[ppi] [ppiindia] Pulangkan Pendatang tanpa Identitas
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 21 Oct 2005 01:05:30 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/10/21/b1.htm
Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Pulangkan Pendatang tanpa Identitas--
Petugas Harus Berfungsi Maksimal
DALAM hal mengamankan Pulau Bali banyak hal yang harus ditata ulang, salah
satunya penertiban penduduk. Penertiban terhadap penduduk pendatang baik dari
dalam Bali maupun luar Bali harus kontinyu dan tegas. Jika penduduk pendatang
tanpa identitas harus dipulangkan. Namun, jangan sampai penertiban penduduk
dengan cara arogan dan kasar. Lagi pula pemulangan itu perlu biaya. Sebenarnya
yang tidak disiplin itu adalah pemerintah. Untuk itu yang pertama harus
diperhatikan adalah masyarakat luar Pulau Bali yang masuk jangan lolos tanpa
identitas. Ini tentu harus memaksimalkan fungsi petugas. Pemerintah dan penegak
hukum harus punya komitmen yang jelas untuk menjaga Pulau Bali. Demikian yang
terungkap dalam acara Warung Global di Radio Global FM 96,5 Kinijani, Kamis
(20/10) kemarin. Acara ini direlay Radio Singaraja FM dan Radio Genta Bali.
Berikut rangkuman selengkapanya.
----------------------------------------
Mangku Malet di Bangli setuju memulangkan penduduk kalau tidak punya identitas
dan pekerjaan, tapi perlu dikaji apakah pemulangan ini tidak berdampak buruk
terhadap orang Bali yang ada di luar Bali juga?
Ireng di Bajera menambahkan, untuk memulangkan itu harus ada perarurannya agar
tidak hangat-hangat tahi ayam.
Sedangkan Made Jujur di Sanglah mempertanyakan, yang disebut identitas itu apa
saja? Menurutnya identitas itu hanya KTP saja dan mengenai kipem, apa
menyelesaikan masalah? Selama ini penerapan kipem tidak menyelesaikan masalah
malah dipakai kesempatan untuk mencari duit. Baru ada ledakan seketika ada
penertiban dan ia menilai penertiban penduduk cuma kerja musiman belaka. Kalau
ada pilkada mereka mendatangkan penduduk dengan cara memberi kemudahan untuk
mendapatkan KTP. Sebagai masyarakat ia bertanya kenapa peraturan yang ada tidak
berjalan?
Jery di Kuta bertanya, kalau ada rencana memulangkan penduduk apa dasar
hukumnya apa? Jangan sampai penduduk pendatang langsung dipulangkan tanpa
mengetahui kesalahannya. Memangnya gampang memulangkan pendatang tanpa
identitas? Seandainya ada dasar hukumnya dan kemudian penduduk itu dipulangkan
apakah pemulangan itu menggunakan biaya dari pemerintah atau biaya sendiri?
Kalau begitu apakah pemerintah mampu untuk membiayai pemulangan itu? Ia memberi
solusi, buatkan dasar hukumnya dulu sebelum memulangkan dan buatkan sanksinya
apakah termasuk tindak pidana ringan atau tipiring atau tidak, dan peraturan
tentang pembiayaan.
Menurut Binawan di Tabanan sebenarnya yang tidak disiplin itu adalah
pemerintah. Ketika ada masalah baru bingung bikin peratuaran ini dan itu dan
lucunya yang dominan melanggar itu adalah oknum-oknum aparat itu sendiri. Dia
bertanya apa gunanya buat KTP? Pemerintah selama ini bisanya cuma
menghitung-hitung mana yang bisa dianggap "proyek " saja . Disiplin
pemerintahlah yang terpenting, bukan peraturannya. Sementara Sudana Kendal di
Denpasar mengatakan kelihatannya para pejabat banyak kebakaran jenggot sekarang
ini. Lihat saja di Gilimanuk sangat gampang orang menyeberang ke Bali. Saya
melihat pemeriksaan itu cuma di luar saja tidak mau naik ke bus. Penertiban itu
seharusnya seterusnya, terutama yang mempunyai kos-kosan.
Kemudian Sudira di Batuan menyarankan dalam penertiban penduduk jangan sampai
melibatkan pecalang. Karena fungsi pecalang bukan itu, yang dilibatkan harusnya
unsur-unsur petugas pemerintah. Pecalang itu polisinya adat, tugasnya
mengamankan dan menertibkan proses upacara. Dia juga merasa yakin bahwa rencana
pemulangan penduduk pendatang yang tidak beridentitas hanyalah hangat-hangat
tahi ayam.
Menurut Vijay di Pecatu untuk pemulangan penduduk harus tahu mekanismenya
seperti apa. Apakah pemulangan penduduk pendatang antar kota atau kabupaten
dalam Propinsi Bali atau pemulangan penduduk antar propinsi. Semestinya kita
harus punya aturan yang baku. Misalnya pemulangan penduduk yang dari Karangasem
seperti apa juga harus jelas. Menurutnya banyak peraturan yang sudah dianggap
kuno dan tidak cocok diterapkan lagi. Lihat saja banyaknya masalah yang terjadi
di lapangan siapa yang mendeteksi, siapa yang memeriksa, siapa yang berhak
memeriksa pecalang atau hansip.
Winaya di Tabanan menyarankan sebaiknya proses pemulangan itu di pintu masuk
Bali seperti Gilimanuk, jangan setelah dia masuk ke Bali baru dipulangkan.
Pemerintahan yang terbawah di Bali dan semua unsur-unsur tokoh masyarakat harus
menertibkan.
Menurut Kak Nges di Denpasar dari kejadian bom pertama dan kedua semua
penertiban penduduk tidak membuahkan hal-hal yang maksimal. Semestinya petugas
keamanan terlepas dari keterbatasannya, berusaha memeriksa identitas semua yang
masuk pintu Bali dan bila tidak ada identitas langsung naikkan lagi ke kapal
untuk pulang. Proses ini jelas memerlukan biaya, apakah pemerintah daerah Bali
siap dengan risiko biaya itu? Kalau ada turis domestik yang tujuannya berwisata
juga harus dicek. Pengecekan juga dilakuan terhadap turis asing yang masuk di
bandara. Dia juga berharap para Kadus juga harus tahan uji dan mental jangan
tergiur godaan.
Suarjana di Singaraja mengatakan kalau kita berkeinginan untuk memiliki suatu
konsep menjaga keamanan Pulau Bali kita memang harus menjalankan hal-hal yang
kelihatan sepele tapi berpengaruh luar biasa terhadap keamanan. Untuk itu
dirinya setuju memulangkan penduduk tanpa identitas tetapi yang pertama harus
diperhatikan adalah masyarakat luar Pulau Bali yang masuk jangan lolos tanpa
identitas. Ini tentu harus memaksimalkan fungsi petugas. Pemerintah dan penegak
hukum harus punya komitmen yang jelas untuk menjaga Pulau Bali. Yang masuk Bali
harus punya identitas, tidak peduli mereka yang berwisata atau tidak. Lagi pula
masalah identitas itu sudah merupakan peraturan nasional bahwa penduduk harus
punya identitas.
Suwena di Pedungan berharap bila pendatang dari luar Pulau Bali sudah
beridentitas lengkap dan punya pekerjaan, jangan terlalu menjerat dengan harga
kipem yang mahal karena bagaimana pun mereka juga partner kerjanya. Sebab
selama ini pekerjaan menjahit misalnya yang ia geluti sebagian besar orang Bali
tidak mau menggelutinya. Akhirnya hanya pendatang yang mau menjahit.
Mengerjakan sawah, memanen dan sebagainya juga dikerjakan tenaga dari luar Bali.
Sementara itu menurut Awe di Legian masyarakat Bali masih terlalu mementingkan
uang. Contohnya mereka berprinsip yang penting kos-kosannya laku. Saking
murahnya kos-kosan bule pun ikut kos rumah penduduk untuk menghemat biaya.
Sekarang lihat juga di Gilimanuk asal ada salam tempel bisa lolos. Percuma ada
cctv lagi pula cctv bisa dibengkokkan arahnya. Kemudian ketika bus masuk
kondektur sudah memberi pengumuman agar para penumpang yang tidak punya
identitas segera mengumpulkan uang untuk oknum aparat. Percuma saja adanya alat
canggih dan rencana macam-macam kalau sikap mental aparat dan masyarakat belum
baik. Mental SDM-nya dulu diperbaiki.
* bram
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Pulangkan Pendatang tanpa Identitas