[ppi] [ppiindia] Presiden Dari Partai Islam: Apa Bisa?

** ppi-india **
Suara Karya, 1 Maret 2004

            Presiden Dari Partai Islam: Apa Bisa?
            Oleh Idham Chalid


            Kalau dibaca sejarah ringkas perjalanan hidup presiden Republik
Indonesia semenjak merdeka sampai sekarang, mereka adalah seorang Muslim,
dari tokoh proklamator Ir Sukarno, Soeharto, Prof Dr Ir BJ Habibie, KH
Abdurrahman Wahid "Gus Dur", sampai Megawati Sukarnoputri sekarang ini.
Kelimanya tidak lahir dari partai politik Islam, kecuali tampilnya Gus Dur
sebagai presiden yang dinilai oleh banyak kalangan merupakan keberhasilan
partai politik Islam yang telah memprakarsai pembentukan "Poros Tengah".
Akan tetapi, sejatinya bukanlah koalisi yang "strategis" tapi lebih pada
keinginan untuk menghadang langkah Megawati Sukarnoputri. Lagi pula, Gus Dur
bukanlah Presiden yang berasal dari partai Islam, karena PKB lebih konsisten
pada ideologi "nasionalisme relegius".

            Kenapa partai politik Islam belum memiliki kepercayaan diri
menampilkan calon prtesiden dalam beberapa kali pemilu? Padahal dalam
konteks sosiologi, masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam yang
pemeluknya mencapai sekitar 88%. Dan, dua faktor strategis lainnya, yaitu
faktor teologis, sebagian masyarakat Islam Indonesia masih menghendaki
formalisme agama dalam negara dan faktor historis, di mana umat Islam
merupakan suatu kekuatan yang sangat berjasa dalam terbentuknya Indonesia
yang merdeka. Hal tersebut merupakan modal dasar yang selalu dipegang oleh
politisi dari partai politik Islam akan tetapi nasib partai politik Islam
belum pernah menjadi pemenang dalam beberapa kali pemilu, mulai Indonesia
merdeka sampai sekarang ini.

            Pada pemilu era parlementer tahun 1955 yang dianggap banyak
kalangan sebagai pemilu yang demokratis, partai politik Islam yang diwakili
NU, Masyumi, PSII, Perti, PPTI dan AKUI hanya berhasil meraih suara 45,2 %
dan sebagian besar suara lainnya dimiliki oleh partai nasionalis dan partai
non-Islam. Pemilu di era Orde Baru, partai politik Islam selalu meraih suara
jauh di bawah Golkar. Lihatlah pemilu tahun 1971 partai Islam hanya mendapat
23,9% suara (NU 18,67%, Parmusi 1,36%, PSII 2,30%, Perti 0,70%) sementara
Golkar 62,8% sisanya partai nasionalis dan non Islam.

            Dalam konteks pemilu Orde Baru ini, William Liddle, Indonesianis
asal Amerika Serikat (AS) berkesimpulanm bahwa pemilu-pemilu Orde Baru
bukanlah alat yang memadai untuk mengukur suara rakyat karena proses pemilu
Orde Baru tersentralisasi pada tangan-tangan birokrasi, berbagai rekayasa
dan pelanggaran lainnya. (R William Liddle, 1992: 46).

            Sedangkan pemilu era reformasi tahun 1999, suara partai politik
Islam turun drastis dibandingkan dengan era parlementer (Pemilu 1955) dengan
suara mencapai 17%. Jika digabungkan dengan suara partai politik yang
berbasiskan Islam, yaitu PKB dan PAN yang masing-masing memperoleh suara
12,6% dan 7,1% maka secara keseluruhan hanya mencapai 36,7%.

            Realitas tersebut tentu mengusik rasionalitas kita, karena tiga
modal utama (baca; fakator sosiologis, teologis dan historis) bagi partai
politik Islam belum bisa menjadi sumber daya strategis yang kompetitif.
Bagaimana dengan peluang pada Pemilu 2004? Khususnya dalam pemilihan
presiden secara langsung. Pemilu tahun 2004 mendatang hanya lima partai
politik Islam yang akan bertarung dalam memperebutkan suara rakyat, yaitu
PBB, PPP, Partai Persatuan NUI, PKS, PBR dan PAN serta PKB yang merupakan
partai yang memiliki basis pendukung mayoritas dari kalangan Islam.

            Meskipun indikator hasil perolehan suara pastai Islam dari
pemilu ke pemilu tidak bisa dijadikan sebagai indikator yang jelas untuk
mengukur peluang presiden dari partai politik Islam, karena kegagalan partai
politik Islam tersebut merupakan gambaran perolehan suara pada pemilihan
anggota legislatif, tentu sangat berbeda dengan pemilihan presiden apalagi
baru pertama kali kita melaksanakan pemilihan presiden secara langsung. Akan
tetapi, paling tidak, antara kepopuleran figur calon presiden dari partai
politik Islam tidak terlalu jauh berbeda dengan performance partainya itu
sendiri. Artinya, performance partai politik Islam akan mempengaruhi figur
calon presiden yang ditampilkan.



            Problem Belum Tuntas


            Banyaknya partai politik Islam yang selalu hadir dalam pentas
politik Indonesia paling tidak merupakan refleksi dari kemajemukan umat
Islam dan keragaman kepentingan kelompok Islam itu sendiri. Karena harus
diakui bahwa umat Islam Indonesia tidak utuh api mengalami fragmentasi
orientasi politik sebagaimana yang ditulis oleh Deliar Noer yang dikutip
oleh Syamsuddin Haris dalam empat kelompok.

            Pertama, kelompok yang memiliki komitmen terhadap Islam, kendati
tidak jelas apa yang disebut sebagai "komitmen Islam". Kedua, kelompok yang
mau bekerjasama dengan penguasa. Ketiga, kelompok ini melihat Islam sekadar
sebagai "ajaran masyarakat" saja. Dan keempat, kelompok yang tidak mau
mengaitkan Islam sebagai agama dengan politik. Keempat kelompok ini paling
tidak mengalami pendukung selalu berubah-ubah.

            Demikian halnya calon presiden partai Islam akan tampil berbeda
dengan yang lainnya, meskipun sampai sekarang ini belum ada partai politik
Islam yang sudah menetapkan calon presidennya. Paling tidak, dalam realitas
politik yang berkembang selama ini, masing-masing partai politik selalu
menampilkan ketua umumnya sebagai presiden dan hal ini sepertinya lumrah
dalam politik Indonesia sekarang ini. Apalagi, belum ada tanda-tanda
kemungkinan terjadinya koalisi antarpartai Islam meskipun akhir-akhir sering
kali ada pertemuan lintas partai Islam. Itu artinya bahwa partai Islam tidak
jauh beda dengan partai lainnya yang tidak berasas Islam, hanya menjadikan
Islam sebagai sentimen publik untuk meraih kekuasaan. Sehingga, koalisi
strategis antarpartai politik Islam belum pernah terjadi secara "murni"
untuk kepentingan umat Islam, tidak lebih pada untuk kepentingan pribadi dan
kelompok.

            Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa faktor yang bisa
menjadi kendala calon presiden dari partai politik Islam pada pemilu tahun
2004; pertama, figur dari partai politik Islam, semisal Yusril Ihza Mahendra
(PBB), Hamzah Haz (PPP) dan Hidayat Nur Wahid (PKS) kurang populer
dibandingakan dengan figur partai besar lainnya. Lihat hasil laporan survei
CESDA tentang kandidat presiden pada Pemilu 2004 yang dilaksanakan pada
bulan Juli 2003. Survei ini bahkan menempatkan figur Hamzah Haz sebagai
kandidat presiden yang kurang populer di mata publik, yakni hanya mencapai
5% dibandingkan dengan figur lainnya seperti Susilo Bambang Yudhoyono yang
meskipun belum resmi dicalonkan oleh satu partai politik tapi berbagai
penelitian menempatkaknnya dalam posisi yang diperhitungkan mencapai 13%,
disusul Megawati 7%, Amien Rais 7%, Akbar Tandjung 6%.

            Bagaimana dengan hasil polling SCTV yang mengunggulkan Hidayat
Nur Wahid sebagai calon presiden unggulan pemirsa? Meskipun oleh Denny JA
menganggapnya sebagai presiden SMS akan tetapi harus diakui bahwa PKS
(Partai Keadilan Sejahtera) merupakan partai yang cukup fenomenal dalam
pentas politik kita. Akan tetapi, untuk menggolkan figurnya menjadi presiden
pada Pemilu 2004, masih mengalami berbagai kendala, termasuk ketokohan dan
kepopulerannya masih sebatas masyarakat kota atau masyarakat intektual
sebagai basis utamanya.

            Kedua, partai politik Islam gagal membangun isu-isu publik,
khususnya soal pembangunan ekonomi masyarakat termasuk dalam hal ini
persoalan kemiskinan, tenaga kerja, konflik sosial dan pertanian. Terbukti
dari caleg partai Islam, sangat kurang menampilkan figur-figur teknokrasi
dan modern yang menguasai masalah ekonomi serta isu korupsi yang merusak
negeri ini kecuali PKS dalam hal ini. Kebanyakan partai politik Islam masih
terjebak dengan perdebatan seputar masalah syariat Islam. Prinsip keagamaan
tersebut juga penting tapi bukanlah merupakan prioritas dari para pemilih.
Dalam hal ini partai politik Islam atau politisi Islam belum berhasil
mencapai political effectivity bahkan isu-isu yang dilemparkan selain tidak
mengena juga kurang menggigit sehingga tidak memiliki daya tarik bagi
publik.

            Ketiga, di kalangan umat Islam sendiri telah terjadi perubahan
orientasi dalam pandangan politiknya. Hal tersebut merupakan pengaruh
informasi dan pengetahuan politik masyarakat, baik yang dilakukan pemerintah
dan gerakan pembaharuan oleh berbagai intelektual dan tokoh-tokoh partai.

            Artinya bahwa tidak semua umat Islam bersifat ideologis, bahwa
umat Islam tidak memiliki pandangan yang sama bahwa Islam adalah ideologi
yang menjadikan partai Islam sebagai alat perjuangan. Hal ini juga telah
dijelaskan oleh Clifford Geertz tentang tipologi umat Islam Indonesia ada
yang taat, yang disebut dengan Santri dan umat Islam yang kurang taat atau
Islam nominal disebut dengan abangan. Apalagi realitas partai politik Islam
tidak menampilkan citra yang berbeda bahkan hampir sama dengan partai
lainnya. Yang hanya mengandalkan figur bukan programnya. Meskipun demikian
masyarakat Islam di Indonesia masih tetap menganggap penting agama seorang
pemimpin. (Laporan Survei CESDA Juli 2003).

            Keempat, partai politik Islam belum mampu membangun manajemen
konflik yang baik, sehingga menimbulkan konflik terbuka bahkan melahirkan
partai Politik tandingan, konflik internal PPP yang melahirkakn PBR (Partai
Bintang Reformasi), PBB yang melahirkan PII (Partai Islam Indonesia). Oleh
Hartono Marjono dan PAS (Partai Islam Sejahtera) yang dimotori oleh Abdul
Kadir Jaelani, meskipun keduanya tidak ikut Pemilu 2004 tapi kedua tokoh
tersebut sangat senior dalam keluarga besar PII dan GPI. Bahwa konflik
internal partai politik Islam paling tidak merusak citra ditengah masyarakat
karena ketidakmampuannya membangun konsensus di antara elitnya dan lebih
mementingkan kekuasaan individu dan kelompok.

            Kelima, akibat belum meratnya sosialisasi dan pendidikan politik
pada masyarakat sehingga melahirkan penilaian yang 'miring' pada sebagian
masyarakat Islam, khususnya masyarakat yang masih lemah pengetahuan politik
dan agamanya, sehingga memandang partai politik Islam ingin mendirikan
negara Islam, dalam hal ini memiliki ketakutan pada penerapan hukum Islam di
tengah masyarakat. Meskipun belum diadakan penelitian tapi masyarakat Islam
yang memiliki pikiran seperti ini jumlahnya cukup signifikan.

            Faktor tersebut merupakan warna partai politik pada saat
sekarang ini, dan tentunya akan menjadi faktor yang bisa menjadi kendala
yang besar dalam mempengaruhi suara partai Islam pada pemilu tahun 2004.
Selain hal tersebut, tantangan partai politik Islam dalam Pemilu 2004 karena
faktor pendidikan politik yang paling tidak sudah memberikan kesadaran
sebagian masyarakat Islam, sehingga mengalami berbagai pengaruh meskipun
masih ada massa Islam yang betul-betul loyal terhadap partai Islam itu
sendiri.

            Untuk itu, ke depan partai politik Islam harus dapat mengelola
isu-isu publik secara berkualitas dan tetap konsisten dalam berbagai program
dan aksi yang menjadi ciri khas sebagai partai Islam. Jangan hanya terpaku
pada perjuangan Piagam Jakarta pada setiap kali momentum penting. Partai
politik Islam harus lebih memprioritaskan persoalan yang sangat mendesak
bagi kebutuhan publik, karena problem utama masyarakat kita sekarang ini
jangankan untuk membuat dirinya cerdas, memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari-hari pun masih sangat susah.

            Selain hal tersebut partai politik Islam harus juga lebih banyak
terlibat dalam pemberantasan korupsi bukan menjadi bagian dari aktor.
Karena, yang membuat bangsa ini jatuh hina di mata internasional adalah
perilaku koruptor masih mendominasi di berbagai aspek kehidupan. Kalau hal
ini menjadi prioritas partai politik Islam maka simpatik publik akan
mengalir. Apakah hal tersebut bisa dilakukan? Mari kita lihat perjalanan
partai politik Islam selanjutnya. Semoga. ***

            (Penulis adalah anggota Departemen Kajian Strategis Pimpinan
Pusat GP Ansor).


--------------------------------------------------------------------






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: