[ppi] [ppiindia] Regenerasi (TNI) yang Tertunda

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**REPUBLIKA
Sabtu, 08 Oktober 2005


Regenerasi (TNI) yang Tertunda 
Aris Santoso
Pengamat TNI
Penundaan pergantian Panglima TNI baru-baru ini tentu berdampak pada proses 
alih generasi di TNI. Alih generasi merupakan tradisi yang khas dalam TNI, yang 
tidak ditemui di birokrasi sipil atau institusi besar lain. Karena tradisi alih 
generasi itulah, TNI seolah tidak pernah kekurangan kader-kader terbaiknya, 
yang menjadikan mutasi dalam TNI selalu menarik untuk diamati, dengan munculnya 
wajah-wajah baru dan segar.

Dengan tertundanya pergantian Panglima TNI, sedikit banyak tentu mengganggu 
''irama'' alih generasi. Namun bagaimana lagi, keputusan politik tersebut sudah 
terjadi, dan mustahil dibatalkan. Persoalannya sekarang, bagaimana agar TNI 
tidak terpaku dalam masalah penundaan tersebut. Dengan begitu, program 
penyiapan calon pemimpin di masa depan bisa terus berjalan. Salah satu gerbong 
besar yang siap menapaki lapisan elite TNI (khususnya matra darat), adalah 
perwira yang berasal dari generasi 1980-an.

Generasi 1980-an
Mulai tahun ini, hingga beberapa tahun ke depan, bisa jadi merupakan saat-saat 
yang penting bagi lulusan Akmil tahun 1980-an (Angkatan 1980, 1981 dan 
seterusnya). Karena di awal tahun ini, sudah ada alumninya yang dipromosikan 
menempati pos bintang satu (Brigjen), yakni Brigjen TNI Pramono Edi Wibowo 
(Wadanjen Kopassus, Akmil 1980). Berdasar perhitungan (kasar) selama ini, 
biasanya setelah 24 tahun lulus dari Akmil, akan ada alumninya yang muncul, 
sehubungan dengan dipromosikannya pada pos brigjen.

Seperti pengalaman Angkatan 1965 dulu, ketika Theo Syafei diangkat sebagai 
Pangdivif I Kostrad dengan pangkat Brigjen (1989). Atau Angkatan 1971, yang 
mulai banyak alumninya dipromosikan sebagai brigjen pada tahun 1995, seperti 
(pangkat saat itu) Brigjen TNI Ismed Yuzairi (Pangdivif 1 Kostrad), Brigjen TNI 
Djamari Chaniago (Pangdivif 2 Kostrad), Brigjen TNI T Rizal Nurdin (Komandan 
Secapa), dan beberapa rekan seangkatannya. Ada sekitar sepuluh kolonel saat 
itu, gelombang pertama dari Angkatan 1971 yang dipromosikan sebagai pati.

Kemunculan Brigjen TNI Pramono merupakan sinyal, bahwa gerbong generasi 1980-an 
sudah mulai bergerak. Tentu dalam satu tahun ke depan, akan muncul beberapa 
kolonel dari generasi ini yang segera menyusul Brigjen Pramono. Sekadar 
perbandingan, perkembangan di Polri lebih cepat lagi. Di jajaran Polri sudah 
muncul seorang pati dari Angkatan 1983, yaitu Brigjen Pol Budi Gunawan (salah 
satu direktur bidang personalia Mabes Polri).

Apa yang menarik dari generasi ini? Generasi ini mejadi unik sehubungan dengan 
turbulensi politik dahsyat tahun 1998-1999 lalu. Generasi ini menjadi saksi 
langsung, sebuah momentum yang kemudian dikenal sebagai masa peralihan dari 
orde baru ke era reformasi. Pada saat reformasi berlangsung, terutama di masa 
awal, generasi ini masih menjadi komandan satuan di lapangan, setingkat Dandim 
atau Danyon.

Itulah yang menjadikan komunitas ini khas, generasi yang berbeda dari 
generasi-generasi sebelumnya. Mereka memperoleh apa yang disebut sebagai 
pengalaman spiritual, berkat belajar langsung di lapangan, menyaksikan langsung 
bagaimana mesin transisi itu berjalan. Sebuah pengalaman yang tidak akan mereka 
peroleh di bangku pendidikan, atau di medan operasi mana pun.

Perwira-perwira dari generasi ini, yang terlibat langsung dalam ''pengamanan'' 
masa awal reformasi, beberapa bisa disebutkan, seperti Kol Inf Moeldoko (kini 
Direktur Pembinaan Kesenjataan Pussenif AD, Akmil 1981), Kol Kav Agus Suharto 
(kini pejabat di Kodam Jaya, Akmil 1983), Kol Inf Meris Wiryadi (Ajudan Wapres, 
Akmil 1983) dan Kol Inf Hieronimus Guru ( Komandan Brigif Linud 17/Kujang I, 
Akmil 1984).

Nama-nama tersebut menjadi komandan lapangan di Jakarta, yang memang menjadi 
pusat dari gerakan reformasi kala itu. Masing-masing menjabat selaku Dandim 
Jakarta Pusat (Letkol Inf Moeldoko), Komandan Yonkav 7/Panser Khusus Kodam Jaya 
(Letkol Kav Agus Suharto), Komandan Yonif 201/Jaya Yuda (Letkol Inf Meris 
Wiryadi), dan Komandan Yonif Linud 328/Kujang II Kostrad (Letkol Inf Hieronimus 
Guru).

Pengalaman mengawal langsung perubahan besar di negeri ini, kiranya bisa 
dijadikan referensi bila suatu saat mereka telah menjadi penentu kebijakan, 
baik di lingkungan TNI maupun masyarakat umum. Konkretnya kira-kira seperti 
ini, bahwa dalam menentukan sebuah kebijakan, TNI tidak dapat lagi bertumpu 
pada kekuasaan semata, namun juga harus mempertimbangkan aspirasi yang 
berkembang di masyarakat.

Misteri kolonel
Pada saat ini sudah banyak generasi 1980-an --khususnya Angkatan 1980 sampai 
1984-- yang menyandang pangkat kolonel. Mereka masih perlu bersabar untuk 
menunggu giliran dipromosikan. Sembari menunggu saat promosi nanti, ada baiknya 
mereka tetap menjaga performanya. Kalau kinerja mereka selalu prima, niscaya 
promosi yang dinanti-nantikan itu akan tiba juga.

Dalam strata kepangkatan militer, bisa jadi pangkat kolonel adalah pangkat yang 
paling kompleks. Karena tingkatan ini merupakan gerbang terakhir menuju strata 
pati. Hanya ada dua pilihan: bisa lolos ke jenjang pati atau tetap kolonel 
hingga pensiun tiba.

Persoalannya tidak semua kolonel akan memasuki jenjang pati. Persentasenya 
sangatlah kecil. Dari sekian banyak kolonel, yang bisa menembus jajaran pati 
umumnya hanya beberapa orang. Masa penantian yang panjang atau di tengah 
ketidakpastian menjadi pati, memberi beban psikologis tersendiri bagi 
penyandang pangkat tersebut.

Di kalangan perwira TNI ada metafora, bahwa untuk meraih pangkat bintang, jalan 
yang ditempuh sangat terjal, bila perlu dengan 'berdarah-darah'. Menembus 
jajaran pati ibarat lolos dari lubang jarum. Begitulah kenyataan bila seseorang 
telah memilih sebuah profesi atau karir, tentu ia akan berusaha agar sukses 
pada bidang yang menjadi pilihannya. Dalam profesi militer, salah satu ukuran 
suksesnya adalah bila telah mencapai jenjang pati. 

Beban psikologis seperti itulah yang terkadang berpengaruh pada perilaku dan 
kinerja yang bersangkutan, terutama bagi yang kurang berjiwa besar (legowo). 
Tak heran bila kita sering mendengar, ada seorang kolonel yang tiba-tiba 
bertindak aneh, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan statusnya sebagai 
seorang perwira, seperti yang terjadi di Surabaya baru-baru ini. Bahkan ada 
yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis, seperti Kol Kav Iman Basuki 
di Bandung tahun lalu.

Bagi yang tidak tahan, beban psikologis itu akan terus membayangi mereka, 
hingga saat memasuki jenjang purnawira. Semisal soal bagaimana ''protokoler'' 
yang pas bagi yang bersangkutan. Hendak dihormati layaknya seorang jenderal, 
ternyata masih belum masuk jajaran pati. Kalau perlakuan kurang pas, ada 
kekhawatiran yang bersangkutan nanti bisa salah paham, karena merasa sudah 
''hampir'' jenderal. Jadi memang serba salah.

Mungkin akan lebih baik bagi seorang kolonel bila telah ada kepastian sejak 
jauh-jauh hari: bisa meraih pangkat jenderal atau tidak. Seperti yang pernah 
dialami Kol Inf Purn Hadi Utomo (kini Ketua Umum Partai Demokrat, Akmil 1970), 
saat masih aktif dulu. Secara kebetulan beliau bisa memperkirakan, bahwa 
pangkatnya memang hanya sampai di situ. Kepastian seperti itu membuat 
langkahnya bisa lebih ringan, termasuk ringan pula ketika ia dikaryakan sebagai 
Kepala Dinas Tramtib DKI.

Justru di sinilah uniknya, sebab tidak ada kepastian soal itu. Karir perwira 
adalah misteri, lebih-lebih bagi yang berpangkat kolonel. Kita tidak pernah 
tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Ada kalanya seorang kolonel yang 
kita kira akan lancar karirnya, karena demikian seringnya dikirim ke medan 
operasi, hanya karena kurang beruntung, tetap saja kolonel hingga pensiun.

Untuk sekadar mencari-cari ukuran, sebenarnya sudah ada ukuran yang bisa 
dijadikan pijakan untuk memprediksi seorang kolonel bisa menembus pati atau 
tidak, seperti pengalaman Kolonel Hadi Utomo di atas. Salah satunya adalah 
partisipasinya dalam jenjang pendidikan Seskoad.




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] Regenerasi (TNI) yang Tertunda