[ppi] [ppiindia] Penyelundup Babi hanya Didenda Rp 1 Juta, Ada Apa?

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/8/1/b1.htm

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Penyelundup Babi hanya Didenda Rp 1 Juta, Ada Apa?

Peternak sangat kecewa dengan putusan pengadilan yang hanya mendenda Rp 1 juta 
pelaku penyelundupan babi yang ditangkap Polsek Abiansemal. Puluhan babi yang 
dititipkan di Rumah Potong Hewan (RPH) Mambal kini sudah tidak ada lagi di 
tempat penitipan. Wakil Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi (GUBPI) Propinsi 
Bali Wayan Sulatra, Jumat (29/7) lalu menilai hukuman yang diberikan tidak 
setimpal dengan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh adanya penyelundupan babi 
ini. Terlebih dikhawatirkan babi yang masuk ke Bali itu terindikasi flu burung, 
karena lokasi daerah peternakan asal babi-babi itu cukup dekat dengan daerah 
yang ternak babinya mati akibat flu burung. Tak heran kalau kemudian muncul 
tanda tanya besar, kenapa dendanya sekecil itu? Apakah itu uang perdamaian yang 
masuk di kantong oknum tertentu? Apakah pengadilan tidak memikirkan dampaknya 
bagi Bali jika benar babi tersebut terjangkit virus AI. Sedangkan tanpa ada 
virus maut pun peternak babi Bali sudah menderita kerugian 
 akibat masuknya babi dari luar yang membuat harga pasar anjlok. Sepertinya 
pihak Disnak dan polisi main-main atau tidak serius menangani masalah ini. Yang 
harus dipikirkannya adalah peternak babi lokal. Sebab, yang namanya 
penyeludupan entah babi atau apa saja, ujungnya merugikan masyarakat Bali. 
Demikian antara lain pendapat dalam acara Warung Global yang disiarkan langsung 
Radio Global FM Bali 96,5 Kinijani, Sabtu (30/7) lalu. Acara ini juga 
dipancarluaskan oleh Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. 
Berikut rangkuman selengkapnya. 





Natri di Denpasar bertanya mempertanyakan cepatnya proses peradilan terhadap 
pelaku penyelundupan babi tersebut, sementara kasus lainnya bisa lama. Tetapi 
sangat disesalkannya kalau pelaku hanya didenda Rp 1 juta. Menurut Natri, kita 
juga tidak tahu apakah babi-babi itu sehat atau terkena virus. Selain itu, babi 
yang dibawa ke Bali sebanyak 49 ekor dan mati 2 ekor, bangkainya ke mana? 
Jangan-jangan bangkai ini menjadi cikal-bakal flu burung kalau sudah mengidap 
virus tersebut. Dia mengaku tidak habis pikir, kenapa dilepas begitu saja 
dengan denda Rp 1 juta. Apakah di rumah potong hewan tersebut tidak ada 
petugas? Ini juga adalah kecerobohan dari Dinas Peternakan dan pihak 
Kepolisian, kenapa tidak dijaga dengan ketat. 

Dewa Kakiang di Denpasar menilai denda tersebut terlalu rendah. Sebenarnya 
seandainya mengandung penyakit flu burung ini akan menghancurkan Bali. Dendanya 
terlalu kecil jika dibandingkan dengan harga babinya. Anggap saja satu ekor 
babi harganya Rp 1 juta rupiah. Menurut dia seharusnya dendanya mencapai 
seratus juta rupiah. 

Sementara itu, menurut Maria di Sidakarya, keputusan tersebut mengesankan bahwa 
sepertinya main-main atau tidak serius menangani masalah ini. Yang harus 
dipikirkannya adalah peternak babi lokal. Sebab, yang namanya penyeludupan 
entah babi atau apa saja, ujungnya merugikan masyarakat Bali. Di sinilah 
seharusnya ada efek jera. Kalau hanya satu juta rupiah tidak ada artinya. Hal 
demikian menyebabkan penyelundup-penyelundup lain akan mengulangi perbuatannya 
karena sanksinya sangat ringan. Harapannya, pihak terkait agar lebih serius 
menanganinya, pikirkanlah kerugian yang harus diderita oleh peternak lokal. 
Tetapi, jika memang Bali membutuhkan babi luar agar disesuaikan atau diatur 
dengan prosedur yang benar. 

De Rai di Denpasar menjelaskan bahwa di Bali masyarakatnya rata-rata 80% 
memelihara babi. Kedatangan babi-babi dari luar Bali ini telah mematikan 
pasaran babi di Bali. Di samping itu, dulu dikatakan sudah distop tetapi masih 
juga terjadi, pasti ada main di Gilimanuk. Ini juga terkait harga makanan 
ternak babi di Bali yang tinggi, sementara di Jawa lebih murah. Kalau 
memelihara babi saat ini Bali sebenarnya tidak dapat, ini hanya menguntungkan 
untuk  babi potong karena memperoleh dari luar. 

Mentri di Blahbatuh merasa prihatin, dan seharusnya diberikan penghargaan 
karena telah berhasil menerobos pos-pos penjagaan, dan bisa menguak 
kebobrokan-kebobrokan petugas.

Sementara Ajik Binong di Mengwi mengucapkan salut kepada Polsek Abiansemal. Dia 
mengaku sebagai peternak babi kecil hasilnya kecil atau tidak seberapa, tetapi 
momennya tepat. Pada umumnya orang Bali rata-rata memelihara babi. Menjualnya 
kalau mendesak, misalnya untuk membayar sekolah anaknya. Belakangan ini 
penjualan ternak babi menurun, baru kentara karena ada oknum-oknum yang tidak 
bertanggung jawab memasukkan babi ke Bali. Berkaitan dengan itu dia pun 
bertanya, kalau babi masuk ke Bali tentu melewati Gilimanuk dan melewat 
pos-pos, ada apa? Selanjutnya dia bertanya, ke mana arah babi yang telah 
dipakai barang bukti oleh Polsek Abiansemal, dan apakah orangnya menjadi 
tersangka secara yuridis? 

Ugik di Kediri Tabanan mengucapkan terima kasih kepada bapak-bapak di Polsek 
Abiansemal yang telah melakukan tugas dengan baik, benar dan terpuji, semoga 
mendapat balasan. 

Komang di Kerobokan bertanya, di mana aparat kepolisian yang memberantas 
penyakit-penyakit masyarakat judi, narkoba, namun penyeludup ini sampai lepas 
atau masuk Bali. Inilah perlunya Bapak Mangku Pastika (Kapolda Bali-red) 
menghapus penyakit-penyakit petugas atau aparatnya supaya cepat mengantisipasi 
kalau seeorang yang melanggar aturan yang telah ditentukan. Memang dalam 
keputusan pengadilan ada yang menguntungkan dan kecewa, tetapi bisa berubah 
kalau ada uang.

Sementara itu, Wili di Mengwi tidak setuju dengan jumlah denda hanya satu juta 
rupiah, karena di desa-desa kerugian yang timbul akibat adanya penyelundupan 
babi dari Jawa ke Bali sangat besar. Jika dulu harga anak babi per ekor Rp 
300.000, kini hanya Rp 100.000. Sehingga kerugian per-KK mencapai dua juta 
rupiah, karena babi beranak sampai sepuluh ekor. 

Made Mastra di Abiansemal merasa aneh dan tumben mendengar penyelundup hanya 
didenda satu juta. Dia juga memelihara babi, dijual Rp 300.000/ekor. Dulu Dinas 
Peternakan pernah didemo setelah itu harga babi naik sampai Rp 9.500/per 
kilogram, beberapa bulan setelah itu turun Rp 8.500, namun setelah adanya babi 
dari Jawa harganya mencapai Rp 7.000/kg hidup, dan sekarang paling-paling laku 
Rp 150.000/ekor. Ini yang mengherankannya, apakah Dinas Peternakan perlu didemo 
lagi agar harga babi stabil. Kalau dibiarkan begitu sepertinya ada permainan 
antara Dinas Peternakan dengan pengusaha babi tersebut. Katanya ada kontrak. 
Sebagai masyarakat yang punya usaha babi kecil, Mastra merasa dirugikan. Kalau 
dirinya pengusaha dari Jawa maka akan terus mengirim walaupun didenda hanya Rp 
1 juta. 

Namun, menurut Putu Suarjana di Singaraja, bukan masalah dendanya, tetapi 
sesuai yang diberitakan bahwa babi tersebut sudah terindikasi terjangkit virus 
AI. Yang menjadi pertanyaan besar, kalau sudah terindikasi virus AI kenapa babi 
tersebut bisa dilepas? Jangan-jangan denda satu juta tersebut uang perdamaian. 
Yang lebih ditakutkannya lagi, uang perdamaian itu masuk di kantong.
* panca


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hqr2ki1/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122847890/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998";>1.2
 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: