[ppi] [ppiindia] SURAT KEMBANG KEMUNING: "HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [22]

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

SURAT KEMBANG KEMUNING:


"HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [22].


Menjelang akhir laporan dan komentar ini, aku ingin kembali menyinggung soa=
l filem tentang Pramoedya A.Toer dan Agam Wispi yang diputar seusai Madame =
Rudi Wester, Penasehat Urusan Kebudayaan Pada Kedubes Kerajaan Belanda untu=
k Paris, mengucapkan kata pembukaan Hari Sastra. Di sini yang ingin kusingg=
ung kembali terutama adalah filem dokumenter biografis tentang Pram yang di=
produksi oleh Yayasan Lontar Jakarta dan dan disudradarai oleh Srikaton. Ba=
giku filem yang dibintangi oleh Pram sendiri ini sangat mengesankan. Di fil=
em dokumenter biografis ini nampak Pram sangat mengkhayati segala kata-kata=
 dan gerak-gerik tubuhnya, mimiknya, katakanlah "akting"nya sangat ekpresif=
. Barangkali Pram akan menyebutku bercanda jika ia membaca tulisan ini kala=
u kukatakan bahwa Pram lalai mengembangkan potensinya sebagai aktor. Akting=
 Pram tidak kurang ekspresif dari Rendra jika sedang berada di panggung.  B=
arangkali di sini pulalah  terdapat ketajaman dan ketelitian Srikaton sebag=
ai sutradara serta John McGlynn sebagai pemburu bakat.=20


Aku mendengar Oei Haidjoen [OHD] dan teman-teman dari Jaringan Kerja Budaya=
 [cq. Hilmar Farid] memang sedang merencanakan penulis biografi Pram. Tentu=
 saja penulisan biografi Pram sangat penting, lebih-lebih Pram sendiri tela=
h memberikan sokongan kuat atas prakarsa ini, bahkan kudengar prakarsa ini =
justru datang dari Pram sendiri.=20


Pram adalah penulis yang melintasi sekian zaman dan angkatan dalam sejarah =
sastra Indonesia  -- bagian dari sejarah Indonesia sendiri. Hanya dalam per=
bandingan, apalagi dengan kapasitas minim orang seperti aku -- melihat sebu=
ah filem lebih gampang dicerna dibandingkan dengan membaca buku [tanpa meng=
urangi nilai buku!].Melalui filem, berbagai unsur pancaindra digunakan sehi=
ngga dari segi ilmu komunikasi mempunyai keunggulan tersendiri, beda dengan=
 jika membaca sebuah buku yang terutama menggunakan indra mata. Buku dan fi=
lem untuk dokumentasi [dengan segala fungsi dokumentasi] saling melengkapi.=
 Aku sangat berharap John McGlynn dan "crew" Lontar-nya melanjutkan kegiata=
n  membuat filem-filem dokumenter tentang tokoh-tokoh sastra-seni dari kala=
ngan mana pun. Aku katakan dari "kalangan mana pun"  karena Indonesia bahka=
n kehidupan ini sendiri adalah kemajemukan. Mengingkari kemajemukan tidak a=
kan mungkin mencerminkan keutuhan sejarah dan hidup. Indonesia bukanlah han=
ya yang "kiri", "tengah" dan "kanan", tapi adalah semuanya. Aku melihat kei=
ndahan dalam pengertian tanggap zaman dan aspiratif pada ungkapan "bhinneka=
". Penemuan "bhinneka" kukira merupakan kemampuan anak negeri "zamrud khatu=
listiwa" dalam menyimpulkan pengalaman anak manusia melalui pengalaman hidu=
p di kampungnya bahwa "kemanusiaan itu tunggal" [istilah Paul Ricoeur] dan =
kebudayaan itu "bhinneka". Kongkretnya aku usulkan ada filem dokumenter ten=
tang Arief Budiman, Arifin C. Noer, Rendra, Goenawan Mohamad, Oei Hai Djeon=
, dan lain-lain...


Adanya perumusan "bhinneka" ini juga memperlihatkan bahwa ras dan warna kul=
it bentuk hidung bukan pertanda keunggulan. Kesimpulan-kesimpulan bijak, da=
lam dan universal beginilah yang dirumuskan dalam pepatah-petitih tetua ana=
k negeri "zamrud mutiara". Sehingga hanya mendewakan Barat dan "Yunani Kuno=
" jika menggunakan istilah Mao Zedong, mengabaikan akar kukira tidak lain d=
ari suatu kecupetan anak negeri yang hilang jati diri.


Justru adanya jati diri yang diungkapkan dalam bentuk artistik ekspresif ol=
eh Pram sang aktor inilah yang membuat filem dokumenter biografis tentang P=
ram sangat mengesankan. Melalui riwayat Pram yang dituturkan melalui filem =
produksi Yayasan Lontar, aku melihat kehidupan anak negeri yang sekarang pe=
naka perahu diombang-ambingkan segala ancaman, tapi menolak menyerah. Ingin=
 memperlihatkan bahwa manusia tidak terkalahkan . Riwayat Pram sebagai lamb=
ang memperlihatkan bahwa kepapaaan tidaklah fatal. Pram memperlihatka, tida=
k gampang dikalahkan,  bahwa "langit tidak akan runtuh" dan jika langit men=
dung tidak berarti "matahari harapan telah remuk berkeping-keping" bagaikan=
 meteor jatuh. Manusia di mana pun tidak gampang dikalahkan. Seperti maanus=
ia Dayak mengatakan anak manusia adalah "rengan tingang nyanak jata" [anak =
enggang putera-puteri naga], mampu membuat kehidupan dari "besi tenggelam m=
enjadi besi timbul" [dari sanaman leteng menjadi sanaman lampang]. Konsep-k=
onsep manusiawi universal Dayak inilah yang kudengar kembali  ketika menden=
gar pendapat-pendapat dan pengalaman Pram melalui filem produksi Yayasan Lo=
ntar disutradarai oleh Srikaton. Apa yang dikatakan Pram bukan hanya sikap =
seorang pengarang, tapi mengandung sesuatu yang hakiki. "Kalau takut jangan=
 jadi pengarang", ujar Pram. Pendapat ini juga menjadi pendapat dan sikap L=
u Sin dalam pesan kepada anak tunggalnya: "Kalau takut gila jangan jadi pen=
garang". Dan dalam budaya Dayak semangat ini  terjabar dalam konsep "rengan=
 tingang nyanak jata", "isen mulang", "lahap", "manakir petak", "lawung bah=
andang" [ikat kepala merah].


Dari pendapat dan sikap Pram serta budaya Dayak yang mengasuh masa bocahku,=
 aku hanya bisa tersenyum tapi sekaligus sedih membaca pendapat bahwa "disk=
ontuinitas sejarah" yang sama dengan  "kehilangan akar" tidak menjadi perso=
alan bagi  bangsa ini. Dalam ilmu sejarah sikap begini disebut sebagai "akr=
onologis" yang sangat ditentang oleh aliran Annales, suatu aliran yang mema=
ndang arti penting kesinambanungan bahwa masa lampau, hari ini dan hari dep=
an  bukanlah pulau-pulau terpencil tanpa jembatan penghubung. "Diskontuinit=
as sejarah" kukira sama dengan sikap takut melihat wajah diri yang bopeng, =
takut pada kebenaran lalu ingin melupakan masa lalu serta kejahatan yang pe=
rnah ia lakukan. Padahal berbuat salah adalah suatu hak asalkan kita mau me=
mperbaiki kesalahan karena mengkoreksi diri pun adalah suatu hak. Karena it=
u sering dikatakan bahwa "kesalahan adalah guru yang baik". Dari segi lain =
membenarkan "dikontinuitas sejarah" sama dengan takut bertanggungjawab, pad=
ahal sikap tidak bertanggungjawab hanya menambah jumlah kesalahan seperti o=
rang "lempar batu sembunyi tangan". Sama halnya dengan seorang pembunuh ata=
u pemerkosa tapi takut dan tidak mau mempertanggungjawabkan tindakannya, ma=
lah mau tampil sebagai seorang "hero", pahlawan. Jika pahlawan, maka manusi=
a begini tidak lain pahlawan kepengecutan. Sedangkan Pram yang kuanggap seb=
agai lambang pikiran dan perasaan anak negeri "zamrud khatulistiwa" mengata=
kan "sejarah adalah rumah tempatmu mengembara".Dari segi dialektika Hegel, =
tanpa usah menyebut Karl Marx , serta hukum saling hubungan, perubahan kuan=
titas menjadi kualitas, membenarkan "diskonkutinuitas sejarah" juga tidak b=
isa dipertahankan. Jika demikian apa arti pembenaran "diskonutinuitas sejar=
ah" kecuali sikap ahistoris dan anti ilmu serta anti realita? Adakaah arti =
lain sikap membenarkan "diskontinuitas sejarah" selain sikap seorang pengec=
ut yang takut pada diri sendiri dan takut melihat borok di wajah diri? Indo=
nesia dan umat manusia tidak memerlukan manusia dengan sikap tanpa tangungj=
awab begini, ketika tetua kita mengajarkan "tangan mencencang bahu memikul"=
?=20


"Keberanian seperti halnya otot dan fisik kita perlu dilatih. Aku pun perna=
h takut, dan aku melatih diriku untuk berani menjawab tantangan hidup", uja=
r Pram.Inti permasalahan di sini, seperti yang dikatakan Pram dalam filem d=
okumenter biografis di atas: "Siapa aku? Apa yang kumaui?". Setelah menjawa=
b pertanyaan-pertanyaan hakiki ini, Pram selama 50 tahun merdeka selama 30 =
tahun saya hidup tanpa kemerdekaan. Artinya selama tiga puluh tahun di Repu=
blik yang menyebut dirinya merdeka dan menghargai kemerdekaan Rebublik itu =
telah merampas kemerdekaan Pram dan selama tiga puluh tahun pula mimpi Pram=
 diuji.Sastrawan Indonesia manakah yang telah mendapat ujian dan perlakuan =
begini?=20=20


Setelah menjawab kedua pertanyaan hakiki di atas, sesuai dengan pesan ibuny=
a, Pram tidak pernah lari dari masalah. "Jangan lari dari masalah", ujar Pr=
am. Dibandingkan dengan sikap Pram ini, berapa banyak kita yang lari terbir=
it-birit dari masalah dan buruan masa silam? Salah satu ujudnya adalah teor=
i "diskontinuitas sejarah". Lari tidak memecahkan soal tapi hanya menunda g=
ugatan soal yang selalu menagih tanggungjawab. Lari bukan pula tanda keagun=
gan jiwa dan keperkasaan. Mendingan seperti Celine yang konsekwen membela H=
itler. Kita lebih menghargai manusia yakin seperti ini daripada pengecut. M=
engikuti filem ini aku bertanya-tanya: Tidakkah manusia merdeka tipe Pram i=
ni yang diperlukan oleh Indonesia? Ketika manusia tipe Pram direnggut kemer=
dekaannya oleh Republik Indonesia, pertanyaan yang menyusul timbul: Inikah =
Republik dan Indonesia yang kita impikan ketika memproklamasi kemerdekaan p=
ada 17 Agustus 1945?  Tidakkah perenggutan kemerdekaan Pram merupakan pertu=
njukan hakiki apa Republik dan Indonesia selama ini?=20


Kalau Pram mengatakan bahwa karya-karyanya "adalah anak kandung rokhani"nya=
, lalu karya-karya yang ditulis oleh  manusia pengecut dan eskapis, tidakka=
h merupakan  karya-karya eskapis dan munafik  penuh ketakutan hanya cari se=
lamat pulalah yang akan muncul sambil tanpa keengganan sebagai "kompensasi"=
 berbicara tentang kebolehan diri sendiri, sekalipun secara hakiki tanpa ke=
bolehan apapun untuk kepentingan bangsa dan kemanusiaan. Sastrawan tipe beg=
ini kukira tidak lain dari jenis pengarang yang melakukan masturbasi kejiwa=
an untuk meredakan kegalauan diri penuh kemunafikan. Melalui kehidupannya y=
ang selama 30 tahun tanpa kemerdekaan selama 5O tahun Indonesia merdeka, me=
mbelejedi manusia-manusia "lalat" begini jika menggunakan istilah Mao Zedon=
g dalam salah sebuah puisinya. Menjadi "lalat" bisa dilakukan sejak dini, b=
isa juga terjadi dalam perkembangan seseorang, seperti yang terjadi dengan =
keberatan seseorang menyetujui pemberian gelar doktor HC kepada Pram, yang =
aku yakin benar tidak diperlukan sangat oleh Pram. Jika manusia dan sastraw=
an "lalat" mendominasi Rebulik dan Indonesia, apakah sastra Indonesia bebas=
 dari "sastra lalat"? Manusia "lalat" sekalipun menyebut diri sebagai ilmuw=
an, bisa dipastikan tidak mempuniai  kebesaran dan kejujuran jiwa seseorang=
 ilmuwan ketika menentang pemberian gelar doktor HC kepada Pram. Tantangan =
"manusia lalat" tidak menghapus pengakuan dunia internasional kepada Pram. =
Pengakuan dunia internasional itu sendiri sebenarnya sudah jauh melampaui p=
emberian gelar doktor HC oleh sebuah Universitas di Indonesia. Dengan penol=
akan ini, kukira ilmuwan tersebut sedang memerosotkan diri saat ia kehilang=
an akal sehat. Dari penolakan tokoh ini kembali aku melihat peringatan pepa=
tah Tingkok kuno: "Daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh". Jik=
a pemberian gelar doktor HC itu jadi dilangsungkan maka ia lebih mempunyai =
nilai politik bagi Pram dan teman-temannya. Kadar Pram sendiri jauh mendahu=
lui pengakuan ini. Karena itu yang menghakang pemberian gelar akademis itu =
kepada Pram pun hakekatnya bersiat politis dan menelanjaangi diri sendiri I=
ndonesia serta menghalangi Indonesia menghargai kemanusiaan.


Pram dan teman-temannya kukira tidak mengejar kilau gelar akademi, tapi leb=
ih menitik beratkan pada pelaksanaan jawaban pertanyaan: "Siapa aku dan apa=
 yang kau maui?" Peramsalahan tidak bisa diselesaikan dengan gelar akademi =
sebagai tanda jenjang pendidikan formal dan permasalahan Indonesia tidak bi=
sa dipecahkan oleh akademisi yang memisahkan diri dari kepentingan lapisan =
mayoritas. Akademisi yang jauh dari kepentingan lapisan mayoritas sering ga=
mpang menjadi pengkhianat, penakut  dan individualis. Mereka bukan pejuang =
kemanusiaan dan pemimpi  sejati walaupun pada saat tertentu memberikan sumb=
angan-sumbangan tertentu. Tapi mereka dibatasi oleh keangkuhan intelektual =
yang individualis.  Sumbangan-sumbangan pada saat tertentu ini memang perlu=
 dicatat tanda kesetiaan kita kepada sejarah, kehidupan dan kenyataan, sepe=
rti dikatakan oleh Chairil Anwar:


"Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet,keduanya dapat tempat"

[Chairil Anwar: "Catetan T.1946", in: "Deru Campur Debu", Dian Rakyat, Jaka=
rta, 1993, hlm. 28].


Pram agaknya sadar bahwa tidak semua orang mencintai dan mengagguminya, hal=
 yang tentu bagi Pram tidak penting. Dalam filem di atas Pram selalu terken=
ang akan pesan ibunya: "Kamu akan tumbuh seperti bunga. Sebagian orang menc=
intaimu, sebagian orang lagi akan membencimu". Kemanusiaan dan sejarah beta=
papun punya standar sendiri yang tidak terganggugugat. Di hadapan sejarah d=
an kemanusiaan kita semua telanjang bulat seperti saat kita lahir semua tel=
anjanbg tanpa mengenakan gelar dan pakaian jabatan.




Paris, Oktober 2004
-----------------
JJ.KUSNI


[Bersambung...]


Catatan:

Foto terlampir:John McGlynn  dari Yayasan Lontar,Jakarta, produsen filem do=
kumenter biografis Pramoedya A.Toer,bersama Joesoef Isak dari Hasta Mitra, =
Jakarta dalam  "Hari Sastra Indonesia" Pertama  yang berlangsung di l'Insti=
tut  N=E9erlandais, Paris ,  9 Oktober 2004.[Dokumen JJK].



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
 Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: