[ppi] [ppiindia] Perhatikan Kami Dulu yang di Dalam
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 27 Sep 2005 03:39:21 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/27/Politikhukum/2081735.htm
Perhatikan Kami Dulu yang di Dalam
Tata, salah seorang cleaning service, bekerja di lingkungan Istana
Kepresidenan. Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan nomor
telepon pribadinya, Juni lalu, Tata termasuk rakyat yang langsung mengirim
pesan layanan pendek (short message service/SMS) ke nomor Presiden 9949, lewat
telepon bekas yang dibelinya sangat murah sekali.
Isi SMS-nya meminta agar Presiden memerhatikan nasib pekerja harian di
lingkungan Istana Kepresidenan. "Saya ingin Presiden memerhatikan nasib kami
sebelum Presiden memerhatikan nasib mereka yang ada di luar Istana. Kalau
Presiden bisa menyejahterakan kami, tentu Presiden juga bisa menyejahterakan
rakyatnya dari Sabang sampai Merauke," ujar Tata.
Menurut anggota staf khusus Presiden Yudhoyono bidang hukum dan pemberantasan
korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), yang juga merangkap pengelola PO Box dan
SMS, Sardan Marbun, SMS Tata termasuk kategori yang tidak bisa ditanggapi.
Presiden Yudhoyono hanya menanggapi isi SMS yang terkait pada kepentingan
nasional dan kesejahteraan banyak orang.
"Kebijakan yang akan diambil Presiden bukan hanya untuk kesejahteraan secara
individual orang per orang dan kelompok, tetapi secara menyeluruh dan bersifat
nasional. Karena itu, Presiden tidak menjawabnya. Seperti halnya Presiden juga
tidak menanggapi SMS yang meminta uang dan meminta diberikan handphone," kata
Sardan ketika ditanya soal SMS tersebut hari Jumat (23/9) lalu di Kantor
Presiden.
Tata boleh saja kecewa. Namun, memang, Presiden tak boleh hanya memikirkan
kepentingan segelintir orang. Maka, pekerja harian yang dikontrak PT Tri
Sejahtera dan tak mau disebutkan namanya secara lengkap ketika diwawancarai
Kompas itu tak bisa berbuat apa-apa. Harapannya mengirim SMS akan mendapat
perbaikan penghasilan pupus. Ia kini harus menjalani rutinitasnya kembali
sebagai cleaning service dengan honor yang amat kurang di tengah-tengah
kehidupan metropolitan.
Perusahaan tempatnya bekerja adalah salah satu perusahaan jasa kebersihan yang
dikontrak Sekretariat Negara (Setneg) untuk mengerjakan kebersihan dan
pelayanan umum di Istana Merdeka, Istana Negara, dan Kantor Presiden.
Setidaknya ada tiga perusahaan jasa cleaning service yang disewa Setneg, yakni
Tri Sejahtera, PT Wikumas, dan satu perusahaan lainnya.
"Saya sudah bekerja tiga tahunan lebih, tetapi honor saya masih Rp 250.000 per
bulan. Kalau ada lemburan, saya bawa pulang sekitar Rp 300.000 hingga Rp
350.000 setiap bulan. Boro-boro tunjangan kesehatan, transportasi aja kagak
ada," ujar Tata, yang rumahnya di pelosok Bekasi.
Menurut Tata, nasibnya lebih beruntung karena dia baru bekerja tiga tahunan.
"Masih ada teman-teman saya yang kerjanya sudah puluhan tahun di sini, tetapi
honornya sama, masih Rp 250.000 per bulannya. Paling besar mereka terima Rp
350.000," ujar Tata.
Tata memang tidak sendirian. Di tempat Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla,
banyak juga karyawan honorer Sekretariat Wapres yang gajinya seperti Tata.
Honornya Rp 280.000 per bulan. Sedangkan honor cleaning service jauh lebih
kecil lagi, yaitu hanya Rp 150.000 per bulan.
"Kalau di Wapres ada acara besar dan kami harus bantu, honornya ditambah Rp
10.000 per hari. Jadi, kadang-kadang kami bawa pulang untuk anak istri Rp
200.000-Rp 250.000 per bulan," ujar Ujang-sebutlah begitu-cleaning service PT
Jakarta Service Company (JSC) yang disewa Sekretariat Wapres. Selain JSC,
perusahaan jasa kebersihan yang disewa Sekretariat Wapres adalah PT Kurnia.
Suka atau tidak suka, tentu mereka harus menjalaninya. Di tengah lapangan
pekerjaan yang sulitnya setengah mati, pekerjaan sebagai cleaning service apa
boleh buat harus dilakukan. Orang-orang seperti Tata dan Ujang memang hanya
tamatan sekolah menengah umum (SMU) yang tidak mampu meneruskan sekolah lebih
lanjut. Masih jutaan orang yang nasibnya seperti Tata dan Ujang.
Bekerja di lingkungan Istana Kepresidenan hanyalah salah satu pilihan
pekerjaan. "Orang kampung saya tahunya saya kerja di Istana. Dikira gajinya
gede, tetapi nyatanya susah banget. Kalau Presiden rapat berjam- jam atau ada
acara hingga larut malam, saya terpaksa harus keluar ongkos lebih mahal lagi
karena kendaraan umum sudah tak ada. Yang ada hanya ojek," ujar Tata, yang jika
lembur mendapat tambahan Rp 10.000 per hari.
Jika dibandingkan dengan penghasilan orang-orang baru yang notabene bukan
pegawai negeri sipil, tetapi kini tiba-tiba mempunyai tanda pengenal bintang
yang dikeluarkan Setneg dan bekerja di Istana Kepresidenan dan Wapres-setelah
Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla menjadi Presiden dan Wapres-tentu
tidak sama.
Di Istana Presiden, orang- orang baru yang mengenakan tanda bintang itu minimal
mendapat honor Rp 2,5 juta per bulan-belum tunjangan transportasi dan handphone
lainnya-sedangkan di Istana Wapres minimal Rp 1 juta.
Kalau Presiden Yudhoyono dalam hal pemberantasan KKN pernah menyatakan akan
memulainya dari lingkungan "rumah"-nya sendiri, tentu juga beralasan jika para
cleaning service dan pegawai honorer lainnya di Istana berharap Presiden dan
Wapres itu memulainya juga dengan menyejahterakan lingkungan "rumah"-nya
sendiri, khususnya bagi pegawai kecil dan pekerja harian seperti Tata dan
Ujang. (SUHARTONO)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Perhatikan Kami Dulu yang di Dalam