[ppi] [ppiindia] Privatisasi Bisa Menyengsarakan Rakyat dan Merusak Kedaulatan Negara
- From: A Nizami <nizaminz@xxxxxxxxx>
- To: ekonomi-nasional@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Thu, 2 Sep 2004 19:20:17 -0700 (PDT)
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Rekan2 sekalian,
Sesungguhnya, privatisasi tidak berarti bahwa tarif akan murah. Justru seba=
liknya banyak yang naik. Hal ini disebabkan swasta pasti ingin untung. Tida=
k mungkin mereka mau kerja bakti untuk hal yang tidak menguntungkan. Apalag=
i jika yang mengambil alih BUMN kita adalah perusahaan asing (mengingat kon=
glomerat kita banyak yang kolaps dan berutang), maka biaya operasional akan=
naik karena standar gaji mereka yang tinggi. Jika pegawai lokal puas dgn g=
aji Rp 2 juta per bulan, untuk orang asing minimal Rp 20 juta. Apalagi jika=
karyawan expatnya banyak.
Oleh karena itu, agar tidak rugi, mereka akan menaikan tarif. Selain itu, m=
ereka juga bisa mengurangi jumlah pekerja, sehingga bisa menimbulkan pengan=
gguran. Ini menimbulkan masalah sosial tersendiri.
Kenaikan tarif akibat privatisasi sudah terbukti pada kasus PAM setelah dib=
eli oleh Lyonnaise dari Perancis dan Thames dari Inggris. Berikut beritanya=
:
Tarif PAM Jaya Naik Otomatis Setiap 6 Bulan - Rabu, 01 September ...
Metropolitan, Rabu, 01 September 2004. Tarif PAM Jaya Naik Otomatis Setiap =
6
Bulan. Jakarta, Kompas - Perusahaan Daerah Air Minum Jakarta ...=20
www.kompas.com/kompas-cetak/0409/01/metro/1243906.htm - 40k - 31 Agu 2004 -=
Tersimpan - Halaman yang mirip=20
Tarif Air PAM Naik 40 Persen, Tarif Bus Kota Naik Bervariasi ...
Metropolitan, Selasa, 01 April 2003. Tarif Air PAM Naik 40 Persen, Tarif
Bus Kota Naik Bervariasi. Jakarta, Kompas - DPRD Pemprov DKI ...=20
www.kompas.com/kompas-cetak/0304/01/metro/230283.htm - 38k -=20
Waspada.co.id =BB Opini =BB Swastanisasi Air: Menyikapi Kenaikan ...
... dengan tarif yang akan terus merayap naik secara berkala. ... Oleh kare=
na itu, asumsi
kenaikan tarif dengan nilai ... hingga saat ini, PT Thames PAM Jaya menanam=
kan ...=20
www.waspada.co.id/opini/ artikel/artikel.php?article_id=3D42615 - 47k -
Kegagalan Privatisasi Air di Seluruh Dunia:
AFRICAFILES | Water privatization has been a failure all over the ...
Water privatization has been a failure all over the world. Author: Savannah
Blackwell, Date Written: 6 November 2002. Primary Category ...=20
www.africafiles.org/article.asp?ID=3D717&ThisURL=3D./ afgeneral.asp&URLName=
=3DAFRICA%20GENERAL - 19k - Tersimpan - Halaman yang mirip=20
May 2003: How is water privatization working?
... of privatized water services, and that privatization itself is ... the =
huge capital needs
of the water and sewage ... any assessment of success or failure is prematu=
re ...=20
www.esemag.com/0503/privatewater.html - 8k - Tersimpan - Halaman yang mirip=
=20
National Post Online - financialpost
... Elizabeth Brubaker debunks critics' claims that water privatization is =
a failure ...
Darcy has written on this page that Britain's water privatization "has left=
...=20
www.environmentprobe.org/ enviroprobe/evpress/030600_fpost.html - 14k - Ter=
simpan - Halaman yang mirip=20
Sesungguhnya BUMN pada dasarnya adalah milik Negara. Milik seluruh rakyat I=
ndonesia. Keuntungan BUMN, akan masuk ke APBN untuk mensejahterakan rakyat.
Ada pun jika diprivatisasi, entah dgn cara IPO/Go Public, maka hanya akan d=
imiliki oleh segelintir spekulan pemilik modal. Bukan oleh seluruh rakyat I=
ndonesia. Keuntungannya hanya dinikmati oleh para pemegang saham.
Banyak kasus BUMN yang Go Public, ujung2nya dimiliki oleh Big Company/asing=
. Contohnya Indosat dan Telkom yang sebagian sahamnya dimiliki oleh asing. =
Bahkan Indosat 85% sahamnya dipegang oleh swasta/asing. Sementara pemerinta=
h hanya 15%. Preskom Indosat adalah orang Singapura.
Ini tentu menyedihkan, karena Indosat dan Telkom adalah pemegang monopoli s=
atelit di Indonesia. Ini bukan cuma masalah ekonomi belaka, tapi menyangkut=
kedaulatan negara. Karena wilayah "Frekuensi" untuk komunikasi di Indonesi=
a sudah dikuasai oleh asing. Stasiun TV, penerbangan, perhubungan laut, Rad=
io, telekomunikasi, semuga menggunakan satelit dan wilayah Frekuensi tsb.=20
Dengan dikuasainya Indosat oleh asing, maka segala hal tsb dikuasai oleh as=
ing. Mereka bisa mendengar percakapan telpon para pejabat kita (bahkan pres=
iden), serta melacak lokasinya jika mau. Inilah yang tidak diperhatikan ole=
h para ekonom Neo Liberal.
Berikut data BUMN Go Public yang akhirnya jatuh ke tangan kapitalis asing:
Pemegang saham Perseroan Telkom per 31 Desember 2003Negara Republik Indones=
ia
1 lembar saham Seri-A Dwiwarna
5.160.235.355 lembar Seri-B (saham biasa)=20
51,19%Publik :=20
Pemodal Nasional
187.643.395 lembar Seri-B (saham biasa)
1,86%
Pemodal Asing
4.732.120.889 lembar Seri-B (saham biasa)=20
46,95%
Saham beredar dan disetor penuh :
1 lembar saham Seri-A Dwiwarna
10.079.999.640 lembar Seri-B (saham biasa)=20
100,00%
http://www.telkom.co.id/hubunganinvestor/index.asp?menucat=3Dporsi-saham&he=
adcat=3D%20-%20Informasi%20bagi%20Pemegang%20Saham%20TELKOM
--- taufik orangkaya <okatao2000@xxxxxxxxx> wrote:=20
Artikel Kompas Tahun 2003. Sekarang tarifnya lebih menggila lagi...
Manajemen Indosat TBK
Jabatan
Nama
Tanggal Menjabat
Komisaris Utama
PETER SEAH LIM HUAT
27 Des 2002
Komisaris
LEE THENG KIAT
27 Des 2002
Komisaris
SUM SOON LIM
27 Des 2002
Komisaris
ROES ARYAWIDJAYA
27 Des 2002
Komisaris
UMAR RUSDI
27 Des 2002
Komisaris
SIO TAT HIANG
27 Des 2002
Komisaris ( Independen)
EVA RIYANTI HUTAPEA
13 Jul 2004
Komisaris ( Independen)
LIM AH DOO
27 Des 2002
Komisaris ( Independen)
MOHAMAD IKHSAN
13 Jul 2004
KOMITE AUDIT (KETUA)
LIM AH DOO
13 Jul 2004
KOMITE AUDIT (ANGGOTA)
EVA RIYANTI HUTAPEA
13 Jul 2004
KOMITE AUDIT (ANGGOTA)
ACHMAD FUAD LUBIS
22 Nov 2001
KOMITE AUDIT (ANGGOTA)
WURYANTO
19 Des 2001
KOMITE AUDIT (ANGGOTA)
MOHAMAD IKHSAN
13 Jul 2004
Direktur Utama
WIDYA PURNAMA
27 Des 2002
Wakil Direktur Utama
NG ENG HOE
27 Des 2002
Direktur
NICHOLAS TAN KOK PENG
27 Des 2002
Direktur
RAYMOND TAN KIM MENG
27 Des 2002
Direktur
WAHYU WIJAYADI
13 Jul 2004
Direktur
WITYASMORO SIH HANDAYANTO
27 Des 2002
Direktur
SUTRISMAN
13 Jul 2004
Direktur
HASNUL SUHAIMI
20 Jun 2002
Pemegang Saham Indosat=20
Nama
Tanggal Kepemilikan
Pemegang Saham 5% atau Lebih
NEGARA REPUBLIK INDONESIA
30 Jun 2004
15
THE BANK OF NEW YORK (BONY)
30 Jun 2004
5.53
INDONESIA COMMUNICATIONS LIMITED
30 Jun 2004
40.68
NEGARA REPUBLIK INDONESIA
31 Jul 2004
15
KUSTODIAN SENTRAL EFEK INDONESIA
31 Jul 2004
84.95
Lainnya ...
http://www.jsx.co.id/issuers.asp?cmd=3Ddetail&id=3DISAT&from=3Dlisted=20
Saya setuju untuk sektor2 tertentu privatisasi diperlukan. Tapi sektor yang=
berhubungan dgn hajat hidup orang banyak, keamanan dan kedaulatan negara, =
Negara harus memegang kendali.
Pada kasus Garuda dan HP, tarif bisa murah karena tidak terjadi monopoli. M=
inimal harus ada 4 atau lebih pemain agar harga bisa kompetitif.
Tapi untuk kasus PLN, PAM, Telpon Fixed Line yang masih monopoli dan duopol=
i, privatisasi akan mengakibatkan kenaikan tarif, karena masyarakat harus m=
embayar lebih untuk keuntungan kapitalis serta biaya gaji yang tinggi jika =
dikuasai oleh asing.
Tarif PAM sekarang sudah sekitar Rp 150 ribu per bulan. Telpon juga segitu.=
Sementara tetangga saya yang buruh dgn gaji sebesar Rp 700 ribu per bulan,=
bingung ketika petugas PLN mengancam akan memutus listrik karena terlambat=
bayar 11 hari untuk rekening listrik sebesar Rp 180 ribu per bulan. Itulah=
"angin" privatisasi di PLN.
Berikut 1 artikel yang menarik tentang penderitaan rakyat
Puncak Derita Rakyat yang Bakal Tiba=20
HIDUP dengan mengontrak rumah bersama tiga rekan sopir lainnya, pendapatan =
Rojikin memang tidak tetap. Saat penumpang ramai, dia bisa membawa pulang R=
p 50.000. Namun, begitu penumpang sepi, kerja 20 jam sejak subuh hingga ten=
gah malam, pendapatannya sehari setelah dipotong setoran, kadang hanya untu=
k makan sehari itu saja.
Padahal, istri dan dua anaknya yang berada di Tegal menanti kiriman uangnya=
. "Semua mahal, ongkos mahal, di kampung saja, untuk kebutuhan sehari-hari =
istri dan anak saya menghabiskan biaya hidup Rp 25.000 sehari," katanya.
Membandingkan pendapatannya dengan harga beras yang kini ikut melonjak, Roj=
ikin mengatakan, pemerintah saat ini malah menindas rakyat dengan menaikkan=
harga. "Katanya reformasi, partai wong cilik, kenyataannya kok gini," kata=
nya geram.
Seorang ibu yang menelepon ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) han=
ya bisa menangis dan bicara sepotong-sepotong mengenai nasibnya. "Suaminya =
baru kehilangan pekerjaan. Kami tidak mampu membayar listrik sehingga listr=
ik dimatikan PLN. Anak yang masih SD dan SMP tidak bisa belajar di malam ha=
ri, sementara siangnya harus membantu bekerja," kata Ketua YLKI Indah Suksm=
aningsih menirukan ibu tadi.
Ada juga seorang ibu yang mengadu dengan menyertakan slip gaji suaminya. To=
tal gaji suaminya termasuk tunjangan hadir, tunjangan jabatan bernilai Rp 1=
.188.000. Sebenarnya sudah cukup di atas upah minimum regional. Tapi ketika=
hitungan dituangkan ke kertas, gaji itu lalu tak ada artinya.
Sebab, ibu itu harus menyekolahkan tiga orang anak, yang biaya angkutannya =
Rp 326.000. Untuk menghemat, ia menekan biaya belanja makan menjadi Rp 10.0=
00 per hari. Pengeluaran rutinnya yang tidak bisa dihindari, adalah rumah R=
p 250.000 per bulan. Bulan lalu mereka membayar air Rp 50.000-an, biaya tel=
pon Rp 76.000, dan listrik Rp 41.000. Maka gajinya lalu jadi tak cukup.
Tapi jenis keluarga seperti inilah yang justru paling terpukul oleh tekanan=
ekonomi saat ini. Sebagian besar hidup di perkotaan atau pinggiran kota. H=
idup pas-pasan, mobilitas menggunakan alat transportasi ber-BBM, memakai li=
strik dan sebagian sudah menggunakan telpon. Jumlahnya memang tidak sebanya=
k petani atau nelayan.
"Kondisi orang-orang yang dibilang miskin tidak, tapi mampu juga tidak ini,=
kan tidak masuk statistik, padahal mereka itu harus menjalani hidup juga d=
alam keadaan kepepet. Golongan mereka ini terpukul betul," kata Indah.
Kualitas hidup masyarakat yang menurun menjadi fakta di mana-mana. Seorang =
ibu rumah tangga yang berada dalam kondisi terjepit, pendapatan suami renda=
h, sementara anak menangis minta dibelikan makanan, hal ini membuat seorang=
ibu harus memutar otak sedemikian rupa.
Sering kali, penurunan kualitas yang paling terlihat adalah di dalam segi m=
akanan. Seperti Ny Ati, istri nelayan di Muara Angke yang memiliki delapan =
orang anak. Di satu sisi, ia menghadapi kondisi di mana pendapatan suaminya=
tidak tetap, dan rendah. Di sisi lain, tujuh dari delapan anaknya -semua p=
utus sekolah- membutuhkan makanan. Jika sebelumnya anak-anaknya masih bisa =
makan telur, maka beberapa bulan terakhir ini, menu makanan mereka hanya se=
putar tempe, tahu, dan sayur asam, terkadang ditambah ikan hasil tangkapan =
ayah mereka di Teluk Jakarta. "Tiga puluh ribu rupiah sih gak cukup," katan=
ya.
NAIKNYA harga BBM dan TDL memicu kenaikan di segala bidang. Mulai dari tari=
f mikrolet hingga harga rumah, naik dengan alasan naiknya BBM dan TDL. Revi=
si harga BBM tidak terlalu signifikan membawa perubahan beban buat sebagian=
rakyat.
Walau pemerintah menyatakan, kenaikan tersebut diimbangi dengan penyaluran =
subsidi untuk bidang kesehatan dan pendidikan, pada praktiknya, penyaluran =
itu tidak selalu sampai pada sasarannya. "Mana, katanya ada subsidi dari pe=
merintah. Saya sudah nunggak uang sekolah dua anak saya, Rp 35.000," kata W=
aspi, istri nelayan di Muara Angke.
Padahal, kenaikan harga dan tarif yang bakal dialami tahun 2003 ini belum a=
pa-apa. Kenaikan TDL bulan Januari ini hanya kenaikan pertama sebesar 6 per=
sen dari kenaikan yang direncanakan sebesar 6 persen setiap tiga bulan.
Harga BBM juga direncanakan naik terus sehingga mencapai 100 persen harga i=
nternasional, atau yang disebut pemerintah tanpa subsidi. Saat ini, harga d=
asar minyak di Indonesia ditentukan berdasarkan harga Mid Oli Platts Singap=
ore (MOPS), yaitu harga dasar di kilang yang ditentukan di Singapura. Keput=
usan Presiden Nomor 9 tahun 2002 menentukan, MOPS ditambah 5 persen menjadi=
harga patokan penentuan BBM. Harga patokan ini kemudian diajukan Pertamina=
sebulan sekali sebagai dasar pertimbangan penentuan harga BBM. Harga dasar=
ini tentunya fluktuatif, tergantung pada berbagai variabel, mulai dari per=
ang hingga musim dingin.
Menurut rencana, harga BBM akan mencapai 100 persen dari harga pasar intern=
asional. Saat ini, harga BBM di Indonesia, rata-rata baru 75 persen dari ha=
rga BBM internasional. Kecuali harga Minyak Tanah untuk rumah tangga yang a=
kan terus disubsidi dengan harga Rp 700 per liter, harga BBM akan naik teru=
s sehingga pemerintah tidak perlu mengucurkan subsidi lagi.
Tidak ketinggalan, harga LPG juga akan naik menjadi Rp 3.000 per kilogram (=
kg) setelah sebelumnya naik terus dari Rp 2.100 menjadi Rp 2.400, dan harga=
saat ini Rp 2.700 per kg. Harga LPG hingga saat ini, ditentukan sepenuhnya=
oleh Pertamina sebagai produsen, demikian juga distribusinya. Alasan kenai=
kan harga tersebut adalah untuk menutup biaya produksi yang Rp 3.010 per kg=
.
Dari sektor transportasi, PT Jasa Marga (Persero) dan PT KAI tengah bersiap=
menaikkan tarif yang sedianya naik bulan Januari ini. PT Jasa Marga menuru=
t rencana akan menaikkan tarif jalan tol rata-rata 25 persen. Kenaikan itu =
tidak diperuntukkan untuk kendaraan umum. Pada kenyataannya, berdasarkan pa=
da kepentingan pembulatan ke atas karena sulitnya uang kembalian, maka kena=
ikkan ada yang mencapai 100 persen, yaitu kenaikan dari Rp 500 menjadi Rp 1=
.000.
Tarif kereta api ekonomi sebesar 17 persen juga sempat ditunda kenaikannya.=
Namun, tidak tertutup kemungkinan kenaikan tersebut akan diberlakukan juga=
tahun 2003 ini. Apalagi DPR juga sudah memberi lampu hijau. Tentu saja, as=
alkan para wakil rakyat ini tidak menjilat ludahnya lagi.
Dengan berbagai kenaikan yang menanti di tengah kondisi ekonomi yang mencek=
ik saat ini, tidak banyak yang bisa dilakukan masyarakat. Pilihan untuk men=
urunkan kualitas hidup menjadi satu-satunya pilihan yang memungkinkan.
Penurunan kualitas hidup itu juga bukan berarti solusi masalah begitu perus=
ahaan tempatnya bekerja mulai mengadakan pemutusan hubungan kerja (PHK). Pe=
ndapatan yang sudah sedemikian minimnya di tengah kebutuhan yang menjepit j=
uga harus hilang. Data kemiskinan menurut BPS mencapai 38,4 juta jiwa atau =
sekitar 18,2 persen dari total penduduk di Indonesia. Sementara, angka peng=
angguran tahun 2002 meningkat menjadi 39 juta orang, 3,2 juta orang terdiri=
dari mereka yang baru masuk ke lapangan kerja dan mereka yang di PHK. (Kom=
pas, 23/1)
Industri dan para pengusaha dapat mengalihkan beban pada harga barang yang =
mereka produksi. Dengan mudah, mereka menaikkan harga barang dan tidak bera=
rti menurunkan harga pada saat komponen dasar seperti BBM dan TDL diturunka=
n pemerintah.
Namun, tidak demikian dengan Rojikin, dan masyarakat kecil lainnya. Menjadi=
titik terakhir, sebagai konsumen yang tidak memiliki pilihan lain selain m=
embeli barang yang naik terus, masyarakat kecil memang tidak punya pilihan =
lain, apalagi mengalihkan beban mereka. Pemerintah yang dalam slogannya aka=
n memberikan bantuan sebagai pengganti subsidi, tidak kunjung terasa sentuh=
annya.
Kenaikan tarif yang berhubungan dengan pengurangan subsidi itu seharusnya d=
isalurkan ke masyarakat miskin. Kenaikan harga ini juga seharusnya diiringi=
dengan peningkatan fasilitas dari negara kepada masyarakat. Pendidikan dan=
rumah sakit murah dengan kualitas tinggi seharusnya menjadi hal yang biasa=
. Namun, jargon yang disampaikan pemerintah itu masih jauh dari kenyataan. =
Mulai dari Raskin yang diselewengkan hingga subsidi pendidikan yang tidak k=
unjung terlihat. "Kami cuma dapat bebannya saja," ujar Waspi.
SEMENTARA itu, selain tidak kunjung terasanya sentuhan pemerintah, fasilita=
s bagi publik juga bukan berarti meningkat. Data di YLKI menunjukkan, lima =
besar pengaduan konsumen masih seputar telepon, listrik, dan air, selain ba=
nk dan perumahan.
Menurut Ketua YLKI, pengaduan paling banyak berkaitan dengan masalah telepo=
n, pengaduan paling tinggi adalah menyangkut kesalahan tagihan "premium cal=
l" sebanyak 36 dari 454 kasus. Permasalahan lain yang juga tinggi adalah me=
nyangkut permasalahan tagihan listrik yang tidak benar. Masalah pengaduan i=
ni mencapai 16 kasus dari total 243 kasus yang diadukan.
"Kasus-kasus yang diadukan tentang listrik bervariatif," kata Indah. Rupany=
a, kinerja PLN di lapangan belum cukup memuaskan masyarakat. Terhitung, mas=
ih banyak kasus tagihan yang melonjak di luar pemakaian, voltase yang naik =
turun sehingga barang elektronik banyak yang rusak, hingga pencatatan listr=
ik yang main "tembak".
Distribusi minyak tanah juga belum sempurna. Kasus terakhir, di Bogor pada =
masa-masa menjelang lebaran di mana masyarakat terpaksa antre mendapatkan m=
inyak tanah dengan harga mencapai dua kali lipat. Penyelundupan ke luar neg=
eri dan pengoplosan minyak tanah dengan solar juga masih marak. Sayangnya, =
bukannya mengetatkan keamanan, pemerintah malah mencegah hal ini dengan men=
aikkan harga agar tidak terjadi disparitas harga.
Dari sisi transportasi yang merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi ma=
syarakat, juga belum ada peningkatan mutu yang signifikan, dengan alasan kl=
asik: kekurangan dana.
Salah satu contoh, hasil audit Indonesia Transportation Club (ITC) yang dia=
dakan bulan Januari hingga Juni 2002. Dalam hasil audit yang diakui PT KAI =
tersebut, beberapa penemuan dirasakan mengejutkan, walau sebenarnya sudah t=
erasa seharihari. Mulai dari kecelakaan-kecelakaan yang seakan menjadi peri=
stiwa rutin, hingga kereta yang kotor dan lampu mati sudah menjadi kondisi =
yang harus diterima masyarakat pengguna kereta api ekonomi yang nota bene a=
dalah masyarakat lapisan bawah.
Kenaikan jumlah perjalanan kereta api itu juga berarti penambahan beban pad=
a infrastruktur kereta api yang kondisinya saat ini sudah sangat minim. Sal=
ah satu fakta yang ditemukan ITC adalah berkaitan dengan penggantian lokomo=
tif. Sekitar 82 persen lokomotif berusia lebih dari 16 tahun, 43 persen dia=
ntaranya berusia diatas 30 tahun. Selain itu, terdapat enam tipe persinyala=
n yang sistem kontrolnya tidak terkoordinasi. Menurut ITC, dengan kondisi p=
erkeretaapian saat ini, kemungkinan untuk terjadi kecelakaan sangat tinggi.
Repotnya menggugat pelayanan publik seperti kereta api, PLN atau telkom, ka=
dang seperti berdebat tak ada habis. Konsumen mau membayar lebih asal kuali=
tas pelayanan ditingkatkan. Sebaliknya pihak PT KAI, PLN atau Telkom juga m=
elontarkan alasan klise. Kalau harga dan tarif tidak dinaikkan, mutu pelaya=
nan publik juga sulit ditingkatkan. Alasan itu sering dilontarkan bahkan ke=
tika tarif sudah dinaikkan. Ini seperti orang berdebat mana yang lebih dulu=
, telur atau ayam... (Edna Caroline Pattisina)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0301/26/Fokus/97774.htm
Visit my daughter's homepage at:
http://www.geocities.com/hana_hanifah7
=09=09
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Win 1 of 4,000 free domain names from Yahoo! Enter now.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Privatisasi Bisa Menyengsarakan Rakyat dan Merusak Kedaulatan Negara