[ppi] [ppiindia] Polisi Coba Tutupi Kasus Adiguna

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **


Artikel lebih lengkap di:

http://www.geocities.com/hukum_indonesia/

Adalah satu praktek umum bagi polisi, jika tersangka memberi uang, maka kas=
us akan disamarkan, meski menyangkut nyawa orang. Kasus Adiguna Sutowo (ana=
k jutawan Ibnu Sutowo) yang menembak pelayan Hotel Hilton, nyaris dipeti-es=
kan oleh polisi, hingga akhirnya warga Flores (yang sesuku dengan korban) p=
rotes. Presiden SBY pun sampai harus turun tangan agar kasus ini tidak dipe=
ti-eskan

Kasus Adiguna Sutowo Dan Perhatian Presiden

DI tengah suasana duka akibat gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara,=
 ada suasana kontras di sebuah hotel berbintang di tengah Kota Jakarta pada=
 malam tahun baru. Sejumlah orang dari kalangan atas memadati tempat hibura=
n di hotel itu, mabok-mabokkan dan melakukan penembakan bagaikan seorang ko=
boi. Peristiwanya terjadi di Bar Fluid Club Hotel Hilton. Pelaku penembakan=
nya Adiguna Sutowo, adik pemilik hotel Ponco Sutowo yang anak mantan Dirut =
Pertamina Ibnu Sutowo. Korban penembakannya seorang bartender atau petugas =
bar bernama Yohanes Brahman H Natong (28) atau Rudy. Adiguna Sutowo adalah =
penggemar olahraga mobil. Ia kawan Tommy Soeharto yang kini meringkuk di pe=
njara Nusakambangan.

Menurut keterangan yang dimuat berbagai surat kabar, saat itu Rudy minta ag=
ar kawan perempuan Adiguna memberikan kartu kredit yang lain sebagai pembay=
arannya karena kartu kredit BCA yang disodorkan tidak bisa diproses. Peremp=
uan itu marah dan Adiguna mencabut pistolnya lalu menembak kepala Rudy. Ada=
 bukti dan saksi-saksi yang menguatkan polisi untuk menjadikan Adiguna Suto=
wo sebagai tersangka dan menahannya.

Peristiwa penembakan oleh orang sipil memang tidak hanya sekali ini terjadi=
. Tetapi kasus Adiguna Sutowo ini menarik untuk disimak, karena ada kesan k=
esewenang-wenangan orang kuat terhadap yang lemah. Ini terbukti pula dari u=
paya polisi yang pada awalnya menutup-nutupi kasus tersebut. Keterangannya =
membingungkan dan wartawan =91dilempar=92 ke sana-sini untuk mendapatkan in=
formasi. Semua orang kecewa atas sikap polisi yang tidak transparan. Sampai=
-sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan perintah kepada Kapo=
lri, agar polisi menangani kasus ini dengan serius dan tidak boleh menutup-=
nutupi pelakunya.

Menurut catatan kita, baru sekali ini seorang presiden langsung menaruh per=
hatian terhadap kasus penembakan seperti ini, bahkan sampai harus mengeluar=
kan instruksi. Bukan itu saja, kasus ini juga menjadi pembicaraan dalam sid=
ang kabinet. Ini membuktikan betapa seriusnya kasus tersebut, ada warna yan=
g khusus dibanding kasus penembakan yang sering kita dengar.

Seperti kita ketahui, di negara kita ini selama lebih tiga dasawarsa, hukum=
 bukan milik rakyat kecil. Hukum adalah milik penguasa, milik orang kuat at=
au pejabat tinggi. Pada era kekuasaan Soeharto, hukum mudah dibelokkan sesu=
ai kepentingan orang-orang yang berkuasa. Kita masih ingat ketika 1970-an, =
salah seorang putra almarhum Jenderal Ali Murtopo (waktu itu asisten pribad=
i presiden), menembak sampai tewas temannya di SMA. Sorotan tajam datang da=
ri mana-mana, namun di pengadilan hakim membebaskan pelaku penembakan itu. =
Putra mantan Kapolri Jenderal Widodo Budidarmo juga pernah menembak temanny=
a. Pada waktu itu anak-anak pejabat seenaknya melanggar hukum, apalagi kala=
u berkaitan dengan bisnisnya. Koruptor juga bisa bebas tanpa tersentuh huku=
m.

Sekarang ini pun kita masih melihat penanganan terhadap pelaku kejahatan ya=
ng tidak profesional. Lihat saja pelaku pembobolan Bank BNI Adrian Woworunt=
u yang bebas berkeliaran sampai ke luar negeri. Atau sejumlah koruptor BLBI=
 yang hukumannya tidak bisa dieksekusi, karena keburu lari ke luar negeri t=
anpa ada upaya pencegahan sebelumnya. Kasus Adiguno Sutowo pun bisa bernasi=
b sama, jika tidak ada perhatian dari presiden. Ia bahkan bisa bebas tanpa =
proses.

Perbuatan Adiguna Sutowo menunjukkan masih adanya sisa-sisa mental =91kekua=
saan=92 yang belum terkikis. Padahal sekarang bukan zamannya lagi anak peja=
bat atau orang kaya main koboi-koboinan, atau mau menang sendiri. Tommy Soe=
harto saja harus meringkuk dalam penjara karena terlibat kasus pembunuhan s=
eorang hakim agung, apalagi seorang Adiguna Sutowo. Di era sekarang, semua =
orang sama kedudukannya di depan hukum. Berangkat dari tekad inilah, barang=
kali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono perlu memberi perhatian khusus terha=
dap kasus Adiguna Sutowo.

Untuk menyikapi itu, tidak bisa lain polisi harus bertindak tegas. Polisi j=
uga tidak boleh kecolongan, kemungkinan kaburnya tersangka ke luar negeri h=
arus diantisipasi sehingga tidak ada alasan untuk menangguhkan penahanannya=
. Pemeriksaan juga harus dilakukan transparan agar tidak menimbulkan kecuri=
gaan masyarakat. Bukan zamannya lagi menutup-nutupi sebuah kasus yang dilak=
ukan oleh orang kuat.

Bisakah polisi bekerja tanpa pengaruh, tekanan atau iming-iming uang. Di si=
ni polisi benar-benar diuji, karena Adiguna Sutowo kebetulan orang yang mem=
iliki semuanya. Sejauh mana proses penanganannya, masyarakat bersama presid=
en akan mengikuti hingga ujung perjalanan kasus ini.

http://www.indomedia.com/bpost/012005/6/opini/opini2.htm

=20

Adiguna Sutowo Ditahan di Polda=20
* Presiden: Kejahatan Seperti Itu Tak Bisa Ditolelir

Jakarta, Kompas - Mantan pereli nasional, Adiguna Sutowo, Minggu (2/1) pagi=
 ditetapkan sebagai tersangka. Ia ditahan di rumah tahanan Polda Metro Jaya=
. Namun, Adiguna mengelak dituduh menembak pelayan Bar Fluid Club di Hotel =
Hilton, Jakarta, Sabtu lalu.

"Pelakunya (Adiguna) sudah kami jadikan tersangka dan ditahan. Kami memilik=
i bukti cukup untuk menahan dia. Polisi tak mungkin sewenang-wenang menahan=
 seseorang," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah (Polda) =
Metro Jaya Komisaris Besar Matheus Salempang, Minggu sore.

Pertimbangan obyektif dilakukannya penahanan terhadap Adiguna, yang merupak=
an putra mantan Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo (almarhum), itu antara=
 lain supaya pelaku tidak melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti,=
 dan demi kemudahan proses penyidikan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Minggu malam, sempat juga menanggapi kas=
us penembakan ini. Ia memperoleh kesan polisi menutup-nutupi kasus itu. Di =
depan wartawan di rumahnya di Cikeas, Bogor, Presiden meminta polisi berlak=
u transparan dan menangani kasus tersebut secara tuntas.

"Saya menginstruksikan Kepala Polri menegakkan hukum terhadap pelaku penemb=
akan. Tunjukkan transparansi dan akuntabilitas demi keadilan. Kejahatan sep=
erti itu tidak bisa ditolelir. Sekarang ini beredar kabar seolah-olah negar=
a dan penegak hukum tidak tegas. Masyarakat tidak perlu khawatir," kata Pre=
siden.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Tjiptono=
 menyatakan, polisi menemukan 19 butir peluru di kamar tempat Adiguna mengi=
nap. Hingga saat ini polisi masih melakukan pengejaran terhadap wanita yang=
 pada saat kejadian berada di bar bersama Adiguna untuk mendapatkan keteran=
gan.

Polisi telah memeriksa empat saksi, dua di antaranya melihat langsung bahwa=
 Adiguna yang melakukan penembakan. Dari proyektil yang ditemukan bersarang=
 di kepala korban, pelurunya diperkirakan memiliki kaliber 22 milimeter dan=
 ditembakkan dari jenis senjata Revolver.

Adiguna menjadi tersangka karena diduga membunuh Yohanes Brataman Haerudy N=
atong (28) di Bar Fluid Club di Hotel Hilton, Jakarta Pusat, pada Sabtu din=
i hari. Pelayan bar yang baru bekerja satu bulan dan akrab disapa Rudy itu =
adalah mahasiswa semester akhir Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Jaka=
rta.

Sejumlah saksi yang berada di Bar Fluid Club pada Sabtu dini hari melihat l=
angsung Adiguna menembak Rudy tepat di pelipis atas kanan. Penembakan didug=
a dilakukan dalam jarak dekat. Adiguna, yang pada saat itu bersama seorang =
wanita, marah ketika Rudy menyarankan kepada teman wanitanya itu agar mengg=
unakan kartu kredit lain selain BCA Card atau melalui pembayaran tunai.

Adiguna Sutowo saat itu mencabut pistol dan menodongkannya ke pelipis atas =
kanan Rudy. Kemudian ia menembakkan senjata apinya hingga mengakibatkan Rud=
y tewas. Penembakan dilakukan di tengah alunan musik era 1970-an menyambut =
malam pergantian tahun.

Senjata hilang

Baik Salempang maupun Tjiptono menyatakan polisi belum menemukan senjata ap=
i yang digunakan Adiguna untuk menembak Rudy. "Masih terus kami cari," kata=
 Salempang.

Ditanya apakah hilangnya senjata api tersebut sebagai salah satu indikasi u=
paya pelaku menghilangkan barang bukti, Salempang menyatakan masalah itu ya=
ng kini diselidiki polisi. "Kalau senjatanya sudah ketemu, bisa terungkap a=
pakah senjata yang digunakan itu ilegal atau tidak. Dari nomor serinya akan=
 ketahuan," katanya.

Ketika ditanya apakah senjata api yang digunakan untuk menembak itu sengaja=
 dihilangkan Adiguna untuk menghilangkan jejak, Tjiptono menyatakan itu bis=
a saja terjadi. Namun, polisi tetap akan berusaha mencarinya.

Senjata yang "hilang" itu bisa saja dijadikan sebagai alasan atau dalih bag=
i dia untuk menghindar dari jerat hukum. "Kami berharap Adiguna bisa lebih =
kooperatif agar hukum tidak memberatkan dia," katanya.

Terkait dengan kasus penembakan itu, kata Tjiptono, Adiguna bisa dikenai Pa=
sal 338 Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1=
951 tentang Keadaan Darurat. "Melihat hukumannya yang lebih dari lima tahun=
," ujarnya menambahkan.

Ditanya apakah hilangnya senjata api milik Adiguna akibat polisi lamban dat=
ang ke tempat kejadian, Tjiptono menyatakan, tidak lama setelah terjadi kas=
us itu, polisi langsung ke tempat kejadian dan mengumpulkan barang bukti se=
rta saksi.

Seusai mendampingi kliennya menjalani pemeriksaan, Amir Karyatin, kuasa huk=
um Adiguna, kepada sejumlah wartawan menyatakan bahwa kliennya itu menolak =
menandatangani berita acara pemeriksaan. Hal itu dilakukan karena Adiguna t=
idak merasa menembak seperti yang disangkakan.

Tidak terbuka

Dalam menangani kasus penembakan itu polisi terkesan tidak bersikap terbuka=
. Sejumlah pejabat di Kepolisian Sektor (Polsek) Tanah Abang dan Kepolisian=
 Resor (Polres) Jakarta Pusat pada Sabtu lalu enggan menjelaskan siapa pela=
ku penembakan.

Bahkan, Laporan Segera-laporan kejadian rutin dari tiap kesatuan di Polda M=
etro Jaya yang biasanya jelas-pada Sabtu 1 Januari 2005 mendadak jadi tidak=
 transparan. Waktu, tempat kejadian, korban, saksi, modus operandi, kerugia=
n, dan kesatuan yang menangani ditik dengan jelas. Hanya identitas pelaku p=
enembakan yang sengaja "disembunyikan" dan hanya ditik --- (baca kosong- Re=
d).

Tjiptono menepis anggapan bahwa polisi tidak terbuka. Ia menyatakan kasus p=
enembakan itu merupakan kasus besar yang menyita perhatian publik. Karena i=
tu, sebaiknya ditangani polda. Polisi, lanjutnya, sudah transparan. "Sejak =
Sabtu sore, saya sudah menyampaikan kepada wartawan yang menghubungi saya b=
ahwa pelakunya diduga Adiguna," katanya.

Menurut catatan Kompas, pelawak ternama Parto "Patrio" yang melucu dengan a=
ksen Tegal-nya pada Agustus 2004 menembakkan senjata apinya dengan peluru k=
aret ke langit-langit lobi Planet Holywood. Tindakannya itu dimaksudkan unt=
uk mengusir wartawan infotainment yang mencoba menggali informasi seputar r=
umah tangganya.

Atas kejadian tersebut, sehari kemudian Parto ditetapkan sebagai tersangka =
dan ditahan di Polsek Setiabudi. Sebelum Parto menjadi tersangka dan ditaha=
n, sejumlah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia di Polsek Setiabud=
i, Polres Jakarta Selatan, dan Polda Metro Jaya tidak keberatan memberikan =
informasi kepada masyarakat. (IR/MAS/INU)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/03/utama/1474587.htm

=20

Kamis, 06 Januari 2005

'Adiguna Tiga Kali Menarik Pelatuk'=20

Korban, katanya, ditembak dari jarak di atas 60 centimeter. Peluru tersebut=
 mengenai otak Yohanes. Mengenai jenis pelurunya, Mu'nim menolak menjelaska=
n karena tidak berwenang. Kemarin, ratusan mahasiswa Universitas Bung Karno=
 (UBK) dan Rachmawati Soekarnoputri menemui Kapolda Metro Jaya. Mereka memi=
nta agar tidak ada permainan dalam mengusut kematian Yohanes yang juga maha=
siswa UBK itu.

(dwo/c27/hri/run )=20

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=3D182953&kat_id=3D3

=20

Putra Putri Flores Demo Soal Adiguna=20

JAKARTA, (PR).-
Adiguna Sutowo, putra mendiang mantan Direktur Utama Pertamina Ibnu Sutowo,=
 harus diadili, jangan terkesan sebaliknya polisi melindungi pelaku penemba=
kan terhadap almarhum Yohanes Brahmans C. Haerudy Natong (Rudy), bartender =
di Fluid Club Hotel Hilton Jakarta.

Desakan tersebut disuarakan secara terpisah oleh Forum Florete Flores (Foru=
m Mahasiswa dan Pemuda/i Flores Jakarta), Federasi Serikat Pekerja Mandiri =
dan Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri di Jakarta,=
 Rabu (5/1).=20

Ketiga lembaga merespons tindak kriminal Adiguna Sutowo yang menembak Rudy =
pada Sabtu (1/1). Adiguna dalam status sebagai tersangka dan ditahan di Pol=
da Metro Jaya. Dalam penyidikan, polisi belum menemukan bukti pistol yang d=
igunakan tersangka menembak Rudy. Bahkan, pengacaranya sempat membantah kli=
ennya sebagai pelaku penembakan terhadap Rudy.

Forum Florete Flores menyayangkan sikap polisi yang terkesan ingin menutupi=
 kasus ini. "Kami beranggapan sikap aparat seperti ini justru lebih memaluk=
an daripada tindakan sang pelaku kebiadaban sendiri. Kepolisian sebagai gar=
da terdepan pembela kebenaran dan keadilan malah ingin menjadi garda terdep=
an pelindung pelaku kriminal yang biadab," kata Edy Kalakoe didampingi Rika=
rd Rahmat dan anggota Komisi III DPR RI Benny K. Harman di Gedung MPR/DPR R=
I Jakarta.

Walaupun status almarhum Rudy hanya pelayan dan mungkin sangat kecil perann=
ya dibanding kanpemilik saham di hotel itu, kata Edy Kalakoe, nyawa almarhu=
m yang melayang tidak dapat dibiarkan tanpa suatu pertanggungjawaban dari p=
elaku.

Forum mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan aparat terkait untuk m=
emberikan perhatian khusus kasus ini hingga pelakunya diadili dan dihukum. =
Menuntut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Firman Gani, mundur dari jabatannya =
apabila tidak bisa menuntaskan kasus ini. Kapolri diminta menindak tegas ok=
num polisi yang berusaha melindungi tersangka. Sedangkan pengelola hotel di=
minta ikut bertanggung jawab atas kelalaiannya dengan membiarkan pengguna s=
enjata masuk hotel. "Kami akan tetap mengawal kinerja aparat kepolisian dan=
 penegak hukum lainnya sampai masalah ini tuntas proses hukumnya," kata Edy=
 Kalakoe.

Anggota Komisi III DPR asal Flores Benny K. Harman menyatakan kasus ini seb=
agai salah satu ujian bagi pemerintah. Apabila dalam waktu 100 hari pemerin=
tahan Susilo Bambang Yudhoyono tidak bisa menuntaskan kasus ini, maka akan =
makin terpuruk citranya.

Ia menyatakan polisi tidak bisa berdalih bahwa tersangka tidak bisa diminta=
 pertanggungjawaban karena tindak kriminalnya dilakukan dalam kondisi mabuk=
. "Tersangka mabuk jangan dijadikan dalih tidak bisa bertanggung jawab atas=
 aksinya," Kata Benny K.Harman.

Sementara belasan Federasi Serikat Pekerja Mandiri mengekspresikan desakann=
ya dalam aksi demonstrasi depan Polda Metro Jaya. Mereka mengatasnamakan pa=
ra pekerja di sektor pariwisata yang mencapai 12 juta orang. Selain orasi, =
para pekerja membentangkan spanduk bertuliskan, "Jangan ada lagi koboi di s=
ektor pariwisata. Usut tuntas kasus kematin Rudy."

Ia minta aparat kepolisian menerapkan aturan tentang larangan membawa senja=
ta api ke hotel, cafe, plaza, restoran, dan tempat hiburan. Dengan demikian=
, tidak terulang tindak kriminal terhadap para pekerja pariwisata.=20

Pada kesempatan terpisah, Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno, Rachmawati, ta=
mpak ikut dalam barisan para pendemo yang dilakukan oleh mahasiswa Universi=
tas Bung Karno. Bahkan, ia bersama para pendemo sempat menemui Kapolda Metr=
o Jaya Irjen. Pol. Firman Gani dan Kepala Reserse Polda Metro Jaya Kombes P=
ol. Mathius Salempang. "Kami minta kasus ini diusut tuntas. Jangan sampai t=
erjadi rekayasa dalam penyidikan kasus ini," kata Rachmawati.

Kepala Reserse dan Kriminal Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Mathius Salempang=
 menyatakan, tersangka Adiguna hanya memiliki izin senjata api dengan pelur=
u karet. Itu pun sudah kadaluwarsa.

Tetapi Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Firman Gani, menyatakan Adiguna menga=
ntongi izin kepemilikan senjata. "Catatan kita, dia memiliki izin kepemilik=
an senjata, tetapi pistolnya belum ditemukan sampai sekarang dan yang bersa=
ngkutan belum mengaku sebagai pelaku penembakan," katanya.=20

Namun, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Paiman memberikan keterangan berbe=
da dengan Firman. Menurut Paiman, surat izin kepemilikan senjata Adiguna su=
dah dicabut sejak Oktober yang lalu. "Izin dicabut karena perbuatannya meng=
ancam dengan menggunakan senjata peluru karet tersebut," ujar Paiman di Mab=
es Polri, Jln. Trunojoyo, Jakarta, Rabu (5/1).

Paiman menjelaskan, bulan Oktober lalu Adiguna sempat menggunakan senjata i=
tu bersama-sama Ricardo Gelael untuk menakut-nakuti kerabat penyanyi rock A=
chmad Albar. Achmad Albar adalah mantan suami Rini S Bono, dan Rini kemudia=
n menikah dengan Ricardo.

Sementara itu, Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Suyitno Landung menjelask=
an, proses penembakandiduga dilakukan Adiguna. Pereli ini diduga menodongka=
n pistolnya ke arah Rudy. Dia menarik pelatuk pistol sebanyak tiga kali. Te=
mbakan pertama dan kedua tidak meledak. Baru yang ketiga meledak dan Rudy p=
un terkapar tewas."Kami sudah menemukan bukti permulaan bahwa Adiguna Sutow=
o menodongkan pistolnya di depan korban (Rudy) dan Adiguna Sutowo sempat me=
narik pemicu tiga kali. Yang dua tidak meledak, baru yang ketiga meledak," =
ujar Landung di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (5/1).

Dikatakan, sebanyak 19 orang saksi telah diperiksa. Tiga saksi menguatkan d=
ugaan bahwa Adiguna adalah pelaku penembakan. "Mereka melihat bahwa dialah =
yang melakukan penembakan. Saya tidak akan sebut nama mereka demi keamanan.=
 Namun, saksi itu menyatakan melihat penembakan dan harus dibuktikan. Untuk=
 itu, senjata korban masih dicari," papar Suyitno.

Indikasi kedua yang menguatkan Adiguna pelaku penembakan ada seorang saksi =
yang melihat dan mengenal Adiguna. "Untuk itu mereka dikonfrontasi. Yang me=
ngenali dikonfrontasi, kemudian mereka membenarkan bahwa Adiguna melakukan =
penembakan," ujarnya.

Selanjutnya, kata Suyitno, dari 19 saksi yang diperiksa pihaknya sedang men=
yicil pembuatan resume untuk mempercepat proses penyerahan berkas sambil me=
ncari senjata api tesebut.(A-84/A-109)***

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/06/0104.htm

=20

Penembakan di Hotel Hilton

Pistol Tersangka Diserahkan pada Orang Lain

JAKARTA - Kasus penembakan yang dituduhkan kepada Adiguna Sutowo semakin me=
ncuat ke permukaan. Pasalnya, selain tersangka yang anak bungsu Ibnu Sutowo=
 itu menyangkal menembak, juga sampai saat ini polisi belum menemukan pisto=
l berjenis Cis.

Diperoleh keterangan dari 16 saksi, ada 15 saksi yang melihat Adiguna yang =
melakukan penembakan. Seusai menembak, Adiguna kemudian memberikan pistol k=
epada orang di sampingnya.=20

"Kejadiannya secepat kilat," kata salah seorang saksi. Saksi ini berada di =
lokasi saat kejadian penembakan.=20

Sementara itu, dua petinggi Polri saling berbeda pendapat soal surat izin k=
epemilikan senjata api Adiguna Sutowo. Menurut keterangan Kapolda Irjen Fir=
man Gani, tersangka memiliki izin kepemilikan senjata api. Sementara itu, K=
adiv Humas Polri Irjen Paiman mengemukakan, tersangka hanya memiliki izin s=
enjata berpeluru karet dan lagi izin itu pun sudah dicabut.

"Dia tidak punya izin kepemilikan senjata api. Didata tidak ada. Penjelasan=
 dari intel dia memang pernah mendapat izin kepemilikan senjata peluru kare=
t tapi sekarang izin itu sudah dicabut sebelum kejadian," papar Paiman, Rab=
u (5/1).

Saat ditanya kenapa izin kepemilikan sejata peluru karet Adiguna dicabut, P=
aiman menyatakan tidak tahu.=20

Senada dengan Paiman, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombe=
s Mathius Salempang menyebutkan, Adiguna hanya memiliki izin kepemilikan se=
njata api untuk peluru karet yang sudah kedaluwarsa.

Mathius mengatakan, pihaknya juga sedang berusaha mencari senjata api milik=
 Adiguna Sutowo, antara lain dengan menyisir lokasi Bar Fluid Hotel Hilton,=
 tempat kejadian penembakan terhadap Yohanes Brachmans Chaerudy Natong.

"Sampai saat ini, senjata api belum kami temukan. Penggeledahan sudah kami =
lakukan namun masih nihil," ujarnya.

Bahkan, Tim Gegana bersama Mabes Polri dan Polda Metro kembali menyisir di =
tempat kejadian. Dia menuturkan, penggeledahan terus dilakukan, salah satun=
ya di bak kloset kamar 1654 Hotel Hilton yang merupakan kamar Adiguna. Di s=
ana ditemukan 19 butir peluru dan handuk yang berlumuran darah.

Anggota Komisi III DPR RI Benny K Harman menekankan, ada indikasi Polri mem=
petieskan pengusutan kasus penembakan terhadap Yohanes BC Natong alias Rudi=
 pada Sabtu (1/1) pagi yang diduga melibatkan Adiguna Sutowo.

"Kami memperoleh informasi, tekanan yang dilakukan pihak Adiguna Sutowo kep=
ada Polri begitu kuat dan berujung kepada pengalihan atau memetieskan kasus=
 ini," tandasnya.

Kabid Humas Polda Metro Kombes Tjiptono menegaskan, tidak akan pernah terja=
di pertukaran pelaku dalam kasus penembakan yang melibatkan tersangka Adigu=
na Sutowo.=20

Menanggapi kekhawatiran masyarakat akan terjadinya pertukaran pelaku dalam =
kasus penembakan tersebut, Tjiptono menekankan, "Tidak benar jika ada yang =
menuduh polisi akan menukar pelaku. Itu tidak akan pernah terjadi. Kami aka=
n profesional menyelesaikan kasus ini."

Dia mengungkapkan, adalah hal aneh jika ada kalangan yang khawatir akan ter=
jadinya pertukaran pelaku, mengingat sehari setelah penembakan itu polisi t=
elah menetapkan Adiguna sebagai tersangka.

"Jadi, mana mungkin kami menukar pelaku?" Penyidik memperoleh keterangan da=
ri beberapa saksi, Adiguna memang menembakkan senjata apinya ke kepala Rudy=
.

Kemarin, Solidaritas Mahasiswa Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk Rudy berunju=
k rasa di depan Polda Metro dan Hotel Hilton.

Menurut keterangan koordinator aksi Gregorius Bruno Djako,=20

unjuk rasa melibatkan sedikitnya 1.000 orang. "Selain mahasiswa asal NTT, k=
ami juga menggandeng BEM Universitas Bung Karno (UBK)," ujarnya.

Unjuk rasa bertujuan agar proses hukum terhadap Adiguna tetap berjalan pada=
 jalurnya. Bahkan, mereka meminta polisi tidak membelokkan kasus ini ke ara=
h kepemilikan senjata api gelap.

"Akan tetapi harus pada pokok permasalahannya, yakni Adiguna melakukan pemb=
unuhan," tegasnya.

Ketua Umum Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) Rachmawati Soekarnoputri memin=
ta penyelidikan tersangka Adiguna Sutowo dilakukan secara tuntas, transpara=
n, dan tidak ada rekayasa.

Rachmawati menyatakan hal itu saat turut bergabung dalam demonstrasi yang d=
iikuti 500 mahasiswa UBK di Polda Metro. Rachmawati diterima Kapolda Metro =
Jaya Irjen Firman Gani dan Kepala Pusat Reserse Mathius Salempang.

Kehadiran Rachmawati meminta agar kasus penembakan Rudy, salah seorang maha=
siswa UBK, diusut tuntas. Rudy ditembak di Bar Fluid Hotel Hilton pada mala=
m pergantian tahun 2005. Tersangka kasus ini adalah Adiguna, salah seorang =
pemilik Hotel Hilton.

Canisius Sosa Jeen, mahasiswa UBK, yang berdemo mengecek keberadaan Adiguna=
 di sel Mapolda Metro. Dia mewakili rekan-rekannya merasa khawatir bahwa Ad=
iguna tidak ada di sel.

Namun ketika dia mendatangi sel, Canisius Cosa mengaku telah bertemu dan me=
lihat langsung Adiguna dalam tahanan. "Saya melihat Adiguna Sutowo selama s=
atu menit. Dia memakai kaus cokelat muda. Dia tampak kebingungan." (bu,dtc-=
33j)=20

http://www.suaramerdeka.com/harian/0501/06/nas04.htm



=09=09
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 The all-new My Yahoo! =96 What will yours do?

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospit=
al's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
 Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] Polisi Coba Tutupi Kasus Adiguna