[ppi] [ppiindia] SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI

** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/29/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

--------------------------------------------------------------------------------

SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
 

Atmadji Sumarkidjo 

ANYAK persepsi salah mengenai sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang 
dibentuk oleh pendapat para pengamat yang di antaranya cuma diperoleh dari 
bacaan di media, sementara media sendiri membentuk opini (yang belum tentu 
benar) dari analisis "pengamat ahli" tadi. Jadi sering kedua belah pihak saling 
mengambil kesimpulan yang sumbernya kurang akurat. 

SBY adalah garda terakhir lulusan Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata RI) yang 
memasuki bidang non-militer berkat tersedianya doktrin serta jalur dwifungsi 
ABRI. Sebagai catatan, Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto yang juga masuk dalam 
daftar calon presiden (capres) memang juga adalah lulusan Akabri, tetapi sampai 
ia berhenti dari dinas aktif, belum pernah terekspos pada karir non-militer dan 
malah miskin pada tugas-tugas teritorial. Mantan Panglima Kostrad itu masuk 
politik jauh setelah pensiun. 

Prabowo yang masuk Akabri sama-sama dengan SBY ketika masih dinas aktif 
tercatat tidak pernah mendapat penugasan di bidang teritorial. Bahkan ia 
termasuk sedikit dari perwira TNI yang belum pernah menjadi perwira teritorial. 
Sementara itu, SBY adalah gambaran dari perwira yang lengkap bidang 
penugasannya: pernah bertugas di satuan tempur, mempunyai jam terbang panjang 
di bidang pendidikan, cukup lama bekerja di staf serta akhirnya punya 
pengalaman di teritorial. 

Menarik untuk mengkaji anatomi lulusan Akabri 1973. Angkatan itu boleh dikata 
salah satu dari kelompok lulusan yang paling cemerlang dalam TNI tetapi 
sekaligus juga yang bernasib sial. Dikatakan cemerlang karena orang-orang 
seperti almarhum Letjen Agus Wirahadikusumah, Jenderal Ryamizard Ryacudu (Kasad 
sekarang) , SBY serta juga Prabowo (menurut buku alumni Cadaka Dharma) adalah 
lulusan dari tahun itu yang mampu mendapat pangkat bintang pada usia produktif 
(umur 40-an) dan relatif cepat. 

Ini belum termasuk para alumni yang berkiprah di matra yang lain seperti 
Wakasau Marsdya Herman Prayitno atau Laksda Djoko Sumaryono di TNI-AL atau 
Mayjen Marinir Yus Solichin di Korps Marinir. 


Banyak Faktor 

Ada banyak faktor yang menyebabkan lulusan 1973 mempunyai karier yang 
cemerlang. Pertama, Akabri menerima para lulusan SKTA yang berprestasi sangat 
baik dan bermotivasi tinggi yang lulus tahun 1968-1969 baik dari Jakarta maupun 
daerah. Banyak di antara mereka melamar karena terpengaruh nama harum ABRI pada 
waktu itu. 

Kedua, suasana pendidikan di Magelang sangat kondusif di bawah kepemimpinan 
Gubernurnya yang flamboyan, yaitu Mayjen Sarwo Edhie Wibowo. Sarwo tidak hanya 
memberi perhatian pada para taruna darat tetapi juga membina para taruna matra 
laut, udara dan polisi. 

Ketiga, para alumni tahun 1973 terhimpun dalam organisasi alumni yang aktif 
(Yayasan Cadaka Dharma) dengan "lurah" nya adalah SBY sendiri, praktis yang 
memimpin mereka sejak menjadi Taruna Akabri hingga ia pensiun dari jabatan 
militer dengan pangkat Letjen TNI. 

Kelompok alumni tersebut sejak semula sangat giat melakukan aktivitas 
memperluas wawasan dan olah pikir ketimbang sekadar kumpul-kumpul reuni, mulai 
dari membahas situasi negara sampai me review buku-buku yang dianggap menarik. 
Dan semua mengakui, ini berkat kepemimpinan "ki lurah" SBY. 

Keempat, sewaktu mereka masih berpangkat Mayor dan Letkol, Komandan Seskoad 
(waktu itu) Mayjen TNI Feisal Tandjung sengaja menarik para perwira angkatan 
1973 menjadi dosen di Bandung. Bukan itu saja, Kasad seperti Jenderal Edi 
Sudradjat dan Jenderal Wismoyo Arismunandar juga memanfaatkan otak mereka. 
Gerakan Back to Basic yang mula-mula dicanangkan oleh Edi dan diteruskan oleh 
Wismoyo, konsep dasarnya dikembangkan oleh orang-orang seperti Agus 
Wirahadikusuma dan SBY. 

Dalam alam pancaroba seperti itu, para perwira eks 1973 yang bersikap reformis 
atau tidak konservatif mudah terekspos dan masuk pada tarik-menarik politik 
yang ada. Buku berjudul ABRI Profesional dan Dedikatif (Pustaka Sinar Harapan, 
1998) yang sebetulnya adalah produk intelektual sebagai peringatan 25 tahun 
pengabdian mereka tanpa disengaja mengekspos mereka menjadi para alumni yang 
high profile. Dan puncaknya adalah buku kedua yang berjudul Indonesia Baru dan 
Tantangan TNI (PSH, 1999) yang terbit pada alam yang lebih demokratis. 


Buku Kontroversi 

Tulisan-tulisan dalam buku tersebut, terutama buku kedua, menimbulkan rasa 
kagum bagi para pengamat masalah militer, tetapi banyak tidak disukai oleh para 
jenderal konservatif dalam tubuh TNI sendiri. Buku yang pemikiran 
mainstream-nya adalah wacana ke depan (alternative future thinking) Agus Whk 
dan sejumlah perwira lain secara tegas menolak dwifungsi, Orde Baru dan semua 
produk masa sebelum itu; padahal kelompok konservatif-orthodoks masih banyak 
pada posisi yang menentukan Cilangkap dan di pojok Jl Merdeka Utara. 

Begitu kerasnya isi tulisan-tulisan itu, sehingga SBY yang tadinya memberikan 
kata pengantar, mencabut tulisannya pada saat-saat akhir ketika buku sudah 
dicetak. Agus agak kecewa, tapi buku tetap diterbitkan tanpa ada jejak serta 
keterlibatan SBY. Padahal pada awalnya, SBY-lah yang mendorong penerbitan buku 
yang sering disebut kontroversi itu. 

Celakanya, Presiden Abdurrahman Wahid yang amat tertarik dengan 
pemikiran-pemikiran "maju" dari para perwira dalam buku itu, terang-terangan 
memberikan dukungan kepada Agus Whk. Perwira yang sifat-sifat pribadinya lebih 
eksplosif dibanding SBY sudah menjadi sorotan media sejak ia menjadi Pangdam 
Wirabuana di Makasar. Promosinya menjadi Panglima Kostrad yang terang-terangan 
didorong oleh Gus Dur akhirnya menjadi bumerang bagi karirnya. 

Akhirnya ia diganti sebelum waktunya oleh sahabat satu angkatan juga, yaitu 
Mayjen Ryamizard Ryacudu. Meski demikian, sejumlah perwira teman dekat atau 
yang pemikirannya sejalan, juga terlempar dari jalur promosi. Di sini awal 
"kesialan" yang menimpa mereka dan itu baru terakhir satu tahun terakhir ini. 

Dalam konteks di ataslah kita harus melihat bagaimana SBY berperan dan 
mengambil sikap dalam badai politik antara 1992-1999. Ia jelas belajar banyak 
bagaimana penga-laman pahit yang dialami oleh sang mertua, Letjen TNI Sarwo 
Edhie yang sangat high profile, dan tidak mau berkompromi, lurus dan cenderung 
tidak mengerti military politics yang terjadi pada eranya. Sarwo kemudian 
terlempar dari orbit, sementara yang memperoleh kepercayaan Soeharto adalah 
para perwira TNI-AD yang lain. 

Pada sisi yang lain, ia sadar harapan yang diletakkan oleh rekan-rekan sekelas 
untuk secepatnya memperoleh kepercayaan pimpinan TNI menduduki posisi yang 
strategis, cukup besar. Ia sadar satu-satunya cara untuk menjunjung kepercayaan 
rekan-rekannya itu sebagai pembawa bendera adalah mengambil sikap hati-hati dan 
harus pula menampilkan sosok yang sedikit "konservatif" mesk bumbu moderat 
masih ada di dalamnya. Ia harus menjalankan peran itu, karena Prabowo yang 
waktu itu justru sangat high profile karena adalah menantu Soeharto mempunyai 
kelompok pertemanan sendiri, dan tidak pernah mengidentikkan dirinya sebagai 
"anggota" kelompok 1973. 


Sosok SBY 

Salah satu gambaran yang diciptakan ketika ia masuk dalam sorotan media 
mengenai sosok SBY adalah ia seorang militer-intelektual yang andal tetapi 
peragu dan tidak mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tegas . Budayaan 
Emha Ainun Nadjib, umpamanya, dalam sebuah talkshow di radio menyebut SBY 
sebagai sosok yang "kurang militer dan terlalu sipil". Tetapi profil demikian 
sebetulnya adalah yang mampu membawa SBY selamat dari kecurigaan berbagai 
kelompok pemikiran atau kepentingan dalam tubuh ABRI. Bahkan mampu lolos dari 
kecurigaan dari Soeharto yang tidak pernah menyenangi perwira yang punya 
kepribadian atau yang mandiri. 

Dengan caranya, ia akhirnya dijadikan sebagai benchmark bagi karir seorang 
perwira "masa depan" sebagai imbangan karier Prabowo yang melesat cepat di 
jalur yang lain. Bila kita teliti membaca arah karir keduanya antara tahun 
1992-1999, maka kita bisa lihat kenaikan pangkat mereka selalu hampir 
bersamaan. Ketika Prabowo dipromosi menjadi Brigjen, SBY mendapat promosi di 
Bosnia dalam pasukan PBB. 

Dan sewaktu Prabowo "harus" berpangkat Mayjen, maka SBY pun diplot menjadi 
Pangdam Sriwijaya (jabatan Mayjen), dengan akibat Brigjen Agus Widjojo yang 
harusnya menjadi Pangdam di sana akhirnya terlempar dari promosi secara 
menyakitkan. Untunglah, Pangab Feisal Tandjung cepat menyelamatkan karier Agus 
Widjojo dan buru-buru menariknya ke Cilangkap. 

Baik SBY maupun Prabowo mendapat pangkat Letjen pada waktu yang tidak banyak 
berbeda. SBY menjadi Kepala Staf Sosial-Politik ABRI sementara Prabowo menjadi 
Panglima Kostrad. Fakta menunjukkan bahwa SBY mampu lolos dari badai kedua 
dalam ABRI, ketika terjadi pergantian rezim, sementara Prabowo terpental dari 
posisinya yang kuat. 

Bila kita bisa menempatkan sikap SBY pada konteks ruang dan waktu pada periode 
yang serba sulit itu, maka kita sulit pula mengambil kesimpulan bahwa SBY 
adalah seorang "peragu" atau "tidak decisive" atau "tidak berani mengambil 
keputusan" seperti apa yang digambarkan oleh media atau yang diungkap oleh para 
pengamat. 

Paling tidak, menurut pengamatan saya, SBY tidak berubah sikapnya sejak tahun 
1990-an hingga sekarang. Hanya sejalan dengan kenaikan karirnya, ia harus 
menghindari adanya pandangan yang mengategorikannya sebagai perwira yang berada 
pada titik-titik ekstrem sebuah pendulum sikap. Akibatnya, memang SBY 
seolah-olah kurang cocok dengan almarhum Agus Whk; tetapi adakah sikap yang 
lebih tepat yang harus diambil oleh orang seperti dia pada situasi demikian? 

Sejak 12 Maret 2004 lalu SBY sebetulnya terbebas dari beban-beban yang kita 
sebutkan di atas. Ia bukan perwira TNI aktif, bukan pula seorang Menteri yang 
harus mengikuti arahan Presiden. Ia adalah pribadi sipil mandiri yang 
memperbolehkan nya untuk bicara apa saja. Pertanyaanya adalah, apakah tanpa 
beban di atas kita akan mendapatkan seorang SBY yang "asli" yang dikenal dan 
justru mulai digaumi banyak kalangan ketika masih berpangkat Kolonel? 


Penulis adalah pengamat masalah militer pada RIDEP Institute. Kini bekerja di 
RCTI. 



--------------------------------------------------------------------------------

Last modified: 29/3/04 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: