[ppi] [ppiindia] Pendidikan Telah Kehilangan Roh

** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Media Indonesia
      Senin, 29 Maret 2004

      PENDIDIKAN

      Pendidikan Telah Kehilangan Roh
     
      JAKARTA (Media): Chairman Executive UNESCO Indonesia, Arief Rahman, 
mengatakan pendidikan di Indonesia telah kehilangan rohnya.

      Para penyelenggara pendidikan berlaku seperti robot yang hanya nurut 
perintah tuannya.

      "Semua sibuk dengan dengan nilai, sibuk dengan gelar, sibuk dengan 
kurikulum yang sudah fixed. Kita tidak disibukkan dengan hati nurani lagi," 
kata Arief usai menutup international Education and Resources Network National 
(iEARN) Teacher Training Workshop, pekan lalu.

      Padahal, tambah kepala sekolah Lab School Rawamangun ini, roh pendidikan 
itu harus dikembangkan. "Sekarang ini miskin betul, kita tidak biasa dihargai 
pendapat kita, bangsa kita saat ini hanya jalan hanya dengan sistem aja, semua 
harus masuk ke sistem. Sesuatu yang spontan, sesuatu yang imajinatif, sesuatu 
yang sifatnya original, kalau dia tidak ada di sistem tidak akan dipikirkan. 
Jadi seperti robot," ujar dia lagi.

      Kini tidak ada kepala sekolah yang menegur siswanya dengan kasih sayang 
kebapakan, tidak ada kepala sekolah yang bertanya, kenapa tanganmu dingin 
kepada muridnya. "Kenapa dia tidak bertanya itu, karena tidak ada di dalam 
kurikulum," kata Arief.

      Melihat kondisi tersebut Arief berpendapat bahwa ada empat tantangan 
dunia pendidikan yang sangat besar di Indonesia.

      Pertama, setiap sekolah di Indonesia ini selalu bersifat sentralistik dan 
paternalistik. Kedua, kurikulum di Indonesia bersifat sangat kaku dan tertutup, 
dan yang ketiga, sistem pendidikan hanya untuk menjawab soal ujian. Oleh karena 
itu, setelah para guru mendapat pendidikan dari iEARN, ada tiga hal berat yang 
akan dihadapi oleh mereka, yaitu pengakuan dari sekolah terhadap guru tersebut, 
dukungan dari seluruh komunitas sekolah, baik lingkungan ataupun orang tua, dan 
kelanjutan dari program mereka.

      Padahal, menurut Arief, guru yang telah dididik oleh iEARN ini akan 
membawa angin, baik bagi sistem pendidikan nasional karena akan menimbulkan 
komunikasi bottom up, karena siswa akan memiliki pengetahuan baru dari banyak 
negara, sehingga pada saatnya akan mengikis sedikit demi sedikit kekakuan 
sistem pendidikan yang ada.

      "Saya melihat gaya pendidikan yang paternalistik, sentralistik akan 
dihantam oleh bottom up, sedangkan yang berpikir secara konvergen akan dihantam 
oleh pikiran yang sangat divergen, melebar, membuka pintu, dan ini untuk bangsa 
Indonesia sangat diperlukan, sebab kalau enggak, kita akan ketinggalan," papar 
Arief.

      Pada Seminar Pengenalan dan Penanganan Kelainan Tumbuh Kembang Anak di RS 
Azra Bogor, Minggu, Arief mengatakan menjadi orang tua efektif perlu memiliki 
sifat-sifat pola asuh yang tepat. Pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap 
anak akan memengaruhi watak dan kepribadian anak itu sendiri.

      Menurut Arief, orang tua yang efektif adalah orang tua yang bisa 
melaksanakan hak dan kewajibannya secara efektif, yaitu orang tua tahu 
bagaimana cara menyelesaikan berbagai masalah dalam keluarga sehingga bisa 
diterima oleh semua anggota keluarga tanpa ada perasaan menang ataupun kalah.

      Lebih Lanjut, Arief mengungkapkan, dalam kehidupan sehari-hari sering 
terjadi konflik antara orang tua dan anak, akibat adanya perbenturan sistem 
nilai kehidupan. Ada sifat yang ditonjolkan oleh para orang tua yang bersikap 
merasa lebih pintar, lebih tahu, dan lebih mampu daripada anak-anaknya. 
Akibatnya, orang tua selalu menasihati, menggurui, dan memerintah anak sesuai 
dengan kehendaknya tanpa memedulikan kemauan dan kebutuhan anaknya.

      Dalam keadaan demikian, kata Arief, tidak jarang terjadi perdebatan tanpa 
penyelesaian masalah. Sebenarnya, jika orang tua lebih bijak dengan meminta 
tanggapan dari anak tentang pemecahan masalah yang dihadapi anak, pada umumnya 
anak-anak tersebut mempunyai pemecahan masalah yang kreatif dari hasil 
pemikirannya sendiri.

      Menurut Luh Karunia Wahyuni, dokter spesialis rehabilitasi medik anak di 
RS Azra, anak-anak yang semakin sempit ruang gerak untuk anak bermain dan 
bersosialisasi menjadikan adanya perubahan yang pasif pada diri anak. Dengan 
kondisi seperti itu, aktivitas anak lebih cenderung hanya duduk bermain game 
dan menonton televisi, akibatnya anak akan mengalami keterlambatan 
perkembangan, terutama aspek integrasi sensoris. Padahal, aspek tersebut 
merupakan landasan fungsi yang lebih tinggi, seperti berkomunikasi, berbicara 
bahasa, dan lain-lain. (Hru/HW/B-1)
     


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: