[ppi] [ppiindia] SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 29 Mar 2004 14:48:18 +0200
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/29/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------
SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
Atmadji Sumarkidjo
ANYAK persepsi salah mengenai sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang
dibentuk oleh pendapat para pengamat yang di antaranya cuma diperoleh dari
bacaan di media, sementara media sendiri membentuk opini (yang belum tentu
benar) dari analisis "pengamat ahli" tadi. Jadi sering kedua belah pihak saling
mengambil kesimpulan yang sumbernya kurang akurat.
SBY adalah garda terakhir lulusan Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata RI) yang
memasuki bidang non-militer berkat tersedianya doktrin serta jalur dwifungsi
ABRI. Sebagai catatan, Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto yang juga masuk dalam
daftar calon presiden (capres) memang juga adalah lulusan Akabri, tetapi sampai
ia berhenti dari dinas aktif, belum pernah terekspos pada karir non-militer dan
malah miskin pada tugas-tugas teritorial. Mantan Panglima Kostrad itu masuk
politik jauh setelah pensiun.
Prabowo yang masuk Akabri sama-sama dengan SBY ketika masih dinas aktif
tercatat tidak pernah mendapat penugasan di bidang teritorial. Bahkan ia
termasuk sedikit dari perwira TNI yang belum pernah menjadi perwira teritorial.
Sementara itu, SBY adalah gambaran dari perwira yang lengkap bidang
penugasannya: pernah bertugas di satuan tempur, mempunyai jam terbang panjang
di bidang pendidikan, cukup lama bekerja di staf serta akhirnya punya
pengalaman di teritorial.
Menarik untuk mengkaji anatomi lulusan Akabri 1973. Angkatan itu boleh dikata
salah satu dari kelompok lulusan yang paling cemerlang dalam TNI tetapi
sekaligus juga yang bernasib sial. Dikatakan cemerlang karena orang-orang
seperti almarhum Letjen Agus Wirahadikusumah, Jenderal Ryamizard Ryacudu (Kasad
sekarang) , SBY serta juga Prabowo (menurut buku alumni Cadaka Dharma) adalah
lulusan dari tahun itu yang mampu mendapat pangkat bintang pada usia produktif
(umur 40-an) dan relatif cepat.
Ini belum termasuk para alumni yang berkiprah di matra yang lain seperti
Wakasau Marsdya Herman Prayitno atau Laksda Djoko Sumaryono di TNI-AL atau
Mayjen Marinir Yus Solichin di Korps Marinir.
Banyak Faktor
Ada banyak faktor yang menyebabkan lulusan 1973 mempunyai karier yang
cemerlang. Pertama, Akabri menerima para lulusan SKTA yang berprestasi sangat
baik dan bermotivasi tinggi yang lulus tahun 1968-1969 baik dari Jakarta maupun
daerah. Banyak di antara mereka melamar karena terpengaruh nama harum ABRI pada
waktu itu.
Kedua, suasana pendidikan di Magelang sangat kondusif di bawah kepemimpinan
Gubernurnya yang flamboyan, yaitu Mayjen Sarwo Edhie Wibowo. Sarwo tidak hanya
memberi perhatian pada para taruna darat tetapi juga membina para taruna matra
laut, udara dan polisi.
Ketiga, para alumni tahun 1973 terhimpun dalam organisasi alumni yang aktif
(Yayasan Cadaka Dharma) dengan "lurah" nya adalah SBY sendiri, praktis yang
memimpin mereka sejak menjadi Taruna Akabri hingga ia pensiun dari jabatan
militer dengan pangkat Letjen TNI.
Kelompok alumni tersebut sejak semula sangat giat melakukan aktivitas
memperluas wawasan dan olah pikir ketimbang sekadar kumpul-kumpul reuni, mulai
dari membahas situasi negara sampai me review buku-buku yang dianggap menarik.
Dan semua mengakui, ini berkat kepemimpinan "ki lurah" SBY.
Keempat, sewaktu mereka masih berpangkat Mayor dan Letkol, Komandan Seskoad
(waktu itu) Mayjen TNI Feisal Tandjung sengaja menarik para perwira angkatan
1973 menjadi dosen di Bandung. Bukan itu saja, Kasad seperti Jenderal Edi
Sudradjat dan Jenderal Wismoyo Arismunandar juga memanfaatkan otak mereka.
Gerakan Back to Basic yang mula-mula dicanangkan oleh Edi dan diteruskan oleh
Wismoyo, konsep dasarnya dikembangkan oleh orang-orang seperti Agus
Wirahadikusuma dan SBY.
Dalam alam pancaroba seperti itu, para perwira eks 1973 yang bersikap reformis
atau tidak konservatif mudah terekspos dan masuk pada tarik-menarik politik
yang ada. Buku berjudul ABRI Profesional dan Dedikatif (Pustaka Sinar Harapan,
1998) yang sebetulnya adalah produk intelektual sebagai peringatan 25 tahun
pengabdian mereka tanpa disengaja mengekspos mereka menjadi para alumni yang
high profile. Dan puncaknya adalah buku kedua yang berjudul Indonesia Baru dan
Tantangan TNI (PSH, 1999) yang terbit pada alam yang lebih demokratis.
Buku Kontroversi
Tulisan-tulisan dalam buku tersebut, terutama buku kedua, menimbulkan rasa
kagum bagi para pengamat masalah militer, tetapi banyak tidak disukai oleh para
jenderal konservatif dalam tubuh TNI sendiri. Buku yang pemikiran
mainstream-nya adalah wacana ke depan (alternative future thinking) Agus Whk
dan sejumlah perwira lain secara tegas menolak dwifungsi, Orde Baru dan semua
produk masa sebelum itu; padahal kelompok konservatif-orthodoks masih banyak
pada posisi yang menentukan Cilangkap dan di pojok Jl Merdeka Utara.
Begitu kerasnya isi tulisan-tulisan itu, sehingga SBY yang tadinya memberikan
kata pengantar, mencabut tulisannya pada saat-saat akhir ketika buku sudah
dicetak. Agus agak kecewa, tapi buku tetap diterbitkan tanpa ada jejak serta
keterlibatan SBY. Padahal pada awalnya, SBY-lah yang mendorong penerbitan buku
yang sering disebut kontroversi itu.
Celakanya, Presiden Abdurrahman Wahid yang amat tertarik dengan
pemikiran-pemikiran "maju" dari para perwira dalam buku itu, terang-terangan
memberikan dukungan kepada Agus Whk. Perwira yang sifat-sifat pribadinya lebih
eksplosif dibanding SBY sudah menjadi sorotan media sejak ia menjadi Pangdam
Wirabuana di Makasar. Promosinya menjadi Panglima Kostrad yang terang-terangan
didorong oleh Gus Dur akhirnya menjadi bumerang bagi karirnya.
Akhirnya ia diganti sebelum waktunya oleh sahabat satu angkatan juga, yaitu
Mayjen Ryamizard Ryacudu. Meski demikian, sejumlah perwira teman dekat atau
yang pemikirannya sejalan, juga terlempar dari jalur promosi. Di sini awal
"kesialan" yang menimpa mereka dan itu baru terakhir satu tahun terakhir ini.
Dalam konteks di ataslah kita harus melihat bagaimana SBY berperan dan
mengambil sikap dalam badai politik antara 1992-1999. Ia jelas belajar banyak
bagaimana penga-laman pahit yang dialami oleh sang mertua, Letjen TNI Sarwo
Edhie yang sangat high profile, dan tidak mau berkompromi, lurus dan cenderung
tidak mengerti military politics yang terjadi pada eranya. Sarwo kemudian
terlempar dari orbit, sementara yang memperoleh kepercayaan Soeharto adalah
para perwira TNI-AD yang lain.
Pada sisi yang lain, ia sadar harapan yang diletakkan oleh rekan-rekan sekelas
untuk secepatnya memperoleh kepercayaan pimpinan TNI menduduki posisi yang
strategis, cukup besar. Ia sadar satu-satunya cara untuk menjunjung kepercayaan
rekan-rekannya itu sebagai pembawa bendera adalah mengambil sikap hati-hati dan
harus pula menampilkan sosok yang sedikit "konservatif" mesk bumbu moderat
masih ada di dalamnya. Ia harus menjalankan peran itu, karena Prabowo yang
waktu itu justru sangat high profile karena adalah menantu Soeharto mempunyai
kelompok pertemanan sendiri, dan tidak pernah mengidentikkan dirinya sebagai
"anggota" kelompok 1973.
Sosok SBY
Salah satu gambaran yang diciptakan ketika ia masuk dalam sorotan media
mengenai sosok SBY adalah ia seorang militer-intelektual yang andal tetapi
peragu dan tidak mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tegas . Budayaan
Emha Ainun Nadjib, umpamanya, dalam sebuah talkshow di radio menyebut SBY
sebagai sosok yang "kurang militer dan terlalu sipil". Tetapi profil demikian
sebetulnya adalah yang mampu membawa SBY selamat dari kecurigaan berbagai
kelompok pemikiran atau kepentingan dalam tubuh ABRI. Bahkan mampu lolos dari
kecurigaan dari Soeharto yang tidak pernah menyenangi perwira yang punya
kepribadian atau yang mandiri.
Dengan caranya, ia akhirnya dijadikan sebagai benchmark bagi karir seorang
perwira "masa depan" sebagai imbangan karier Prabowo yang melesat cepat di
jalur yang lain. Bila kita teliti membaca arah karir keduanya antara tahun
1992-1999, maka kita bisa lihat kenaikan pangkat mereka selalu hampir
bersamaan. Ketika Prabowo dipromosi menjadi Brigjen, SBY mendapat promosi di
Bosnia dalam pasukan PBB.
Dan sewaktu Prabowo "harus" berpangkat Mayjen, maka SBY pun diplot menjadi
Pangdam Sriwijaya (jabatan Mayjen), dengan akibat Brigjen Agus Widjojo yang
harusnya menjadi Pangdam di sana akhirnya terlempar dari promosi secara
menyakitkan. Untunglah, Pangab Feisal Tandjung cepat menyelamatkan karier Agus
Widjojo dan buru-buru menariknya ke Cilangkap.
Baik SBY maupun Prabowo mendapat pangkat Letjen pada waktu yang tidak banyak
berbeda. SBY menjadi Kepala Staf Sosial-Politik ABRI sementara Prabowo menjadi
Panglima Kostrad. Fakta menunjukkan bahwa SBY mampu lolos dari badai kedua
dalam ABRI, ketika terjadi pergantian rezim, sementara Prabowo terpental dari
posisinya yang kuat.
Bila kita bisa menempatkan sikap SBY pada konteks ruang dan waktu pada periode
yang serba sulit itu, maka kita sulit pula mengambil kesimpulan bahwa SBY
adalah seorang "peragu" atau "tidak decisive" atau "tidak berani mengambil
keputusan" seperti apa yang digambarkan oleh media atau yang diungkap oleh para
pengamat.
Paling tidak, menurut pengamatan saya, SBY tidak berubah sikapnya sejak tahun
1990-an hingga sekarang. Hanya sejalan dengan kenaikan karirnya, ia harus
menghindari adanya pandangan yang mengategorikannya sebagai perwira yang berada
pada titik-titik ekstrem sebuah pendulum sikap. Akibatnya, memang SBY
seolah-olah kurang cocok dengan almarhum Agus Whk; tetapi adakah sikap yang
lebih tepat yang harus diambil oleh orang seperti dia pada situasi demikian?
Sejak 12 Maret 2004 lalu SBY sebetulnya terbebas dari beban-beban yang kita
sebutkan di atas. Ia bukan perwira TNI aktif, bukan pula seorang Menteri yang
harus mengikuti arahan Presiden. Ia adalah pribadi sipil mandiri yang
memperbolehkan nya untuk bicara apa saja. Pertanyaanya adalah, apakah tanpa
beban di atas kita akan mendapatkan seorang SBY yang "asli" yang dikenal dan
justru mulai digaumi banyak kalangan ketika masih berpangkat Kolonel?
Penulis adalah pengamat masalah militer pada RIDEP Institute. Kini bekerja di
RCTI.
--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 29/3/04
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI