[ppi] [ppiindia] Pluralisme Keagamaan dan Sikap Humanis

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **MEDIA INDONESIA
Senin, 15 Agustus 2005


Pluralisme Keagamaan dan Sikap Humanis
Budhy Munawar-Rachman, Direktur 'Project on Pluralism, Center for Spirituality 
and Leadership' (CSL)


PLURALISME adalah sebuah pemikiran. Dan seperti setiap pemikiran, pasti selalu 
ada pro dan kontra, apalagi sebuah pemikiran filosofis, atau teologis. Memberi 
tempat pada kebebasan berpikir adalah fondasi peradaban. Karena itu, fatwa MUI 
mengharamkan sebuah pemikiran, ini suatu hal yang aneh, dari kelaziman sebuah 
fatwa yang menyangkut sebuah masalah hukum konkret. Mengharamkan sebuah 
pemikiran, yang pada dasarnya bersifat abstrak dan argumentatif, adalah sebuah 
tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Apalagi mengharamkan pemikiran 
tentang pluralisme, yang merupakan fondasi demokrasi dan terwujudnya civil 
society (masyarakat madani), jelas tidak masuk akal, bahkan melanggar 
sunnatullah (hukum-hukum kehidupan sosial) yang ditegaskan oleh Alquran.

Pluralisme sebagai wacana etika politik modern, memang sesuatu yang baru, dan 
merupakan kesadaran yang berkembang secara global baru pada abad ke-20 lalu. 
Sebagai isu pemikiran keagamaan, pluralisme lebih baru lagi. Sebagai contoh 
institusional dan global, baru sejak Konsili Vatikan II (1963-1965), masalah 
pluralisme mendapat pengakuan dalam lingkungan Katolik di seluruh dunia 
(selanjutnya juga di banyak denominasi Kristen-Protestan).

Dalam Islam, wacana pluralisme juga sudah berkembang, sejalan dengan pemikiran 
global pluralisme keagamaan dan demokrasi. Tokoh-tokoh kontemporer seperti 
Mahmoud Ayoub, Seyyed Hossein Nasr, Abul Kalam Azad, Fazlur Rahman, Mohammed 
Arkoun, M Talbi, termasuk generasi baru seperti Abdullahi Ahmed An-Naim, Fatima 
Mernissi, Amina Wadud, Riffat Hassan, Farid Eshack, Khaled M Abou el-Fadl, dan 
banyak lagi, sudah mengadvokasikan pentingnya pluralisme. Di Indonesia 
tokoh-tokoh seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, M Syafii Maarif, 
Djohan Effendi, M Dawam Rahardjo, dan belakangan KH Hasyim Muzadi, sangat aktif 
bekerja mempromosikan pluralisme. Belum termasuk generasi baru pemikir muslim 
Indonesia yang sekarang juga gigih memperjuangkan pluralisme. Mereka tidak 
pernah mengharamkannya, justru menekankan pandangan Islam yang penuh Rahmat 
Tuhan untuk semesta (rahmatan lil `alamin), dengan menegaskan kearifan 
pluralisme. Dan mereka menyadari sungguh-sungguh, agama Islam muncul sebagai 
agama yang mengakui keberadaan agama lain. Dalam sebuah kutipan dalam entri 
Ahlul Kitab Concise Encyclopedia of Islam, Cyril Glassé, mengemukakan "...the 
fact that one Revelation should name others as authentic is an extraordinary 
event in the history of religions" (Kenyataan bahwa sebuah wahyu [Islam] 
menyebut wahyu-wahyu yang lain sebagai absah adalah kejadian luar biasa dalam 
sejarah agama-agama).

Jadi pengakuan adanya kebenaran, keselamatan, bahkan kesamaan agama-agama, 
sudah dianut banyak kalangan Islam, jauh sebelum masalah pluralisme menjadi 
wacana kontemporer. Dan yang menarik seorang ahli agama-agama, seperti Cyril 
Glassé, yang bukan-muslim, mengakui hal tersebut secara terus terang. Sekadar 
contoh beberapa tokoh nonmuslim lain, Bernard Lewis, Kenneth Cragg, Marshall 
Hodgson, dan seorang teolog Jerman yang ahli Islam di Indonesia Olaf Schumann 
juga menegaskan mengenai pluralisme sebagai kenyataan teologis dan historis 
dalam Islam.

Jadi pluralisme sebenarnya adalah bagian integral dari keagamaan Islam. Bahkan 
dalam Alquran, ada ayat yang mirip, yaitu QS 2:62 dan QS 5:69 yang menegaskan 
bahwa mereka yang beriman (kepada Alquran), orang Yahudi, Nasrani, dan Sabiin, 
yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan melakukan kebaikan, pahala 
mereka di sisi Allah, dan mereka tidak perlu khawatir serta tidak perlu sedih. 
Muhammad Asad, penafsir Alquran yang mendapatkan pengakuan internasional, 
dengan buku tafsirnya The Message of the Qur'an (Gibraltar: Dar al-Andalus, 
1980), menyebutkan, di antara semua agama, Islamlah yang pertama (sudah sejak 
agama ini ada) menetapkan bahwa keselamatan itu tergantung hanya pada tiga hal 
(saja), yaitu beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian serta berbuat baik. 
Pandangan Muhammad Asad ini merupakan suatu nilai universal yang tidak 
terkungkung oleh pengelompokan, atau pandangan sektarian, yang hanya menganggap 
bahwa agama sendirilah yang paling benar, seperti tertera dalam penjelasan 
fatwa MUI.

Karena itu, penegasan fatwa MUI bahwa tidak semua agama itu sama, bertentangan 
dengan Alquran yang menegaskan, seperti dijelaskan A Yusuf Ali, dalam Tafsir 
Alquran-nya, ketika mengomentari makna al-islam. Posisi seorang muslim sudah 
jelas. Ia tidak mengaku mempunyai agama yang khusus untuk dirinya sendiri. 
Islam bukan sebuah sekte atau sebuah agama etnis.

Dalam pandangan Islam, semua agama adalah satu (sama), karena kebenaran adalah 
satu (sama). Ia adalah agama yang diajarkan oleh semua nabi terdahulu. Ia 
adalah kebenaran yang diajarkan oleh semua kitab suci yang diwahyukan. Dalam 
esensinya, ia bertumpu pada kesadaran akan kehendak dan rencana Tuhan serta 
sikap pasrah sukarela kepada rencana dan kehendak itu. Jika ada seseorang yang 
menghendaki agama selain dari itu, ia tidak jujur kepada naturenya sendiri, 
sebagaimana ia tidak jujur kepada kehendak dan rencana Tuhan. Orang seperti itu 
tidak bisa diharap mendapat petunjuk, karena ia telah dengan sengaja 
meninggalkan petunjuk itu. (A Yusuf Ali, The Holy Qur'ân, Translation and 
Commentary [Jeddah: Dâr al-Qiblah, 1403 H], h. 145, catatan 418).

Perlunya sikap yang lebih terbuka dan humanis dari kejadian minggu ini 
berkaitan dengan kasus Ahmadiyah dan fatwa MUI, kita belajar bahwa sikap 
terbuka terhadap agama lain, masih merupakan agenda yang mendesak dalam wacana 
keagamaan di Indonesia. Kita masih memerlukan latihan yang terus-menerus, dalam 
hubungan antaragama, dalam mewujudkan prinsip persaudaraan dan kemanusiaan yang 
benar (li ta`arafu, dalam istilah Alquran,--supaya saling mengenal).

Alquran menegaskan iman adalah fondasi pluralisme, jadi bukan hanya sekadar 
pluralisme atas dasar kepentingan sosiologis, politis, untuk demokrasi dan 
civil society, atau psikologis untuk mencegah fanatisme saja. Maka dua prinsip 
yang berkaitan dengan pluralisme intra dan antarumat beragama, perlu ditegaskan 
dalam kehidupan beragama. Pertama, di antara sesama umat Islam perlulah sebuah 
prinsip yang agung (istilah Ibn Taymiyyah, ashl al-'azhîm), yang menegaskan 
prinsip kenisbian ke dalam (relativisme internal). Prinsip inilah yang telah 
diteladankan oleh Nabi dan para sahabat. Umat Islam perlu belajar lagi bersikap 
toleran terhadap muslim lain yang berbeda paham atau mazhab. Kedua, di antara 
sesama umat manusia secara keseluruhan, paham pluralisme itu ditegakkan 
berdasarkan prinsip bahwa masing-masing kelompok manusia berhak untuk 
bereksistensi dan menempuh hidup sesuai dengan keyakinannya. Larangan 
memaksakan agama, merupakan prinsip dasar yang disebutkan dengan tegas dalam 
Alquran (QS 2:256 dan QS 10:99).

Hikmah dari adanya fatwa MUI yang kontraproduktif ini adalah perlunya kita umat 
Islam memahami kembali ajaran Islam sebagai semangat kemanusiaan (hablun min 
al-nâs) yang sangat tinggi, yang merupakan sisi kedua ajaran Islam setelah 
semangat Ketuhanan (hablun min Allâh). Apalagi hal ini secara luas telah 
diketahui kalangan muslim klasik, tapi hampir-hampir menjadi pemikiran asing 
pada kebanyakan umat Islam dewasa ini, seperti nyata pada Fatwa MUI mengenai 
pluralisme ini.

Fatwa MUI seperti pepatah Inggris yang pernah dikutip Nurcholish Madjid, 
telah--pulling the carpet under the table--menarik karpet di bawah meja 
pluralisme yang telah dibangun susah payah oleh para pemikir Islam. MUI seperti 
desakan para cendekiawan perlu mempertimbangkan lagi dampak sosial dari fatwa 
yang intoleran ini. Kalau tidak, MUI akan ditinggalkan umatnya sendiri, yang 
semakin sadar bahwa fatwa-fatwa para ulamanya (di MUI) tidak memberikan 
kemaslahatan bersama dalam kehidupan sebagai warga negara di Indonesia.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hodm2pd/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124074069/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Give
 underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to 
life by funding a specific classroom project  
</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] Pluralisme Keagamaan dan Sikap Humanis