[ppi] [ppiindia] Pendidikan dan Kesehatan, Sebuah Ironi
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 21 Oct 2005 14:04:27 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.suarapembaruan.com/News/2005/10/21/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Pendidikan dan Kesehatan, Sebuah Ironi
1 Tahun
SBY-JK
"...SAYA akan mengupayakan pendidikan murah. Pendidikan harus menyentuh mereka
yang sangat miskin. Mereka yang miskin perlu mendapat proteksi dan bantuan
termasuk dalam bidang pendidikan," kata Susilo Bambang Yudhoyono dalam dialog
"Penajaman Visi, Misi, dan Program Capres- Cawapres" yang diselenggarakan
Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta, 16 September 2004.
Pada penutupan masa kampanye putaran pertama, Yudhoyono berujar, "Peningkatan
mutu pendidikan akan saya dorong dengan melakukan upaya-upaya pengembangan
sarana dan prasarana pendidikan yang baik dan berkualitas, meningkatkan
kompetensi dan profesionalisme guru dan tenaga pendidik lainnya, meningkatkan
kesejahteraan guru, dan menyempurnakan manajemen pendidikan."
Sedangkan di bidang kesehatan, Yudhoyono setuju dengan pemberlakuan asuransi
sosial kesehatan bagi seluruh rakyat. "Saya setuju untuk memberlakukan asuransi
sosial kesehatan bagi seluruh rakyat. Tujuannya agar masyarakat bisa
mendapatkan pelayanan kesehatan gratis di rumah sakit," katanya saat berdialog
dengan Masyarakat Profesi Kesehatan di Jakarta, 29 Agustus 2004.
Hak Dasar
Lebih jauh ia mengatakan pemerataan layanan kesehatan merupakan hak dasar
masyarakat yang harus terpenuhi. "Saya mendorong untuk terus dilakukannya
peningkatan pencegahan penyakit menular, peningkatan upaya imunisasi, penurunan
angka kematian ibu dan anak, pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas
kesehatan dasar, peningkatan dan ketersediaan petugas kesehatan, obat dan
perbekalan kesehatan, mendorong berkembangnya industri obat di Indonesia, serta
perbaikan pengawasan obat dan makanan," katanya.
Itulah sebagian kecil cuplikan janji-janji kampanye calon presiden yang
diajukan Partai Demokrat. Bersama Jusuf Kalla, Yudhoyono sepakat, bidang
pendidikan dan kesehatan merupakan program prioritas bagi kesejahteraan rakyat.
Lalu bagaimana realisasinya setelah setahun berkuasa?
Pemahaman mengenai pentingnya investasi sumber daya manusia (SDM) tampaknya
belum sepenuhnya dimiliki oleh pemimpin bangsa ini. Kemiskinan hanya bisa
dihapus melalui pemberian pendidikan yang baik dan itu merupakan investasi SDM,
yang tentu saja ditopang oleh bidang kesehatan.
Sampai saat ini ternyata pendidikan belum mendapat prioritas dari pemerintah.
Hal itu terbukti dari minimnya tanggung jawab negara terhadap pembiayaan
pendidikan.
Berdasarkan data Balitbang Depdiknas, di tingkat SD dan SMP, 70-80 persen biaya
pendidikan dikeluarkan oleh masyarakat. Padahal dalam UU Sistem Pendidikan
Nasional (Sisdiknas), Pasal 34 ayat 2 secara tegas disebutkan mengenai
kewajiban pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya
wajib belajar pada jenjang pendidikan dasar tanpa dipungut biaya.
Dengan landasan itu, pemerintah pernah memberikan angin segar dengan
mengeluarkan pernyataan akan menyediakan pendidikan gratis untuk pendidikan
dasar. Tetapi dalam kenyataan di lapangan, konsep pendidikan dasar gratis
disempitkan menjadi gratis terbatas.
Menurut Kepala Divisi Monitoring Indonesian Corruption Watch (ICW) Ade Irawan,
kebijakan pemerintah memberikan pendidikan gratis terkesan sangat tidak serius.
Tanpa konsep yang jelas, pemerintah hanya menyampaikan jargon politik tentang
pendidikan gratis. Pemerintah sebetulnya sudah tahu bahwa dengan anggaran Rp
5,13 triliun, tidak mungkin ada pendidikan gratis. Akhirnya kebijakan yang
keluar adalah pendidikan gratis terbatas.
Selain dari segi pendanaan sangat kurang, kelemahan BOS adalah tidak dibukanya
ruang publik untuk melakukan pengawasan. Sekolah maupun pemerintah daerah dapat
dengan mudah melakukan mark up jumlah siswa penerima dana tersebut.
Sedangkan Abduhzen, aktivis Koalisi Pendidikan, melihat adanya kecenderungan
pemerintah selalu menuntut partisipasi masyarakat dalam pembiayaan pendidikan.
Padahal, sudah jelas pihak yang paling mampu menyelenggarakan pendidikan gratis
adalah pemerintah.
Sejauh ini berbagai kalangan menilai pemerintah tidak memiliki political will
untuk memperbaiki dunia pendidikan, sehingga langkah yang bisa ditempuh adalah
menggugah kesadaran masyarakat untuk menuntut tanggung jawab pemerintah di
bidang pendidikan.
Kegiatan Kuratif
Di bidang kesehatan pun, kondisinya tak jauh berbeda. Berbagai persoalan
kesehatan masyarakat belum sanggup ditangani dengan baik. Kasus busung lapar,
demam berdarah dengue (DBD), tuberkulosis, diare, polio, dan flu burung,
menunjukkan ketidakberdayaan pemerintah memberikan pelayanan kesehatan kepada
rakyatnya.
Menurut pengamat kesehatan dr Kartono Mohamad, berbagai wabah penyakit yang
menimpa negeri ini, memang bukan semata-mata kesalahan pemerintahan sekarang,
tetapi merupakan ledakan "bom waktu" yang ditinggal pemerintahan-pemerintahan
sebelumnya.
Kebijakan pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,
sebenarnya sudah dilakukan sejak masa kepemimpinan Presiden Soeharto dengan
mendirikan puskesmas di setiap kecamatan, bahkan di kelurahan. Tetapi, yang
menjadi persoalan bukan hanya mendekatkan pelayanan secara fisik karena
ternyata kedekatan itu tidak banyak membawa dampak terhadap peningkatan
kesehatan masyarakat. "Seharusnya ditingkatkan menjadi kedekatan secara program
yang terarah," ujarnya.
Baru-baru ini, misalnya, terdengar niat untuk merevitalisasi pos pelayanan
terpadu (posyandu), tetapi belakangan nyaris tak terdengar lagi. Bahkan, dalam
kesempatan bertemu dengan dokter-dokter puskesmas di wilayah DKI Jakarta
beberapa waktu yang lalu, Kartono menyatakan mereka masih belum tahu bagaimana
merevitalisasi posyandu. Masalah yang dikeluhkan terutama adalah ketiadaan
anggaran.
Pelayanan kesehatan bagi warga miskin juga masih sekadar the bleeding heart
reaction dari Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, yang kebetulan seorang
ibu. Pelayanan kesehatan gratis untuk keluarga miskin (gakin) seperti sekarang
ini mungkin populer secara politis, tetapi tidak akan membawa dampak besar bagi
kesehatan rakyat.
Alasannya, pertama, dana yang lebih dimanfaatkan untuk kegiatan kuratif, yang
merupakan satu bagian dari program kesehatan yang paling kecil dampaknya
terhadap peningkatan derajat kesehatan.
Kedua, hal itu tidak edukatif, karena selain membuat ketergantungan, juga kelak
ketika dana habis, keluarga miskin tetap akan sakit-sakitan karena mereka tetap
tidak tahu bagaimana mem- buat dirinya tidak sakit.
Kondisi yang paling memprihatinkan saat ini adalah komersialisasi di bidang
kesehatan. Biaya berobat menjadi semakin mahal dan harga obat-obatan pun
membubung. Pemerintah masih beranggapan sektor kesehatan adalah sumber
penghasilan. Pemerintah seolah melupakan tanggung jawab memberikan pelayanan
kesehatan bagi rakyatnya. Sungguh ironis! (A-22/N-4/A-16)
--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 21/10/05
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Pendidikan dan Kesehatan, Sebuah Ironi