[ppi] Re: [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Tue, 6 Jan 2004 20:08:44 +0100
** ppi-india **
Sdr Jamil dan Ida yang budiman,
Ini komentar saya: seandainya Tuhan itu seorang manusia, atau jelasnya
seorang ayah. Dimana sang ayah ini karena sangat cinta kepada anak-anaknya,
dan karena cintanya itu diberikan olehnya segala macam hasil kekayaan alam,
dikasi tanah untuk diurus dengan baik untuk cucu-cucu dan generasi
menadatang agar tidak miskin melarat dan mengemis. Bukan itu saja malah
anaka-anaknya dididik dengan agama firman Tuhan, supaya mereka selalu
berbuat baik antara sesamanya dan tidak mengsia-siakan berkat yang
ditakdirkan oleh Tuhan Mahasegala Kuasa.
Tetapi apa jadinya, anak-anaknya itu malah seperti garong, rakus, suka tipu
antara sesamanya, yang lebih celaka lagi mereka memakai nama Tuhan untuk
maksud- dan perbuatan jahat. Sebahagian besar dari cucu-cucunya tidak
karuan, pergi ke sekolah tanpa makan pagi, dan kadang-kadang perut mereka
diizi dengan makanan yang tak bergizi sekali sehari.
Hemat saya kalau sang ayah melihat anak-anak dan cucu-cucunya demikian,
tentu saja dia akan garuk-garuk kepala dan kesal dan mungkin sekali marahnya
bukan main.
Kalau apa yang diumpamakan diatas ini dianalogikan dengan situasi di
Indonesia dengan Depagnya yang dikuasai oleh orang-orang bertanganpanjang
yang lebih jahat dari bandit karena tiap kali ada jemah yang mau melakukan
ibadah haji atau umroh, ada saja problem yang dihapadapi, teristimewa
penipuan terhadap jemaah haji. Duit negara dimakan rayap petugas negara.
Kejadian buruk ini bukan baru kemarin atau hari ini, tetapi seumur dengan
berdirinya Republik Indonesia, yaitu sudah berumur lebh dari 50 tahun. Orang
yang berusia 50 tahun adalah dewasa, dewasa berarti sudah bisa membedakan
antara hal buruk dan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Tetapi, pada kenyataannya bukan hal-hal baik diambil sebagi teladan dan
perbuatan, tetapi yang buruk-buruk yang menjadi pedoman para penguasa,
politikus, pejabat dan cecunguk-cecunguknya disemua lapangan dan tingkat
instansi sipil maupun militer, administrasi, legislatif dan eksekutif
negara.
Jika dipertanyakan posisi Tuhan terhadap keadaan ini, apakah Tuhan murka
melihat segala ketidak adilan yang dilakukan kepada mahluk yang diciptakan
dan yang menganut ajaranNya, bagi saya agak sulit untuk ditentukan, karena
Alloh itu Mahasegala Kuasa. Mungkin itu suatu Ujian seperti dikatakan oleh
sdr Jamil, bila demikian halnya, maka saya kira yang dimohon ialah agar
waktu ujian yang berat ini semoga diperpendek kepada mayoritas yang tidak
melakukan kecurangan dan kebiadaban terhadap sesamanya.
Saya doakan agar Alloh memberikan kekuatan dan rahmatnya kepada rakyat
mayoritas yang ditindas, dimiskinkan dan ditipu agar keadilan, kesejahteraan
yang layak sesuai dengan kehendakNya dapat dianugerahkan dalam waktu
sependek mungkin. Penderitaan mereka ini sudah bukan main beratnya.
Itu saja.
Wassalam,
----- Original Message -----
From: "Ida" <abidin_ida@xxxxxxxxx>
To: <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
Sent: Tuesday, January 06, 2004 9:24 AM
Subject: [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
> Tuhan murka? Dia dzat yang maha suci, jika murka apakah tidak suci
> lagi?...menurut saya apapun yg terjadi pada negeri ini atau pribadi
> seseorang maka kita harus bisa menterjemahkan makna semua
> itu....sebagai manusia yg banyak memiliki kelemahan dan kekurangan
> wajar kiranya kalau kita sering hilaf. mungkin saja bencana yg
> terjadi belakangan ini adalah akibat dari kesalahan / ulah
> manusia...pointnya: yang jelek itu datangnya dari manusia dan yang
> baik datangnya dari Yang Maha Kuasa.
>
> itu sedikit pendapat saya,
>
> --- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "Zamhasari Jamil" <zhemppi@xxxx>
> wrote:
> > salam,
> >
> > Bang Ambon,
> >
> > Kalau saya tetap yakin bahwa segala bencana yang ditimpakan kepada
> > kita, adalah "ayat tuhan" yang harus segera kita pahami. Kalau
> > bencana itu tiba di keluarga kita, itu juga adalah ayat tuhan yang
> > harus kita "terjemahkan". Buat saya, jika musibah itu datang kepada
> > saya, sedangkan saya merasa tak penah berbuat salah (apa iya?),
> maka
> > itu adalah UJIAN, termasuk golongan dimana kita: bersabar atau
> inkar.
> >
> > Namun jika dihati saya pernah mengadakan kesalahan, dan kemudian
> > atang bala-cobaan, maka itu adalah azab dan peringatan-Nya. Dan
> masih
> > bagi pribadi saya, bahwa ujian dan peringatan, kedu-duanya adalah
> > ayat Tuhan yang tak tertulis, namun kita dituntut untuk memaknai
> dan
> > memahaminya. Sekian, semoga masih ada ang melanjutkan, gimana
> menurut
> > bang Ambon sendiri?
> >
> > Wassalam,
> > zamhs - India.
> >
> >
> > --- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "Ambon" <sea@xxxx> wrote:
> > > http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/1/5/op2.htm
> > >
> > > Balipost
> > >
> > > Ada semacam dialog universal dan eksternal antara Tuhan dan
> manusia
> > lewat alam. Memang dialog khusus atau partikular antara kedua
> > eksistent tersebut lewat agama dan kitab suci atau firman. Namun
> > dialog partikular ini tidak secara otomatis menghapuskan dialog
> > universal yang justru bersifat lebih mendasar. Sebaliknya, dialog
> > partikular justru lebih memperkuat adanya dialog universal, bahkan
> > dalam banyak hal juga bertumpu pada dialog tersebut.
> > >
> > > -------------------------------
> > >
> > > Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
> > >
> > > Oleh Kasubmahardi W.
> > > JUMAT dini hari lalu (2/1), gempa dengan kekuatan 6,1 pada skala
> > Richter menggoyang Bali dan Lombok. Di antara berbagai komentar
> yang
> > terlontar di masyarakat, ada yang melontarkan pendapat, "Tuhan
> murka
> > kepada bangsa Indonesia". Tentulah, dia melihat guncangan gempa
> > berkekuatan tinggi tersebut sebagai pertanda kemurkaan Tuhan.
> > Intepretasi semacam itu sering kali kita dengar dalam masyarakat
> > ketika suatu musibah melanda.
> > >
> > >
> > > -----------------------------------------------
> > > Bagaimana kita memahami pola pemikiran semacam itu? Jelas, pola
> > pemikiran ini memiliki landasan adanya hubungan langsung antara
> alam
> > dengan tindakan Tuhan. Model penalaran semacam ini banyak didapai
> di
> > dunia ketimuran, yang pada umumnya memang menganut pemahaman
> > religius. Sebaliknya, pemikiran semacam itu tidak terdapat di
> > kalangan masyarakat Barat atau masyarakat maju, yang melihat tidak
> > ada relevansi antara gejala alam dengan tindakan Tuhan. Gempa bumi,
> > banjir bandang, wabah penyakit, kelaparan akibat kekeringan,
> semuanya
> > merupakan gejala alam atau akibat negatif dari tindakan manusia
> yang
> > salah atau di luar perhitungan.
> > >
> > > Pemikiran Religius
> > >
> > > Masyarakat Timur pada umumnya menganut pola pemikiran religius.
> > Pemikiran ini melihat dunia beserta isinya merupakan bagian
> integral
> > dari keseluruhan alam yang suci. Sebagai bagian dari The Holy,
> dunia
> > tidak lepas dari pengaruh-Nya, bahkan manusia justru harus
> > menyesuaikan diri dengan pola suci dari kenyataan tersebut. Dengan
> > kata lain, manusia harus hidup mengikuti pola Yang Suci karena dia
> > adalah bagian integral dari-Nya. Kehidupan yang mengebal dari pola
> > Yang Suci akan menimbulkan dampak negatif bagi manusia. Untuk
> > menghukum kesalahan manusia tersebut, Yang Suci bisa saja bertindak
> > dengan menggunakan kekuatan alam.
> > >
> > > Pola pemikiran religius tidak memisahkan secara tegas antara alam
> > dengan Tuhan, atau Yang Suci. Landasan pemikirannya mengatakan
> Tuhan
> > adalah pencipta sekaligus penguasa alam, karena itu Dia bisa
> berbuat
> > apa saja dengan alam. Dengan demikian, gejala alam tidak hanya
> > memiliki makna fisikal, tetapi juga spiritual. Karena itulah, tugas
> > manusia adalah mencoba memahami dan menemukan kehendak Tuhan di
> balik
> > gejala alam yang terjadi. Sebagai pencipta dan penguasa alam, Tuhan
> > hadir di dalam alam dan kehidupan manusia, sehingga pada hakikatnya
> > alam dan kehidupan manusia merupakan bacaan dari kehadiran dan
> > kehendak Tuhan. Dari sini kita bisa memahami mengapa orang bisa
> > sampai pada kesimpulan bahwa keindahan alam dan kesuburan tanaman
> > adalah wujud nyata dari kebesaran sekaligus kemurahan Tuhan kepada
> > manusia. Banyak orang berkata, untuk bisa merasakan kehadiran
> Tuhan,
> > lihat saja alam, bukan hanya dengan mata kepala, tetapi juga dengan
> > mata batin.
> > >
> > > Ada semacam dialog universal dan eksternal antara Tuhan dan
> manusia
> > lewat alam. Memang dialog khusus atau partikular antara kedua
> > eksistent tersebut lewat agama dan kitab suci atau firman. Namun
> > dialog partikular ini tidak secara otomatis menghapuskan dialog
> > universal yang justru bersifat lebih mendasar. Sebaliknya, dialog
> > partikular justru lebih memperkuat adanya dialog universal, bahkan
> > dalam banyak hal juga bertumpu pada dialog tersebut.
> > >
> > > Bisa dimengerti apabila ada agama yang secara khusus
> mengembangkan
> > teologi alam atau theology of nature. Alam diterima bukan saja
> > sebagai wujud kehadiran Tuhan, tetapi juga sebagai tangan-tangan
> > Tuhan, yang siap bertindak sesuai dengan kondisi kehidupan manusia.
> > Bila manusia hidup sesuai dengan pola suci, Tuhan akan menurunkan
> > berkat-Nya lewat alam, berupa panen melimpah, cuaca yang nyaman dan
> > alam yang ramah dan pemurah. Sebaliknya, apabila manusia hidup
> > menyeleweng dari pola suci, Tuhan akan murka dan mendatangkan
> > berbagai bentuk musibah, seperti penyakit menular, banjir bandang,
> > kekeringan berkepenjangan, gempa dengan kekuatan tinggi dan musibah
> > lainnya.
> > >
> > > Pemikiran Sekuler
> > >
> > > Masyarakat Barat pada umumnya menganut pola pemikiran sekuler.
> Pola
> > ini melihat adanya pemisahan yang tegas antara hukum alam dan
> > kehendak dan tindakan Tuhan. Pemikiran sekuler, dengan menggunakan
> > rasionalitas manusia sebagai landasannya, tidak melihat adanya
> nilai
> > spiritual dalam gejala alam. Kalau toh ada, itu lebih merupakan
> > tindakan manusia dalam mencoba melihat dirinya sendiri. Ada
> perbedaan
> > mendasar antara hukum alam yang sepenuhnya berdasarkan sebab-akibat
> > dan hukum moral yang bersifat sangat relatif. Penggundulan hutan
> > secara pasti akan mendatangkan banjir dan kekeringan, sebaliknya
> > kejahatan manusia bisa saja justru menghasilkan kesejahteraan
> > ekonomis dan kewibawaan sosial, bukan selalu hukuman.
> > >
> > > Banjir, kemarau berkepanjangan, meningkatnya suhu bumi dan lain-
> > lain, bagi kaum sekuler hal itu merupakan sepenuhnya gejala alam
> yang
> > bisa jadi merupakan akibat dari perilaku manusia itu sendiri.
> > Pemikiran sekuler memang tidak harus diartikan sebagai sepi
> > spiritualitas. Kecenderungan ini masih tetap ada, bahkan tidak
> jarang
> > justru berkembang dengan semarak. Yang berbeda hanyalah
> penerapannya.
> > Bagi masyarakat sekuler, spiritualitas punya tempatnya sendiri yang
> > tidak harus secara otomatis dikaitkan dengan hukum alam. Banjir
> > bandang atau sepenuhnya merupakan gejala alam. Namun gejala ini
> > muncul bisa saja akibat ulah manusia. Ulah manusia yang salah
> > menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan. Penggundulan hutan
> > secara serampangan mengakibatkan tanah tak lagi mampu menyerap dan
> > menyimpan air. Akibatnya, begitu hujan turun, air melimpah ke mana-
> > mana, sementara persediaan air dalam tanah sangat sedikit.
> Dampaknya,
> > ketika musim kemarau tiba, air yang sedikit itu habis dan
> kekeringan
> > tak terhindarkan lagi.
> > >
> > > Apa nilai spiritual dari fenomena alam tersebut? Manusia harus
> > menyadari kesalahan yang sudah dia lakukan. Kesadaran adalah
> > pengubahan tingkah laku, bukan sekadar teori dan omongan. Dengan
> kata
> > lain, lewat kesadaran dan pemahaman terhadap diri dan tindakan
> > sendiri, manusia mengubah perilakunya dan menghindarkan akibat
> buruk
> > yang ditimbulkannya. Tuhan marah atau tidak, yang jelas malapetaka
> > akan terus terjadi apabila manusia tidak mau memperbaiki
> > kesalahannya.
> > >
> > > Efektifitas
> > >
> > > Pendekatan religius terhadap musibah alam sama baiknya dengan
> > pendekatan sekuler. Letak persoalannya bukan landasan apa yang
> > digunakannya, melainkan sejauh mana efektifitasnya. Lewat
> pendekatan
> > religius manusia bisa sampai pada kesadaran akan tindakan dan jati
> > dirinya. Demikian juga, melalui pendekatan sekuler. Lebih dari itu,
> > kedua pendekatan tersebut, kalau memang diikuti secara konsekuen,
> > bisa saja membawa manusia kepada sebuah keputusan untuk melakukan
> > perubahan dan perombakan.
> > >
> > > Kesadaran akan jati diri dan tindakan sendiri merupakan titik
> awal
> > dari kesadaran akan kesalahan, yang selanjutnya akan mendorong
> > terjadinya perubahan dan perombakan, baik pola pikir maupun
> tindakan
> > real. Sebaliknya, kedua pendekatan itu sama-sama punya potensi
> untuk
> > berhenti setengah jalan, karena manusia yang menjadi aktornya
> memang
> > berjiwa setengah matang. Pendekatan religius terhenti ketika
> mencapai
> > titik pernyataan yang indah dan menawan. Tuhan murka, karena
> manusia
> > berbuat banyak kebusukan. Apa tindak lanjutnya? Tidak ada, karena
> > ungkapan itu sendiri sudah cukup indah dan mencerminkan kesadaran
> > manusia akan kesalahan.
> > >
> > > Pendekatan sekuler terhenti ketika kesadaran akan kesalahan
> > menghasilkan teori tentang asal-muasal banjir. Teori tersebut
> sangat
> > jelas dan bisa dikuti oleh otak semua orang secara relatif mudah.
> > Bahkan teori semacam itu terasa sangat indah ketika disajikan dalam
> > kesempatan-kesempatan resmi semacam diskusi, seminar maupun kuliah
> di
> > lembaga pendidikan. Tanpa tindakan lanjut, teori sama sekali tidak
> > memiliki efektifitas bagi kehidupan manusia, seperti halnya
> statemen
> > indah pendekatan religius.
> > >
> > > Penulis, pengamat masalah sosial-politik dan kemanusiaan, tinggal
> > di Mataram, Lombok
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
> 5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
> 6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
> 7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
> To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
>
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
> http://docs.yahoo.com/info/terms/
>
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
- Follow-Ups:
- [ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- From: Zamhasari Jamil
- References:
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- » [ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- » [ppi] Re: [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- » [ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- [ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- From: Zamhasari Jamil