[ppi] [ppiindia] SURAT KEMBANG KEMUNING: "HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [21]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sat, 30 Oct 2004 11:40:43 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
SURAT KEMBANG KEMUNING:
"HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [21].
Pada gilirannya, Kees Snoek, pengajar bahasa dan budaya Belanda di negeri-n=
egeri di luar Belanda, menyampaikan kesaksiannya melalui makalah berjudul "=
Censure, Aux Indes N=E9erlandaises Et En Indon=E9sie". Kees Snoek pernah me=
ngajar di Universitas Indonesia dan tinggal di Indonesia mulai dari tahun 1=
982 hingga 1990. Melalui makalah di atas, Kees Snoek menceritakan keadaan s=
ensor yang disaksikannya di antara tahun-tahun kehadirannya di Indonesia pa=
da masa kekuasaan Orde Baru.
Kees Snoek bercerita tentang Harian Sinar Harapan yang "sinarnya padam" ole=
h pembreidelan pemerintah Orba. Ketika Harian Suara Pembaruan terbit mengga=
ntikaan tempatnya, "harapan" yang dibawakan oleh harian baru ini dilihat ol=
eh Kees Snoek sebagai "harapan" dari orang-orang yang "menjadi lebih patu=
h" . "Pembaruan" menjadi "kepatuhan".
Sensor memang bertujuan membuat untuk orang patuh dan kalau tidak mau patuh=
dibungkamkan, kalau tidak juga mau bungkam dibinasakan secara fisik denga=
n 1001 jalan. "Hebatnya" ada pakar yang menganggap "sensor sebagai suatu ke=
perluan pemerintah di negeri mana pun". Padahal di Republik ke-V Perancis s=
ekarang, aku tidak melihat sensor dilakukan. Dalam hal ini, aku jadi tering=
at bagaimana sementara pakar Perancis di dalam Majalah Newsweek membenarkan=
"kolonialisme" dan di di Majalah l'Express mengajukan teori "diktatur dipe=
rlukan" oleh Dunia Ketiga sebagai kesimpulan tumbuhnya negeri-negeri yang d=
isebut sebagai "macan" dan "anak macan Asia". Membenarkan sensor, kukira be=
rtentangan dengan "bhinneka tunggal ika" dan mengarah ke "pemikiran tunggal=
" [la pens=E9e unique] yang di Perancis ditentang keras.
Sensor adalah jalan menggiring orang ke ruangan satu suara [jika menggunaka=
n istilah Jendral Soeharto dan Orba: "azas tunggal"], seperti yang dituturk=
an oleh Kees Snoek mengenai tivi Orba pada tahun 1982. Di tahun itu, tutur =
Kees Snoek, hanya terdapat "satu saluran tunggal" di mana "kita hanya menya=
ksikan tarian-tarian tradisional, program pemandangan alama Indonesia, dan =
terutama Presiden Soeharto dengan senyum kekalnya: bapak rakyat sedang menu=
naikan jabatan-jabatan resmi. Para menteri memperlihatkan sikap yang cukup =
patuh walaupun terkadang terdengar juga suara-suara kecil sindiran di sana-=
sini tapi ujung-ujungnya tetap berputar-putar di sekitar daerah "Asal Bapak=
Senang". Kees Snoek menyebut keadaan begini sebagai "harmoni semu". "Harmo=
ni semu" digenangi darah.=20
Majalah Tempo dan Detik termasuk dua penerbitan yang mengalami nasib sama d=
engan Harian Sinar Harapan. "Provokasi Pemerintah", ujar Kees Snoek, "meleb=
ar sampai ke dunia , terhadap mereka yang mempunyai akses ke dunia internet=
".=20
Di bawah tekanan dan campurtangan luarbiasa dari kekuasaan politik di dunia=
media cetak sampai ke dunia maya untuk menentang lahirnya oposisi, adanya =
ruang berbagai suara, barangkali di sini perlu disebut jasa John McDougall =
dengan milis "apakabar" dan milis Indonesia:Iqra, yang dengan Goenawan Moha=
mad. Sekali pun kekuasaan politik Orba melebarkan operasi penindasannya hin=
gga dunia maya, tapi dua milis ini tetap saja mampu menyalurkan pendapat-pe=
ndapat anti Orba di ruang berbagai suara: kemerdekaan berpendapat yang memb=
entuk suatu kepungan pendapat umum nasional dan internasional kian ketat te=
rhadap Orba.=20=20
Pada masa Orba yang melakukan pendekatan "keamanan dan kestabilan nasional"=
guna melaksanakan "agama pembangunan" [yang menghasilkan kepapaan dan keru=
sakan alam seperti di Hampalit, Kalteng], aku melihat sebuah medan pertempu=
ran di mana dua pasukan hadap-hadapan. Yang satu bersenjatakan pena, yang =
lain bersenjatakan bedil. Yang bersenjatakan bedil melakukan "operasi penge=
pungan dan penumpasan" terus-menerus dari waktu ke waktu dengan mengerahkan=
pasukan-pasukan reguler terhadap kekuatan yang bersenjata pena dengan men=
ggunakan taktik perang gerilya yang menyerang di segala front di mana musuh=
lemah. Serangan demi serangan gerilya di segala sektor melelahkan pasukan =
reguler dan mengobah imbangan kekuatan. Pada saat ini, defesensif strategis=
berkembang ke tingkat kesetaraan relatif. Tapi agaknya sampai sekarang, t=
ingkat strategis ofensif barangkali masih belum dicapai, karena kekuatan=
militerisme masih saja merupakan "negara dalam negara" di Indonesia. Apala=
gi pilihan politik pemegang kekuasaan politik sekarang di bawah pimpinan SB=
Y-Kalla masih belum jelas.Apakah SBY merupakan seorang militer berpikiran c=
erah ataukah masih saja seperti latarbelakang karirnya sebagai seorang mili=
teris -- tanpa menutup kemungkinan perobahan dan perkembangan pikiran. Bah=
aya kembalinya militerisme dan otorianisme yang bisa Orba II masih saja ada=
di negeri ini. Mereka masih mempunyai dasar sosial dan ekonomi serta kekua=
tan nyata guna melakukan berbagai macam manuvre.
Di dalam barisan yang bersennjatakan pena dalam melawan otoritarianisme dan=
militerisme, kita dapatkan nama-nama panarung tangguh seperti Pramoedya, =
Rendra,Nano Riantiarno dan Hasta Mitra yang dipimpin oleh Joesoef Isak dan =
Hasyim Rahman. Nama-nama ini berpendapat bahwa hak sipil tidak diperoleh de=
ngan meminta-minta tapi direbut dengan segala risiko. Patuh dan berlawan ag=
aknya merupakan dua jalan yang pernah ada di dalam sejarah melawan otoritar=
ianisme dan militerisme di negeri kita. Tiarap dan diam oleh ketakutan atas=
nama alasan perhitungan, bisa dipandang sebagai kekuatan netral rebutan du=
a kekuatan. Karena sikap-sikap demikian adalah sangat manusiawi dan bukan l=
awan, apalagi lawan utama. Takut, tiarap, diam adalah reaksi umum semacam i=
nsting di saat orang menghadapi kesulitan, terutama ajal. Setelah ancaman =
kesulitan dan ajal berlalu, orang-orang ini akan bangkit bersorak sebagai p=
ahlawan berlomba berdiri paling depan. Sayangnya, sering terjadi orang-or=
ang sering sulit membedakan yang pokok dan tidak pokok, tidak jelas mana la=
wan dan kawan lalu melakukan tindakan hantam kromo atas nama segala yang mu=
lia dan indah-indah. Padahal tindakan hantam kromo membuat yang mulia dan i=
ndah-indah itu jadi merosot.Dari keadaan ini, aku melihat bahwa seperti yan=
g ditulis oleh alm.penyair Agam Wispi, Indonesia adalah "kota rebutan". Gun=
a memenangkan "kota rebutan" kalau memang ada "supermen" atau "superwomen",=
maka "supermen" sesungguhnya adalah kekuatan bersama mayoritas. Rambo tida=
k akan bisa memenangi "kota rebutan" itu. Rambo adalah tokoh masturbasi cip=
taan Amerika Serikat untuk keluar dari Sindrom Vi=EAt Nam sama dengan tokoh=
koboi filem Wertern yang sanggup mengalahkan ratusan orang Indian di padan=
g-padang lengang.=20
Kees Snoek dalam makalahnya melihat bahwa sesungguhnya gejala "liberalisasi=
" sudah menampakkan diri setahun sebelum Soeharto dipaksa turun dari kursi =
kepresidenan. "Gejala liberalisasi dimulai pada bulan Juli 1987 dengan dibe=
rikannya izin untuk proyeksi filem << Max Havelaar" yang telah dilarang sel=
ama 14 tahun", tulis Kees Snoek. "Filem <<Max Havelaar" adalah sebuah filem=
yang dibuat atas dasar roman sastrawan Multatuli, terbit pada tahun 1860. =
Karya ini merupakan suatu gugatan terhadap Pemerintah Kerajaan Belanda yang=
membiarkan penghisapan tanpa batas atas orang-orang bumiputera di Hindia B=
elanda. Proyeksi filem ini membuka peluang kepada para cendekiawan Indonesi=
a untuk mengkritik pemerintah Indonesia di masa Orba yang telah melakukan =
penindasan setara dengan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial", lanjut K=
ees Snoek.=20
Bayangkan betapa jauh Soeharto dengan Orbanya membawa Indonesia mundur ke t=
ahun 1860 pada saat manusia sudah mampu membuat stasiun ruang angkasa.=20
Sejalan dengan pendapat Kees Snoek adalah pendapat Dick Hartoko alm.: "Max =
Havelaar masih perlu dibaca oleh angkatan muda kita bukan hanya untuk menge=
nalnya dari segi gaya tetapi juga untuk melawan segala bentuk kemunafikan d=
an kesewenang-wenangan. Sistem kolonial yang dilawan oleh Multatuli memang =
sudah berlalu. Tapi apa gerangan bedanya sistem kolonial di bidang ekonomi =
dengan keadaan sekarang, di mana kita dipaksa mengencangkan ikat pinggang =
untuk membayar hutang luar negeri? Para pimpinan lama sudah mati dan dikubu=
rkan, tetapi sampai hari ini, kita masih menyaksikan suatu gaya dan praktek=
pemerintah yang dinafasi oleh semangat feodal". Sedangkan Rendra tanpa ala=
ng-kepalang dalam sanjaknya "Untuk Rakyat Rangkas Bitung" menulis bahwa kek=
uasaan politik sekarang tidak lain dari Bupati Lebak kekinian adanya. Orba=
tidak bisa mentoleransi tudingan Rendra ini, lalu melarang Rendra membacak=
an puisi-puisi multatuliennya di Medan dan Jakarta.
Dalam kerangka mengisahkan kebangkitan sastrawan-seniman dan para cendekiaw=
an terhadap penindasan yang antara lain mengambil bentuk sensor alias pembr=
eidelan, Kees Snoek secara khusus bercerita tentang pengalaman seorang wart=
awan pemberontak Achille Weeber yang dengan berani menentang dan membelejed=
i praktek pemerintah kolonial Belanda melalui apa yang dilakukan oleh perus=
ahaan minyak BPM [lihat: "Noblesse p=E9troli=E8re", 1929] dan praktek perus=
ahaan Philips [lihat: De Heraut , Bandoeng, 1938], serta praktek-praktek or=
ganisasi nazi di Hindia Belanda. Perlawanan dan pemaparan kejahatan-kejahat=
an ini, membuat Achille Weeber dimusuhi tapi kata-kata beberan Weeber menja=
di kenyataan ketika Negeri Belanda dicaplok oleh Hitler.
Menyimpulkan uraiannya Kees Snoek mengatakan dalam makalahnya: "Dan akhirny=
a mereka [baca: pasukan bersenjatakan pena -- JJK] memperoleh kemenangan re=
latif. Suharto tidak lagi menjadi pimpinan Indonesia. Betapapun demikian, k=
ita selalu memerlukan semangat kemerdekaan agar bisa berjaga terhadap ancam=
an kekangan pikiran, sensor dan hal-hal yang lebih buruk lagi".=20
Yang lebih penting lagi bagiku adalah kalimat penutup Kees Snoek yang menga=
takan: "Cendekiawan sejati tidak pernah tidur" [Un vrai intellectuel ne dor=
t jamais].
Bagaimana cendekiawan Indonesia hari ini? Tidurkah mereka? Terbelikah merek=
a? Ataukah tidak lebih dari "his masters voice"? Cendekiawan bukanlah peny=
ontek tapi adalah produsen ide yang akrab dan tanggap situasi serta kehidup=
an. Mereka termasuk orang yang sanggup menantang ajal demi membela ide-iden=
ya.Ide-ide manusiawi yang mereka produksikan adalah nafas jiwa mereka yang =
membuat mereka "tak pernah tidur" dan selalu berjaga. "Enggagement" manusia=
wi yang tanggung, sering membuat mereka jadi kelompok pembimbang dan barisa=
n cari selamat. Adakah cendekiawan sejati dan manusiawi di Indonesia?
Paris, Oktober 2004
------------------
JJ.KUSNI
[Bersambung...]
Catatan:
Foto terlampir melukiskan dua orang penulis Belanda yang turut hadir dalam=
"Hari Sastra Indonesia" Pertama yang berlangsung di l'Institut N=E9erla=
ndais, Paris , 9 Oktober 2004.[Dokumen JJK].
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] SURAT KEMBANG KEMUNING: "HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [21]