[ppi] [ppiindia] Pendidikan Telah Kehilangan Roh
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 28 Mar 2004 23:22:36 +0200
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
Media Indonesia
Senin, 29 Maret 2004
PENDIDIKAN
Pendidikan Telah Kehilangan Roh
JAKARTA (Media): Chairman Executive UNESCO Indonesia, Arief Rahman,
mengatakan pendidikan di Indonesia telah kehilangan rohnya.
Para penyelenggara pendidikan berlaku seperti robot yang hanya nurut
perintah tuannya.
"Semua sibuk dengan dengan nilai, sibuk dengan gelar, sibuk dengan
kurikulum yang sudah fixed. Kita tidak disibukkan dengan hati nurani lagi,"
kata Arief usai menutup international Education and Resources Network National
(iEARN) Teacher Training Workshop, pekan lalu.
Padahal, tambah kepala sekolah Lab School Rawamangun ini, roh pendidikan
itu harus dikembangkan. "Sekarang ini miskin betul, kita tidak biasa dihargai
pendapat kita, bangsa kita saat ini hanya jalan hanya dengan sistem aja, semua
harus masuk ke sistem. Sesuatu yang spontan, sesuatu yang imajinatif, sesuatu
yang sifatnya original, kalau dia tidak ada di sistem tidak akan dipikirkan.
Jadi seperti robot," ujar dia lagi.
Kini tidak ada kepala sekolah yang menegur siswanya dengan kasih sayang
kebapakan, tidak ada kepala sekolah yang bertanya, kenapa tanganmu dingin
kepada muridnya. "Kenapa dia tidak bertanya itu, karena tidak ada di dalam
kurikulum," kata Arief.
Melihat kondisi tersebut Arief berpendapat bahwa ada empat tantangan
dunia pendidikan yang sangat besar di Indonesia.
Pertama, setiap sekolah di Indonesia ini selalu bersifat sentralistik dan
paternalistik. Kedua, kurikulum di Indonesia bersifat sangat kaku dan tertutup,
dan yang ketiga, sistem pendidikan hanya untuk menjawab soal ujian. Oleh karena
itu, setelah para guru mendapat pendidikan dari iEARN, ada tiga hal berat yang
akan dihadapi oleh mereka, yaitu pengakuan dari sekolah terhadap guru tersebut,
dukungan dari seluruh komunitas sekolah, baik lingkungan ataupun orang tua, dan
kelanjutan dari program mereka.
Padahal, menurut Arief, guru yang telah dididik oleh iEARN ini akan
membawa angin, baik bagi sistem pendidikan nasional karena akan menimbulkan
komunikasi bottom up, karena siswa akan memiliki pengetahuan baru dari banyak
negara, sehingga pada saatnya akan mengikis sedikit demi sedikit kekakuan
sistem pendidikan yang ada.
"Saya melihat gaya pendidikan yang paternalistik, sentralistik akan
dihantam oleh bottom up, sedangkan yang berpikir secara konvergen akan dihantam
oleh pikiran yang sangat divergen, melebar, membuka pintu, dan ini untuk bangsa
Indonesia sangat diperlukan, sebab kalau enggak, kita akan ketinggalan," papar
Arief.
Pada Seminar Pengenalan dan Penanganan Kelainan Tumbuh Kembang Anak di RS
Azra Bogor, Minggu, Arief mengatakan menjadi orang tua efektif perlu memiliki
sifat-sifat pola asuh yang tepat. Pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap
anak akan memengaruhi watak dan kepribadian anak itu sendiri.
Menurut Arief, orang tua yang efektif adalah orang tua yang bisa
melaksanakan hak dan kewajibannya secara efektif, yaitu orang tua tahu
bagaimana cara menyelesaikan berbagai masalah dalam keluarga sehingga bisa
diterima oleh semua anggota keluarga tanpa ada perasaan menang ataupun kalah.
Lebih Lanjut, Arief mengungkapkan, dalam kehidupan sehari-hari sering
terjadi konflik antara orang tua dan anak, akibat adanya perbenturan sistem
nilai kehidupan. Ada sifat yang ditonjolkan oleh para orang tua yang bersikap
merasa lebih pintar, lebih tahu, dan lebih mampu daripada anak-anaknya.
Akibatnya, orang tua selalu menasihati, menggurui, dan memerintah anak sesuai
dengan kehendaknya tanpa memedulikan kemauan dan kebutuhan anaknya.
Dalam keadaan demikian, kata Arief, tidak jarang terjadi perdebatan tanpa
penyelesaian masalah. Sebenarnya, jika orang tua lebih bijak dengan meminta
tanggapan dari anak tentang pemecahan masalah yang dihadapi anak, pada umumnya
anak-anak tersebut mempunyai pemecahan masalah yang kreatif dari hasil
pemikirannya sendiri.
Menurut Luh Karunia Wahyuni, dokter spesialis rehabilitasi medik anak di
RS Azra, anak-anak yang semakin sempit ruang gerak untuk anak bermain dan
bersosialisasi menjadikan adanya perubahan yang pasif pada diri anak. Dengan
kondisi seperti itu, aktivitas anak lebih cenderung hanya duduk bermain game
dan menonton televisi, akibatnya anak akan mengalami keterlambatan
perkembangan, terutama aspek integrasi sensoris. Padahal, aspek tersebut
merupakan landasan fungsi yang lebih tinggi, seperti berkomunikasi, berbicara
bahasa, dan lain-lain. (Hru/HW/B-1)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Pendidikan Telah Kehilangan Roh