedi manusia-manusia "lalat" begini jika menggunakan istilah Mao Zedon=
g dalam salah sebuah puisinya. Menjadi "lalat" bisa dilakukan sejak dini, b=
isa juga terjadi dalam perkembangan seseorang, seperti yang terjadi dengan =
keberatan seseorang menyetujui pemberian gelar doktor HC kepada Pram, yang =
aku yakin benar tidak diperlukan sangat oleh Pram. Jika manusia dan sastraw=
an "lalat" mendominasi Rebulik dan Indonesia, apakah sastra Indonesia bebas=
dari "sastra lalat"? Manusia "lalat" sekalipun menyebut diri sebagai ilmuw=
an, bisa dipastikan tidak mempuniai kebesaran dan kejujuran jiwa seseorang=
ilmuwan ketika menentang pemberian gelar doktor HC kepada Pram. Tantangan =
"manusia lalat" tidak menghapus pengakuan dunia internasional kepada Pram. =
Pengakuan dunia internasional itu sendiri sebenarnya sudah jauh melampaui p=
emberian gelar doktor HC oleh sebuah Universitas di Indonesia. Dengan penol=
akan ini, kukira ilmuwan tersebut sedang memerosotkan diri saat ia kehilang=
an akal sehat. Dari penolakan tokoh ini kembali aku melihat peringatan pepa=
tah Tingkok kuno: "Daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh". Jik=
a pemberian gelar doktor HC itu jadi dilangsungkan maka ia lebih mempunyai =
nilai politik bagi Pram dan teman-temannya. Kadar Pram sendiri jauh mendahu=
lui pengakuan ini. Karena itu yang menghakang pemberian gelar akademis itu =
kepada Pram pun hakekatnya bersiat politis dan menelanjaangi diri sendiri I=
ndonesia serta menghalangi Indonesia menghargai kemanusiaan.
Pram dan teman-temannya kukira tidak mengejar kilau gelar akademi, tapi leb=
ih menitik beratkan pada pelaksanaan jawaban pertanyaan: "Siapa aku dan apa=
yang kau maui?" Peramsalahan tidak bisa diselesaikan dengan gelar akademi =
sebagai tanda jenjang pendidikan formal dan permasalahan Indonesia tidak bi=
sa dipecahkan oleh akademisi yang memisahkan diri dari kepentingan lapisan =
mayoritas. Akademisi yang jauh dari kepentingan lapisan mayoritas sering ga=
mpang menjadi pengkhianat, penakut dan individualis. Mereka bukan pejuang =
kemanusiaan dan pemimpi sejati walaupun pada saat tertentu memberikan sumb=
angan-sumbangan tertentu. Tapi mereka dibatasi oleh keangkuhan intelektual =
yang individualis. Sumbangan-sumbangan pada saat tertentu ini memang perlu=
dicatat tanda kesetiaan kita kepada sejarah, kehidupan dan kenyataan, sepe=
rti dikatakan oleh Chairil Anwar:
"Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet,keduanya dapat tempat"
[Chairil Anwar: "Catetan T.1946", in: "Deru Campur Debu", Dian Rakyat, Jaka=
rta, 1993, hlm. 28].
Pram agaknya sadar bahwa tidak semua orang mencintai dan mengagguminya, hal=
yang tentu bagi Pram tidak penting. Dalam filem di atas Pram selalu terken=
ang akan pesan ibunya: "Kamu akan tumbuh seperti bunga. Sebagian orang menc=
intaimu, sebagian orang lagi akan membencimu". Kemanusiaan dan sejarah beta=
papun punya standar sendiri yang tidak terganggugugat. Di hadapan sejarah d=
an kemanusiaan kita semua telanjang bulat seperti saat kita lahir semua tel=
anjanbg tanpa mengenakan gelar dan pakaian jabatan.
Paris, Oktober 2004
-----------------
JJ.KUSNI
[Bersambung...]
Catatan:
Foto terlampir:John McGlynn dari Yayasan Lontar,Jakarta, produsen filem do=
kumenter biografis Pramoedya A.Toer,bersama Joesoef Isak dari Hasta Mitra, =
Jakarta dalam "Hari Sastra Indonesia" Pertama yang berlangsung di l'Insti=
tut N=E9erlandais, Paris , 9 Oktober 2004.[Dokumen JJK].
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] SURAT KEMBANG KEMUNING: "HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [22]