[ppi] [ppiindia] Pil Pahit Kenaikan Harga BBM
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 28 Sep 2005 23:05:22 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**MEDIA INDONESIA
Kamis, 29 September 2005
Pil Pahit Kenaikan Harga BBM
Rully Chairul Azwar, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar
WAKIL Presiden Jusuf Kalla telah memastikan, harga BBM akan naik pada 1 Oktober
2005 nanti. Bagaimanakah duduk perkaranya sehingga pemerintah 'terpaksa'
mengurangi subsidi BBM sehingga harga BBM menjadi naik?
Kini kita semua dihadapkan pada pilihan-pilihan. Pertama, membiarkan ancaman
virus tersebut tanpa minum pil pahit dan berharap penyakit akan sembuh dengan
sendirinya, meskipun hal ini adalah sesuatu yang musykil.
Kedua, dengan berketetapan hati meskipun terasa sangat pahit dan harus muntah
sekalipun, minum pil pahit adalah pilihannya. Kenaikan harga BBM di pasaran
internasional yang mencapai US$70/barel mengakibatkan keuangan negara kita
mengalami tekanan defisit yang sempat membuat kurs rupiah terhadap US$ menjadi
Rp11.700, melampaui ambang psikologis Rp11.000.
Penyebab naiknya harga BBM tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan
konsumsi BBM dari negara China dan India, apalagi setelah topan Katrina dan
badai Rita mengamuk di Negeri Paman Sam. Diperkirakan harga BBM sampai dengan
akhir tahun ini sulit turun karena konsumsi akan meningkat lagi akibat musim
dingin akhir tahun ini.
Tingginya harga BBM di pasaran internasional mengakibatkan kebutuhan devisa
untuk mengimpor BBM meningkat. Indonesia sekarang ini bukan lagi negara
pengekspor BBM karena konsumsi BBM dalam negeri lebih besar daripada ekspor
BBM. Produksi BBM kita adalah 1,125 juta barel/hari, sedangkan konsumsi BBM
diperkirakan 1,5 juta barel/hari. Dengan demikian, pendapatan negara akibat
naiknya harga BBM dunia sudah tidak memberikan arti lagi dibandingkan
pengeluaran negara untuk mengimpor BBM.
Tingginya harga BBM dunia adalah faktor eksternal yang tak dapat dikendalikan
oleh kita. Ibarat wabah virus yang sedang menjangkiti dunia, sehingga yang
terkena tidak hanya negara Indonesia. Juga negara-negara lain, termasuk
negara-negara besar seperti China, India, dan Amerika. Virus ini telah
mengganggu keseimbangan perekonomian negara kita. Kalau boleh dikatakan negara
kita dalam kondisi demam dengan suhu di atas 39 derajat Celsius, apabila kita
tak menginginkan kondisi menjadi semakin parah, bahkan dapat menjurus ke hal
yang fatal.
Tindakan yang cepat dan tepat harus diambil untuk mengatasinya, namun harus
tetap dengan kehati-hatian yang tinggi untuk mencegah komplikasi yang timbul.
Pilihan yang dapat dilakukan adalah pertama membiarkan demam ini tetap
berlanjut tanpa diberikan obat 'pil pahit' untuk menyembuhkannya. Pilihan ini
bisa terjadi apabila si sakit tak berani minum obat 'pil pahit' atau ragu-ragu
untuk minum obat 'pil pahit' dan terus menundanya.
Apabila obat 'pil pahit' tersebut terlambat diminum, mungkin tak lagi mujarab
karena penyakit semakin kronis dan terjadi komplikasi penyakit lain yang
semakin rumit. Pilihan yang kedua adalah segera minum obat "pil pahit" dengan
segala konsekuensi yang berat karena mungkin terjadi rasa tidak enak atau
bahkan muntah. Tetapi peluang untuk sembuh menjadi sangat besar.
***
Pilihan pertama tersebut ibarat subsidi BBM harus dinaikkan untuk mengimbangi
defisit APBN. Hal ini berakibat terjadinya defisit APBN yang semakin besar
serta mengurangi kemampuan negara untuk pembangunan, karena apabila subsidi
mencapai Rp140 triliun berarti sepertiga APBN terserap untuk subsidi BBM.
Subsidi BBM yang tinggi menyebabkan disparitas harga yang cenderung menimbulkan
terjadinya penyelundupan BBM, penimbunan BBM dan spekulasi-spekulasi lainnya
yang sangat merugikan negara.
Padahal subsidi BBM yang besar justru menguntungkan masyarakat golongan
menengah dan ke atas, karena penggunaan BBM pada umumnya untuk kebutuhan
transportasi dan listrik sehingga memperbesar ketidakadilan. Kebutuhan
masyarakat miskin pada umumnya adalah minyak tanah dengan konsumsi hanya 20
liter /bulan.
Belum lagi akibat melemahnya keuangan negara dan besarnya kebutuhan devisa yang
menyedot cadangan devisa negara memberi peluang pada spekulasi perdagangan
dolar yang dapat berakibat fatal karena terjadinya gejolak moneter dan dapat
menjurus pada krisis moneter jilid dua. Jadi pilihan pertama tersebut sangat
berisiko karena membuat negara akan menjadi bangkrut.
Pilihan kedua dilakukan dengan segera minum obat 'pil pahit' yang walaupun
terasa sangat pahit diyakini dapat menyembuhkan penyakit demam tersebut.
Mungkin si sakit akan merasa tidak nyaman sementara waktu akibat meminum obat
'pil pahit' tersebut, tapi hal ini dapat membunuh virus sehingga dapat
menyembuhkan si sakit secara bertahap tetapi pasti. Kondisi sesaat pada waktu
meminum 'pil pahit' harus dipahami sebagai gejala umum dalam proses
penyembuhan. Tetapi yang pasti minum 'pil pahit' justru akan menolong si sakit,
bukan sebaliknya. Mungkin pemahaman ini hanya bisa diterima apabila memakai
akal sehat.
Keputusan untuk meminum obat 'pil pahit' ibarat kebijakan mengurangi subsidi
BBM yang berakibat naiknya harga BBM. Perlu diketahui bahwa harga BBM dalam
negeri selama ini termasuk paling murah di dunia, khususnya harga minyak tanah.
Tentu disadari bahwa naiknya harga BBM menimbulkan beban masyarakat akan
semakin meningkat, daya beli akan menurun, dan akan terjadi inflasi. Belum lagi
apabila hal ini dipolitisasi akan menyebabkan terjadinya gejolak sosial yang
memperberat keadaan. Ibarat rasa mual yang terjadi sehabis menelan 'pil pahit'
harus dapat diatasi oleh si sakit agar obat tersebut jangan sampai dimuntahkan
kembali karena obat tersebut akan menjadi sia-sia.
Dikuranginya subsidi BBM yang pasti akan mengurasi defisit APBN, sehingga
terjadi dana cadangan program untuk pembangunan yang sangat diperlukan oleh
rakyat seperti untuk pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur. Pada
hakikatnya dana tersebut selama ini dialokasikan pada subsidi BBM, sehingga
kemampuan dana pemerintah untuk pembangunan yang diperlukan oleh rakyat menjadi
berkurang.
Cadangan dana yang biasa disebut kompensasi kenaikan BBM tersebut dalam bentuk
beasiswa, jaminan kesehatan, serta infrastruktur untuk bulan Maret sampai
Desember 2005 sebesar Rp13,5 triliun masih tetap berjalan dan dilanjutkan
hingga tahun 2006.
Efek ganda terhadap dana kompensasi ini adalah meningkatnya sektor padat karya
yang merupakan Jaring Pengaman Sosial akibat gejolak kenaikan harga BBM. Selain
itu, harga BBM yang tinggi akan mengurangi terjadinya penyelundupan serta
mengurangi pemborosan penggunaan BBM. Hal ini jelas menguntungkan bagi negara.
Untuk mengatasi menurunnya daya beli masyarakat miskin serta inflasi yang
terjadi, maka akan diberikan subsidi langsung yang besarnya Rp100.000/bulan
atau Rp1,2 juta/tahun.
Kini, saatnya kita semua harus berpikir rasional dan memahami persoalan ini
dengan benar. Kita berempati bahwa kita sekarang tengah sakit keras dan
memerlukan obat untuk menyembuhkannya.
Kenaikan harga BBM adalah obat 'pil pahit' bagi perekonomian nasional yang
sedang demam akibat tekanan virus harga BBM yang sangat tinggi. Jika kebijakan
ini terlambat diambil, maka obat tersebut tak mujarab lagi. Apabila kebijakan
ini tak diambil justru akan menyeret bangsa ini pada krisis moneter kedua.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Pil Pahit Kenaikan Harga BBM