[ppi] [ppiindia] Re: SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- From: "tsari2003" <tsari2003@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Tue, 30 Mar 2004 07:32:37 -0000
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Indonesia tidak bisa lepas dari dunia luar, apalgi karena hutangnya
yang menumpuk itu. Jadi sebaikapapun SBY karena dia adalah produk
militer, keberadaannya dipuncak pemerintahan NKRI akan membawa akibat
yang kurang baik bagi RI sendiri. Dunia luar sudah punya penilaian
yang kurang baik terhjapad TNI - karena track recordnya yang tidak
baik. Memang jika SBY jadi nomer satu, kita kewatir akan tumbuh
militarisme baru - sedang kita masih trauma kan kemiliteran. ngat
peristiwa G30S PKI, Peristiwa Woyla, peristiwa tanjung priok,
peristiwa Lampung serta Timor dan Aceh ....
Sebaiknya ya jangan orang militerlah yang jadi nomer satu.... Kasihan
RI ini. Kalau nomer 2 bolehlah - walau mungkin bisa saja SBY jadi
think tank si nomer 1 ....
--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "Ambon" <sea@xxxx> wrote:
> http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/29/index.html
>
> SUARA PEMBARUAN DAILY
>
> --------------------------------------------------------------------
------------
>
> SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
>
>
> Atmadji Sumarkidjo
>
> ANYAK persepsi salah mengenai sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
yang dibentuk oleh pendapat para pengamat yang di antaranya cuma
diperoleh dari bacaan di media, sementara media sendiri membentuk
opini (yang belum tentu benar) dari analisis "pengamat ahli" tadi.
Jadi sering kedua belah pihak saling mengambil kesimpulan yang
sumbernya kurang akurat.
>
> SBY adalah garda terakhir lulusan Akabri (Akademi Angkatan
Bersenjata RI) yang memasuki bidang non-militer berkat tersedianya
doktrin serta jalur dwifungsi ABRI. Sebagai catatan, Letjen TNI
(Purn) Prabowo Subianto yang juga masuk dalam daftar calon presiden
(capres) memang juga adalah lulusan Akabri, tetapi sampai ia berhenti
dari dinas aktif, belum pernah terekspos pada karir non-militer dan
malah miskin pada tugas-tugas teritorial. Mantan Panglima Kostrad itu
masuk politik jauh setelah pensiun.
>
> Prabowo yang masuk Akabri sama-sama dengan SBY ketika masih dinas
aktif tercatat tidak pernah mendapat penugasan di bidang teritorial.
Bahkan ia termasuk sedikit dari perwira TNI yang belum pernah menjadi
perwira teritorial. Sementara itu, SBY adalah gambaran dari perwira
yang lengkap bidang penugasannya: pernah bertugas di satuan tempur,
mempunyai jam terbang panjang di bidang pendidikan, cukup lama
bekerja di staf serta akhirnya punya pengalaman di teritorial.
>
> Menarik untuk mengkaji anatomi lulusan Akabri 1973. Angkatan itu
boleh dikata salah satu dari kelompok lulusan yang paling cemerlang
dalam TNI tetapi sekaligus juga yang bernasib sial. Dikatakan
cemerlang karena orang-orang seperti almarhum Letjen Agus
Wirahadikusumah, Jenderal Ryamizard Ryacudu (Kasad sekarang) , SBY
serta juga Prabowo (menurut buku alumni Cadaka Dharma) adalah lulusan
dari tahun itu yang mampu mendapat pangkat bintang pada usia
produktif (umur 40-an) dan relatif cepat.
>
> Ini belum termasuk para alumni yang berkiprah di matra yang lain
seperti Wakasau Marsdya Herman Prayitno atau Laksda Djoko Sumaryono
di TNI-AL atau Mayjen Marinir Yus Solichin di Korps Marinir.
>
>
> Banyak Faktor
>
> Ada banyak faktor yang menyebabkan lulusan 1973 mempunyai karier
yang cemerlang. Pertama, Akabri menerima para lulusan SKTA yang
berprestasi sangat baik dan bermotivasi tinggi yang lulus tahun 1968-
1969 baik dari Jakarta maupun daerah. Banyak di antara mereka melamar
karena terpengaruh nama harum ABRI pada waktu itu.
>
> Kedua, suasana pendidikan di Magelang sangat kondusif di bawah
kepemimpinan Gubernurnya yang flamboyan, yaitu Mayjen Sarwo Edhie
Wibowo. Sarwo tidak hanya memberi perhatian pada para taruna darat
tetapi juga membina para taruna matra laut, udara dan polisi.
>
> Ketiga, para alumni tahun 1973 terhimpun dalam organisasi alumni
yang aktif (Yayasan Cadaka Dharma) dengan "lurah" nya adalah SBY
sendiri, praktis yang memimpin mereka sejak menjadi Taruna Akabri
hingga ia pensiun dari jabatan militer dengan pangkat Letjen TNI.
>
> Kelompok alumni tersebut sejak semula sangat giat melakukan
aktivitas memperluas wawasan dan olah pikir ketimbang sekadar kumpul-
kumpul reuni, mulai dari membahas situasi negara sampai me review
buku-buku yang dianggap menarik. Dan semua mengakui, ini berkat
kepemimpinan "ki lurah" SBY.
>
> Keempat, sewaktu mereka masih berpangkat Mayor dan Letkol, Komandan
Seskoad (waktu itu) Mayjen TNI Feisal Tandjung sengaja menarik para
perwira angkatan 1973 menjadi dosen di Bandung. Bukan itu saja, Kasad
seperti Jenderal Edi Sudradjat dan Jenderal Wismoyo Arismunandar juga
memanfaatkan otak mereka. Gerakan Back to Basic yang mula-mula
dicanangkan oleh Edi dan diteruskan oleh Wismoyo, konsep dasarnya
dikembangkan oleh orang-orang seperti Agus Wirahadikusuma dan SBY.
>
> Dalam alam pancaroba seperti itu, para perwira eks 1973 yang
bersikap reformis atau tidak konservatif mudah terekspos dan masuk
pada tarik-menarik politik yang ada. Buku berjudul ABRI Profesional
dan Dedikatif (Pustaka Sinar Harapan, 1998) yang sebetulnya adalah
produk intelektual sebagai peringatan 25 tahun pengabdian mereka
tanpa disengaja mengekspos mereka menjadi para alumni yang high
profile. Dan puncaknya adalah buku kedua yang berjudul Indonesia Baru
dan Tantangan TNI (PSH, 1999) yang terbit pada alam yang lebih
demokratis.
>
>
> Buku Kontroversi
>
> Tulisan-tulisan dalam buku tersebut, terutama buku kedua,
menimbulkan rasa kagum bagi para pengamat masalah militer, tetapi
banyak tidak disukai oleh para jenderal konservatif dalam tubuh TNI
sendiri. Buku yang pemikiran mainstream-nya adalah wacana ke depan
(alternative future thinking) Agus Whk dan sejumlah perwira lain
secara tegas menolak dwifungsi, Orde Baru dan semua produk masa
sebelum itu; padahal kelompok konservatif-orthodoks masih banyak pada
posisi yang menentukan Cilangkap dan di pojok Jl Merdeka Utara.
>
> Begitu kerasnya isi tulisan-tulisan itu, sehingga SBY yang tadinya
memberikan kata pengantar, mencabut tulisannya pada saat-saat akhir
ketika buku sudah dicetak. Agus agak kecewa, tapi buku tetap
diterbitkan tanpa ada jejak serta keterlibatan SBY. Padahal pada
awalnya, SBY-lah yang mendorong penerbitan buku yang sering disebut
kontroversi itu.
>
> Celakanya, Presiden Abdurrahman Wahid yang amat tertarik dengan
pemikiran-pemikiran "maju" dari para perwira dalam buku itu, terang-
terangan memberikan dukungan kepada Agus Whk. Perwira yang sifat-
sifat pribadinya lebih eksplosif dibanding SBY sudah menjadi sorotan
media sejak ia menjadi Pangdam Wirabuana di Makasar. Promosinya
menjadi Panglima Kostrad yang terang-terangan didorong oleh Gus Dur
akhirnya menjadi bumerang bagi karirnya.
>
> Akhirnya ia diganti sebelum waktunya oleh sahabat satu angkatan
juga, yaitu Mayjen Ryamizard Ryacudu. Meski demikian, sejumlah
perwira teman dekat atau yang pemikirannya sejalan, juga terlempar
dari jalur promosi. Di sini awal "kesialan" yang menimpa mereka dan
itu baru terakhir satu tahun terakhir ini.
>
> Dalam konteks di ataslah kita harus melihat bagaimana SBY berperan
dan mengambil sikap dalam badai politik antara 1992-1999. Ia jelas
belajar banyak bagaimana penga-laman pahit yang dialami oleh sang
mertua, Letjen TNI Sarwo Edhie yang sangat high profile, dan tidak
mau berkompromi, lurus dan cenderung tidak mengerti military politics
yang terjadi pada eranya. Sarwo kemudian terlempar dari orbit,
sementara yang memperoleh kepercayaan Soeharto adalah para perwira
TNI-AD yang lain.
>
> Pada sisi yang lain, ia sadar harapan yang diletakkan oleh rekan-
rekan sekelas untuk secepatnya memperoleh kepercayaan pimpinan TNI
menduduki posisi yang strategis, cukup besar. Ia sadar satu-satunya
cara untuk menjunjung kepercayaan rekan-rekannya itu sebagai pembawa
bendera adalah mengambil sikap hati-hati dan harus pula menampilkan
sosok yang sedikit "konservatif" mesk bumbu moderat masih ada di
dalamnya. Ia harus menjalankan peran itu, karena Prabowo yang waktu
itu justru sangat high profile karena adalah menantu Soeharto
mempunyai kelompok pertemanan sendiri, dan tidak pernah
mengidentikkan dirinya sebagai "anggota" kelompok 1973.
>
>
> Sosok SBY
>
> Salah satu gambaran yang diciptakan ketika ia masuk dalam sorotan
media mengenai sosok SBY adalah ia seorang militer-intelektual yang
andal tetapi peragu dan tidak mampu mengambil keputusan dengan cepat
dan tegas . Budayaan Emha Ainun Nadjib, umpamanya, dalam sebuah
talkshow di radio menyebut SBY sebagai sosok yang "kurang militer dan
terlalu sipil". Tetapi profil demikian sebetulnya adalah yang mampu
membawa SBY selamat dari kecurigaan berbagai kelompok pemikiran atau
kepentingan dalam tubuh ABRI. Bahkan mampu lolos dari kecurigaan dari
Soeharto yang tidak pernah menyenangi perwira yang punya kepribadian
atau yang mandiri.
>
> Dengan caranya, ia akhirnya dijadikan sebagai benchmark bagi karir
seorang perwira "masa depan" sebagai imbangan karier Prabowo yang
melesat cepat di jalur yang lain. Bila kita teliti membaca arah karir
keduanya antara tahun 1992-1999, maka kita bisa lihat kenaikan
pangkat mereka selalu hampir bersamaan. Ketika Prabowo dipromosi
menjadi Brigjen, SBY mendapat promosi di Bosnia dalam pasukan PBB.
>
> Dan sewaktu Prabowo "harus" berpangkat Mayjen, maka SBY pun diplot
menjadi Pangdam Sriwijaya (jabatan Mayjen), dengan akibat Brigjen
Agus Widjojo yang harusnya menjadi Pangdam di sana akhirnya terlempar
dari promosi secara menyakitkan. Untunglah, Pangab Feisal Tandjung
cepat menyelamatkan karier Agus Widjojo dan buru-buru menariknya ke
Cilangkap.
>
> Baik SBY maupun Prabowo mendapat pangkat Letjen pada waktu yang
tidak banyak berbeda. SBY menjadi Kepala Staf Sosial-Politik ABRI
sementara Prabowo menjadi Panglima Kostrad. Fakta menunjukkan bahwa
SBY mampu lolos dari badai kedua dalam ABRI, ketika terjadi
pergantian rezim, sementara Prabowo terpental dari posisinya yang
kuat.
>
> Bila kita bisa menempatkan sikap SBY pada konteks ruang dan waktu
pada periode yang serba sulit itu, maka kita sulit pula mengambil
kesimpulan bahwa SBY adalah seorang "peragu" atau "tidak decisive"
atau "tidak berani mengambil keputusan" seperti apa yang digambarkan
oleh media atau yang diungkap oleh para pengamat.
>
> Paling tidak, menurut pengamatan saya, SBY tidak berubah sikapnya
sejak tahun 1990-an hingga sekarang. Hanya sejalan dengan kenaikan
karirnya, ia harus menghindari adanya pandangan yang
mengategorikannya sebagai perwira yang berada pada titik-titik
ekstrem sebuah pendulum sikap. Akibatnya, memang SBY seolah-olah
kurang cocok dengan almarhum Agus Whk; tetapi adakah sikap yang lebih
tepat yang harus diambil oleh orang seperti dia pada situasi
demikian?
>
> Sejak 12 Maret 2004 lalu SBY sebetulnya terbebas dari beban-beban
yang kita sebutkan di atas. Ia bukan perwira TNI aktif, bukan pula
seorang Menteri yang harus mengikuti arahan Presiden. Ia adalah
pribadi sipil mandiri yang memperbolehkan nya untuk bicara apa saja.
Pertanyaanya adalah, apakah tanpa beban di atas kita akan mendapatkan
seorang SBY yang "asli" yang dikenal dan justru mulai digaumi banyak
kalangan ketika masih berpangkat Kolonel?
>
>
> Penulis adalah pengamat masalah militer pada RIDEP Institute. Kini
bekerja di RCTI.
>
>
>
> --------------------------------------------------------------------
------------
>
> Last modified: 29/3/04
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
- Follow-Ups:
- [ppi] [ppiindia] Re: SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- From: Zamhasari Jamil
- [ppi] [ppiindia] Re: SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- From: Zamhasari Jamil
- References:
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Re: SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- » [ppi] [ppiindia] Re: SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- » [ppi] [ppiindia] Re: SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- [ppi] [ppiindia] Re: SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- From: Zamhasari Jamil
- [ppi] [ppiindia] Re: SBY, Garda Terakhir Produk Dwifungsi ABRI
- From: Zamhasari Jamil