[ppi] [ppiindia] Quo Vadis Parpol, Parlemen, dan Pemerintah
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 3 May 2006 11:04:03 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=246285&kat_id=16
Rabu, 03 Mei 2006
Quo Vadis Parpol, Parlemen, dan Pemerintah
Oleh : R Siti Zuhro
Peneliti Senior The Habibie Center dan LIPI
Era reformasi telah berjalan sekitar delapan tahun, tetapi harapan rakyat akan
cita-cita reformasi tak juga kunjung terwujud. Salah satunya karena parlemen
dan partai politik (parpol) belum mampu menunjukkan fungsinya sebagai pengawas
atau pengendali kebijakan pemerintah, dan fungsi agregasi dan artikulasi
kepentingan rakyat. Ini terlihat dengan jelas dari kecenderungan masyarakat
yang lebih memilih parlemen jalanan. Selama era reformasi nyaris tiada hari
tanpa demo.
Fenomena parlemen jalanan ini sebenarnya juga terjadi di negara maju sekalipun.
Tetapi, dilihat dari tingkat frekuensi dan dampaknya, fenomena parlemen jalanan
yang terjadi di Indonesia sungguh menyedihkan. Demonstrasi buruh besar-besaran
yang menentang revisi UU Ketenagakerjaan, misalnya, sedikit-banyak berpengaruh
pada upaya kita untuk menarik kembali investor asing, khususnya.
Kelahiran reformasi
Tahun 1998 umumnya dipandang sebagai tahun kelahiran orde reformasi. Tetapi
cikal bakalnya telah ada jauh sebelum itu. Embrionya bisa dilacak sejak Gerakan
Malari 1974. Kegagalan Orde Baru dalam mewujudkan aspirasi dan keadilan sosial
telah menimbulkan sejumlah gerakan perlawanan.
Pada intinya gerakan perjuangan rakyat tersebut merupakan ekspresi dari rasa
ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah yang dinilainya gagal dalam mengurus
negara dan bangsa. Selain diwarnai berbagai demonstrasi, di akhir dasawarsa
1980-an muncul pula perdebatan hangat tentang wacana pemerintahan yang bersih
dan pembangunan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.
Kekecewaan rakyat terhadap pemerintah dan elite penguasa mencapai puncaknya
pada periode 1997-1998. Krisis ekonomi yang terjadi pada masa itu akhirnya
menjadi semacam bom waktu. Kegagalan pemerintah dalam mengatasi krisis ekonomi
telah membuatnya seperti orang yang kehabisan darah. Dalam keadaan seperti ini,
kekuasaan represif Soeharto yang telah berlangsung selama 32 tahun pun tak
mampu lagi menahan tekanan.
Menurut Arief Budiman, meskipun terdapat banyak aktor yang berperan penting
dalam perubahan sebuah rezim, umumnya aktor utama di dalam civil society adalah
partai-partai politik. Sementara itu, organisasi massa yang lain, seperti
badan-badan kemahasiswaan, serikat pekerja dan organisasi wanita lebih berada
di balik layar. Namun, seperti diketahui, peranan partai politik dalam proses
pelengseran Soeharto nyaris tak berarti.
Kualitas pemerintahan
Sulit dipungkiri bahwa kualitas sebuah negara/pemerintahan banyak bergantung
kepada kualitas masyarakat madaninya. Ini berarti bahwa dalam membangun
negara/pemerintahan, pemerintah harus bisa bekerja sama sebaik-baiknya dengan
kelompok-kelompok sosial politik yang dominan dalam masyarakat madani tersebut.
Tetapi, hal ini tak terjadi selama orde baru.
Kekuatan masyarakat madani mulai menunjukkan eksistensinya setelah berakhirnya
era Soeharto. Sebagai presiden pada masa peralihan, Habibie cukup berhasil
menjalankan tugas utamanya, yakni menyelenggarakan pemilu demokratis tahun
1999. Di bawah euforia politik massa yang sangat tinggi, ia memberikan ruang
yang cukup luas bagi kebebasan pers.
Kedudukan dan peranan LSM cukup mendapat tempat. Mereka, bahkan, mampu
"memaksa" Habibie untuk mendatangi masyarakat Tionghoa yang menjadi korban
kekerasan rasial dan meminta maaf. Bila dilihat dari relatif besarnya peran
serta masyarakat madani dalam perumusan kebijakan-kebijakan publik, bisa
dikatakan Habibie cukup berhasil mengantarkan rakyat ke sistem politik yang
demokratis.
Penerus Habibie, Abdurrahman Wahid, sebenarnya memiliki legitimasi yang cukup
kuat, namun ternyata ia gagal dalam membangun kerja samanya dengan
elemen-elemen infrastruktur dan suprastruktur politik lainnya. Meskipun sejak
lama ia dipandang sebagai pendekar demokrasi, ia tidak dapat bekerja sama
dengan parlemen secara produktif. Sikapnya yang serba tak terduga menunjukkan
kekurangpiawaiannya dalam melakukan manajemen politik.
Seperti halnya Wahid, Megawati juga tak mampu mewujudkan harapan besar
masyarakat terhadap cita-cita reformasi. Kekecewaan masyarakat kembali
berulang. Ia yang pada awalnya dianggap banyak orang sebagai tokoh yang bisa
berperan sebagai 'ratu adil', justru ia lebih memperlihatkan sikap politik yang
berorientasi ke status quo. Dibandingkan dengan Wahid, pemerintahan Mega
relatif lebih dapat mengendalikan partai politik dan parlemen. Di era
pemerintahan Mega, kondisi perekonomian Indonesia tidak mengalami perubahan
yang mendasar.
Era SBY
Naiknya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipandang banyak orang sebagai angin
segar yang menjanjikan perubahan sosial dan ekonomi yang lebih baik. SBY adalah
presiden keenam yang dipilih melalui pemilu langsung oleh rakyat dalam sistem
yang demokratis. Berduet dengan Jusuf Kalla (JK), di era ini kendali
partai-partai politik melemah karena Golkar yang merupakan partainya Jusuf
Kalla merupakan pemenang pemilu 2004.
Peranan pemerintah cenderung menguat ketimbang parlemen. Dalam menghadapi
parlemen, alih-alih berkonfrontasi, SBY-JK lebih memilih merangkul dan berusaha
menjalin kerja sama. Maka, pertanyaan yang timbul adalah apakah SBY juga
mengembangkan sebuah pemerintahan oligarkis, yakni yang bersama-sama pemerintah
dan partai-partai politik berusaha mempertahankan status quo untuk melindungi
kepentingan mereka?
Salah satu tantangan terberat SBY adalah masalah pemberantasan korupsi. Sejauh
ini SBY cukup memperlihatkan komitmennya dengan membentuk Timtas Tipikor dan
KPK serta mengizinkan lembaga-lembaga tersebut untuk menyelidiki dan menyidik
pejabat-pejabat negara dan pemerintah yang diduga terlibat praktik korupsi.
Bisa diperkirakan bahwa aksi pemberantasan korupsi ini akan mendapat perlawanan
dari kalangan tertentu.
Parpol dan good governance
Realisasi good governance akan terhambat manakala konsolidasi demokrasi di
Indonesia tidak berlangsung dengan baik. Padahal harapan rakyat sangat besar
terhadap konsolidasi demokrasi yang lebih terukur, yaitu melalui parlemen dan
partai-partai politik yang dapat mempengaruhi dan mengendalikan kebijakan
publik. Namun, harapan ini tampaknya masih kabur.
Kualitas partai-partai politik dan kinerja parlemen masih meragukan. Global
Corruption Barometer 2005 (Gallup International), misalnya, menyatakan bahwa
partai politik masih menjadi lembaga terkorup dengan nilai 4,2 (dari kisaran 1
sampai 5). Dalam laporannya parpol di Indonesia banyak yang melakukan korupsi
dengan 'menjual' kewenangan politik mereka untuk mendulang keuntungan.
Sementara itu, parlemen menduduki peringkat di bawahnya dengan nilai 4,0, yang
salah satunya ditandai dengan berkembangnya isu moral percaloan.
Keadaan tersebut telah mempersulit posisi parlemen sebagai wakil rakyat, yang
semestinya mewakili 'kepentingan rakyat' karena parlemen tampak rentan terhadap
tarikan kepentingan lain (eksekutif, kelompok, atau elite partai sendiri). Ini
ironis karena peran kritis parlemen sangat diperlukan untuk mengawasi pelbagai
kebijakan pemerintah.
Setelah terjadi guncangan-guncangan dalam transisi ke demokrasi selama periode
1998-2006, sudah saatnya Indonesia lebih fokus untuk memperbaiki kualitas dan
kinerja partai politik dan parlemen. Hal ini diperlukan untuk menciptakan pola
hubungan eksekutif-legislatif yang lebih berimbang. Perbaikan kualitas partai
dan parlemen menjadi prasyarat penting bagi konsolidasi demokrasi.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Quo Vadis Parpol, Parlemen, dan Pemerintah