[ppi] [ppiindia] Revolusi Pemerataan Mutu Pendidikan

** ppi-india **
Jawa Pos

Senin, 26 Jan 2004

Revolusi Pemerataan Mutu Pendidikan
Oleh Taufikurrachman Saleh *
Pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia sampai sekarang belum bisa
diwujudkan. Kenyataannya, mayoritas rakyat -yang masih miskin- belum bisa
terlayani atau terjangkau pemerataan pendidikan secara baik. Bahkan, kalau
dicermati, pendidikan di Indonesia masih berpihak pada orang-orang yang
secara ekonomi tergolong mampu untuk menikmati fasilitas pendidikan
berkualitas tinggi.

Misalnya, pihak-pihak yang mendapatkan kesempatan menikmati sekolah unggulan
atau favorit mulai tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi (PT).
Mereka adalah anak-anak dari golongan keluarga kaya. Sedangkan anak-anak
dari keluarga miskin sulit menjangkau pendidikan bermutu.

Secara umum, hanya keluarga yang berekonomi mapan yang banyak memperoleh
kesempatan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah unggulan atau favorit.
Hanya orang kaya yang mampu mengikutkan anaknya dalam kursus-kursus
tambahan.

Sebaliknya, anak-anak dari keluarga miskin tidak banyak mampu mengikuti
kursus tambahan seperti yang dilakukan para siswa dari keluarga kaya.
Meskipun, fenomena itu -keluarga kaya memiliki kesempatan untuk bisa
menikmati sarana pendidikan- memang terjadi di negara mana pun.

Di Indonesia, tiap tahun terlihat, dalam pola rekrutmen murid baru di
sekolah-sekolah, anak-anak dari keluarga miskin makin terpinggirkan. Mereka
makin sulit mendapatkan kesempatan belajar di sekolah-sekolah favorit atau
sekolah unggulan.

Keadaan tersebut sebenarnya berlangsung lama sejak pemerintah Orde Baru.
Namun, hal itu belum berubah sampai sekarang. Kecenderungannya, hanya
anak-anak kaum elite atau kelas menengah ke atas yang mempunyai akses untuk
melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi.

Kecenderungan tersebut diperburuk setelah terjadinya krisis ekonomi yang
menimpa bangsa Indonesia. Angka pengangguran karena putus sekolah semakin
meningkat. Indikator itu bisa dilihat pada semakin banyaknya anak jalanan di
kota-kota di Indonesia.

Belum lagi, di banyak wilayah Indonesia, masih banyak daerah yang miskin. Di
daerah-daerah Indonesia yang masih terbelakang itu, mutu pendidikan semakin
jauh tertinggal dari kota-kota besar. Dengan kata lain, kesenjangan kualitas
pendidikan makin ternganga lebar.

Kualitas pendidikan di Indonesia sudah tertinggal kurang lebih 30 tahun
dibandingkan negara lain. Hasil analisis sejumlah lembaga internasional
menunjukkan, mutu pendidikan di Indonesia berada di peringkat terendah.
Misalnya, human development index Indonesia kalah dibandingkan Vietnam. Itu
berarti menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih miskin, kurang gizi, dan
sakit-sakitan.

Selain itu, output pendidikan yang dihasilkan ternyata belum bisa menjawab
semua persoalan yang kita hadapi. Kualitas sumber daya manusia sebagaimana
yang diharapkan masyarakat juga masih rendah, bahkan terpuruk di belakang
negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Karena itu, tidak heran tingkat kepercayaan publik terhadap output
pendidikan juga masih rendah. Khususnya, hal itu terlihat pada pola
rekrutmen tenaga kerja yang masih banyak yang melamar pekerjaan.

Hal yang lebih menyakitkan, kontribusi pendidikan terhadap lapangan kerja
masih didominasi untuk menghasilkan tenaga kerja kasar. Hal tersebut semakin
meyakinkan bila kita melihat laporan Competitive Year Book 2002. Laporan itu
menjelaskan bahwa tingkat daya saing manusia Indonesia menempati urutan
ke-47 di antara 49 negara.

Bahkan, ada penilaian dalam pola penerimaan tenaga kerja bahwa di negara
berkembang seperti Indonesia, mayoritas yang diterima bekerja bukan
disebabkan faktor profesionalisme, melainkan karena fator koneksi. Hal
tersebut berbeda dari negara yang sudah maju. Di negara maju, ukuran
rekrutmen sangat jelas dan rasional. Penerimaan tenaga kerja disaring sangat
ketat lewat tingkat profesionalnya.

Lantas, apa solusi terhadap problem pelik mutu dan pemerataan mutu
pendidikan di negeri ini? Salah satu di antaranya adalah harus ada kemauan
politik yang sangat keras untuk membuat kebijakan pemerataan pendidikan yang
berpihak pada rakyat.

Harus ada kebijakan di tingkat makro dengan strategi subsidi silang di semua
jalur serta jenjang pendidikan di Indonesia. Keluarga kaya diwajibkan
memberikan biaya pendidikan dan subsidi terhadap siswa dari keluarga miskin.
Murid-murid dari keluarga tidak mampu harus diprioritaskan untuk mendapatkan
beasiswa. Jika perlu, sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) harus diganti
dengan PSS (pembayaran subsidi silang). Strategi demikian barangkali akan
menjadi salah satu alternatif yang lebih adil untuk memeratakan kesempatan
belajar serta pemerataan mutu pendidikan.

Namun, subsidi silang tidak akan bisa berjalan tanpa ada dukungan pemerintah
yang berupa kebijakan yang mampu mengimplementasikannya. Juga, perlu ada
political will dari semua pihak, terutama pemerintah dan legislatif, untuk
melaksanakan program tersebut. Program itu harus dilakukan secara
revolusioner, tidak boleh setengah hati.

Meningkatkan kualitas pendidikan tidak hanya melalui indentifikasi isu,
tetapi mencakup keberanian membuat kebijakan progresif, inovatif, serta
transformatif. Tanpa itu, mutu pendidikan di Indonesia akan makin tertinggal
dari negara-negara lain. Bahkan, mutu pendidikan nasional kita makin
ditinggalkan negara tetangga di ASEAN.
*. Taufikurrachman Saleh SH MSi, ketua Komisi VI DPR dari FKB




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 

Yahoo! Groups Links

To visit your group on the web, go to:
 http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

To unsubscribe from this group, send an email to:
 ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

Your use of Yahoo! Groups is subject to:
 http://docs.yahoo.com/info/terms/ 



Other related posts: