[ppi] [ppiindia] Pertamina, Mesin Pemiskinan Rakyat

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/29/opini/2087153.htm

 
Pertamina, Mesin Pemiskinan Rakyat

Oleh: TAMRIN AMAL TOMAGOLA



Para teknokrat dan teknisi sistem ekonomi, sejak Orde Baru hingga kini, pasti 
akan menganggukkan kepala bahwa memang "tidak ada pilihan lain" selain 
menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM sekarang juga (Prof M Sadli, 
Kompas, 28 September 2005).

Anggukan mengiyakan jenis ini sebenarnya mempunyai dua sisi kontradiktif yang 
tak terelakkan dalam dirinya. Di satu pihak ia menerangi sisi ekonominya 
sekaligus ia-sengaja atau tidak- menggelapkan sisi-sisi lain yang justru lebih 
banyak.

Pemberian tekanan tunggal pada pertimbangan kinerja mesin ekonomi Indonesia 
sebagai subsistem ekonomi dunia, di mana harga BBM mencapai 70-an dollar AS per 
barrel, berpotensi mengabaikan (overlooking) bahkan berisiko menyesatkan 
pemahaman publik tentang faktor-faktor utama lain pada tataran institusional, 
tataran sosial, dan tataran empati moral-kepemimpinan yang berperan dalam 
gejolak ketersediaan dan harga BBM September 2005 ini.

Subsidi BBM

Keterjalinan antara faktor-faktor pada sistem ekonomi dan faktor-faktor pada 
tiga tataran lain yang baru disebut berturut-turut itu, secara tersirat diakui 
oleh pengaitan antara kebijakan menaikkan harga BBM dengan program kompensasi 
pengurangan subsidi BBM. Marilah kita cermati satu demi satu.

Pertama, tataran institusional. Peran Pertamina dalam gejolak BBM yang 
berpotensi merembet ke kilang-kilang politik dan sosial, amat dominan. Peran 
Pertamina paling kurang dipengaruhi tiga hal utama: tekanan politik rezim, 
kapabilitas teknologi perminyakan, dan tancapan jaringan benalu korupsi 
internal Pertamina. Di masa rezim Soeharto, dapat dikatakan, Pertamina 
dijadikan sapi perah Orde Baru.

Apalagi saat terjadi dua kali perang Arab-Israel. Sesudah reformasi, rezim 
partai politik mendapat giliran menjarah Pertamina. Bila kemudian terjadi 
gejolak harga minyak di pasar dunia, pemerintah bolak-balik menaikkan, 
istilahnya saat itu "menyesuaikan", harga BBM dalam negeri. Seiring dengan itu, 
rakyat lapisan bawah kian dimiskinkan dengan menggilanya lonjakan harga 
kebutuhan pokok.

Ketika surplus, Pertamina kian susut karena terus diisap oleh rezim politik 
tertentu. Secara internal, Pertamina kian dilemahkan oleh tiadanya kapabilitas 
teknologi penyulingan minyak dan cengkeraman benalu korupsi yang telah 
membudaya, mendarah daging dalam diri hampir semua pejabat Pertamina pada semua 
rentang jenjang kendali operasional.

Karena faktor tiadanya kapabilitas teknologi, Indonesia kini telah berubah dari 
negara neto-eksportir menjadi negeri neto-importir minyak.

Ihwal korupsi, kasus Tahir yang ramai di pengadilan dan penemuan berbagai 
pencurian serta penyelundupan BBM oleh orang dalam Pertamina yang terkuak 
akhir-akhir ini, menjadi bukti tak terbantahkan.

Surplus dana Pertamina yang kian susut itu diatasi dengan jalan yang paling 
mudah: naikkan harga minyak. Seiring dengan itu, pemiskinan rakyat semakin 
menjadi-jadi.

Beruntunnya kasus busung lapar, anak-anak bunuh diri karena orangtua tidak 
mampu membiayai pendidikan adalah beberapa puncak gunung es dari bukit 
kemiskinan yang kian meninggi. Mesin ekonomi Pertamina jelas menjadi generator 
utama dari mesin proses pemiskinan rakyat.

Program sinterklas

Hal kedua, pada tataran sosial. Bukit tinggi kemiskinan rakyat yang sudah 
kronis ini ingin diatasi secara sinterklas dengan membagi-bagi uang kontan tiap 
bulan Rp 100.000 kepada 15 jutaan keluarga miskin yang sempat didata Badan 
Pusat Statistik (BPS).

Jalan pintas absurd ini sempat membuat orang mengurut dada dan 
menggeleng-gelengkan kepala antara percaya dan tidak percaya sambil bergumam, 
"Oo sudah demikian panik dan suntuk kah pemerintah?"

Program sinterklas hampir bisa dipastikan akan gagal karena tiga alasan. 
Pertama, program ini sama sekali tidak didasarkan atas kajian tentang struktur 
anatomi kemiskinan yang solid. Akar persoalannya, berbagai mesin pemiskinan 
rakyat sama sekali tidak disentuh. Yang ditangani hanya produk dari proses 
pemiskinan, yaitu kemiskinan itu sendiri. Rakyat diberi ikan, bukan kail. 
Karena itu, program ini lebih berstatus obat analgesik yang hanya memberi 
kesembuhan semu.

Kedua, terkait erat dengan yang pertama, rakyat menjadi amat tergantung-karena 
itu terendahkan martabatnya sebagai manusia-secara parasitik pada belas kasihan 
paternalistik pemerintah. Tidak terjadi pemberdayaan rakyat. Yang terjadi 
justru pelemahan secara sistematik dari potensi dan kepercayaan diri rakyat 
untuk tegak mandiri.

Ketiga, dalam lingkup rumah tangga miskin, karena dana kompensasi diberikan 
kepada kepala keluarga yang sebagian besar laki-laki, terbuka kemungkinan dana 
itu lebih digunakan untuk kepentingan pribadi, seperti rokok, judi, dan 
kegiatan berfoya-foya lainnya. Rumah tangga miskin sebagai unit tidak tertolong 
sama sekali. Dalam jangka panjang, para istri/perempuan sama sekali tidak 
diberdayakan, seperti diinginkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Yang 
terjadi justru pelangsungan ketergantungan istri kepada suami sebagai kepala 
keluarga. Dana itu seharusnya diberikan kepada istri, seperti dilakukan Bank 
Dunia di Amerika Latin.

Keempat, yang lebih tragis, jalan pintas ini akan diterima dengan senyum 
dikulum sebagai down-payment politik Pemilu 2009, baik dari Presiden maupun 
Wakilnya seperti disiratkan karikatur Kompas (28/9/2005).

Hal ketiga, pada tataran empati moral politik kepemimpinan. Dalam rangka 
menyiapkan publik menyambut kenaikan harga BBM per 1 Oktober 2005, pemerintah 
menganjurkan agar rakyat bersedia berkorban dengan mengencangkan ikat pinggang.

Tidak tahukah pemerintah, saking miskinnya rakyat, kerangka badannya tinggal 
kulit pembalut tulang, karena itu mereka tidak punya pinggang lagi?

Sudah begitu tercerabutkah para pemimpin sehingga tidak tahu keadaan rakyat 
sesungguhnya? Lebih menyakitkan, para pemimpin terus menghamburkan uang negara 
ke luar negeri, membawa rombongan besar pejabat. Jalan-jalan macet penuh mobil 
kelas menengah dan atas serta mal-mal sesak dengan pengunjung dari kelas yang 
sama.

Presiden Franklin Delano Roosevelt dari AS ketika mencanangkan program ikat 
pinggang di tahun-tahun resesi ekonomi tigapuluhan, ia sertai dengan contoh 
kehidupan pribadi yang sederhana dan melayani dalam arti sepenuh-penuhnya dari 
dua kata itu, "sederhana" dan "melayani".

Di zaman revolusi dan susah, pribadi-pribadi seperti Dr Y Leimena, IJ Kasimo, 
Moh Natsir, dan Moh Hatta memberi teladan agung tentang ikat pinggang, hidup 
sederhana, dan melayani rakyat. Sekarang?

Dengan kenaikan harga BBM, rakyat berujar, "Bukan kenaikan harga yang menyayat 
hati kami, tetapi kemunafikan kemewahan telanjang yang kami kutuk".

Tamrin Amal Tomagola Sosiolog


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: