[ppi] [ppiindia] Potret Dunia Pendidikan Kita

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/01/opi04.htm

Potret Dunia Pendidikan Kita 
Oleh Winarto 
KOMPLEKSITAS persoalan dunia pendidikan pada negara-negara dunia ketiga, 
sepertinya statis dari waktu ke waktu. Demikian halnya yang terjadi di 
Indonesia, persoalan pendidikan belum beranjak menuju perubahan yang cukup 
signifikan. Orientasi pendidikan tetap menjadi perdebatan klasik dan selalu 
dipertanyakan. Ke manakah arah pendidikan kita?

Apakah dipersiapkan untuk mencetak tenaga-tenaga terampil (praktisi-praktisi)?

Apakah sekadar untuk mencetak para intelektual, ataukah keduanya? Sangat sulit 
untuk dijawab.

Sistem pendidikan yang ada di negara-negara berkembang pada umumnya memang 
merupakan gambaran dari kondisi sosial ekonomi serta politik bangsanya, 
demikian halnya yang terjadi di Indonesia. Bahkan bila kita mencermati 
terminologi Clifford Geertz, dikatakan bahwa pendidikan di Indonesia sedang 
mengalami involusi. Manusia-manusia Indonesia yang bergulat dalam bidang 
pendidikan bukan makin cerdas, berwawasan luas, berdedikasi, kreatif, jujur dan 
adil atau beretos kerja tinggi. Pendidikan di Indonesia, dalam waktu yang lama, 
mengalami kemunduran, mengerut atau mungkret.

Sedangkan menurut Suparinah Sadli, psikolog UI, perbaikan pendidikan yang 
selama ini kita lakukan terasa hanya tambal sulam. Kita belum menyentuh masalah 
yang prinsip, yakni masalah-masalah yang harus diperbaharui. Kita seakan-akan 
hanya jatuh cinta pada hal-hal baru, tetapi tidak membuat perbaikan, mulai dari 
masalah-masalah yang mendasar (Prisma 2, 1981). 

Meskipun kedua pendapat tersebut sudah cukup lama dilontarkan, namun untuk masa 
sekarang ternyata masih sangat relevan. Hal tersebut dibuktikan oleh UNDP 
melalui riset yang memberikan catatan indeks prestasi pembangunan manusia 
Indonesia secara umum berada pada posisi peringkat ke 112 dari 175 negara, yang 
berarti berada di bawah posisi Vietnam, negara muda yang cukup lama dilanda 
konflik perang saudara.

Cukup Pelik

Potret suram dunia pendidikan tidak perlu dijadikan polemik untuk saling 
menyalahkan serta mencari-cari kambing hitam. Bicara masalah pendidikan, 
ternyata cukup pelik serta rumit. Banyak faktor yang berkait dan saling 
berimplikasi antara yang satu dengan lainnya, seperti mahalnya biaya 
pendidikan, disiplin kerja, kakunya aparatur penyelenggara pendidikan, serta 
akar budaya bangsa, seperti alergi terhadap perubahan, loyalitas yang 
berlebihan kepada atasan, serta sikap primordialisme yang kaku. Persoalan 
pendidikan adalah persoalan yang menjadi tanggung jawab bersama seluruh 
komponen bangsa.

Pada era reformasi sekarang ini, pemerintah melalui Program Pembangunan 
Nasional (Propernas) serta melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional 
(Sisdiknas) telah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk membenahi dunia 
pendidikan. Melalui program tersebut diupayakan akan segera terwujud 
peningkatan kuantitas maupun kualitas pendidikan. Penggodokan Kurikulum 
Berbasis Kompetensi (KBK) sejak tahun 2001, merupakan contoh konkret dari upaya 
pemerintah untuk mencetak produk pendidikan yang lebih responsif terhadap 
kemajuan zaman. Program pemerintah tersebut hendaknya mendapat dukungan positif 
dari semua pihak. Hanya saja, perlu diingat bahwa kita perlu belajar dan memetk 
pengalaman keberhasilan dunia pendidikan negara maju, seperti Australia. Namun 
jangan lupa tentang kondisi sosial ekonomi serta akar budaya bangsa, sehingga 
tidak kehilangan arah dan kebingungan.

Selain memberlakukan Kurikulum 2004 tersebut, untuk mengatasi kekurangan tenaga 
guru, pemerintah telah berusaha merekrut guru bantu yang ditempatkan pada 
sekolah-sekolah negeri. Bahkan ada beberapa pemerintah daerah yang mengangkat 
guru tidak tetap (GTT) menjadi tenaga pegawai harian lepas (TPHL). Langkah 
tersebut merupakan bukti kepedulian pemerintah terhadap kemajuan pendidikan 
yang perlu diacungi jempol. 

Meskipun tampak muram wajah dunia pendidikan kita, namun ada hal yang patut 
dibanggakan apabila kita melihat perkembangan sejarah pendidikan di Indonesia. 
Dewasa ini telah terjadi peningkatan jumlah penduduk yang dapat menikmati 
bangku sekolah. Pendidikan yang semula bersifat linear hanya terbatas pada 
lapisan masyarakat tertentu, kini telah terbuka untuk seluruh lapisan 
masyarakat.

Kompensasi BBM

Tingginya respons masyarakat terhadap arti pentingnya pendidikan sudah 
semestinya mendapatkan tanggapan serius dari pemerintah. Apalagi masalah 
pendidikan telah diamanatkan oleh UUD 1945 Pasal 31 Ayat 2 yang berbunyi 
"Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib 
membiayainya." Selain itu telah dituangkan pula melalui Undang-undang Sisdiknas 
Pasal 34 Ayat 2 yang menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin 
terselenggaranya wajib belajar sembilan tahun tanpa memungut biaya. 

Sudah saatnya pemerintah mencari solusi pemecahannya yang realistis, sebab 
fenomena yang terjadi di lapangan kadang berseberangan dengan teori yang ada. 
Sebagai contoh, pungutan Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) memang 
telah dihapus, tetapi kemudian diganti dengan pungutan sumbangan lain yang 
cukup besar dan memberatkan. Mahalnya sumbangan tersebut bukan hanya pada 
sekolah swasta, tetapi justru telah ke sekolah-sekolah milik pemerintah dengan 
berbagai argumen yang kadang tidak realistis.

Bila keadaan ini terus dibiarkan, sangat dimungkinkan berdampak akan menutup 
akses bagi golongan ekonomi lemah untuk dapat mengenyam pendidikan yang lebih 
tinggi. Anggaran pendidikan yang dijanjikan pemerintah sebesar 20% dari APBN, 
ketika ditagih tentu akan dijawab secara klise, yaitu akan dilaksanakan secara 
bertahap hingga tahun 2009, sehingga tinggal gaung serta pasal dalam 
undang-undang saja. 

Kini, dengan naiknya harga BBM per 1 Maret 2005 masyarakat harap-harap cemas 
menunggu janji pemerintah. Dikatakan bahwa salah satu agenda tentang dana 
kompensasi BBM akan dialokasikan untuk membiayai dunia pendidikan dengan 
harapan anak-anak usia sekolah di seluruh Indonesia dapat menikmati bangku 
sekolah tanpa harus putus sekolah, sehingga akan terwujud pemerataan pendidikan 
bagi seluruh rakyat sesuai dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945. 

Rencana dana kompensasi BBM tersebut diperkirakn sebesar 5,6 triliun rupiah 
untuk 9,6 juta siswa SD sampai SLTA, serta 10,6 triliun rupiah untuk 36 juta 
penduduk miskin. (Sukirman, Suara Merdeka 28/2). Sedangkan menurut Gubernur 
Jawa Tengah H Mardiyanto di harian ini (31/3) dikatakan bahwa program beasiswa 
yang berasal dari kompensasi BBM akan segera direalisasikan untuk 927.178 siswa 
SD, 285.123 siswa SLTP, serta 98.564 siswa SLTA . Bantuan beasiswa tersebut 
menurut rencana akan langsung dialirkan ke sekolah-sekolah.

Profesionalisme

Masalah pendidikan perlu ditangani secara profesional serta bersungguh-sungguh. 
Selain penanganan yang profesional para pelaksana pendidikan, terutama guru, 
juga dituntut memiliki semangat profesionalisme dan komitmen yang tinggi di 
bidang pendidikan. Upaya untuk mewujudkan keprofesionalan para guru telah 
diupayakan sejak Orde Baru sampai sekarang. Hal tersebut ditandai dengan 
dibukanya program belajar jarak jauh, program penyetaraan D2, D3, S1 bahkan S2. 
Sehingga bila dilihat dari segi kualitas tenaga pengajar, dipandang cukup, 
barangkali hanya perlu peningkatan profesionalismenya.

Hambatan pengembangan profesionalisme kadang terjadi karena kakunya aparatur 
atau penentu kebijakan di bidang pendidikan. Sikap kaku dan arogansi perlu 
ditanggalkan, diganti dengan sikap yang terbuka terhadap kritik, demi kemajuan 
bersama.

Kekawatiran Nurkolis "Lampu Merah Kepala Sekolah" di harian ini (16/12) perlu 
ditanggapi. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa salah satu prasyarat kepala 
sekolah antara lain telah menduduki golongan IV/A, hal ini jelas merupakan 
manifestasi kakunya aparatur pendidikan, serta paradigma lama yang harus 
ditinggalkan. Dinas Pendidikan harus lebih terbuka dan berani mengadakan 
reformasi di bidang pendidikan dengan memperhitungkan profesionalisme dan 
kompetensi guru. Di lapangan banyak dijumpai golongan IV/A yang mandul dan 
tidak kreatif, sedang di lain pihak banyak golongan III yang profesional, 
berdedikasi serta kompetitif. 

Kini saatnya Dinas Pendidikan dan Pemda lebih berani mengambil tindakan 
invoatif untuk kemajuan bersama di bidang pendidikan, sehingga pada masa yang 
akan datang gambaran dunia pendidikan kita dapat lebih cerah.

Di lain pihak tenaga penagjar hendaknya tidak berpandangan bahwa menjadi Kepala 
Sekolah adalah segala-galanya, sehingga harus diraih dengan berbagai cara. 
Banyak jalan untuk meningkatkan keprofesionalan kita, seperti menjadi penulis, 
pengamat pendidikan, dan lain-lain. Sekarang saatnya masyarakat menunggu 
kucuran dana kompensasi BBM. (24)

-Winarto SS, guru SMP 32 Semarang.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12ht0ba1l/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122853221/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: