[ppi] [ppiindia] Potret Dunia Pendidikan Kita
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 31 Jul 2005 23:40:14 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/01/opi04.htm
Potret Dunia Pendidikan Kita
Oleh Winarto
KOMPLEKSITAS persoalan dunia pendidikan pada negara-negara dunia ketiga,
sepertinya statis dari waktu ke waktu. Demikian halnya yang terjadi di
Indonesia, persoalan pendidikan belum beranjak menuju perubahan yang cukup
signifikan. Orientasi pendidikan tetap menjadi perdebatan klasik dan selalu
dipertanyakan. Ke manakah arah pendidikan kita?
Apakah dipersiapkan untuk mencetak tenaga-tenaga terampil (praktisi-praktisi)?
Apakah sekadar untuk mencetak para intelektual, ataukah keduanya? Sangat sulit
untuk dijawab.
Sistem pendidikan yang ada di negara-negara berkembang pada umumnya memang
merupakan gambaran dari kondisi sosial ekonomi serta politik bangsanya,
demikian halnya yang terjadi di Indonesia. Bahkan bila kita mencermati
terminologi Clifford Geertz, dikatakan bahwa pendidikan di Indonesia sedang
mengalami involusi. Manusia-manusia Indonesia yang bergulat dalam bidang
pendidikan bukan makin cerdas, berwawasan luas, berdedikasi, kreatif, jujur dan
adil atau beretos kerja tinggi. Pendidikan di Indonesia, dalam waktu yang lama,
mengalami kemunduran, mengerut atau mungkret.
Sedangkan menurut Suparinah Sadli, psikolog UI, perbaikan pendidikan yang
selama ini kita lakukan terasa hanya tambal sulam. Kita belum menyentuh masalah
yang prinsip, yakni masalah-masalah yang harus diperbaharui. Kita seakan-akan
hanya jatuh cinta pada hal-hal baru, tetapi tidak membuat perbaikan, mulai dari
masalah-masalah yang mendasar (Prisma 2, 1981).
Meskipun kedua pendapat tersebut sudah cukup lama dilontarkan, namun untuk masa
sekarang ternyata masih sangat relevan. Hal tersebut dibuktikan oleh UNDP
melalui riset yang memberikan catatan indeks prestasi pembangunan manusia
Indonesia secara umum berada pada posisi peringkat ke 112 dari 175 negara, yang
berarti berada di bawah posisi Vietnam, negara muda yang cukup lama dilanda
konflik perang saudara.
Cukup Pelik
Potret suram dunia pendidikan tidak perlu dijadikan polemik untuk saling
menyalahkan serta mencari-cari kambing hitam. Bicara masalah pendidikan,
ternyata cukup pelik serta rumit. Banyak faktor yang berkait dan saling
berimplikasi antara yang satu dengan lainnya, seperti mahalnya biaya
pendidikan, disiplin kerja, kakunya aparatur penyelenggara pendidikan, serta
akar budaya bangsa, seperti alergi terhadap perubahan, loyalitas yang
berlebihan kepada atasan, serta sikap primordialisme yang kaku. Persoalan
pendidikan adalah persoalan yang menjadi tanggung jawab bersama seluruh
komponen bangsa.
Pada era reformasi sekarang ini, pemerintah melalui Program Pembangunan
Nasional (Propernas) serta melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
(Sisdiknas) telah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk membenahi dunia
pendidikan. Melalui program tersebut diupayakan akan segera terwujud
peningkatan kuantitas maupun kualitas pendidikan. Penggodokan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) sejak tahun 2001, merupakan contoh konkret dari upaya
pemerintah untuk mencetak produk pendidikan yang lebih responsif terhadap
kemajuan zaman. Program pemerintah tersebut hendaknya mendapat dukungan positif
dari semua pihak. Hanya saja, perlu diingat bahwa kita perlu belajar dan memetk
pengalaman keberhasilan dunia pendidikan negara maju, seperti Australia. Namun
jangan lupa tentang kondisi sosial ekonomi serta akar budaya bangsa, sehingga
tidak kehilangan arah dan kebingungan.
Selain memberlakukan Kurikulum 2004 tersebut, untuk mengatasi kekurangan tenaga
guru, pemerintah telah berusaha merekrut guru bantu yang ditempatkan pada
sekolah-sekolah negeri. Bahkan ada beberapa pemerintah daerah yang mengangkat
guru tidak tetap (GTT) menjadi tenaga pegawai harian lepas (TPHL). Langkah
tersebut merupakan bukti kepedulian pemerintah terhadap kemajuan pendidikan
yang perlu diacungi jempol.
Meskipun tampak muram wajah dunia pendidikan kita, namun ada hal yang patut
dibanggakan apabila kita melihat perkembangan sejarah pendidikan di Indonesia.
Dewasa ini telah terjadi peningkatan jumlah penduduk yang dapat menikmati
bangku sekolah. Pendidikan yang semula bersifat linear hanya terbatas pada
lapisan masyarakat tertentu, kini telah terbuka untuk seluruh lapisan
masyarakat.
Kompensasi BBM
Tingginya respons masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan sudah
semestinya mendapatkan tanggapan serius dari pemerintah. Apalagi masalah
pendidikan telah diamanatkan oleh UUD 1945 Pasal 31 Ayat 2 yang berbunyi
"Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya." Selain itu telah dituangkan pula melalui Undang-undang Sisdiknas
Pasal 34 Ayat 2 yang menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin
terselenggaranya wajib belajar sembilan tahun tanpa memungut biaya.
Sudah saatnya pemerintah mencari solusi pemecahannya yang realistis, sebab
fenomena yang terjadi di lapangan kadang berseberangan dengan teori yang ada.
Sebagai contoh, pungutan Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) memang
telah dihapus, tetapi kemudian diganti dengan pungutan sumbangan lain yang
cukup besar dan memberatkan. Mahalnya sumbangan tersebut bukan hanya pada
sekolah swasta, tetapi justru telah ke sekolah-sekolah milik pemerintah dengan
berbagai argumen yang kadang tidak realistis.
Bila keadaan ini terus dibiarkan, sangat dimungkinkan berdampak akan menutup
akses bagi golongan ekonomi lemah untuk dapat mengenyam pendidikan yang lebih
tinggi. Anggaran pendidikan yang dijanjikan pemerintah sebesar 20% dari APBN,
ketika ditagih tentu akan dijawab secara klise, yaitu akan dilaksanakan secara
bertahap hingga tahun 2009, sehingga tinggal gaung serta pasal dalam
undang-undang saja.
Kini, dengan naiknya harga BBM per 1 Maret 2005 masyarakat harap-harap cemas
menunggu janji pemerintah. Dikatakan bahwa salah satu agenda tentang dana
kompensasi BBM akan dialokasikan untuk membiayai dunia pendidikan dengan
harapan anak-anak usia sekolah di seluruh Indonesia dapat menikmati bangku
sekolah tanpa harus putus sekolah, sehingga akan terwujud pemerataan pendidikan
bagi seluruh rakyat sesuai dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945.
Rencana dana kompensasi BBM tersebut diperkirakn sebesar 5,6 triliun rupiah
untuk 9,6 juta siswa SD sampai SLTA, serta 10,6 triliun rupiah untuk 36 juta
penduduk miskin. (Sukirman, Suara Merdeka 28/2). Sedangkan menurut Gubernur
Jawa Tengah H Mardiyanto di harian ini (31/3) dikatakan bahwa program beasiswa
yang berasal dari kompensasi BBM akan segera direalisasikan untuk 927.178 siswa
SD, 285.123 siswa SLTP, serta 98.564 siswa SLTA . Bantuan beasiswa tersebut
menurut rencana akan langsung dialirkan ke sekolah-sekolah.
Profesionalisme
Masalah pendidikan perlu ditangani secara profesional serta bersungguh-sungguh.
Selain penanganan yang profesional para pelaksana pendidikan, terutama guru,
juga dituntut memiliki semangat profesionalisme dan komitmen yang tinggi di
bidang pendidikan. Upaya untuk mewujudkan keprofesionalan para guru telah
diupayakan sejak Orde Baru sampai sekarang. Hal tersebut ditandai dengan
dibukanya program belajar jarak jauh, program penyetaraan D2, D3, S1 bahkan S2.
Sehingga bila dilihat dari segi kualitas tenaga pengajar, dipandang cukup,
barangkali hanya perlu peningkatan profesionalismenya.
Hambatan pengembangan profesionalisme kadang terjadi karena kakunya aparatur
atau penentu kebijakan di bidang pendidikan. Sikap kaku dan arogansi perlu
ditanggalkan, diganti dengan sikap yang terbuka terhadap kritik, demi kemajuan
bersama.
Kekawatiran Nurkolis "Lampu Merah Kepala Sekolah" di harian ini (16/12) perlu
ditanggapi. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa salah satu prasyarat kepala
sekolah antara lain telah menduduki golongan IV/A, hal ini jelas merupakan
manifestasi kakunya aparatur pendidikan, serta paradigma lama yang harus
ditinggalkan. Dinas Pendidikan harus lebih terbuka dan berani mengadakan
reformasi di bidang pendidikan dengan memperhitungkan profesionalisme dan
kompetensi guru. Di lapangan banyak dijumpai golongan IV/A yang mandul dan
tidak kreatif, sedang di lain pihak banyak golongan III yang profesional,
berdedikasi serta kompetitif.
Kini saatnya Dinas Pendidikan dan Pemda lebih berani mengambil tindakan
invoatif untuk kemajuan bersama di bidang pendidikan, sehingga pada masa yang
akan datang gambaran dunia pendidikan kita dapat lebih cerah.
Di lain pihak tenaga penagjar hendaknya tidak berpandangan bahwa menjadi Kepala
Sekolah adalah segala-galanya, sehingga harus diraih dengan berbagai cara.
Banyak jalan untuk meningkatkan keprofesionalan kita, seperti menjadi penulis,
pengamat pendidikan, dan lain-lain. Sekarang saatnya masyarakat menunggu
kucuran dana kompensasi BBM. (24)
-Winarto SS, guru SMP 32 Semarang.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12ht0ba1l/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122853221/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998">1.2
million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts: