[ppi] [ppiindia] Pseudo-Reforms
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 27 May 2006 08:40:22 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=16076
Pseudo-Reforms
oleh Awidya Santikajaya
Sabtu, 27-Mei-2006, 02:20:30
"Tidak ada yang bisa disalahkan. Semua itu adalah kesalahan kolektif bangsa.
Perkataan Amien Rais pada 2002 itu perlu dijadikan sebagai awal untuk melihat
seberapa jauh kita memaknai kegagalan reformasi. Sering kita mencari kambing
hitam atas kematian reformasi. Padahal, jangan-jangan kebuntuan reformasi
justru akibat kesalahan kita.
Ketika pemerintahan Soeharto tumbang delapan tahun lalu, rakyat Indonesia
memiliki ekspektasi yang begitu besar akan terjadinya perubahan signifikan yang
berpihak kepada rakyat. Tetapi, kenyataan yang jauh dari harapan menyebabkan
euforia berubah menjadi kekecewaan yang begitu mendalam.
Tindakan frustrasi yang berwujud berbagai kerusuhan pun terjadi seperti dalam
kasus pilkada Tuban beberapa waktu lalu. Selaras dengan itu, kerinduan terhadap
hadirnya kembali rezim otoriter yang dianggap lebih aman dan nyaman muncul di
kalangan khalayak. Terlihat bahwa gairah masyarakat dalam menyalakan api
reformasi semakin tergerus.
Menafikan Aspirasi
Begitu banyaknya aksi ekstraparlementer berwujud demonstrasi menunjukkan bahwa
reformasi masih menafikan keran aspirasi rakyat yang sesungguhnya. Reformasi
dan agendanya selama ini hanya dijalankan oleh dan untuk kepentingan segelintir
orang. Kaum-kaum yang berada pada exclusive claves mengobarkan neoaristokrasi
demi melindungi kepentingan mereka.
Kondisi yang asimetris ini menyebabkan reformasi yang terjadi hanya mencakup
pada perubahan tingkat institusional belaka. Begitu banyak lembaga dan
mekanisme baru dalam mewujudkan demokrasi. Tetapi, hal itu tidak disertai
revolusi berpikir dan perubahan kultural yang memadai.
Misalnya, mudah bagi kita melihat begitu banyak partai politik. Tetapi, tetap
saja budaya otoriter mendominasi semua partai. Belum lagi kewajiban
berkomunikasi dengan masyarakat sering diabaikan.
Akibatnya, cita-cita reformasi, yaitu untuk mewujudkan kondisi sosial yang
lebih baik tidak lagi menjadi prioritas. Reformasi juga diwarnai membeludaknya
lembaga baru yang berjumlah sekitar lima puluh. Hanya prestasi ini haruslah
dievaluasi dengan melihat seberapa jauh efektivitas lembaga-lembaga itu dalam
perbaikan bangsa.
Reformasi yang terjadi di Indonesia adalah reformasi prosedural, bukan
substansi. Hal itu dibuktikan dengan pemilu multipartai yang ternyata tidak
otomatis menghasilkan pemimpin yang bisa melakukan transformasi sosial dan
mengkhidmatkan diri pada kepentingan rakyat. Partisipasi rakyat dalam proses
reformasi dan demokrasi disalahgunakan sebagai bahan legalisasi status quo
belaka.
Hilangnya Spirit
Reformasi semu diakibatkan tidak adanya kemauan untuk memunculkan solusi
bersama atas segala masalah bangsa. Reformasi hanya dilakukan setengah-setengah
tanpa arah yang jelas.
Hal itu terjadi karena konflik kepentingan antarkelompok yang semakin
menjadi-jadi. Setiap komponen bangsa sibuk menunjukkan eksistensinya.
Akibatnya, agenda reformasi yang demikian berat justru terdesak oleh isu-isu
populer yang sebetulnya tidak menyentuh substansi permasalahan bangsa. Yang
justru berkembang adalah fanatisme sempit berkedok agama, suku, dan kedaerahan.
Dari sinilah timbul ketidakpercayaan antarberbagai pihak yang mengganggu agenda
reformasi.
Dalam era reformasi sejujurnya kita telah kehilangan karakter keindonesiaan.
Reformasi diidentikkan dengan kecenderungan menampilkan identitas yang berbau
lokal dan eksklusif. Padahal, tanpa adanya kebanggaan sebagai sebuah bangsa,
mustahil bagi kita untuk bangkit. Pada puncaknya disintegrasi bangsa tinggal
menunggu waktu.
Menegaskan kembali identitas adalah hal yang wajib segera dilakukan. Tentu kita
tidak ingin terjebak seperti Uni Soviet yang gara-gara reformasi politik
ekonominya (atau lebih populer dengan sebutan perestroika dan glasnost) pecah
berkeping-keping. Sebaliknya, perlu bagi kita menengok China yang melakukan
reformasi ekonomi dengan gemilang karena ada identitas yang dipegang dengan
kuat, yaitu sosialisme politik.
Bung Karno dengan segala kekurangannya pernah membangun karakter bangsa yang
demikian kuat, sehingga Indonesia begitu disegani berbagai bangsa. Sekarang hal
itu susah ditemui lagi. Citra bangsa yang penuh toleransi, menjunjung
persatuan, gotong-royong, berketuhanan, dan sebagainya telah luntur.
Rekonstruksi
Kegagalan reformasi adalah resultan dari tak jelasnya karakter bangsa. Jika
Singapura memiliki etos kerja keras, Jepang memiliki etos disiplin, dapat
dikatakan bahwa Indonesia tidaklah memiliki etos sama sekali. Tak heran agenda
reformasi yang telah direncanakan dan dibangun tidak segera ditindaklanjuti
dengan serius.
Membangun karakter bangsa membutuhkan kerja keras dan konsistensi. Kultur
kebaikan yang bersifat universal yang pernah dibangga-banggakan haruslah
dipopulerkan kembali. Aplikasi wawasan kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari
adalah titik tolak mengembalikan reformasi pada khittah-nya, jauh dari
kepentingan pragmatis.
Pesimistis rasanya jika transformasi kultural diemban oleh generasi uzur.
Mahasiswa sebagai penarik gerbong reformasi haruslah menumbuhkan semangat itu
dengan tidak melulu ber-patronase ria. Sudah saatnya kita melaksanakan
reformasi dengan ketulusan dan kebersamaan, bukan saling menyalahkan.
*Penulis adalah mahasiswa Fekon UI
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
You can search right from your browser? It's easy and it's free. See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts: