[ppi] [ppiindia] Pseudo Growth" dan Pembangunan Berkelanjutan

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/8/28/o3.htm

Pola pembangunan konvensional harus segera ditinggalkan. Jika tidak segera 
mengubah haluan, dampak negatif pada ketimpangan kehidupan dan lingkungan akan 
semakin menjadi-jadi.
---------------------

"Pseudo Growth" dan Pembangunan Berkelanjutan
Oleh Dr. IB Raka Suardana, S.E., M.M. 

KERUSAKAN lingkungan Pulau Bali akibat eksploitasi berlebihan, dan 
berkembangnya usaha yang mencemari lingkungan, mau tak mau harus disikapi 
dengan tindakan yang lebih aktif melalui penyikapan bersama dalam menciptakan 
sinergi dan jejaring di antara semua pemangku kepentingan (stakeholders).

---------------------------

Selama ini pembangunan sepertinya hanyalah mengejar pertumbuhan ekonomi, yang 
diukur dengan produk domestik bruto (PDB) di tingkat nasional dan produk 
domestik regional bruto (PDRB) di level lokal (propinsi dan kabupaten/kota). 
Jika PDB/PDRB meningkat, maka pertumbuhan ekonomi tentu meningkat pula, yang 
dianggap merupakan ''prestasi'' pemimpin nasional/lokal. Padahal dalam mencapai 
PDB/PDRB itu, kemajuan pembangunan masih berbasis pada pembangunan yang 
bersifat konvensional. Dalam pembangunan konvensional, keberhasilan menaikkan 
produksi barang dan jasa secara melimpah (yang merupakan unsur PDB/PDRB), tidak 
mengakomodasi aspek lingkungan. Pembangunan sosial juga tersingkirkan, terutama 
yang menyangkut kepentingan kelompok miskin. Banyak bukti untuk kasus ini, di 
mana rakyat miskin selalu termarginalkan dalam setiap pembangunan.

Kinerja ekonomi dalam pembangunan konvensional seperti itu jelas mengarah 
kepada pertumbuhan semu atau dikenal dengan istilah pseudo growth. Pseudo dalam 
dictionary berarti palsu atau pura-pura, dan dalam kamus bahasa Indonesia 
berarti tidak asli dan tidak sah. Dalam mengukur keberhasilan pembangunan 
melalui PDB/PDRB, cenderung pada pertumbuhan ekonomi yang umumnya melakukan 
eksploitasi sumber daya alam secara eksploitatif, agresif, dan ekspansif. 
Sebagai akibatnya, deplisi dan/atau degradasi serta kerusakan sumber daya alam 
terjadi begitu mengenaskan. Implikasinya jelas berpotensi menghancurkan kinerja 
pertumbuhan ekonomi itu sendiri (self-destructive). Dengan kata lain, 
pertumbuhan ekonomi yang selama ini diukur melalui PDB/PDRB dan merupakan 
sebagai ukuran kesejahteraan masyarakat masih bersifat "sesaat" dan belum 
memikirkan kelangsungan hidup untuk generasi penerus.

Misalnya contoh penebangan pohon di hutan, seharusnya dilakukan peremajaan 
kembali atau perbaikan sebagai akibat kerusakan yang timbul. Tetapi 
kenyataannya, hutan hanya dieksploitasi untuk perolehan ekonomi tanpa dilakukan 
reboisasi kembali. Demikian juga galian C, para pengusaha yang 
mengeksploatasinya hampir semuanya tidak melakukan upaya atau memikirkan cara 
penanganan lubang bekas galian, yang jelas berpotensi akan tenggelam di 
kemudian hari. Secara ekonomi, keuntungan diperoleh luar biasa saat 
pengeksploitasian, baik bagi si pengusaha maupun yang diterima pemerintah 
daerah dan pusat melalui restribusi. Saat menghitung PDB/PDRB, peningkatan 
pertumbuhan ekonomi terjadi, sehingga dianggap prestasi bagi pimpinan, baik 
pimpinan nasional maupun pimpinan wilayah. Jenis pertumbuhan ekonomi seperti 
itulah yang dapat dikatekagorikaan pseudo growth (pertumbuhan semu).



Pembangunan Berkelanjutan



Pola pembangunan konvensional harus segera ditinggalkan. Jika tidak segera 
mengubah haluan, dampak negatif pada ketimpangan kehidupan dan lingkungan akan 
semakin menjadi-jadi. Meskipun kendala yang dihadapi pasti besar, sebab banyak 
orang pada saat ini masih mengutamakan kepentingan jangka pendek dibandingkan 
jangka panjang. Di samping itu, adanya egoisme sektoral dan lemahnya penegakan 
hukum, juga akan menjadi kendala cukup berat untuk dihadapi. 

Sebenarnya sejak dasawarsa 1900-an, semua pihak seharusnya sudah menyadari 
konsep yang dijadikan pijakan dalam setiap gerak menuju kemajuan pembangunan, 
yaitu dikenalkannya konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Konsep ini didefinisikan sebagai pembangunan atau perkembangan yang memenuhi 
kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk 
memenuhi kebutuhannya. Namun tantangan pembangunan berkelanjutan ini cukup 
banyak. Salah satu yang paling krusial adalah menemukan cara meningkatkan 
kesejahteraan masyarakat sambil menggunakan sumber daya alam secara bijaksana, 
sehingga sumber daya alam terbarukan dapat dilindungi, dan penggunaan sumber 
alam yang dapat habis (tidak terbarukan) pada tingkat di mana kebutuhan 
generasi mendatang masih tetap akan terpenuhi. 

Konsep pembangunan berkelanjutan muncul ketika terjadi kegagalan konsep 
pembangunan konvensional, di mana saat itu proses yang terjadi lebih banyak 
bersifat top-down. Bila ditinjau dari sisi lingkungan, sosial, dan ekonomi, 
proses pembangunan yang terjadi tidak memikirkan generasi mendatang. 
Pelaksanaan konsep pembangunan berkelanjutan diperkuat dengan kesepakatan para 
pemimpin bangsa yang dinyatakan dalam hasil-hasil negosiasi internasional, 
antara lain Deklarasi Rio pada KTT Bumi tahun 1992, Deklarasi Milenium PBB 
tahun 2000, dan Deklarasi Johannesburg pada KTT Bumi tahun 2002.



Internalisasi Biaya



Secara global konsep pembangunan berkelanjutan sudah ada gerakan nyata untuk 
mengimplementasikannya. Seperti, ketatnya, berbagai aturan tentang produk yang 
masuk ke negara-negara maju. Misalnya harus mencantumkan label yang ramah 
lingkungan (eco-labelling). Bagaimana di tingkat nasional dan lokal? Tampaknya 
belum.

Untuk itu, secara sederhana jika memungkinkan mulai sekarang setiap perusahaan 
yang bidang usahanya berpotensi merusak atau mencemari lingkungan memasukkan 
biaya perbaikan lingkungan ke dalam harga pokok produk/jasa yang dihasilkannya, 
sehingga peremajaan atau perbaikan lingkungan menjadi tanggung jawab perusahaan 
yang bersangkutan. Konsep internalisasi biaya perbaikan lingkungan ke dalam 
harga pokok, paling tidak akan menjadi langkah sedikit maju di masa mendatang. 
Rasanya hal ini tidak begitu sulit dilakukan. Namun pertanyaannya sekarang, 
apakah ada pengusaha yang mau melakukannya?  



Penulis, dosen FE dan Program Pascasarjana MM Undiknas, serta Ketua Lembaga 
Penelitian, Pengkajian dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) Undiknas Denpasar

      

------------------

* Selama ini pembangunan konvensional mengarah kepada pertumbuhan (pseudo 
growth) yang hanya menaikkan produksi barang dan jasa secara melimpah, tanpa 
mengakomodasi aspek lingkungan.

* Pembangunan sosial tersingkirkan, terutama yang menyangkut kepentingan 
kelompok miskin.

* Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), salah satunya 
dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sambil menggunakan sumberdaya alam 
secara bijaksana.

* Mulai sekarang setiap perusahaan yang bidang usahanya berpotensi merusak atau 
mencemari lingkungan, memasukkan biaya perbaikan lingkungan ke dalam harga 
pokok produk/jasa yang dihasilkannya.

* Peremajaan atau perbaikan lingkungan menjadi tanggung jawab perusahaan yang 
bersangkutan


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] Pseudo Growth" dan Pembangunan Berkelanjutan