[ppi] [ppiindia] Reformasi atau Reformati?
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 26 May 2006 23:53:24 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=227902
Sabtu, 27 Mei 2006,
Reformasi atau Reformati?
Oleh Adlil Umarat *
Sudah sewindu kita menjalankan reformasi di negeri ini, namun apakah benar kita
melakukan reformasi yang sebenarnya? Apakah reformasi tersebut membawa angin
segar yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat kita? Saya
dengan tegas menjawab "tidak!".
Sebagaimana ditulis Saudara Awidya Santikajaya (Jawa Pos, 25/05/06), reformasi
saat ini hanya berlangsung sebagai pseudo-reformasi. Artinya, reformasi
setengah hati, reformasi yang hanya jalan di tempat, reformasi yang semu
belaka. Saya sepenuhnya sepakat dengan kata pseudo-reformasi itu dan kita harus
legawa menerima kenyataan tersebut.
Three Key Players
Saya akan mengkritisi perkembangan reformasi dari sisi "pemain"-nya. Paling
tidak, dalam kehidupan bernegara kita saat ini, ada tiga pemain kunci yang
menjadi sorotan saya karena begitu pentingnya peran mereka dalam proses
reformasi tersebut.
Pertama, pemerintah pusat alias eksekutif. Setelah diawaki seorang mantan
militer, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), ternyata keadaan negara ini tidak jauh
berbeda dengan kondisi sebelumnya. Padahal, kita tahu bahwa SBY adalah pilihan
rakyat langsung.
Tetapi, apa yang terjadi dengan kondisi negara saat ini? Privatisasi, aset
negara yang paling berharga, seperti potensi tambang minyak di Cepu, tambang
emas di Freeport, semakin diberikan kepada pihak asing oleh presiden kita.
Akibatnya, pihak asing berlomba-lomba untuk masuk ke Indonesia dan menguasai
pasar serta meraih keuntungan dari negara ini. Pada saat bersamaan, ternyata,
kita sebagai rakyat tidak mampu berbuat apa-apa. Rakyat hanya bisa pasrah,
nrimo, sambil sering mengelus dada, tanda harus lebih banyak bersabar.
Kenaikan harga BBM pasca terpilihnya SBY, ternyata, memberikan dampak luar
biasa bagi masyarakat luas. Pemecatan dengan alasan rasionalisasi terjadi di
perusahaan-perusahaan kecil yang tidak mampu bersaing dengan perusahaan asing,
yang notabene sebagai big scale company.
Ekonomi makro agaknya menjadi agenda penting dalam tim ekonomi SBY. Terbukti,
semakin digiatkannya undangan terhadap investor untuk berinvestasi di negeri
ini melalui lawatan ke luar negeri beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Jenderal (pur) SBY melupakan ekonomi mikro, yang nyata-nyata
berada di tataran grass root. Gerakan ekonomi mikro seakan menjadi prioritas ke
sekian dalam agenda tim ekonomi SBY.
Padahal, saat ini banyak sektor potensial masyarakat yang belum terlalu digarap
secara serius. Belum lagi, utang Indonesia yang semakin menumpuk.
Ketidakberanian SBY melepaskan negaranya dari cengkeraman IMF, World Bank, dan
sekutunya telah menyengsarakan masyarakat banyak.
Terbukti, di dalam reshuffle kabinet, dipilihlah orang-orang yang pro-IMF untuk
melanggengkan hubungan mesra IMF-RI. Pemerintah pusat saat ini terjebak dalam
kerangkeng yang disiapkan agen-agen neoloberalisme. Parahnya lagi, saya melihat
tidak ada niat dari SBY dkk untuk keluar dari jebakan tersebut.
Elitis
Pemain kedua adalah anggota dewan yang terhormat, DPR/DPD. Anggota dewan yang
notabene sebagai wakil dan penyambung lidah rakyat, ternyata, juga gagal dalam
menyampaikan aspirasi rakyat.
Apa saja yang mereka lakukan? Mereka lebih sibuk berkonflik ria dengan internal
partainya sambil merebut dan mempersiapkan strategi jangka panjang untuk
memperbanyak suara di pemilu berikutnya.
Selain itu, masalah-masalah, seperti kenaikan gaji/tunjangan, pemagaran
kompleks DPR menjadi lebih tinggi dan kokoh, dan masalah remeh-temeh lainnya
seolah menjadi prioritas mereka. Konsentrasi mereka menjadi terpecah dan
mengabaikan tugas mereka yang sesungguhnya sebagai representasi dari rakyat.
Menurut terminologi Habermas, pemikiran dan logika yang dipakai DPR/DPD saat
ini adalah logika rasionalitas instrumental, sebuah logika yang selalu
dimuarakan kepada masalah untung-rugi. Kekurangan dari logika itu, jika dipakai
untuk mengelola negara, adalah tidak adanya unsur empati, tenggang rasa, dan
"pengertian" terhadap rakyat kecil.
Dalam usulannya, Habermas berusaha menawarkan konsep logika rasional
komunikatif, yaitu sebuah logika berpikir yang tidak hanya memikirkan
untung-rugi, tapi juga memikirkan pertimbangan kemanusiaan.
Misalnya, kenaikan harga BBM dilihat tidak dari segi kestabilan kas negara,
APBN. Tapi, juga dipikirkan dampak luasnya terhadap rakyat kecil yang semakin
terjepit.
Begitu juga, kebijakan DPR yang diam saja ketika blok Cepu diserahkan kepada
pihak asing. Hal itu cukup memberikan bukti kepada seluruh rakyat bahwa di masa
mendatang tidak ada lagi aset yang bisa digarap anak-cucu bangsa ini.
Nasionalisme kita sebagai bangsa sudah pudar seiring hilangnya aset-aset
berharga milik negara.
Rakyat yang Siap Meradang
Pemain ketiga adalah rakyat. Kadang-kadang saya berpikir, apakah sebenarnya
demokrasi yang kita sanjung-sanjung selama ini benar-benar cocok dengan
karakteristik masyarakat kita atau tidak? Di Barat, setiap warga telah melek
ilmu pengetahuan dan pendidikan sehingga ketika mengikuti pemilu, misalnya,
mereka memilih dengan menggunakan hitung-hitungan kualitas, visi, misi si wakil
rakyat yang akan dipilih.
Tapi, pemilu di negara kita ini berbeda. Pemilu masih digerogoti isu
primordialisme, patron-client, dan lain sebagainya. Karena itu, dampaknya pun
bisa kita lihat dari tidak lancarnya komunikasi rakyat-DPR-pemerintah eksekutif
pascapemilu.
Adlil Umarat, peneliti senior pada KSM Eka Prasetya UI (email: cuad_nv@xxxxxxxxx
)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives
http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts: