[ppi] [ppiindia] Reformasi atau Reformati?

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=227902

Sabtu, 27 Mei 2006,


Reformasi atau Reformati?
Oleh Adlil Umarat *



Sudah sewindu kita menjalankan reformasi di negeri ini, namun apakah benar kita 
melakukan reformasi yang sebenarnya? Apakah reformasi tersebut membawa angin 
segar yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat kita? Saya 
dengan tegas menjawab "tidak!".

Sebagaimana ditulis Saudara Awidya Santikajaya (Jawa Pos, 25/05/06), reformasi 
saat ini hanya berlangsung sebagai pseudo-reformasi. Artinya, reformasi 
setengah hati, reformasi yang hanya jalan di tempat, reformasi yang semu 
belaka. Saya sepenuhnya sepakat dengan kata pseudo-reformasi itu dan kita harus 
legawa menerima kenyataan tersebut.

Three Key Players

Saya akan mengkritisi perkembangan reformasi dari sisi "pemain"-nya. Paling 
tidak, dalam kehidupan bernegara kita saat ini, ada tiga pemain kunci yang 
menjadi sorotan saya karena begitu pentingnya peran mereka dalam proses 
reformasi tersebut. 

Pertama, pemerintah pusat alias eksekutif. Setelah diawaki seorang mantan 
militer, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), ternyata keadaan negara ini tidak jauh 
berbeda dengan kondisi sebelumnya. Padahal, kita tahu bahwa SBY adalah pilihan 
rakyat langsung. 

Tetapi, apa yang terjadi dengan kondisi negara saat ini? Privatisasi, aset 
negara yang paling berharga, seperti potensi tambang minyak di Cepu, tambang 
emas di Freeport, semakin diberikan kepada pihak asing oleh presiden kita. 

Akibatnya, pihak asing berlomba-lomba untuk masuk ke Indonesia dan menguasai 
pasar serta meraih keuntungan dari negara ini. Pada saat bersamaan, ternyata, 
kita sebagai rakyat tidak mampu berbuat apa-apa. Rakyat hanya bisa pasrah, 
nrimo, sambil sering mengelus dada, tanda harus lebih banyak bersabar.

Kenaikan harga BBM pasca terpilihnya SBY, ternyata, memberikan dampak luar 
biasa bagi masyarakat luas. Pemecatan dengan alasan rasionalisasi terjadi di 
perusahaan-perusahaan kecil yang tidak mampu bersaing dengan perusahaan asing, 
yang notabene sebagai big scale company. 

Ekonomi makro agaknya menjadi agenda penting dalam tim ekonomi SBY. Terbukti, 
semakin digiatkannya undangan terhadap investor untuk berinvestasi di negeri 
ini melalui lawatan ke luar negeri beberapa waktu lalu. 

Sementara itu, Jenderal (pur) SBY melupakan ekonomi mikro, yang nyata-nyata 
berada di tataran grass root. Gerakan ekonomi mikro seakan menjadi prioritas ke 
sekian dalam agenda tim ekonomi SBY. 

Padahal, saat ini banyak sektor potensial masyarakat yang belum terlalu digarap 
secara serius. Belum lagi, utang Indonesia yang semakin menumpuk. 
Ketidakberanian SBY melepaskan negaranya dari cengkeraman IMF, World Bank, dan 
sekutunya telah menyengsarakan masyarakat banyak. 

Terbukti, di dalam reshuffle kabinet, dipilihlah orang-orang yang pro-IMF untuk 
melanggengkan hubungan mesra IMF-RI. Pemerintah pusat saat ini terjebak dalam 
kerangkeng yang disiapkan agen-agen neoloberalisme. Parahnya lagi, saya melihat 
tidak ada niat dari SBY dkk untuk keluar dari jebakan tersebut. 

Elitis

Pemain kedua adalah anggota dewan yang terhormat, DPR/DPD. Anggota dewan yang 
notabene sebagai wakil dan penyambung lidah rakyat, ternyata, juga gagal dalam 
menyampaikan aspirasi rakyat. 

Apa saja yang mereka lakukan? Mereka lebih sibuk berkonflik ria dengan internal 
partainya sambil merebut dan mempersiapkan strategi jangka panjang untuk 
memperbanyak suara di pemilu berikutnya. 

Selain itu, masalah-masalah, seperti kenaikan gaji/tunjangan, pemagaran 
kompleks DPR menjadi lebih tinggi dan kokoh, dan masalah remeh-temeh lainnya 
seolah menjadi prioritas mereka. Konsentrasi mereka menjadi terpecah dan 
mengabaikan tugas mereka yang sesungguhnya sebagai representasi dari rakyat.

Menurut terminologi Habermas, pemikiran dan logika yang dipakai DPR/DPD saat 
ini adalah logika rasionalitas instrumental, sebuah logika yang selalu 
dimuarakan kepada masalah untung-rugi. Kekurangan dari logika itu, jika dipakai 
untuk mengelola negara, adalah tidak adanya unsur empati, tenggang rasa, dan 
"pengertian" terhadap rakyat kecil. 

Dalam usulannya, Habermas berusaha menawarkan konsep logika rasional 
komunikatif, yaitu sebuah logika berpikir yang tidak hanya memikirkan 
untung-rugi, tapi juga memikirkan pertimbangan kemanusiaan. 

Misalnya, kenaikan harga BBM dilihat tidak dari segi kestabilan kas negara, 
APBN. Tapi, juga dipikirkan dampak luasnya terhadap rakyat kecil yang semakin 
terjepit. 

Begitu juga, kebijakan DPR yang diam saja ketika blok Cepu diserahkan kepada 
pihak asing. Hal itu cukup memberikan bukti kepada seluruh rakyat bahwa di masa 
mendatang tidak ada lagi aset yang bisa digarap anak-cucu bangsa ini. 
Nasionalisme kita sebagai bangsa sudah pudar seiring hilangnya aset-aset 
berharga milik negara.

Rakyat yang Siap Meradang

Pemain ketiga adalah rakyat. Kadang-kadang saya berpikir, apakah sebenarnya 
demokrasi yang kita sanjung-sanjung selama ini benar-benar cocok dengan 
karakteristik masyarakat kita atau tidak? Di Barat, setiap warga telah melek 
ilmu pengetahuan dan pendidikan sehingga ketika mengikuti pemilu, misalnya, 
mereka memilih dengan menggunakan hitung-hitungan kualitas, visi, misi si wakil 
rakyat yang akan dipilih. 

Tapi, pemilu di negara kita ini berbeda. Pemilu masih digerogoti isu 
primordialisme, patron-client, dan lain sebagainya. Karena itu, dampaknya pun 
bisa kita lihat dari tidak lancarnya komunikasi rakyat-DPR-pemerintah eksekutif 
pascapemilu. 


Adlil Umarat, peneliti senior pada KSM Eka Prasetya UI (email: cuad_nv@xxxxxxxxx
)



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get to your groups with one click. Know instantly when new email arrives
http://us.click.yahoo.com/.7bhrC/MGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: