[ppi] [ppiindia] SURAT BUDAYA: PLACE DES ABBESSES, PARIS, SEBAGAI PANGUNG BUDAYA.
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sun, 25 Jan 2004 19:32:51 +0100
** ppi-india **
SURAT BUDAYA:
PLACE DES ABBESSES PARIS SEBAGAI PANGGUNG BUDAYA
Mungkin kata "place" bisa diindonesiakan menjadi "plasa" atau "lapangan"
walaupun lapangan menggambarkan sebuah bidang luas terbuka jauh lebih besar
daripada "place" yang terkadang hanya beberapa ratus meter persegi saja
luasnya. Dan plasa ini terdapat di mana-mana di seluruh Paris.Fungsinya pun
serupa. Hanya berbeda dalam tingkat pemanfaatannya.
Place des Abbesses terletak tepat di mulut metro (kereta bawahtanah)
Abbesses, termasuk salah sebuah metroParis yang terdalam. Untuk tiba ke
dermaga di bawah tanah, penumpang dimestikan meniti tujuh tangga. Sambil
meniti tangga tujuh tingkat itu kita bisa menikmati lukisan-lukisan kolektif
dari seniman-seniman lukis Montmatre asal berbagai negeri di dunia. Dalam
hal ini, Asia diwakili oleh pelukis Jepang
dan Vietnam yang memang hidup-mati dari lukisan di Montmartre, sebuah
kampung utama seniman satu-satunya yang tersisa setelah masa Montparnasse
dengan seniman montparnassiennya berakhir, terletak di bagian utara kota.
Montmartre adalah wilayah terbuka bagi para seniman dunia di mana mereka
bersaing mutu dalam karya.
Montmartre sangat kuat mempertahankan tradisinya. Sebatang pohon saja
ditebang bisa mengundang unjuk rasa penduduk.
Place des Abbesses dengan gerbang metronya yang sangat antik dan khas, di
samping Place de Tertre, merupakan salah satu pusat kegiatan kampung
Montmartre . Di
plasa, saban akhir pekan, terutama hari Sabtu -Minggu diselenggarakan
rupa-rupa kegiatan seperti penyelenggaran pasar terbuka yang menjual
barang-barang bekas termasuk
buku-buku yang sudah jarang lagi terdapat dan berbagai acara kesenian
seperti
pementasan drama, akrobatik, dan musik. Semuanya dilakukan di bawah langit
terbuka yang membuat suasana Montmartre menjadi tambah hidup dan penuh warna
artistik melengkapi pertunjukan-pertunjukan di gedung-gedung teater
tertutup serta sanggar-sanggar yang bertebaran di seluruh kampung dari
puncak Montmartre hingga Kabaret Moulin Rouge yang bersejarah. Gedung Teater
Abbesses merupakan salah satu gedung teater tersohor
di Paris. Dengan demikian, Place des Abbesses bisa dikatakan sekaligus
sebagai
arena atau panggung terbuka bagi segala rupa pementasan.
Selain terbuka sebagai panggung pertunjukkan, Pace des Abbesses pun terbuka
bagi semua seniman dari berbagai tingkat termasuk mereka yang memberikan
pertunjukan untuk mencari satu dua euro pembeli roti. Adanya panggung
terbuka ini sungguh memberi peluang lain bagi usaha mengembangkan kesenian
dari bawah. Yang terbaik dari karya-karya ini kemudian oleh kotapraja
diangkat melalui penyelenggaraan pameran. Sehingga semua potensi bisa
berkembang. Sedangkan untuk peningkatan tekhnis, kotapraja menyediakan
tenaga-tenaga pembimbing dan pengajar ahli. Picasso, Dali, Toulouse Lautrec,
van
Klee, Modigliani dan lain-lain nama besar lagi di dunia kesenian, termasuk
Rene Char, Max Jacob yang penyair atau George Simenon yang penulis roman
detektif terkenal dengan tokoh Komisaris Maigret-nya, adalah orang-orang
yang tidak asing dengan Place des Abbesses dan Place de Terte di puncak
Montmartre dari mana kita bisa memandang seluruh Paris di lembah Seine.
Adanya panggung terbuka dan tertutup begini bagiku memperlihatkan
pelaksanaan
kongkret dari ide "meluas dan meninggi", "meninggi dan meluas", dan hubungan
antara kuantitas dengan kualitas dalam bidang sastra-seni sekaligus
mengatakan sesuatu yang nyata tentang fungsi sastra-seni. Sedangkan
melalui keaktifan pememerintah kotapraja menangani kreativitas dari bawah
ini memperlihatkan peranan dari pemerintah serta arti penting peranan itu.
Peranan pemerintah dalam mendorong pengembangan sastra-seni dan melakukan
pendidikan apresiasi seni lebih spektakuler lagi diperlihatkan oleh pameran
terbuka dengan menggunakan pagar-pagar Taman Luxembourg (Jardin de
Luxembourg) di pusat Paris dengan disponsori oleh Senat. Prakarsa dan
kegiatan pemerintah ini menunjukkan betapa perlu adanya pemegang kekuasaan
yang berbudaya dan pembudayaan kalangan pemegang kekuasaan politik bagi
kehidupan dan masyarakat. Dari politisi yang berbudaya begini bisa
diharapkan adanya politik budaya yang tanggap dan pendekatan yang berbudaya
terhadap semua persoalan masyarakat untuk memanusiawikan manusia dan
kehidupan. Aku sama sekali tidak mempunyai harapan terhadap politisi buta
budaya dan tidak berbudaya dalam memanusiawikan kehidupan dan masyarakat,
terhadap politisi yang sibuk dengan rebutan kekuasaan hampa wacana kecuali
menjadikan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri , menjadikannya sebagai
kesempatan terbuka guna memperkaya diri dan menjual tanahair dan warga
negeri. Pemerintah bisa juga diartikan sebagai pimpinan politik. Dan peranan
prakarsa demi prakarsa yang diambil pemerintah dalam bidang sastra-seni
kutafsirkan bahwa dalam dalam mengembangkan dunia sastra-seni diperlukan
politik budaya yang jelas dan tepat dan melalui kegiatan di Place des
Abbesses ini aku menyaksikan pemaduan antara pimpinan dan yang dipimpin.
Pimpinan menyalurkan dan mendorong prakarsa dari bawah. "Demokrasasi dari
bawah" jika menggunakan istilah umum yang dipakai oleh Majalah Paris,
majalah kotapraja, pimpinan tidak berarti kekangan. "Demokratisasi dari
bawah" atau desentralisasi nampak menyuburkan tumbuh berkembangnya prakarsa.
Berdiri dan saban hari lalu-lalang melintasi Place des Abbesses, aku
menyaksikan adanya ide seperti di atas tanpa terang-terang diterakan pada
plasa ini. Jika
plasa Abbesses dan Montmarte umumnya sebagai panggung terbuka merupakan
ruang geografis bagi pelaksanaan ide tentang sastra-seni dari bawah,
mengenang dan memandang Indonesia, aku melihat seniman-seniman
tanahair seperti "bulan di atas kuburan" pada "Malam Lebaran"nya Sitor
Situmorang. Terlalu pesimiskah aku? Pesimisme bisa menjadi positif jika ia
adalah suatu kesadaran dan keyakinan tentang tetap adanya matahari sekalipun
sementara
mungkin dilindung awan. Pesimisku terhadap Indonesia pun justru dalam
pengertian
ini juga.
Paris, Januari 2004.
-------------------
JJ.KUSNI
Catatan:
Foto terlampir memperlihatkan penggunaan Place des Abbesses sebagai panggung
budaya oleh seniman-seniman profesional.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] SURAT BUDAYA: PLACE DES ABBESSES, PARIS, SEBAGAI PANGUNG BUDAYA.