[ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- From: "Ida" <abidin_ida@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Tue, 06 Jan 2004 08:24:54 -0000
** ppi-india **
Tuhan murka? Dia dzat yang maha suci, jika murka apakah tidak suci
lagi?...menurut saya apapun yg terjadi pada negeri ini atau pribadi
seseorang maka kita harus bisa menterjemahkan makna semua
itu....sebagai manusia yg banyak memiliki kelemahan dan kekurangan
wajar kiranya kalau kita sering hilaf. mungkin saja bencana yg
terjadi belakangan ini adalah akibat dari kesalahan / ulah
manusia...pointnya: yang jelek itu datangnya dari manusia dan yang
baik datangnya dari Yang Maha Kuasa.
itu sedikit pendapat saya,
--- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "Zamhasari Jamil" <zhemppi@xxxx>
wrote:
> salam,
>
> Bang Ambon,
>
> Kalau saya tetap yakin bahwa segala bencana yang ditimpakan kepada
> kita, adalah "ayat tuhan" yang harus segera kita pahami. Kalau
> bencana itu tiba di keluarga kita, itu juga adalah ayat tuhan yang
> harus kita "terjemahkan". Buat saya, jika musibah itu datang kepada
> saya, sedangkan saya merasa tak penah berbuat salah (apa iya?),
maka
> itu adalah UJIAN, termasuk golongan dimana kita: bersabar atau
inkar.
>
> Namun jika dihati saya pernah mengadakan kesalahan, dan kemudian
> atang bala-cobaan, maka itu adalah azab dan peringatan-Nya. Dan
masih
> bagi pribadi saya, bahwa ujian dan peringatan, kedu-duanya adalah
> ayat Tuhan yang tak tertulis, namun kita dituntut untuk memaknai
dan
> memahaminya. Sekian, semoga masih ada ang melanjutkan, gimana
menurut
> bang Ambon sendiri?
>
> Wassalam,
> zamhs - India.
>
>
> --- In ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, "Ambon" <sea@xxxx> wrote:
> > http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/1/5/op2.htm
> >
> > Balipost
> >
> > Ada semacam dialog universal dan eksternal antara Tuhan dan
manusia
> lewat alam. Memang dialog khusus atau partikular antara kedua
> eksistent tersebut lewat agama dan kitab suci atau firman. Namun
> dialog partikular ini tidak secara otomatis menghapuskan dialog
> universal yang justru bersifat lebih mendasar. Sebaliknya, dialog
> partikular justru lebih memperkuat adanya dialog universal, bahkan
> dalam banyak hal juga bertumpu pada dialog tersebut.
> >
> > -------------------------------
> >
> > Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
> >
> > Oleh Kasubmahardi W.
> > JUMAT dini hari lalu (2/1), gempa dengan kekuatan 6,1 pada skala
> Richter menggoyang Bali dan Lombok. Di antara berbagai komentar
yang
> terlontar di masyarakat, ada yang melontarkan pendapat, "Tuhan
murka
> kepada bangsa Indonesia". Tentulah, dia melihat guncangan gempa
> berkekuatan tinggi tersebut sebagai pertanda kemurkaan Tuhan.
> Intepretasi semacam itu sering kali kita dengar dalam masyarakat
> ketika suatu musibah melanda.
> >
> >
> > -----------------------------------------------
> > Bagaimana kita memahami pola pemikiran semacam itu? Jelas, pola
> pemikiran ini memiliki landasan adanya hubungan langsung antara
alam
> dengan tindakan Tuhan. Model penalaran semacam ini banyak didapai
di
> dunia ketimuran, yang pada umumnya memang menganut pemahaman
> religius. Sebaliknya, pemikiran semacam itu tidak terdapat di
> kalangan masyarakat Barat atau masyarakat maju, yang melihat tidak
> ada relevansi antara gejala alam dengan tindakan Tuhan. Gempa bumi,
> banjir bandang, wabah penyakit, kelaparan akibat kekeringan,
semuanya
> merupakan gejala alam atau akibat negatif dari tindakan manusia
yang
> salah atau di luar perhitungan.
> >
> > Pemikiran Religius
> >
> > Masyarakat Timur pada umumnya menganut pola pemikiran religius.
> Pemikiran ini melihat dunia beserta isinya merupakan bagian
integral
> dari keseluruhan alam yang suci. Sebagai bagian dari The Holy,
dunia
> tidak lepas dari pengaruh-Nya, bahkan manusia justru harus
> menyesuaikan diri dengan pola suci dari kenyataan tersebut. Dengan
> kata lain, manusia harus hidup mengikuti pola Yang Suci karena dia
> adalah bagian integral dari-Nya. Kehidupan yang mengebal dari pola
> Yang Suci akan menimbulkan dampak negatif bagi manusia. Untuk
> menghukum kesalahan manusia tersebut, Yang Suci bisa saja bertindak
> dengan menggunakan kekuatan alam.
> >
> > Pola pemikiran religius tidak memisahkan secara tegas antara alam
> dengan Tuhan, atau Yang Suci. Landasan pemikirannya mengatakan
Tuhan
> adalah pencipta sekaligus penguasa alam, karena itu Dia bisa
berbuat
> apa saja dengan alam. Dengan demikian, gejala alam tidak hanya
> memiliki makna fisikal, tetapi juga spiritual. Karena itulah, tugas
> manusia adalah mencoba memahami dan menemukan kehendak Tuhan di
balik
> gejala alam yang terjadi. Sebagai pencipta dan penguasa alam, Tuhan
> hadir di dalam alam dan kehidupan manusia, sehingga pada hakikatnya
> alam dan kehidupan manusia merupakan bacaan dari kehadiran dan
> kehendak Tuhan. Dari sini kita bisa memahami mengapa orang bisa
> sampai pada kesimpulan bahwa keindahan alam dan kesuburan tanaman
> adalah wujud nyata dari kebesaran sekaligus kemurahan Tuhan kepada
> manusia. Banyak orang berkata, untuk bisa merasakan kehadiran
Tuhan,
> lihat saja alam, bukan hanya dengan mata kepala, tetapi juga dengan
> mata batin.
> >
> > Ada semacam dialog universal dan eksternal antara Tuhan dan
manusia
> lewat alam. Memang dialog khusus atau partikular antara kedua
> eksistent tersebut lewat agama dan kitab suci atau firman. Namun
> dialog partikular ini tidak secara otomatis menghapuskan dialog
> universal yang justru bersifat lebih mendasar. Sebaliknya, dialog
> partikular justru lebih memperkuat adanya dialog universal, bahkan
> dalam banyak hal juga bertumpu pada dialog tersebut.
> >
> > Bisa dimengerti apabila ada agama yang secara khusus
mengembangkan
> teologi alam atau theology of nature. Alam diterima bukan saja
> sebagai wujud kehadiran Tuhan, tetapi juga sebagai tangan-tangan
> Tuhan, yang siap bertindak sesuai dengan kondisi kehidupan manusia.
> Bila manusia hidup sesuai dengan pola suci, Tuhan akan menurunkan
> berkat-Nya lewat alam, berupa panen melimpah, cuaca yang nyaman dan
> alam yang ramah dan pemurah. Sebaliknya, apabila manusia hidup
> menyeleweng dari pola suci, Tuhan akan murka dan mendatangkan
> berbagai bentuk musibah, seperti penyakit menular, banjir bandang,
> kekeringan berkepenjangan, gempa dengan kekuatan tinggi dan musibah
> lainnya.
> >
> > Pemikiran Sekuler
> >
> > Masyarakat Barat pada umumnya menganut pola pemikiran sekuler.
Pola
> ini melihat adanya pemisahan yang tegas antara hukum alam dan
> kehendak dan tindakan Tuhan. Pemikiran sekuler, dengan menggunakan
> rasionalitas manusia sebagai landasannya, tidak melihat adanya
nilai
> spiritual dalam gejala alam. Kalau toh ada, itu lebih merupakan
> tindakan manusia dalam mencoba melihat dirinya sendiri. Ada
perbedaan
> mendasar antara hukum alam yang sepenuhnya berdasarkan sebab-akibat
> dan hukum moral yang bersifat sangat relatif. Penggundulan hutan
> secara pasti akan mendatangkan banjir dan kekeringan, sebaliknya
> kejahatan manusia bisa saja justru menghasilkan kesejahteraan
> ekonomis dan kewibawaan sosial, bukan selalu hukuman.
> >
> > Banjir, kemarau berkepanjangan, meningkatnya suhu bumi dan lain-
> lain, bagi kaum sekuler hal itu merupakan sepenuhnya gejala alam
yang
> bisa jadi merupakan akibat dari perilaku manusia itu sendiri.
> Pemikiran sekuler memang tidak harus diartikan sebagai sepi
> spiritualitas. Kecenderungan ini masih tetap ada, bahkan tidak
jarang
> justru berkembang dengan semarak. Yang berbeda hanyalah
penerapannya.
> Bagi masyarakat sekuler, spiritualitas punya tempatnya sendiri yang
> tidak harus secara otomatis dikaitkan dengan hukum alam. Banjir
> bandang atau sepenuhnya merupakan gejala alam. Namun gejala ini
> muncul bisa saja akibat ulah manusia. Ulah manusia yang salah
> menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan. Penggundulan hutan
> secara serampangan mengakibatkan tanah tak lagi mampu menyerap dan
> menyimpan air. Akibatnya, begitu hujan turun, air melimpah ke mana-
> mana, sementara persediaan air dalam tanah sangat sedikit.
Dampaknya,
> ketika musim kemarau tiba, air yang sedikit itu habis dan
kekeringan
> tak terhindarkan lagi.
> >
> > Apa nilai spiritual dari fenomena alam tersebut? Manusia harus
> menyadari kesalahan yang sudah dia lakukan. Kesadaran adalah
> pengubahan tingkah laku, bukan sekadar teori dan omongan. Dengan
kata
> lain, lewat kesadaran dan pemahaman terhadap diri dan tindakan
> sendiri, manusia mengubah perilakunya dan menghindarkan akibat
buruk
> yang ditimbulkannya. Tuhan marah atau tidak, yang jelas malapetaka
> akan terus terjadi apabila manusia tidak mau memperbaiki
> kesalahannya.
> >
> > Efektifitas
> >
> > Pendekatan religius terhadap musibah alam sama baiknya dengan
> pendekatan sekuler. Letak persoalannya bukan landasan apa yang
> digunakannya, melainkan sejauh mana efektifitasnya. Lewat
pendekatan
> religius manusia bisa sampai pada kesadaran akan tindakan dan jati
> dirinya. Demikian juga, melalui pendekatan sekuler. Lebih dari itu,
> kedua pendekatan tersebut, kalau memang diikuti secara konsekuen,
> bisa saja membawa manusia kepada sebuah keputusan untuk melakukan
> perubahan dan perombakan.
> >
> > Kesadaran akan jati diri dan tindakan sendiri merupakan titik
awal
> dari kesadaran akan kesalahan, yang selanjutnya akan mendorong
> terjadinya perubahan dan perombakan, baik pola pikir maupun
tindakan
> real. Sebaliknya, kedua pendekatan itu sama-sama punya potensi
untuk
> berhenti setengah jalan, karena manusia yang menjadi aktornya
memang
> berjiwa setengah matang. Pendekatan religius terhenti ketika
mencapai
> titik pernyataan yang indah dan menawan. Tuhan murka, karena
manusia
> berbuat banyak kebusukan. Apa tindak lanjutnya? Tidak ada, karena
> ungkapan itu sendiri sudah cukup indah dan mencerminkan kesadaran
> manusia akan kesalahan.
> >
> > Pendekatan sekuler terhenti ketika kesadaran akan kesalahan
> menghasilkan teori tentang asal-muasal banjir. Teori tersebut
sangat
> jelas dan bisa dikuti oleh otak semua orang secara relatif mudah.
> Bahkan teori semacam itu terasa sangat indah ketika disajikan dalam
> kesempatan-kesempatan resmi semacam diskusi, seminar maupun kuliah
di
> lembaga pendidikan. Tanpa tindakan lanjut, teori sama sekali tidak
> memiliki efektifitas bagi kehidupan manusia, seperti halnya
statemen
> indah pendekatan religius.
> >
> > Penulis, pengamat masalah sosial-politik dan kemanusiaan, tinggal
> di Mataram, Lombok
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
- Follow-Ups:
- References:
- [ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- From: Zamhasari Jamil
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- » [ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- » [ppi] Re: [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- » [ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- [ppi] [ppiindia] Re: Benarkah Tuhan Murka kepada Bangsa Indonesia?
- From: Zamhasari Jamil