[ppi] [ppiindia] Premanisme Masuki Dunia Pendidikan Kita
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 23 Feb 2004 02:39:21 +0100
** ppi-india **
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/2/23/op2.htm
Akhirnya, dunia pendidikan yang telah dirasuki "premanisme" hanya akan
menghasilkan apa yang disebut "mafia". Di tingkat birokrat atau
pemerintahan, sudah latah dijalankan operasi mafia melalui KKN. Bentuk nyata
lain dari output dunia pendidikan yang telah dirasuki praktik premanisme di
tingkat birokrat, adalah apa yang marak terjadi sekarang ini, yakni "calon
legislatif berijazah palsu". Bagaimana itu bisa terjadi jika memang tidak
ada "premanisme" dalam dunia pendidikan kita?
Premanisme Masuki Dunia Pendidikan Kita
Oleh I Nyoman Sugiarta
CATATAN kelam menoreh dunia pendidikan di Bali. Jumat, 20 Februari 2004
terjadi perkelahian antara pelajar SMPN 1 Denpasar dan SMPN 3 Denpasar.
Selama ini tawuran antarpelajar lebih sering diberitakan terjadi di Jakarta.
Itu pun umumnya dilakukan pelajar setingkat SMU. Namun, yang terjadi di Bali
malah antarpelajar SMP.
Berbagai pertanyaan seakan berkecamuk muncul dan memerlukan jawaban segera.
Apa yang sudah terjadi dengan dunia pendidikan di Bali? Apakah kejadian ini
merupakan proses meniru kejadian sejenis yang kerap ditayangkan media massa
khususnya televisi? Atau lebih jauh lagi, dunia pendidikan kita sudah
dimasuki premanisme yang kini sudah merebak menjadi penyakit masyarakat?
Jika memang itu sebagai akibat dari proses meniru kejadian tawuran
antarpelajar yang kerap ditayangkan media massa, barangkali para pakar pers
perlu mengkaji kembali rambu-rambu untuk penyajian sebuah berita. Dalam hal
ini, mungkin harus dikembalikan kepada salah satu fungsi pers sebagai media
pendidikan masyarakat. Lembaga pers dalam menyajikan berbagai informasi ke
masyarakat luas harus mempertimbangkan kemungkinan apa-apa yang disajikannya
itu menjadi pelajaran yang mudah ditiru masyarakat luas.
Pertama yang barangkali patut selalu dicatat, bahwa apa yang disajikannya
itu tidak hanya dibaca, ditonton atau disimak orang dewasa. Dalam masyarakat
luas itu ada remaja bahkan anak-anak yang menyimak informasi yang mereka
sajikan. Memang, dalam era dunia maya karena kecanggihan teknologi informasi
sekarang ini sulit untuk menyaring apalagi membendung informasi. Apalagi
internet saat ini bisa diakses dengan mudah hampir di setiap sudut bumi ini.
Jika media massa seperti koran, majalah, tabloid dan sejenisnya serta radio
maupun televisi telah menjalankan fungsi persnya sebagai media pendidikan
dengan baik, bagaimana dengan media internet ini? Barangkali di sinilah
peran orangtua dan lingkungan sekitar mengawasi, mendampingi dan mendidik
anak-anak mereka. Sebab, harus diingat, pendidikan itu tidak hanya di
sekolah tetapi juga di rumah dan di lingkungan masing-masing.
Khusus menyangkut lingkungan ini, perannya sangatlah besar. Terkait hal ini,
jika dihubungkan dengan tawuran antarpelajar SMP itu, ada satu catatan
menggelitik yang pernah terjadi dalam dunia pendidikan di Denpasar.
Barangkali pembaca masih ingat kasus salah seorang anggota DPRD Kota
Denpasar yang dikeroyok saat memperjuangkan salah satu aspirasi orangtua
siswa. Kasus pengeroyokan itu berdekatan sekali dengan lokasi kejadian
tawuran antara siswa SMPN 1 dan SMPN 3 Denpasar. Bahkan, perkelahian itu
sampai ke SD yang kebetulan berada di sebelah gedung DPRD Kota Denpasar.
Tentu saja adegan kekerasan ini sempat disaksikan dan menjadi tontonan
gratis anak-anak SD di sana, meski itu semestinya jangan sampai terjadi.
Dari sisi psikologis, kejadian itu sudah tentu sempat terekam di benak
anak-anak SD tadi. Ini yang sangat miris karena dapat saja kekerasan itu
telah merasuk ke dalam jiwa anak-anak tadi untuk mudah ditiru di kemudian
hari. Tentu saja hal ini sebagi sebuah pertanda buruk, "jiwa kekerasan"
telah merasuki dunia pendidikan kita.
Seperti yang diberitakan harian ini, anak-anak SMP yang semestinya masih
lugu itu ternyata telah minum minuman beralkohol berupa arak dan bir sebelum
melakukan tawuran. Bukankah hal-hal seperti itu umumnya kita jumpai dalam
dunia premanisme, mafia dan sejenisnya? Apakah ini pertanda bahwa dunia
pendidikan kita kini bukan hanya telah dirasuki "jiwa kekerasan", tetapi
juga "jiwa premanisme" bahkan mungkin mafia. Para pakar psikologi barangkali
perlu melakukan kajian terhadap kemungkinan hubungan di antara kejadian
tadi.
Tirani
Perasaan miris bukanlah akan berhenti sampai di situ. Jika dunia pendidikan
tingkat dasar (jika mengacu wajib belajar 9 tahun) telah dirasuki jiwa
premanisme, bagaimana jadinya output yang akan dihasilkan? Praktik
premanisme akan terus berlanjut dan berkembang ke tingkat berikutnya.
Di tingkat SMU, sudah bukan rahasia lagi banyak terjadi penyalahgunaan
barang haram semacam narkoba. Paling tidak dari beberapa kasus yang pernah
muncul, termasuk sampai dilakukannya gerakan pembinaan dan penyuluhan oleh
pihak kepolisian ke sekolah-sekolah.
Output berikutnya di tingkat perguruan tinggi. Dulu dan sampai sekarang
marak diberitakan terjadi jual-beli skripsi, gelar kelulusan dan sejenisnya
di perguruan tinggi. Hanya yang sampai sekarang belum mendapat jawaban,
apakah persyaratan harus menyerahkan puluhan bahkan sampai ratusan juta
rupiah untuk bisa lolos masuk ke salah satu fakultas, seperti Fakultas
Kedokteran di Unud, termasuk dalam praktik premanisme atau tidak. Jika iya,
itu berarti praktik premanisme sudah benar-benar merasuki dunia pendidikan
kita. Bahkan, itu dilakukan secara legal karena jelas-jelas diumumkan
sebagai salah satu prasyarat masuk.
Kita memang berharap, mudah-mudahan itu dilakukan bukanlah sebagai bentuk
lain praktik premanisme di dunia pendidikan. Jika itu benar, bisa
dibayangkan output selanjutnya. Merebaklah apa yang oleh masyarakat umum
disebut-sebut sebagai mafia peradilan, mafia rumah sakit dan sejenisnya.
Akhirnya, dunia pendidikan yang telah dirasuki "premanisme" hanya akan
menghasilkan apa yang disebut "mafia". Di tingkat birokrat atau
pemerintahan, sudah latah dijalankan operasi mafia melalui KKN. Bentuk nyata
lain dari output dunia pendidikan yang telah dirasuki praktik premanisme di
tingkat birokrat, adalah apa yang marak terjadi sekarang ini, yakni "calon
legislatif berijazah palsu". Bagaimana itu bisa terjadi jika memang tidak
ada "premanisme" dalam dunia pendidikan kita?
Premanisme sebenarnya berkembang dari kelemahan pemerintah. Kelemahan itu
muncul akibat ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah (termasuk
kepolisian). Ketika pemerintah dan aparat di bawahnya (termasuk aparat
kepolisan dan TNI) terlalu berkuasa, maka hal itu telah menciptakan sebuah
tirani bagi masyarakat. Masyarakat pun berontak menuntut kebebasan. Namun,
ketika kini rakyat terlalu berkuasa atas kebebasan mereka, maka mereka
sendiri terjebak menjadi tirani melalui praktik premanisme yang mereka
jalankan. Pemerintah, polisi bahkan hukum sudah tidak dipercaya lagi karena
bisa diperjualbelikan oleh yang namanya "mafia peradilan". Bahkan pelayanan
kesehatan pun telah diperjualbelikan oleh yang namanya "mafia rumah sakit".
Masyarakat memilih hukumnya sendiri, yakni "premanisme." Ketika pemerintah
(termasuk TNI dan kepolisan) demikian kuat, anak-anak mungkin menokohkan
mereka dalam tiap bentuk permainannya. Mereka senang memakai seragam loreng
layaknya tentara dan bermain pistol atau bedil-bedilan. Ketika yang
berkembang kini premanisme dan kekerasan jalanan, anak-anak pun tidak lagi
terlalu memfavoritkan seragam loreng. Mereka kini lebih memilih mentato
tubuh mereka, melakukan tawuran di jalanan. Bahkan, ini dilakukan anak-anak
SD, yakni membeli permen yang berisi hadiah model tato. Meski itu hanya
mainan dan bukan tato permanen, setidaknya jiwa premanisme sudah tertanam
dalam dunia mereka.
Apakah yang terjadi sekarang ini ada kaitannya dengan masalah tirani itu?
Apakah yang terjadi dalam dunia pendidikan kita sekarang ini akibat
kebebasan dan kekuasaan berlebihan di tangan siswa, sehingga mereka akhirnya
menjadi tirani? Atau, apa yang terjadi sekarang akibat dunia pendidikan kita
terdahulu yang terlalu menjadi tirani bagi siswa? Barangkali, ini perlu
pengkajian dan pemikiran kita bersama agar Bali tidak mendapat julukan baru
sebagai "sarang preman" ataupun "sarang mafia"! Cukup sudah negara ini ditud
ing sebagai "sarang teroris". Kita memang harus belajar sepanjang hayat
(long live education) karena sepanjang hidup ini merupakan pendidikan yang
sangat berharga (live long education).
Penulis, pemerhati masalah pendidikan, anggota Dewan Penasihat Perguruan
Kebatinan Sandhi Murti Indonesia
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Premanisme Masuki Dunia Pendidikan Kita