[ppi] [ppiindia] Periferi dalam Periferi
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 29 Jul 2005 23:35:48 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Periferi dalam Periferi
Oleh: NONO ANWAR MAKARIM
Kalau kehendak pemerintah terkabul, tahun depan akan muncul Partai
Kebebasan Acheh. Kata bebas karangan saya, disengaja agar sedikit berbeda dari
kata merdeka. Seperti GAM, partai yang disponsorinya juga sekuler. Namun, cepat
atau lambat akan timbul kesadaran bahwa partai perlu menarik simpati para
agamais.
Belajar dari sejarah Aceh, GAM mengerti bahwa bila rakyat Aceh bergabung
dengan para ulamanya, niscaya gelombang perjuangan mereka tak terbendung lagi.
Mungkin satu tahun kemudian Sumatera akan mempunyai partai lokal pada
tingkat provinsi. Ada Partai Sumatera Utara, Partai Batak, Partai Minang,
Partai Riau, dan seterusnya.
Mengingat wabah latah sudah menjadi gejala nasional, mungkin dalam waktu
dua tahun di setiap kabupaten akan ada partai lokal. Dulu gejala Jong Java,
Jong Ambon, Jong Sumatranen Bond, dan sebagainya merupakan reaksi terhadap
tekanan jajahan Belanda. Bila partai lokal menjamur di mana-mana, ia adalah
reaksi terhadap pemusatan kekuasaan di Jakarta.
Para ahli nujum meramalkan bahwa partai lokal, terutama di daerah
konflik, akan unggul dan menyisihkan partai nasional. Mereka menyebut tiga
sebab: satu, partai nasional tidak akan berubah, akan terus dijadikan ladang
garapan tokoh tunggalnya yang tinggal di Jakarta, dan karena itu sering
mengalami perpecahan yang tak berkesudahan. Dua, Jakarta akan terus tersandung
dalam hubungannya dengan daerah karena pejabatnya mengidap sikap sok tahu, dan
karena dana pembangunan dari Jakarta cenderung tiba satu setengah tahun setelah
proyek lokal diresmikan. Tiga, zaman sekarang politik identitas laku keras di
mana-mana. Kedaerahan, kesukuan, dan agama gampang dimainkan untuk memobilisasi
opini publik guna penyusunan kekuatan dan merebut kekuasaan. Epidemi etnisitas
paling parah menghinggap di negara yang gagal merajut konsensus nasional.
Para peramal juga bilang bahwa kelak akan muncul formasi ekonomi lintas
perbatasan dan bersifat lebih alami. Aceh, seluruh Sumatera, dan sebagian dari
Kalimantan, misalnya, mungkin akan mendekati Malaysia dan Singapura. Yang
sekarang dijuluki penyelundupan, kelak akan diberi nama perdagangan. Sebagian
dari Sulawesi akan ke Filipina, sebagian lagi akan dikuasai partai lokal Islam
dan partai lokal Kristen yang tidak akan selalu bersahabat. Sebagian dari
ekonomi Indonesia timur akan mendekati Australia dan Selandia Baru. Jawa, bekas
keraton Indonesia itu, akan menyatu walaupun masih ada kemungkinan Partai
Kesatuan Pasundan membawa sebagian wilayah Jawa Barat masuk ke zona
persemakmuran Sumatera-Malaysia-Kalimantan. Tampaknya Padjadjaran belum bisa
melupakan sebab musabab bunuh diri Putri Dyah Pitaloka.
Pemicu etnisisme
Gerak menjauh dari pusaran konsepsi semula tentang Indonesia bukan gejala
baru. Dalam kurun waktu 15 tahun sejak kemerdekaan, Indonesia sudah mengalami
sepuluh pemberontakan. Pada tahun 1950-an mulai mengamuk badai besar
pembentukan universitas daerah. Tahun 1952 USU; tahun 1956 Unpad, Andalas,
Hasanuddin, serta Pattimura; dan tahun 1959 Syiah Kuala. Tahun 1960 berdiri
Universitas Sriwijaya, tahun 1961 Universitas Diponegoro, tahun 1962 Udayana
dan Cenderawasih. Dari mana mereka memperoleh guru besar, infrastruktur fisik,
dan perpustakaannya, saya tidak tahu. Yang saya tahu adalah sesal kecewa
almarhum Profesor Harsja Bachtiar, seorang tokoh pendidikan. Universitas daerah
bukan lagi pemersatu melalui keagungan ilmu. Ia sudah tercampak menjadi pemicu
etnisisme.
Perlu dicari sebab musabab mengapa daerah berbaris menjauh dari ide NKRI.
Berbeda dengan banyak negara tetangganya, kemerdekaan Indonesia bukan merupakan
hadiah. Ia direbut dari tangan kolonial yang enggan melepaskannya, bahkan ingin
merampasnya kembali dengan kekuatan militer.
Walaupun di sana-sini ada yang mendukung, pada umumnya sekutu Barat
merasa tidak suka milik anggotanya diambil penduduk setempat. Baik sebelum
maupun sesudah proklamasi Indonesia, subversi asing terus merongrong. Itu
sebabnya Bung Karno berhasil mengesankan Indonesia sebagai benteng terkepung.
Kesan benteng terkepung ini didampingi pengetatan sentralisasi yang luar biasa
dalam pemerintahan dan pelecehan terhadap kepentingan daerah. Pemecahan masalah
tidak di meja musyawarah, tetapi di ujung bedil. Hasilnya adalah pemberontakan,
konflik, dan fragmentasi kesatuan, sampai sekarang.
Yang dipersoalkan di sini bukan introduksi partai lokal. Tanpa GAM pun
orang dapat mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi tentang konflik antara
UUD yang menjamin hak berserikat dan undang-undang yang mencegah pembentukan
partai lokal. Yang bikin orang gelisah adalah refleks politik yang di masa lalu
cenderung memberi konsesi lebih dari yang diperlukan situasi dan kondisi yang
dihadapi. Orang teringat pada refleks pemerintah dalam soal Timor Timur. Ada
anggapan bahwa provinsi yang sejak semula bukan hak kita itu bisa dilepaskan
dengan cara yang lebih elegan, dalam waktu yang kita tentukan sendiri asal
dilakukan dengan diplomasi real-politics.
Aceh menuntut keadilan di ujung bedil GAM, suatu kekuatan sekuler. Yang
diberi adalah syariah. Irian juga menuntut keadilan yang tak kunjung diberikan.
Yang diberikan adalah penggantian nama: Irian menjadi Papua. Pengubahan nama
itu menghapus sejarah perjuangan dan pengorbanan merebut Irian.
Yang dipermasalahkan di sini adalah bahwa dalam lingkungan multikonflik,
hendaknya tuntutan dan konsesi diramu dalam proporsi yang wajar. Konsekuensi
setiap kompromi hendaknya dihitung sampai setiap ujungnya. Yang membuat orang
cemas adalah prospek menjamurnya partai lokal berdasarkan asas etnisitas, tanpa
kesadaran bahwa dalam skala mikro di daerah pun akan muncul lagi realitas
kebinekaan Indonesia.
Para antropolog bilang, di Aceh saja, misalnya, ada 8 suku dan banyak
subsuku. Sungguh ironis bila beberapa tahun setelah partai lokal berdiri muncul
problem yang sama, seperti friksi pusat-daerah, kali ini di dalam skala daerah.
Teori dependencia menggambarkan eksploitasi negara miskin yang disebut
periphery oleh negara kaya yang diberi nama center. Di daerah multietnik dan
multisengketa seperti Indonesia bisa muncul gejala periferi dalam periferi.
Satu contoh: ketika masih bernama Abdurrahman Wahid ia pernah berkelakar
tentang gagasannya menghapus bahasa Arab dari ibadah orang Indonesia. Yang
mempraktikkan gagasan itu bukan bekas presiden, tetapi orang lain. Di Jawa
Timur, daerah Abdurrahman Wahid, pengikutnya sendiri menentang keras.
Pemerintah daerah turun tangan, berpihak, dan melarang. Tangan pemerintah
dipakai untuk memenangkan mayoritas dan mengalahkan minoritas.
Di daerah Bogor ada suatu kampus minoritas aliran agama yang berkegiatan
damai dan sopan santun sejak zaman kolonial. Massa yang selesai berjamaah Jumat
beramai-ramai menyerang dan mengusir orang dari kampus itu. Pemerintah daerah
turun tangan lagi, berpihak, dan melarang kegiatan Ahmadiyah di wilayah
kekuasaannya. Sekali lagi tangan pemerintah daerah dipakai untuk memenangkan
mayoritas dan mengalahkan minoritas. Periferi dalam periferi. Dalam konteks
semacam ini paling sedikit perlu diperbincangkan lebih lanjut: apakah partai
lokal solusi atau masalah?
Nono Anwar Makarim Ketua Badan Pelaksana Yayasan AKSARA
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/30/opini/1932757.htm
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hstnjv7/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122680152/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">DonorsChoose.
A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Periferi dalam Periferi