[ppi] [ppiindia] Re: Syariat Islam, Normatif Realistik (II/Habis)

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Nuwun Sewu...

Maaf, kalau memperhatikan 2 ayat Yaasiin (37 dan 38)
seperti ini:
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka 
adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka 
dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan,

dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan 
Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
----->
Justru pandangannya masih pra-Copernicus. Sebab di situ 
dijelaskan yang berjalan di garis peredarannya adalah
MATAHARI, bukan BUMI, sehingga seolah-olah antara
gelap dan terang bergantian, dengan klausul:
"Kami tanggalkan siang dari malam itu". 
Boleh jadi memang demikian, karena pada waktu itu
kan belum ada TELESKOP. Seedang kalau tak salah
entah si Coper atau si Galileo memperhatikan bentuk-2
benda langit (matahari dan bulan?) dari bayangannya
di air. Malah diceritakan mengapa mBah Galileo atau
mBah Coper memutuskan bahwa bumi bulat, karena mem-
perhatikan kedatangan sebuah kapal layar yang menuju
pelabuhan, mengapa ketika masih jauh hanya kelihatan
tiyang pancang layarnya, dan ketika mendekat menjadi 
semakin utuh....;p.

Kuncinya, pada waktu era Yaasiin, kemungkinan sulit 
memberi pengertian kepada ummat bila langsung informatif
ngilmiah.

--nuwun sewu (ikutan Mas Singo...)

--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, man diri <aman9632001@xxxx> wrote:
> Seharusnya jangan dibalik dalam kita menanggapi Qur'an.
> Maksudnya begini, Qur'an sebagai sumber ilmu  seharusnya kita 
pelajari sejelas-jelasnya sehingga benar-benar menguasai baik dari 
segi bahasa  sehingga mempunyai satu persepsi secara keilmuan baik 
secara kelimuan organis, biologis dan budaya.
> Jangan menguasai Ilmu pengetahuan baru mengenal qur'an dengan 
demikian ada pernyataan oh ya   qur'an  ada.
> Contoh  yang riil 'Covernicus  dengan mengaku  penemuannya 
menyatakan "bahwa matahari, bumi  berputar pada porosnya dan bumi 
berputar mengelilingin matahari'.
> Dari mana Covernicus bisa menyatakan hal ini  kalau tidak mencuri 
dari Qur'an coba lihat Qs Yasin ayat 38.
> Perlu saya informasikan pada bapak Yahudi dan Israel telah 
menerima  Ilmu dari Allah selama 4.000 sejak para Nabi dan Rasul 
Allah turun di kalangan mereka.
>  
>  
>  
>    
> 
> 
> djunaedi sahrawi <djunaedisahrawi@xxxx> wrote:
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1203/09/0802.htm
> 
> Syariat Islam, Normatif Realistik (II/Habis)
> Oleh SANUSI UWES 
> 
> PROBLEMATIKA perkembangan pemikiran Islam, idealnya
> kaum Muslim mengembangkan pemikiran tentang Tuhan,
> alam, dan manusia, beranjak dari keyakinan autentik
> (mu'min haqqo -- imtak) terhadap Alquran dan Hadis.
> Namun juga realitas sosial kaum ilmuwan menunjukkan
> ada banyak ilmuwan yang mendalami Alquran sesudah
> memahami realitas alam. Ini berarti dalam praktik
> kehidupan kaum ilmuwan terjadi sinergi antara berpikir
> tentang alam beranjak dari pemahamaan awal terhadap
> Alquran dan Hadis, dengan mereka yang berpikir lebih
> dahulu tentang alam baru kemudian menelaah Alquran dan
> Hadis. Jadi semacam justifikasi. Dengan demikian, akan
> selalu terjadi konsultasi antara imtak dan iptek.
> Namun dalam kehidupan sehari-hari hal ideal tersebut
> jarang ditemukan. 
> 
> Terdapat beberapa kemungkinan berkenaan dengan hal
> tersebut. Pertama, kurang iman terhadap Alquran.
> Kedua, kurang mengerti Alquran. Ketiga, kurang
> memahami realitas alam sesungguhnya. Keempat
> terkonstruksi oleh pikiran-pikiran mitologis terhadap
> alam. Kelima, terhanyut oleh al-hawa. Keenam, kurang
> kuat kemauan atau motivasi (dalam dataran esoteris
> secara generik hal itu dapat dikatakan kurang
> mengimani Allah dengan segala sifat kesempurnaannya). 
> 
> Dalam pada itu terdapat berbagai problema perkembangan
> pikiran (yang islami), yang jadi hambatan bagi
> pencapaian kebenaran universal. Beberapa di antaranya
> dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, ilmu
> sebagai produk pemikiran dalam bentuk materinya
> (artifisial) merupakan instrumen bagi penguasaan alam.
> Oleh karena itu dengan ilmu yang kemudian melahirkan
> teknologi (iptek) manusia berpeluang menguasai alam.
> Walau Allah menegaskan bahwa setiap manusia ada
> rezekinya masing-masing, alam ini tetap bersifat
> terbatas. 
> 
> Problemnya adalah saat suatu kelompok manusia berilmu
> dan kemudian berlomba menguasai alam, maka manusia
> yang tidak berilmu tidak kebagian penguasaan alam.
> Akibatnya, kelompok terakhir ini terpinggirkan dari
> percaturan penguasaan alam. Sebaliknya, orang yang
> menguasai ilmu pengetahuan akan bertindak
> sewenang-wenang menguasai alam bagian orang lain.
> Itulah sebabnya mengapa orang Eropa yang lebih dahulu
> menguasai ilmu kemudian menjajah bangsa dan negara
> lain untuk semata-mata kepentingan bangsa dan
> kelompoknya sendiri, dengan menguras kekayaan negara
> terjajah ke negerinya sendiri.
> 
> Iptek ternyata mendorong keserakahan umat manusia.
> Oleh karena itu harus diimbangi dengan iman dan takwa
> (imtak). Melalaui imtak, idealnya motivasi tindakan
> dapat lebih terkontrol dalam dimensi nilai-nilai
> kemanusiaan universalnya. Oleh karena itu melalui
> imtak mestinya kita membuat paradigma baru mengenai
> berbagai hal, khususnya berkenaan dengan konsep dan
> term-term ilmu-ilmu yang berkenaan dengan kemanusiaan,
> baik sosial maupun humaniora. 
> 
> Contoh, konsep kebahagiaan. Dari sisi ekonomi,
> kebahagiaan adalah terpenuhinya kebutuhan material,
> dari sisi psikologi tersalurkannya potensi libido
> (Sigmund Freud) atau kemampuan aktualisasi diri
> (Maslow) atau penguasaan materi (Karl Marx) atau kerja
> keras untuk akhirat (Protestan Ethic-Max Weber) dan
> seterusnya. Tampak sekali bahwa tanpa landasan imtak
> teori-teori keilmuan tersebut cenderung untuk memenuhi
> kepentingan manusia secara fisik dan individual.
> Berbeda dengan itu, melalui imtak dalam konsep Islam,
> kebahagiaan adalah terpenuhinya nilai-nilai
> kemanusiaan universal. 
> 
> Kedua, ilmu sebagai produk pemikiran merupakan suatu
> maqom yang harus dilalui untuk mencapai kepribadian
> lahut setelah kualitas kepribadian meningkat dari
> tingkat nasut, malakut,, dan jabarut. Artinya seorang
> ilmuwan tidak boleh diam menetap pada maqom tersebut
> dan tidak beranjak lagi sebab maqom tersebut akan jadi
> penjara bagi pemiliknya (lihat Khomeni, 1993:36) dan
> hal ini tentu saja akan menurunkan derajat
> kepribadiannya, mengalami istidraj, penurunan mutu
> kepribadian. 
> 
> Bentuk perilaku ilmuwan tersebut adalah terbatas pada
> kesibukan dunia keilmuan demi kepentingan dirinya
> sendiri. Buku dibaca dimaksudkan untuk memperkuat
> dalil-dalil dan alasan-alasan akibat negatif dari
> perilaku yang ditimbulkannya, jadi bukan untuk
> mempertegas capaian kebenaran bagi peningkatan mutu
> perilakunya. Ilmunya dijadikan bumper bagi aksi yang
> dilakukan, dengan memperbanyak argumen pada tiap
> bagian kelakuannya. Setiap kali membaca buku dan
> melihat fenomena alam, setiap itu pula cabang
> pengetahuannya bertambah, serta setiap itu pula
> bertambah peluang ketertutupan dari hakikat kebenaran
> yang dikejarnya, termasuk ke dalam hal ini adalah
> penguasaan orang terhadap ilmu agama. 
> 
> Idealnya penguasaan ilmu Islam paling tidak memakai
> dua pendekatan, yakni pendekatan keilmuan, dan
> pendekatan praktik keagamaan. Dalam (a) pendekatan
> keilmuan, Islam dipahami sebagai objek material ilmu
> yang distudi, dianalisis, diteliti sebagaimana
> menstudi dan meneliti objek material ilmu yang
> lainnya. Dalam kaitan ini kita perlu memerhatikan tiga
> aspek, yaitu (a1) membebaskan diri dari hegemoni makna
> yang telah ditulis sejarah masa lalu. 
> 
> Dalam mengembangkan pemikiran Islam, pikiran kita
> jangan dipenjara oleh sejarah makna sedemikian rupa
> sehingga hilang potensi kritis dalam memahami Alquran
> dan Hadis. Hal ini tidak berarti pemikir Muslim
> mengabaikan produk sejarah pemikiran. Justru kita
> mengestafetkan pengembangan berpikir melalui pemahaman
> atas perkembangan pemikiran masa lalu yang kontekstual
> dengan suasana dan lingkungan yang dihidupinya. 
> 
> Butir (a2) menangkap pesan utama Alquran dan Hadis
> melalui pemahaman terhadap makna yang syumuliah,
> kumuliyah, dan kaffah, berkenaan dengan suasana
> ekonomi, politik, sejarah, peradaban, dan kebudayaan
> masyarakat saat ayat diturunkan. (a3) menangkap pesan
> Alquran dan Hadis tidak hanya terbatas pada dimensi
> legal formal, tetapi masuk ke dalam dimensi etis. 
> 
> Dengan demikian, kembali pada Alquran dan Hadis yang
> dapat menyelesaikan masalah adalah kembali pada
> dimensi etis tersebut. Tanpa itu, maka akan terjadi
> benturan, bentrokan, dan malah saling bunuh hanya
> gara-gara masing-masing merasa paling benar memegang
> hukum Alquran sambil mengabaikan tuntutan etisnya
> untuk menjaga persatuan, persaudaraan, dan kekuatan
> bagi kemanfaatan manusia terbanyak (khairunnaas,
> anfa'uhum linnas).
> 
> Perkembangan pemikiran Islam juga perlu diarahkan
> kepada (b) pendekatan praktik keagamaan. Pemikiran
> Islam perlu fokus terhadap metodologi beragama yang
> benar. Berdasarkan informasi hasil pemikiran ilmu
> agama, kemudian dilakukan "transfer of skill"
> keberagamaan ilmu agama. Dalam kaitan ini asumsi
> tentang hasil pemikiran agama kira-kira sama dengan
> hasil pemikiran ilmu silat. Buat apa menguasai ilmu
> silat kalau tidak bisa silat. Pertanyaan yang sama
> dapat dikemukakan buat apa bicara tentang teori
> shiddiq, amanah, tabligh, fathanah sebagai sifat nabi
> yang wajib kita teladani, manakala kita tidak dapat
> melakukannya. Untuk keperluan itulah, informasi
> keilmuan agama tersebut perlu ditindaklanjuti dengan
> metodologinya. Saya kira inilah yang diamanatkan K.H.
> Ahmad Dahlan dalam metodologi pengajaran agama. Beliau
> menolak usulan murid-muridnya untuk pindah kajian
> surat karena peserta kajian dianggap belum bisa
> mengamalkan isi surat Al-Ma'uun tersebut. 
> 
> Ketiga, akibat ilmuwan yang melepaskan diri dari
> pemikiran praktisnya adalah sifat sok benar sendiri,
> untuk kemudian lahir sifat memaksakan pendapat pada
> pihak lain. Bila pendapatnya tidak terpakai, hal itu
> dianggap mengabaikan prinsip musyawarah. Sebab bagi
> mereka, musyawarah berarti "mengikuti pendapat ilmuwan
> terpenjara persepsinya sendiri" tersebut. Masih rada
> mendingan manakala hanya sekadar tuduhan mengabaikan
> prinsip musyawarah, yang lebih parah adalah dengan
> tidak diikuti kehendaknya lantas merasa sesak napas,
> sesak dada, dan kemudian meledak dalam bentuk perilaku
> yang asosial, ademokratis, dan tidak etis dalam hidup
> kebersamaan sesama masyarakat Islam sendiri, membuat
> tandingan kekuatan dalam satu kesatuan masyarakat
> Islam. 
> 
> Macam ragam jenis pemikiran
> 
> Syariat Islam merupakan bentuk hasil pemikiran
> mujtahidin Islam berhadapan dengan alam yang
> didasarkan pada Alquran dan Hadis. Objek materianya
> meliput seluruh objek pikir manusia yakni tentang
> Tuhan, alam, dan manusia. Sementara itu, objek
> formanya seluas dan sebanyak sudut pandang manusia
> tentang kehidupan. Walau demikian, pemikiran umat
> Islam sekarang lebih banyak membatasi diri pada
> persoalan hukum berdasarkan rujukan bahwa "Alquran
> sebagai kitab hukum" (Q.S. 13:37). 
> 
> Dalam kaitan ini, Fazlurrahman menyatakan bahwa setiap
> ayat Alquran sesungguhnya berfungsi ganda, yakni
> fungsi deskriptif dan fungsi preskriptif. Pada fungsi
> preskriptifnya, hal itu berarti ada sisi-sisi hukum
> yang dapat diangkat dari ayat khabariyah. Tidak
> mengherankan manakala kita melihat ilmu hukum (kitab
> fiqh) sangat dominan sekali dalam perkembangan
> pemikiran Islam. Namun sebagaimana diyakini dan
> terungkap di atas, sesungguhnya Alquran meliput
> seluruh objek materia kepentingan hidup manusia.
> Sementara objek formanya terkait kepada kemampuan
> manusia sendiri memahami ayat Alquran. Terdapat ayat
> yang berbicara tentang hukum umpamanya, selain
> menegaskan tentang keadilan, juga menegaskan
> pentingnya kearifan (ihsan), dan karena itu ihsan jadi
> sangat ditonjolkan, sebagaimana terungkap tingginya
> peringkat ihsan (memahami hakikat motif di belakang
> suatu tindakan) dibandingkan tindakan menegakkan
> keadilan, yang secara lugas menegakkan hukum tanpa
> pandang bulu situasi dan suasana yang terjadi pada
> pelaku objek hukum. 
> 
> Dalam pada itu, sebagaimana disebutkan di atas bahwa
> isi Alquran lebih menunjuk kepada konsep dasar dan
> bukan pada sistem, memberi peluang yang sangat besar
> untuk adanya sistem lokal ('urf) yang pada gilirannya
> memberi kontribusi yang sangat kaya terhadap bentuk
> dan perkembangan pemikiran Islam. Contoh dalam hal ini
> dapat ditunjuk tentang hal-hal yang berkaitan dengan
> hubungan sosial antarmanusia, hubungan manusia dengan
> Tuhan, serta tentu hubungan antara manusia dan alam. 
> 
> Keragaman sistem musyawarah pada berbagai etnis,
> komunitas, atau bangsa yang beragama Islam semuanya
> merujuk kepada ayat wajibnya musyawarah. Namun, karena
> pola dan sistem kegiatannya merujuk kepada "antum
> a'lamu bi umuri dun-yakum", bentuknya jadi sangat
> beragam. Konon menurut Nurcholish Madjid di Saudi
> Arabia, raja memberi kesempatan tiap hari Jumat untuk
> didatangi rakyat dari berbagai macam lapisan sosial
> dan mereka usul dan berdialog dengan raja sebagai
> salah satu bentuk musyawarah, yang kadangkala dengan
> melemparkan tulisan pada...bungkus rokok. 
> 
> Dalam kitab-kitab kita memang banyak dibicarakan
> tentang wajibnya musyawarah, namun kurang dirumuskan
> bagaimana sistem musyawarah yang bermutu. Demikian
> juga halnya mengenai wajibnya bersih, sehat, dan
> wajibnya mengayomi fakir miskin yatim piatu. Namun,
> bagaimana cara melakukan dan menjaga kebersihan,
> kesehatan, serta bagaimana mengatur forum-forum
> musyawarah, hampir dapat dikatakan pada umumnya tidak
> mengungkapkannya. Oleh karena itu, kita mendapat
> peluang yang sangat besar untuk improvisasi sebagai
> bagian dari keniscayaan dalam masyarakat Islam untuk
> adanya keragaman pikiran dan keanekaan hasil
> pemikiran. 
> 
> Keragaman pemikiran tentang keimanan pada Allah SWT,
> yang representatif keilmuannya adalah ilmu tauhid,
> umat Islam diwarisi keragaman pemikiran yang sangat
> kaya seperti Khawarij, Murji'ah, Mu'tazilah,
> Asy'ariyah, dan Maturidiyah. Dalam hal ilmu fikih,
> kita diwarisi paradigma pemikiran model Hanafi,
> Syafi'i, Maliki, dan Hambali. Dalam pada itu berkenaan
> dengan upaya pendekatan diri yang terus-menerus pada
> Tuhan yang representatif ilmunya adalah tasauf, kita
> diwarisi dua model yakni Sunni dan Syi'i. Dalam bidang
> pranata yang menyangkut bentuk pemerintahan kita
> mengenal sistem Khawarij, Sunni, dan Syi'i. Dalam
> bidang filsafat kita mengenal tradisional dan liberal.
> Sementara dalam bidang pembaharuan menurut Harun
> Nasution adalah Islam tradisional dan Islam progresif
> (1986: 34-38). 
> 
> Atas dasar deskripsi keragaman pemikiran dalam
> berbagai bidang tersebut, proporsional manakala umat
> Islam pada level tertentu yang sangat kental dengan
> budaya paternalistik dan komformitas akan cukup
> pusing, bingung, dan malah bengong, karena mereka
> menganggap agama adalah keseragaman dalam bentuk jenis
> dan materi kebenaran. Dalam kaitan ini diperlukan
> kearifan sosial yang mampu membentengi umat dari
> perpecahan. Di antaranya dapat disebutkan perlunya
> penegasan bahwa semua yang berpegang pada sumber yang
> autentik adalah masih tetap dalam koridor keislaman
> walau di antara mereka tidak saja berbeda, tetapi
> malah bertentangan dan karena itu jangan cepat menuduh
> pihak yang berbeda sebagai telah keluar dari Islam,
> telah menjalankan bid'ah, masuk kategori kafir dan
> pasti masuk neraka. 
> 
> Kita semua sudah mengetahui bahwa adanya keragaman
> tersebut sesungguhnya difasilitasi oleh Alquran dan
> Hadis sendiri dengan adanya ayat atau hadis yang
> bersifat dzanniy. Menurut Quraish Shihab, "Banyak
> orang boleh jadi tidak menyadari bahwa salah satu
> penyebab perbedaan pendapat adalah Alquran dan Sunah.
> Ini karena sebagian besar dari ayat-ayat Alquran dapat
> menampung aneka interpretasi." 
> 
> Dari kacamata Tuhan semua yang berpegang teguh pada
> Alquran adalah hamba-hamba pelaksana ajaran Allah,
> demikian juga dari sisi subjek pelaksana keislaman,
> yang menjadikan diri dan kehidupannya sebagai
> artikulasi keislaman dalam hubungan dirinya dengan
> Tuhan. Sementara dari kacamata manusia bisa jadi orang
> berbeda dengan kita dianggap sebagai saingan atau
> kompetitor yang siap menyudutkan kita. Dalam hubungan
> antarmanusia yang menganggap hanya ada satu kebenaran
> dan sebagai pencari kebenaran dia menganggap telah
> mendapatkan kebenaran secara final, maka orang yang
> berbeda dengan dia akan pasti dianggap salah sebab
> tidak mungkin yang benar sama dengan yang salah. 
> 
> Persoalannya bagaimana kita bersikap pada sesama
> manusia seperti Nabi bersikap pada makhluknya?
> Bagaimana kita dapat bersikap positif pada manusia
> lain sebagaimana Nabi dan malah Tuhan bersikap positif
> pada makhluk? Bagaimana kita dapat berakhlak dengan
> akhlak Tuhan (Q.S. 28:77). Bagaimana kita memahami
> bahwa orang yang berbeda dengan kita tersebut mereka
> pun berhak menyatakan pendapatnya benar dan berhak
> juga masuk surga. Dengan demikian, jalan ke surga itu
> banyak dan lebar. Kita harus menyatakan bahwa
> "jembatan shiratalmustqiim" itu bukan kecil dan sempit
> seperti rambut dibelah tujuh, tetapi lebar dan
> leluasa, seperti jalan tol yang memuat seribu jalur
> mobil, dengan catatan semuanya berpegang teguh kepada
> autentisitas kebenaran Alquran dan Hadis Nabi. 
> 
> Khawarij berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk
> ke surga; Murjiah berpikir bertindak autentik, di
> akhirat masuk ke surga; Mu'tazilah berpikir bertindak
> autentik, di akhirat masuk ke surga; Asy'ariyah
> berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke
> surga; Maturidiyah berpikir bertindak autentik, di
> akhirat masuk ke surga; Maliki berpikir bertindak
> autentik, di akhirat masuk ke surga; Hanafi berpikir
> bertindak autentik, di akhirat masuk ke surga; Syafi'i
> berpikir bertindak autentik, di akhirat masuk ke
> surga; Hambali berpikir bertindak autentik, di akhirat
> masuk ke surga; Khawarij berpikir bertindak autentik,
> di akhirat masuk ke surga; Syiah berpikir bertindak
> autentik, di akhirat masuk ke surga.
> 
> 
> 
>             
> _______________________________
> Do you Yahoo!?
> Declare Yourself - Register online to vote today!
> http://vote.yahoo.com
> 
> 
> 
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
www.ppiindia.shyper.com
> 
**********************************************************************
*****
> 
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
> 5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
> 6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
> 7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
> 
> 
> 
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
> 
> 
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> 
>    To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>   
>    To unsubscribe from this group, send an email to:
> ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
>   
>    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: