[ppi] [ppiindia] SURAT DARI PARIS: PERGELARAN WAYANG KULIT DI PARIS OLEH KI MANTEB SOEDHARSONO

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
SURAT DARI PARIS:=20


PERGELARAN WAYANG KULIT DI PARIS OLEH KI MANTEB SOEDHARSONO

Rabu malam, 21 April 2004 yang lalu, dalang asal Jawa Tengah, Ki Manteb Soe=
dharsono dan rombongannya telah menyelenggarakan pergelaran wayang kulit de=
ngan lakon "Sesaji Rajasuya" di Ruang 1 Maison de Unesco yang terletak tida=
k jauh dari Menara Eiffel. Ruang pertunjukan yang berkapasitas 1400 orang i=
tu, sampai ke balkon-balkonnya penuh sesak dengan pengunjung. Pertunjukan d=
i Paris malam Rabu lalu merupakan bagian dari rangkaian pertunjukan yang di=
lakukan di Perancis seperti di Anger, Nort dan Norman. Direncanakan setelah=
 Paris, pertunjukan akan dilanjutkan di Strassbourg, Perancis Utara pada Ju=
mat 23  April.=20

Melihat perhatian besar dari orang-orang Perancis dan berbagai bangsa yang =
ada di Paris terhadap pementasan ini, sempat menyelip ke hati saya rasa ban=
gga menjadi orang Indonesia. Kebanggaan inipun juga terucap secara spontan =
oleh para pengunjung Indonesia lainnya. Kembali terbayang di hadapan mata b=
ahwa betapa keragaman kita sebagai bangsa sungguh-sungguh merupakan suatu k=
ekayaan dan keindahan luar biasa. Mengenang masa-masa sebelumnya, di negeri=
 manapun saban pementasan dari Indonesia senantiasa dijubeli oleh para peng=
unjung. Gordon Tobing dengan grup kecilnya dengan berbekalkan beberapa gita=
r, waktu mengunjungi Kuba di zaman pemerintahan Soekarno, juga mendapat suk=
ses besar, seperti halnya dengan rombongan-rombongan kesenian Indonesia yan=
g berkunjung ke Uni Soviet [ketika masih ada Uni Soviet!], ke Tiongkok, ke =
Vietnam dan lain-lain negeri. Penghargaan tinggi kepada khazanah budaya neg=
eri kita juga diperlihat oleh UNESCO yang telah memberikan kepada Ki Manteb=
 Soedharsono dan rombongan tanda penghargaan dan hadiah "Patrimoine Oral et=
 Immat=E9riel de l'Humanit=E9" [Khazanah Lisan dan Imaterial Umat Manusia].=
 Seni wayang kulit dipandang melalui hadiah ini  sebagai khazanah budaya um=
at manusia, bukan hanya khazanah budaya Jawa atau Indonesia. Andaikan kita =
bekerja baik, saya yakin benar bahwa dunia akan tahu betapa negeri dan raky=
at kita sebenarnya merupakan gudang khazanah budaya sulit terpadani. Karya-=
karya menganggumkan dan mencengangkan bisa kita dapati dari ujung barat hin=
gga ujung timur tanahair. Jika dunia tahu, maka merekapun akan memandangnya=
 sebagai kekayaan budaya mereka sendiri karena karya sastra-seni tidak memp=
unyai perbatasan negeri dan bangsa. Secara obyektif sesungguhnya Indonesia =
adalah tantangan dari kenyataan kepada pola "pikiran tunggal" [la pens=E9e =
unique] dan penolakan terhadap intoleransi.Indonesia adalah kemajemukan dan=
 toleransi, adalah kemanusiaan itu sendiri. Menyangkal kemajemukan dan tole=
ransi sama dengan menyangkal keindonesiaan diri. Tapi di manakah di muka bu=
mi ada ketunggalan mutlak?

Hadiah di atas telah diberikan oleh Direktur Jenderal UNESCO, Koichiro  Mat=
suura sendiri didampingi oleh Dutabesar [Dubes] Indonesia untuk Paris, Adri=
an Silalahi dan Dubes Indonesia untuk UNESCO, Bambang Soehendro. Menanggapi=
 hadiah berprestrasi dunia ini, Ki Manteb Soedharsono dalam  adegan "gara-g=
ara" melalui mulut Semar antara lain mengatakan: "Apa selanjutnya yang kita=
 buat setelah kita memperoleh hadiah dan penghargaaan tinggi UNESCO ini? Ap=
akah kita berhenti, diam dan hanya puas dengan memajangkan tanda penghargaa=
n ini?" "Ya, apa?" tanya Gareng dan Petruk. Semar menjawab: "Kita harus ber=
karya lebih banyak dan meningkatkan taraf karya kita. Tanda penghargaan dan=
 hadiah ini harus kita jadikan titik baru bagi kerja kreatifitas kita".=20

Dialog-dialog ini seperti halnya juga dengan dialog-dialog antar tokoh dala=
m pementasan secara garis besar diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis dan =
bisa dibaca di dasar layar lebar di atas panggung pementasan. Seluruh penon=
ton menikmati pertunjukan dengan keheningan apalagi pergelaran sama sekali =
tidak terganggu oleh masalah-masalah tekhnis. Tentu saja sebelum masuk ke r=
uang pertunjukan, demi keamanan, pemeriksaan telah sangat ketat dilakukan t=
erhadap semua para pengunjung.=20

Yang patut dicatat pula bahwa mulai dari halaman gedung sampai ke dalam rua=
ngan, para personil Kedutaan Indonesia di Paris turut menyambut para pengun=
jung dengan ramah. Sikap petugas Indonesia mendukung kebanggaan di atas. Sa=
ya jadi teringat akan kata-kata Andreas Sitepu, salah seorang diplomat sang=
at simpati dan senantiasa akrab dengan siapa saja,dari KBRI Paris dalam seb=
uah percakapan pribadi: "Kita lakukan apa yang kita bisa mulai dari diri ki=
ta masing-masing untuk bangsa dan tanahair". Diplomat tipe Andreas Sitepu i=
ni, saya kira sangat diperlukan oleh bangsa kita.Rendah hati, luwes dan dek=
at dengan warga Republik yang diwakilinya. Di sini saya kembali mengungkapk=
an kecemasan tentang apa-bagaimana kelak hubungan KBRI Paris dengan warga R=
I jika masa jabatan Dubes A. Silalahi berakhir. Dubes merupakan titik sanga=
t menentukan sukses tidaknya misi diplomatik. Apa yang dilakukan oleh A. Si=
lalahi, saya kira boleh disebut metode "diplomasi rakyat" artinya diplomasi=
 yang bersandar pada para warga negara dan negeri yang diwakilinya. Ini ada=
lah suatu metode kerja tapi juga sekaligus model diplomasi yang bertentanga=
n model diplomasi elite alias menara gading yang bersifat feodal dan milite=
ristik, umum dipraktekkan pada masa Orde Baru.=20


Hal lain yang membantu para penonton, terutama para penonton yang tidak men=
gerti bahasa Jawa, selain adanya teks ikhtisar isi dialog, juga tersedianya=
 brosur luks yang disediakan oleh UNESCO dalam dua bahasa: Inggris dan Pera=
ncis. Melalui brosur-brosur ini para penonton tahu isi cerita yang dipentas=
kan, mengenal sejarah wayang dan jenis-jenisnya, tahu apa-siapa sang dalang=
: Ki Manteb Soedharsono.


Ki Manteb Soedharsono lahir pada 1948, di Ndoplang, Karangpandan,kabupaten =
Karanganyar, Surakarta.Sebagai dalang wayang purwa ia mulai terkenal sejak =
1980an, terutama terkenal akan "sabetan"-nya, tekhnik memainkan wayang, ter=
utama untuk adegan-adegan perang. Berkat ketrampilan ini, maka Manteb oleh =
para penggemarnya dijuluki sebagai "dalang setan". Tingkat "sabetan"nya ole=
h para pengamat disetarakan dengan seorang "tukang sihir". Sedangkan Manteb=
 sendiri mengomentarinya bukanlah suatu "sihir" tetap tidak lain dari hasil=
 latihan dan latihan tak kenal lelah. Ketrampilan tekhnis yang ia peroleh a=
dalah hasil dari latihan dan kerja susah-payah tidak kenal henti. Barangkal=
i apa yang diucapkan oleh Manteb Soedharsono ini berguna bagi para seniman =
lain, terutama para seniman muda usia, yang ingin lekas-lekas tersohor tanp=
a usaha susah-payah menguasai masalah tekhnis pengungkapan. Apa yang dilaku=
kan dan dikatakan oleh Manteb sebenarnya juga pernah diucapkan oleh seniman=
-seniman lain antara lain Rendra, Arifin C. Noor, Kushendratmo, dan lain-la=
in... Selain tekun melakukan latihan demi latihan, Manteb juga tidak henti-=
hentinya belajar untuk meningkatkan taraf penguasaan tekhnis sebagai dalang=
. Untuk keperluan ini, Manteb yang mulai mendalang pada usia 12 tahun, sete=
lah belajar dari ayahnya, ia belajar pada Ki Nartasabda di Semarang [1972],=
 pada Ki Gada Sudarman di Sragen [1974]. Artinya untuk menjadi dirinya, Man=
teb selalu tekun belajar dan berlatih. Ia tidak bersandar pada yang disebut=
 bakat.

Setelah menjadi dirinya dan mulai tersohor, sekarang, saban bulan ia mendal=
ang rata-rata 10 kali. Sejak tahun 1983 bertempat di rumah kediaman pribadi=
nya, Manteb menyelenggarakan pergelaran periodik Selasa Legi saban 35 hari =
sekali untuk memperingati hari lahirnya berdasarkan almanak Jawa. Pergelara=
n Selasa Legi ini dihadiri oleh dalang-dalang dari berbagai kabupaten. Untu=
k menghargai kegiatannnya di dunia pedalangan ini maka Ki Manteb Soedharson=
o telah menerima Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia.=
 Selain dikenal sebagai dalang, Ki Manteb juga dikenal publik karena ia mer=
upakan salah seorang yang paling sering muncul di tivi, radio dan jadi bint=
ang iklan dengan slogan "oye". Oleh karena itu, Ki Manteb Soedharsono juga =
dikenal dengan julukan "dalang oye".

Hanya saja masalah seniman, saya kira tidak hanya sebatas masalah kemampuan=
 tekhnis. Tehknis adalah alat untuk pengungkap pikiran dan perasaan. Dalam =
perasaan ada masalah keberpihakan dan kemanusiaan. Nilai-nilai manusiawi. D=
an masalah nilai menyangkut soal pikiran dan wawasan. Seniman besar adalah =
padunya perkembangan dua masalah ini: masalah tekhnis dan wawasan alias kon=
sep serta keberpihakan. Jika dengan kemampuan tekhnis tapi sang seniman tid=
ak lain dari alat penindasan, kekerasan dan pembunuhan yang menentang keadi=
lan dan kebenaran, seberapa lama "kebesaran" sang seniman itu akan bertahan=
? Budak tetap budak walaupun dadanya dipenuhi oleh sejubel tanda jasa serta=
 penghargaan. Siapa yang memberikan tanda jasa dan bagaimana tanda jasa itu=
 diberikan serta bagaimana ia didapatkan? Di sinilah perlunya seorang senim=
an bisa menjadi dirinya yang merdeka, menjadi warga sejati "republik berdau=
lat sastra-seni". Penghargaan dan tanda jasa bukanlah tanda hakiki kebesara=
n. Seniman tanpa nilai manusiawi adalah seniman sesaat atau bisa jadi langg=
eng karena memang budak besar dari kaum anti kemanusiaan. Orang mengenang p=
ara anti kemanusiaan sebagai bandingan seperti orang mengenal Yudas Iskario=
t yang mengkhianati Yesus. Menyadari akan hal ini maka dahulu Lembaga Kebud=
ayaan Rakyat [Lekra] secara teratur menyemenggarakan kursus-kursus untuk pa=
ra dalang,  di mana dipelajari masalah tekhnis, masalah politik, filsafat k=
ebudayaan, sejarah Indonesia, gerakan buruh dan tani dan lain-lain... Belaj=
ar merupakan sesuatu yang mutlak bagi seorang seniman. Belajar bisa dilakuk=
an seorang diri dan akan lebih besar lagi hasilnya jika dilakukan secara be=
rsama dan terorganisasi. Karena itu tidak aneh jika  ketika Jenderal Soehar=
to mengambil tampuk kekuasaan politik di Indonesia, salah satu organisasi y=
ang dilarangnya paling awal adalah Lekra termasuk Lembaga Pedalangan Lekra.=
 Dunia pedalangan langsung ia kontrol ketat. Dunia pedalangan adalah sarana=
n komunikasi dengan masyarakat Jawa, penduduk negeri terbesar di Indonesia.=
 Taraf menyeluruh seorang seniman akan nampak dari karyanya. Demikian juga =
seorang dalang. Karya tidak bisa membohongi siapapun, tidak juga diri sendi=
ri. Dalam hal ini, saya tidak mempersoalkan masalah anutan politik seseoran=
g seniman sebab yang paling penting bagi saya adalah fungsi seniman memanus=
iawikan manusia, kehidupan dan masyarakat, fungsi dari warga "republik berd=
aulat saastra-seni". Untuk menjadi warga republik berdaulat ini, insting ti=
dak memadai!Kemauan baik saja tidak cukup!=20

Dalam konteks ini apa yang ditampilkan oleh Ki Manteb Soedharsono di Paris =
sebagai kota dunia? Ia menampilkan lakon "Sesaji Raja Suya" yang sarinya se=
bagai berikut:

Setelah melalui perjuangan sengit, para Pandawa berhasil mengembangkan kera=
jaan Indraprasta atau Amarta dan keluar meninggalkan hutan Martani. Kerajaa=
n Amarta menjadi sebuah kerajaan yang subur dan indah, membahagian para pem=
impin dan warganya. Untuk mengucapkan syukur maka kerajaan bermaksud melang=
sungkan  upacara "sesaji" yang disebut "Sesaji Raja Suya". Kerajaan bermaks=
ud dalam "sesaji" ini mengundang 100 raja-raja bersahabat dari berbagai neg=
eri.

Tapi pada saat yang sama, Prabu Jarasanda, sebuah kekuatan politik imperial=
istik dari Kerajaan Giribaya, juga berniat menyelenggarakan "Sesaji Kalarud=
ra". Dan guna keperluan "sesaji Kalarudra" ini diperlukan kepala seratus ra=
ja. Prabu Jarasanda lalu mengerahkan kekuatan bersenjatanya.

Dengan bantuan dan nasehat Sri Kresna, kaum Pandawa menyerukan meningkatkan=
 kewaspadaan terhadap niat jahat dan egoistik Prabu Jarasanda ini. Dengan m=
enggunakan berbagai cara Bima dan Arjuna dibantu oleh Sri Kresna akhirnya b=
isa mengalahkan Prabu Jarasanda. Setelah kemenangan ini barulah "Sesaji Raj=
a Suya" bisa dilaksanakan untuk mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang M=
ahaesa dan melangsungkan persahabatan damai antar rakyat berbagai bangsa.

Pergelaran yang memukau ini hanya berlangsung dua jam, dari jam 19:00 sampa=
i dengan jam 21:00 dengan jumlah penonton yang sama sekali tidak berkurang.=
=20

Penonton bebas menafsirkan siapa Prabu Jarasandra dan apa fungsi Pandawa da=
lam konteks kekinian. Yang jelas bahwa melalui lakon ini nampak bahwa Ki Ma=
nteb Soedharsono ingin menyampaikan pesan perdamaian dan sulitnya mencapai =
perdamaian itu. Untuk mencapai perdamaian, mau tidak mau darah ditumpahkan.=
 Hanya saja yang nampak menonjol melalui pementasan ini adalah masalah keke=
rasan dan peperangan. Sedangkan dialog-dialognya terasa kurang tajam mengan=
alisa konflik antara kerajaan Amata dan Prabu Jarasanda yang imperialistik.=
 Barangkali ini bisa dicatat sebagai kelemahan dari suatu arah umum lakon d=
an dalam hal ini, dalangnya: Ki Manteb Soedharsono. Tidakkah masalah ini ad=
a kaitannya dengan analisa dan pengetahuan politik? Jika pandangan ini bena=
r maka kembali dan lagi-lagi nampak hubungan antara kemampuan tekhnis denga=
n isi untuk mencapai taraf karya yang bermutu secara menyeluruh? Ketrampila=
n tekhnis tanpa kedalaman pesan dan analisa akan membuat penonton pulang de=
ngan rasa kosong. Apabila terjadi hal demikian, maka di mana peranan pelopo=
r dan fungsi seniman dalam memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat=
 apalagi jika kita ingin menggunakan standar internasional dan bukan lokal,=
 baik Jawa Tengah ataupun Indonesia?

Betapapun juga pementasan Ki Manteb Soedharsono dan rombongan Ki Manteb Soe=
dharsono sedikit telah memberikan kebanggaan menjadi Indonesia dari segi ke=
budayaan dan memberikan citra Indonesia yang lain daripada yang disuguhkan =
ke dunia oleh para politisi dan kaum militeris,walaupun kekerasan dan peper=
angan begitu menonjol dalam pergelarannya! Atau perdamaian dunia dan keruku=
nan memang patut dicapai dengan jalan berdarah menurut konsep Ki Manteb Soe=
dharsono? Ini adalah masalah filosofis dan masalah filosofis adalah masalah=
 isi atau wawasan!


Paris, April 2004.
-----------------
JJ.KUSNI


=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20=20




CATATAN:=20
Foto terlampir menunjukkan Dubes Indonesia di  Paris, A.Silalahi sedang mem=
berikan ucapan selamat kepada rombongan Ki Manteb Soedharsono usai pertunju=
kkan.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=3D5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
 Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: