[ppi] [ppiindia] Re: SURAT DARI PARIS: PERGELARAN WAYANG KULIT DI PARIS OLEH KI MANTEB SOEDHARSO
- From: "Dwi Irwanti" <irwanti2001@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Fri, 23 Apr 2004 08:38:32 -0000
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
ikutan nanya yah,....katanya dibandara sana tidak membolehkan pesawat
dg penumpang berjilbab ?? sebegitu parahkah ??
[mosok kudu lepas jilbab baru boleh keparis..hik..hiks]
Trus gimana yg pastur n biarawati disana?
apakah diperlakukan sama?
Tenkyu..
-i2n-
--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "Ida" <abidin_ida@xxxx> wrote:
> Mas Kusni, boleh tanya sedikit yah! kondisi Paris sekarang gimana?
> soalnya aku kehilangan jejak seseorang...
>
> thanks,
> id
>
> --- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxx>
> wrote:
> > SURAT DARI PARIS:
> >
> >
> > PERGELARAN WAYANG KULIT DI PARIS OLEH KI MANTEB SOEDHARSONO
> >
> > Rabu malam, 21 April 2004 yang lalu, dalang asal Jawa Tengah, Ki
> Manteb Soedharsono dan rombongannya telah menyelenggarakan pergelaran
> wayang kulit dengan lakon "Sesaji Rajasuya" di Ruang 1 Maison de
> Unesco yang terletak tidak jauh dari Menara Eiffel. Ruang pertunjukan
> yang berkapasitas 1400 orang itu, sampai ke balkon-balkonnya penuh
> sesak dengan pengunjung. Pertunjukan di Paris malam Rabu lalu
> merupakan bagian dari rangkaian pertunjukan yang dilakukan di
> Perancis seperti di Anger, Nort dan Norman. Direncanakan setelah
> Paris, pertunjukan akan dilanjutkan di Strassbourg, Perancis Utara
> pada Jumat 23 April.
> >
> > Melihat perhatian besar dari orang-orang Perancis dan berbagai
> bangsa yang ada di Paris terhadap pementasan ini, sempat menyelip ke
> hati saya rasa bangga menjadi orang Indonesia. Kebanggaan inipun juga
> terucap secara spontan oleh para pengunjung Indonesia lainnya.
> Kembali terbayang di hadapan mata bahwa betapa keragaman kita sebagai
> bangsa sungguh-sungguh merupakan suatu kekayaan dan keindahan luar
> biasa. Mengenang masa-masa sebelumnya, di negeri manapun saban
> pementasan dari Indonesia senantiasa dijubeli oleh para pengunjung.
> Gordon Tobing dengan grup kecilnya dengan berbekalkan beberapa gitar,
> waktu mengunjungi Kuba di zaman pemerintahan Soekarno, juga mendapat
> sukses besar, seperti halnya dengan rombongan-rombongan kesenian
> Indonesia yang berkunjung ke Uni Soviet [ketika masih ada Uni
> Soviet!], ke Tiongkok, ke Vietnam dan lain-lain negeri. Penghargaan
> tinggi kepada khazanah budaya negeri kita juga diperlihat oleh UNESCO
> yang telah memberikan kepada Ki Manteb Soedharsono dan rombongan
> tanda penghargaan dan hadiah "Patrimoine Oral et Immat=E9riel de
> l'Humanit=E9" [Khazanah Lisan dan Imaterial Umat Manusia]. Seni wayang
> kulit dipandang melalui hadiah ini sebagai khazanah budaya umat
> manusia, bukan hanya khazanah budaya Jawa atau Indonesia. Andaikan
> kita bekerja baik, saya yakin benar bahwa dunia akan tahu betapa
> negeri dan rakyat kita sebenarnya merupakan gudang khazanah budaya
> sulit terpadani. Karya-karya menganggumkan dan mencengangkan bisa
> kita dapati dari ujung barat hingga ujung timur tanahair. Jika dunia
> tahu, maka merekapun akan memandangnya sebagai kekayaan budaya mereka
> sendiri karena karya sastra-seni tidak mempunyai perbatasan negeri
> dan bangsa. Secara obyektif sesungguhnya Indonesia adalah tantangan
> dari kenyataan kepada pola "pikiran tunggal" [la pens=E9e unique] dan
> penolakan terhadap intoleransi.Indonesia adalah kemajemukan dan
> toleransi, adalah kemanusiaan itu sendiri. Menyangkal kemajemukan dan
> toleransi sama dengan menyangkal keindonesiaan diri. Tapi di manakah
> di muka bumi ada ketunggalan mutlak?
> >
> > Hadiah di atas telah diberikan oleh Direktur Jenderal UNESCO,
> Koichiro Matsuura sendiri didampingi oleh Dutabesar [Dubes]
> Indonesia untuk Paris, Adrian Silalahi dan Dubes Indonesia untuk
> UNESCO, Bambang Soehendro. Menanggapi hadiah berprestrasi dunia ini,
> Ki Manteb Soedharsono dalam adegan "gara-gara" melalui mulut Semar
> antara lain mengatakan: "Apa selanjutnya yang kita buat setelah kita
> memperoleh hadiah dan penghargaaan tinggi UNESCO ini? Apakah kita
> berhenti, diam dan hanya puas dengan memajangkan tanda penghargaan
> ini?" "Ya, apa?" tanya Gareng dan Petruk. Semar menjawab: "Kita harus
> berkarya lebih banyak dan meningkatkan taraf karya kita. Tanda
> penghargaan dan hadiah ini harus kita jadikan titik baru bagi kerja
> kreatifitas kita".
> >
> > Dialog-dialog ini seperti halnya juga dengan dialog-dialog antar
> tokoh dalam pementasan secara garis besar diterjemahkan ke dalam
> bahasa Perancis dan bisa dibaca di dasar layar lebar di atas panggung
> pementasan. Seluruh penonton menikmati pertunjukan dengan keheningan
> apalagi pergelaran sama sekali tidak terganggu oleh masalah-masalah
> tekhnis. Tentu saja sebelum masuk ke ruang pertunjukan, demi
> keamanan, pemeriksaan telah sangat ketat dilakukan terhadap semua
> para pengunjung.
> >
> > Yang patut dicatat pula bahwa mulai dari halaman gedung sampai ke
> dalam ruangan, para personil Kedutaan Indonesia di Paris turut
> menyambut para pengunjung dengan ramah. Sikap petugas Indonesia
> mendukung kebanggaan di atas. Saya jadi teringat akan kata-kata
> Andreas Sitepu, salah seorang diplomat sangat simpati dan senantiasa
> akrab dengan siapa saja,dari KBRI Paris dalam sebuah percakapan
> pribadi: "Kita lakukan apa yang kita bisa mulai dari diri kita masing-
> masing untuk bangsa dan tanahair". Diplomat tipe Andreas Sitepu ini,
> saya kira sangat diperlukan oleh bangsa kita.Rendah hati, luwes dan
> dekat dengan warga Republik yang diwakilinya. Di sini saya kembali
> mengungkapkan kecemasan tentang apa-bagaimana kelak hubungan KBRI
> Paris dengan warga RI jika masa jabatan Dubes A. Silalahi berakhir.
> Dubes merupakan titik sangat menentukan sukses tidaknya misi
> diplomatik. Apa yang dilakukan oleh A. Silalahi, saya kira boleh
> disebut metode "diplomasi rakyat" artinya diplomasi yang bersandar
> pada para warga negara dan negeri yang diwakilinya. Ini adalah suatu
> metode kerja tapi juga sekaligus model diplomasi yang bertentangan
> model diplomasi elite alias menara gading yang bersifat feodal dan
> militeristik, umum dipraktekkan pada masa Orde Baru.
> >
> >
> > Hal lain yang membantu para penonton, terutama para penonton yang
> tidak mengerti bahasa Jawa, selain adanya teks ikhtisar isi dialog,
> juga tersedianya brosur luks yang disediakan oleh UNESCO dalam dua
> bahasa: Inggris dan Perancis. Melalui brosur-brosur ini para penonton
> tahu isi cerita yang dipentaskan, mengenal sejarah wayang dan jenis-
> jenisnya, tahu apa-siapa sang dalang: Ki Manteb Soedharsono.
> >
> >
> > Ki Manteb Soedharsono lahir pada 1948, di Ndoplang,
> Karangpandan,kabupaten Karanganyar, Surakarta.Sebagai dalang wayang
> purwa ia mulai terkenal sejak 1980an, terutama terkenal
> akan "sabetan"-nya, tekhnik memainkan wayang, terutama untuk adegan-
> adegan perang. Berkat ketrampilan ini, maka Manteb oleh para
> penggemarnya dijuluki sebagai "dalang setan". Tingkat "sabetan"nya
> oleh para pengamat disetarakan dengan seorang "tukang sihir".
> Sedangkan Manteb sendiri mengomentarinya bukanlah suatu "sihir" tetap
> tidak lain dari hasil latihan dan latihan tak kenal lelah.
> Ketrampilan tekhnis yang ia peroleh adalah hasil dari latihan dan
> kerja susah-payah tidak kenal henti. Barangkali apa yang diucapkan
> oleh Manteb Soedharsono ini berguna bagi para seniman lain, terutama
> para seniman muda usia, yang ingin lekas-lekas tersohor tanpa usaha
> susah-payah menguasai masalah tekhnis pengungkapan. Apa yang
> dilakukan dan dikatakan oleh Manteb sebenarnya juga pernah diucapkan
> oleh seniman-seniman lain antara lain Rendra, Arifin C. Noor,
> Kushendratmo, dan lain-lain... Selain tekun melakukan latihan demi
> latihan, Manteb juga tidak henti-hentinya belajar untuk meningkatkan
> taraf penguasaan tekhnis sebagai dalang. Untuk keperluan ini, Manteb
> yang mulai mendalang pada usia 12 tahun, setelah belajar dari
> ayahnya, ia belajar pada Ki Nartasabda di Semarang [1972], pada Ki
> Gada Sudarman di Sragen [1974]. Artinya untuk menjadi dirinya, Manteb
> selalu tekun belajar dan berlatih. Ia tidak bersandar pada yang
> disebut bakat.
> >
> > Setelah menjadi dirinya dan mulai tersohor, sekarang, saban bulan
> ia mendalang rata-rata 10 kali. Sejak tahun 1983 bertempat di rumah
> kediaman pribadinya, Manteb menyelenggarakan pergelaran periodik
> Selasa Legi saban 35 hari sekali untuk memperingati hari lahirnya
> berdasarkan almanak Jawa. Pergelaran Selasa Legi ini dihadiri oleh
> dalang-dalang dari berbagai kabupaten. Untuk menghargai kegiatannnya
> di dunia pedalangan ini maka Ki Manteb Soedharsono telah menerima
> Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia. Selain
> dikenal sebagai dalang, Ki Manteb juga dikenal publik karena ia
> merupakan salah seorang yang paling sering muncul di tivi, radio dan
> jadi bintang iklan dengan slogan "oye". Oleh karena itu, Ki Manteb
> Soedharsono juga dikenal dengan julukan "dalang oye".
> >
> > Hanya saja masalah seniman, saya kira tidak hanya sebatas masalah
> kemampuan tekhnis. Tehknis adalah alat untuk pengungkap pikiran dan
> perasaan. Dalam perasaan ada masalah keberpihakan dan kemanusiaan.
> Nilai-nilai manusiawi. Dan masalah nilai menyangkut soal pikiran dan
> wawasan. Seniman besar adalah padunya perkembangan dua masalah ini:
> masalah tekhnis dan wawasan alias konsep serta keberpihakan. Jika
> dengan kemampuan tekhnis tapi sang seniman tidak lain dari alat
> penindasan, kekerasan dan pembunuhan yang menentang keadilan dan
> kebenaran, seberapa lama "kebesaran" sang seniman itu akan bertahan?
> Budak tetap budak walaupun dadanya dipenuhi oleh sejubel tanda jasa
> serta penghargaan. Siapa yang memberikan tanda jasa dan bagaimana
> tanda jasa itu diberikan serta bagaimana ia didapatkan? Di sinilah
> perlunya seorang seniman bisa menjadi dirinya yang merdeka, menjadi
> warga sejati "republik berdaulat sastra-seni". Penghargaan dan tanda
> jasa bukanlah tanda hakiki kebesaran. Seniman tanpa nilai manusiawi
> adalah seniman sesaat atau bisa jadi langgeng karena memang budak
> besar dari kaum anti kemanusiaan. Orang mengenang para anti
> kemanusiaan sebagai bandingan seperti orang mengenal Yudas Iskariot
> yang mengkhianati Yesus. Menyadari akan hal ini maka dahulu Lembaga
> Kebudayaan Rakyat [Lekra] secara teratur menyemenggarakan kursus-
> kursus untuk para dalang, di mana dipelajari masalah tekhnis,
> masalah politik, filsafat kebudayaan, sejarah Indonesia, gerakan
> buruh dan tani dan lain-lain... Belajar merupakan sesuatu yang mutlak
> bagi seorang seniman. Belajar bisa dilakukan seorang diri dan akan
> lebih besar lagi hasilnya jika dilakukan secara bersama dan
> terorganisasi. Karena itu tidak aneh jika ketika Jenderal Soeharto
> mengambil tampuk kekuasaan politik di Indonesia, salah satu
> organisasi yang dilarangnya paling awal adalah Lekra termasuk Lembaga
> Pedalangan Lekra. Dunia pedalangan langsung ia kontrol ketat. Dunia
> pedalangan adalah saranan komunikasi dengan masyarakat Jawa, penduduk
> negeri terbesar di Indonesia. Taraf menyeluruh seorang seniman akan
> nampak dari karyanya. Demikian juga seorang dalang. Karya tidak bisa
> membohongi siapapun, tidak juga diri sendiri. Dalam hal ini, saya
> tidak mempersoalkan masalah anutan politik seseorang seniman sebab
> yang paling penting bagi saya adalah fungsi seniman memanusiawikan
> manusia, kehidupan dan masyarakat, fungsi dari warga "republik
> berdaulat saastra-seni". Untuk menjadi warga republik berdaulat ini,
> insting tidak memadai!Kemauan baik saja tidak cukup!
> >
> > Dalam konteks ini apa yang ditampilkan oleh Ki Manteb Soedharsono
> di Paris sebagai kota dunia? Ia menampilkan lakon "Sesaji Raja Suya"
> yang sarinya sebagai berikut:
> >
> > Setelah melalui perjuangan sengit, para Pandawa berhasil
> mengembangkan kerajaan Indraprasta atau Amarta dan keluar
> meninggalkan hutan Martani. Kerajaan Amarta menjadi sebuah kerajaan
> yang subur dan indah, membahagian para pemimpin dan warganya. Untuk
> mengucapkan syukur maka kerajaan bermaksud melangsungkan
> upacara "sesaji" yang disebut "Sesaji Raja Suya". Kerajaan bermaksud
> dalam "sesaji" ini mengundang 100 raja-raja bersahabat dari berbagai
> negeri.
> >
> > Tapi pada saat yang sama, Prabu Jarasanda, sebuah kekuatan politik
> imperialistik dari Kerajaan Giribaya, juga berniat
> menyelenggarakan "Sesaji Kalarudra". Dan guna keperluan "sesaji
> Kalarudra" ini diperlukan kepala seratus raja. Prabu Jarasanda lalu
> mengerahkan kekuatan bersenjatanya.
> >
> > Dengan bantuan dan nasehat Sri Kresna, kaum Pandawa menyerukan
> meningkatkan kewaspadaan terhadap niat jahat dan egoistik Prabu
> Jarasanda ini. Dengan menggunakan berbagai cara Bima dan Arjuna
> dibantu oleh Sri Kresna akhirnya bisa mengalahkan Prabu Jarasanda.
> Setelah kemenangan ini barulah "Sesaji Raja Suya" bisa dilaksanakan
> untuk mengucapkan terimakasih kepada Tuhan Yang Mahaesa dan
> melangsungkan persahabatan damai antar rakyat berbagai bangsa.
> >
> > Pergelaran yang memukau ini hanya berlangsung dua jam, dari jam
> 19:00 sampai dengan jam 21:00 dengan jumlah penonton yang sama sekali
> tidak berkurang.
> >
> > Penonton bebas menafsirkan siapa Prabu Jarasandra dan apa fungsi
> Pandawa dalam konteks kekinian. Yang jelas bahwa melalui lakon ini
> nampak bahwa Ki Manteb Soedharsono ingin menyampaikan pesan
> perdamaian dan sulitnya mencapai perdamaian itu. Untuk mencapai
> perdamaian, mau tidak mau darah ditumpahkan. Hanya saja yang nampak
> menonjol melalui pementasan ini adalah masalah kekerasan dan
> peperangan. Sedangkan dialog-dialognya terasa kurang tajam
> menganalisa konflik antara kerajaan Amata dan Prabu Jarasanda yang
> imperialistik. Barangkali ini bisa dicatat sebagai kelemahan dari
> suatu arah umum lakon dan dalam hal ini, dalangnya: Ki Manteb
> Soedharsono. Tidakkah masalah ini ada kaitannya dengan analisa dan
> pengetahuan politik? Jika pandangan ini benar maka kembali dan lagi-
> lagi nampak hubungan antara kemampuan tekhnis dengan isi untuk
> mencapai taraf karya yang bermutu secara menyeluruh? Ketrampilan
> tekhnis tanpa kedalaman pesan dan analisa akan membuat penonton
> pulang dengan rasa kosong. Apabila terjadi hal demikian, maka di mana
> peranan pelopor dan fungsi seniman dalam memanusiawikan manusia,
> kehidupan dan masyarakat apalagi jika kita ingin menggunakan standar
> internasional dan bukan lokal, baik Jawa Tengah ataupun Indonesia?
> >
> > Betapapun juga pementasan Ki Manteb Soedharsono dan rombongan Ki
> Manteb Soedharsono sedikit telah memberikan kebanggaan menjadi
> Indonesia dari segi kebudayaan dan memberikan citra Indonesia yang
> lain daripada yang disuguhkan ke dunia oleh para politisi dan kaum
> militeris,walaupun kekerasan dan peperangan begitu menonjol dalam
> pergelarannya! Atau perdamaian dunia dan kerukunan memang patut
> dicapai dengan jalan berdarah menurut konsep Ki Manteb Soedharsono?
> Ini adalah masalah filosofis dan masalah filosofis adalah masalah isi
> atau wawasan!
> >
> >
> > Paris, April 2004.
> > -----------------
> > JJ.KUSNI
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > CATATAN:
> > Foto terlampir menunjukkan Dubes Indonesia di Paris, A.Silalahi
> sedang memberikan ucapan selamat kepada rombongan Ki Manteb
> Soedharsono usai pertunjukkan.
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=3D5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Re: SURAT DARI PARIS: PERGELARAN WAYANG KULIT DI PARIS OLEH KI MANTEB SOEDHARSO