[ppi] [ppiindia] Periferi dalam Periferi

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **     

      Periferi dalam Periferi 

      Oleh: NONO ANWAR MAKARIM

      Kalau kehendak pemerintah terkabul, tahun depan akan muncul Partai 
Kebebasan Acheh. Kata bebas karangan saya, disengaja agar sedikit berbeda dari 
kata merdeka. Seperti GAM, partai yang disponsorinya juga sekuler. Namun, cepat 
atau lambat akan timbul kesadaran bahwa partai perlu menarik simpati para 
agamais.

      Belajar dari sejarah Aceh, GAM mengerti bahwa bila rakyat Aceh bergabung 
dengan para ulamanya, niscaya gelombang perjuangan mereka tak terbendung lagi.

      Mungkin satu tahun kemudian Sumatera akan mempunyai partai lokal pada 
tingkat provinsi. Ada Partai Sumatera Utara, Partai Batak, Partai Minang, 
Partai Riau, dan seterusnya.

      Mengingat wabah latah sudah menjadi gejala nasional, mungkin dalam waktu 
dua tahun di setiap kabupaten akan ada partai lokal. Dulu gejala Jong Java, 
Jong Ambon, Jong Sumatranen Bond, dan sebagainya merupakan reaksi terhadap 
tekanan jajahan Belanda. Bila partai lokal menjamur di mana-mana, ia adalah 
reaksi terhadap pemusatan kekuasaan di Jakarta.

      Para ahli nujum meramalkan bahwa partai lokal, terutama di daerah 
konflik, akan unggul dan menyisihkan partai nasional. Mereka menyebut tiga 
sebab: satu, partai nasional tidak akan berubah, akan terus dijadikan ladang 
garapan tokoh tunggalnya yang tinggal di Jakarta, dan karena itu sering 
mengalami perpecahan yang tak berkesudahan. Dua, Jakarta akan terus tersandung 
dalam hubungannya dengan daerah karena pejabatnya mengidap sikap sok tahu, dan 
karena dana pembangunan dari Jakarta cenderung tiba satu setengah tahun setelah 
proyek lokal diresmikan. Tiga, zaman sekarang politik identitas laku keras di 
mana-mana. Kedaerahan, kesukuan, dan agama gampang dimainkan untuk memobilisasi 
opini publik guna penyusunan kekuatan dan merebut kekuasaan. Epidemi etnisitas 
paling parah menghinggap di negara yang gagal merajut konsensus nasional.

      Para peramal juga bilang bahwa kelak akan muncul formasi ekonomi lintas 
perbatasan dan bersifat lebih alami. Aceh, seluruh Sumatera, dan sebagian dari 
Kalimantan, misalnya, mungkin akan mendekati Malaysia dan Singapura. Yang 
sekarang dijuluki penyelundupan, kelak akan diberi nama perdagangan. Sebagian 
dari Sulawesi akan ke Filipina, sebagian lagi akan dikuasai partai lokal Islam 
dan partai lokal Kristen yang tidak akan selalu bersahabat. Sebagian dari 
ekonomi Indonesia timur akan mendekati Australia dan Selandia Baru. Jawa, bekas 
keraton Indonesia itu, akan menyatu walaupun masih ada kemungkinan Partai 
Kesatuan Pasundan membawa sebagian wilayah Jawa Barat masuk ke zona 
persemakmuran Sumatera-Malaysia-Kalimantan. Tampaknya Padjadjaran belum bisa 
melupakan sebab musabab bunuh diri Putri Dyah Pitaloka.

      Pemicu etnisisme

      Gerak menjauh dari pusaran konsepsi semula tentang Indonesia bukan gejala 
baru. Dalam kurun waktu 15 tahun sejak kemerdekaan, Indonesia sudah mengalami 
sepuluh pemberontakan. Pada tahun 1950-an mulai mengamuk badai besar 
pembentukan universitas daerah. Tahun 1952 USU; tahun 1956 Unpad, Andalas, 
Hasanuddin, serta Pattimura; dan tahun 1959 Syiah Kuala. Tahun 1960 berdiri 
Universitas Sriwijaya, tahun 1961 Universitas Diponegoro, tahun 1962 Udayana 
dan Cenderawasih. Dari mana mereka memperoleh guru besar, infrastruktur fisik, 
dan perpustakaannya, saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah sesal kecewa 
almarhum Profesor Harsja Bachtiar, seorang tokoh pendidikan. Universitas daerah 
bukan lagi pemersatu melalui keagungan ilmu. Ia sudah tercampak menjadi pemicu 
etnisisme.

      Perlu dicari sebab musabab mengapa daerah berbaris menjauh dari ide NKRI. 
Berbeda dengan banyak negara tetangganya, kemerdekaan Indonesia bukan merupakan 
hadiah. Ia direbut dari tangan kolonial yang enggan melepaskannya, bahkan ingin 
merampasnya kembali dengan kekuatan militer.

      Walaupun di sana-sini ada yang mendukung, pada umumnya sekutu Barat 
merasa tidak suka milik anggotanya diambil penduduk setempat. Baik sebelum 
maupun sesudah proklamasi Indonesia, subversi asing terus merongrong. Itu 
sebabnya Bung Karno berhasil mengesankan Indonesia sebagai benteng terkepung. 
Kesan benteng terkepung ini didampingi pengetatan sentralisasi yang luar biasa 
dalam pemerintahan dan pelecehan terhadap kepentingan daerah. Pemecahan masalah 
tidak di meja musyawarah, tetapi di ujung bedil. Hasilnya adalah pemberontakan, 
konflik, dan fragmentasi kesatuan, sampai sekarang.

      Yang dipersoalkan di sini bukan introduksi partai lokal. Tanpa GAM pun 
orang dapat mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi tentang konflik antara 
UUD yang menjamin hak berserikat dan undang-undang yang mencegah pembentukan 
partai lokal. Yang bikin orang gelisah adalah refleks politik yang di masa lalu 
cenderung memberi konsesi lebih dari yang diperlukan situasi dan kondisi yang 
dihadapi. Orang teringat pada refleks pemerintah dalam soal Timor Timur. Ada 
anggapan bahwa provinsi yang sejak semula bukan hak kita itu bisa dilepaskan 
dengan cara yang lebih elegan, dalam waktu yang kita tentukan sendiri asal 
dilakukan dengan diplomasi real-politics.

      Aceh menuntut keadilan di ujung bedil GAM, suatu kekuatan sekuler. Yang 
diberi adalah syariah. Irian juga menuntut keadilan yang tak kunjung diberikan. 
Yang diberikan adalah penggantian nama: Irian menjadi Papua. Pengubahan nama 
itu menghapus sejarah perjuangan dan pengorbanan merebut Irian.

      Yang dipermasalahkan di sini adalah bahwa dalam lingkungan multikonflik, 
hendaknya tuntutan dan konsesi diramu dalam proporsi yang wajar. Konsekuensi 
setiap kompromi hendaknya dihitung sampai setiap ujungnya. Yang membuat orang 
cemas adalah prospek menjamurnya partai lokal berdasarkan asas etnisitas, tanpa 
kesadaran bahwa dalam skala mikro di daerah pun akan muncul lagi realitas 
kebinekaan Indonesia.

      Para antropolog bilang, di Aceh saja, misalnya, ada 8 suku dan banyak 
subsuku. Sungguh ironis bila beberapa tahun setelah partai lokal berdiri muncul 
problem yang sama, seperti friksi pusat-daerah, kali ini di dalam skala daerah. 
Teori dependencia menggambarkan eksploitasi negara miskin yang disebut 
periphery oleh negara kaya yang diberi nama center. Di daerah multietnik dan 
multisengketa seperti Indonesia bisa muncul gejala periferi dalam periferi.

      Satu contoh: ketika masih bernama Abdurrahman Wahid ia pernah berkelakar 
tentang gagasannya menghapus bahasa Arab dari ibadah orang Indonesia. Yang 
mempraktikkan gagasan itu bukan bekas presiden, tetapi orang lain. Di Jawa 
Timur, daerah Abdurrahman Wahid, pengikutnya sendiri menentang keras. 
Pemerintah daerah turun tangan, berpihak, dan melarang. Tangan pemerintah 
dipakai untuk memenangkan mayoritas dan mengalahkan minoritas.

      Di daerah Bogor ada suatu kampus minoritas aliran agama yang berkegiatan 
damai dan sopan santun sejak zaman kolonial. Massa yang selesai berjamaah Jumat 
beramai-ramai menyerang dan mengusir orang dari kampus itu. Pemerintah daerah 
turun tangan lagi, berpihak, dan melarang kegiatan Ahmadiyah di wilayah 
kekuasaannya. Sekali lagi tangan pemerintah daerah dipakai untuk memenangkan 
mayoritas dan mengalahkan minoritas. Periferi dalam periferi. Dalam konteks 
semacam ini paling sedikit perlu diperbincangkan lebih lanjut: apakah partai 
lokal solusi atau masalah?

      Nono Anwar Makarim Ketua Badan Pelaksana Yayasan AKSARA

      http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/30/opini/1932757.htm
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hstnjv7/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122680152/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>DonorsChoose.
 A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in 
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: