[ppi] [ppiindia] Rakyat (Bukan) Tumbal
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 27 Sep 2005 03:30:47 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/27/opini/2081662.htm
Rakyat (Bukan) Tumbal
Oleh: ALOYS BUDI PURNOMO
Gonjang-ganjing akan naiknya harga BBM membuat rakyat (miskin) di Republik ini
harus menjadi tumbal kebijakan ekonomi-politik pihak penguasa.
Patricia Spyer, peneliti pada Departemen Antropologi, Universitas Leiden
memberi judul hasil penelitiannya, Belum Stabil: Some Signs of the Times in
Post-Soeharto Indonesia (2004). Keadaan belum stabil itu boleh dibilang terjadi
hingga hari-hari ini. Bisa dibayangkan, betapa hebatnya keterpurukan bangsa
ini, terjerembab dalam keadaan labil, tidak stabil, hingga meski kepemimpinan
sudah berganti hingga enam kali, keadaan tetap sama, bahkan rasanya lebih buruk!
Dr Mochtar Pabottingi (1998) menegaskan, kita sedang mengalami momen lebih
terpuruk dibanding tahun 1945, 1955, dan 1965. Tiga pilar utama Indonesia
dijungkirbalikkan: sebagai Nasion kita terpecah belah, tanpa kohesi, saling
membunuh; Konstitusi UUD 1945 sudah lama tidak dijalankan; dan sebagai Negara,
Indonesia menjadi negara kekuasaan, bukan negara hukum.
Sinyalemen Mochtar tepat dan benar, juga bila dikutip dan ditegaskan guna
mewiweka keadaan negeri saat ini. Sejak krisis multidimensi (1997), Indonesia
mengalami disintegrasi multidimensi di bidang ekonomi, sosial, politik,
pemerintahan, pertahanan dan keamanan, bahkan religius-kultural. Keadaan ini
menyadarkan betapa bangsa dan masyarakat mengalami keterlepasan dari akar-akar
sosial-kultural-religius yang pernah dimiliki dan diperjuangkan pendiri
Republik ini.
Faham kebangsaan
Disintegrasi ekonomi tergambar konsisten dalam fakta keterpurukan nilai tukar
rupiah atas dollar Amerika Serikat. Keterpurukan ini membuat rakyat tercekik.
Perubahan nilai tukar membuat rakyat terengah-engah oleh ketidakstabilan harga
sembako. Hingga hari ini, meski hidup dalam era reformasi, dengan mengusung
slogan "perubahan", nilai tukar rupiah atas dollar AS masih tinggi!
Ketidakseimbangan ini berdampak lain pada semakin meningkatnya jumlah
penganggur dan meluasnya kemiskinan.
Republik Indonesia terancam bahaya menyempitnya faham kebangsaan sebagaimana
diikrarkan melalui "Soempah Pemoeda 1928". Bila penyempitan kian parah, tidak
mustahil bangsa Indonesia akan mengalami stroke dalam seluruh sendi kehidupan
berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Seringnya terjadi tindak anarki dalam
berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat menjadi indikasi perekat "Bhinneka
Tunggal Ika" yang dikombinasi dengan landasan Pancasila tak lagi kuat seperti
masa lalu. Akarnya, soal politik. Korbannya rakyat jelata! Menjadi runyam saat
agama dipolitisasi. Akibatnya, kesetaraan dan kesederajatan menghayati hak- hak
asasi paling fundamental di ruang publik tak lagi mendapat tempat.
Sementara krisis multidimensi di berbagai sektor kehidupan tak kunjung
teratasi, moralitas carut-marut, tak sedikit orang di Republik ini tak juga
memiliki kepekaan dan keprihatinan (compassion) terhadap sesama di sekitarnya.
Nyatanya, di tengah kelangkaan rakyat memperoleh BBM, ada yang tega
menggelapkan dan menyelundupkan demi kepentingan pribadi maupun kelompok!
Paradoksal, sementara pusat-pusat perbelanjaan (yang menjadi pusat akumulasi
modal) berskala besar dibangun di mana-mana; di sisi lain, banyak dijumpai
rakyat Indonesia menderita busung lapar, lumpuh layuh, flu burung, dan lainnya.
Yang tak kunjung habis diberantas adalah penyakit berbangsa dan bernegara, yang
akarnya merupakan kolaborasi antara oknum penguasa dan pengusaha dalam praktik
KKN. Bahkan cendekiawan, intelektual, dan tokoh panutan masyarakat pun terseret
lingkaran KKN! Dalam konteks ini, upaya menegakkan hukum guna mengusut pelaku
KKN pantas dihargai. Mereka perlu disemangati agar pelaku KKN kelas kakap
ditangkap dan diproses sesuai ketentuan hukum.
Akar masalah KKN adalah sikap tidak tegas penguasa terhadap pengusaha maupun
sesama elite politik-kekuasaan (apalagi sang "senior") yang jelas serakah,
tega-keji, meraup uang negara! Hukum lantas pilih kasih! Semua menjadi evil
invisible hands, bergerak melumpuhkan masa depan kebangsaan Indonesia. Kita
yang berakal sehat, tak usah menunggu jadi pakar ekonomi, dapat merasakan
adanya kejahatan dan ketidakberesan dalam koalisi penguasa dan pengusaha. Bila
praktik demikian diteruskan tentu akan mengeroposkan wawasan kebangsaan yang
bercita-cita mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Ujung-ujungnya,
rakyat menjadi tumbal!
Rakyat, yang dalam paradigma sekarang diagungkan sebagai masyarakat warga
(civil society), belakangan mengalami ancaman yang tak bisa dianggap enteng.
Pilar utama kehidupan
Secara mendasar, saat krisis dan keadaan belum stabil hingga kini, mestinya
menjadi momen penting guna menantang kita agar berani mempertanyakan kembali
pilar-pilar utama yang menopang kehidupan RI. Saat ini menjadi saat yang baik
untuk mempertimbangkan kembali orientasi dasar terbangunnya Negara Kesatuan RI.
Berbagai catatan itu mestinya menohok nurani pemimpin, agar tidak terus
menjadikan rakyat sebagai tumbal pembangunan. Sudah saatnya kebijakan publik
dilandasi kesetiakawanan sosial kepada yang lemah, miskin, dan tersingkir.
Aneka keputusan ekonomi-politik harus dilandasi belas kasih terhadap sesama
yang menderita. Perwujudannya tampak dalam pemekaran keadilan sosial bagi
seluruh rakyat, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia atas
dasar Ketuhanan Yang Maha Esa!
Aloys Budi Purnomo Rohaniwan, Pemred Majalah Inspirasi, Lentera yang Membebaskan
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Rakyat (Bukan) Tumbal