[ppi] [ppiindia] Pemihakan SEMAKIN JELAS
- From: Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx, AJI INDONESIA <ajisaja@xxxxxxxxxxxxxxx>, pantau <pantau-komunitas@xxxxxxxxxxxxxxx>, jurnalisme <jurnalisme@xxxxxxxxxxxxxxx>, technomedia <technomedia@xxxxxxxxxxxxxxx>, Begundal Salemba <begundal-salemba@xxxxxxxxxxxxxxx>, pjtv@xxxxxxxxxx
- Date: Sun, 27 Feb 2005 22:50:36 -0800 (PST)
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Akhirnya, pemihakan semakin jelas....
Siapa mendukung siapa....
Siapa di pihak siapa....
he...he..he........
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=4577
Senin, 28 Feb 2005,
Sejumlah Profesional Dukung Kenaikan
Ketika politisi di Senayan memberikan reaksi negatif
terhadap kenaikan harga
BBM, sejumlah profesional dan intelektual justru
menggalang suara untuk
menyerukan pengurangan subsidi BBM.
Suara kelompok pro pengurangan subsidi -otomatis
mendukung harga BBM naik-
digalang oleh Freedom Institute. LSM yang dipimpin
Rizal Mallarangeng
tersebut berpendapat, subsidi selama ini tidak
mengalir ke sasaran yang
tepat karena jatuh ke tangan orang kaya.
Mereka memobilisasi dukungan dengan cara memasang
iklan yang mendukung
pengurangan subsidi BBM di sejumlah media. Dalam iklan
itu, selain pengurus
Freedom Institute, sejumlah nama tenar dicantumkan.
Di antara nama itu, terdapat orang-orang yang selama
ini dikenal dekat
dengan Presiden SBY. Contohnya, dua juru bicara
kepresidenan, Andi
Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. Juga ada nama
Chatib Bisrie, ekonom muda
UI yang dikenal dekat dengan kelompok Cikeas.
Selain itu, ada nama kawan dekat Menko Perekonomian
Aburizal Bakrie, yakni
pengusaha Sofyan Wanandi dan Ketua Umum Kadin M.S.
Hidayat.
Menariknya, sejumlah sosok dari berbagai kalangan juga
masuk. Termasuk tokoh
pers Goenawan Mohamad dan Fikri Jufri, filosof Franz
Magnis-Suseno, dosen UI
M. Ikhsan, ekonom senior M. Sadli, tokoh CSIS Hadi
Soesastro, tokoh Jaringan
Islam Liberal Ulil Abshar-Abdallah, ekonom LIPI Thee
Kian Wee, dan Ketua
Amien Rais Center Jeffrie Geovannie.
Dalam kampanye, mereka memaparkan hasil penelitian
Lembaga Pengabdian
Ekonomi Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI)
tentang dampak penundaan
kenaikan harga BBM terhadap defisit APBN.
Menurut kampanye Freedom Institute, akibat kebijakan
pemberian subsidi BBM,
negara harus mengeluarkan anggaran Rp 72 triliun per
tahun atau sekitar Rp
200 miliar per hari untuk membiayai konsumsi BBM orang
kaya.
... Kampanye itu juga memaparkan dampak kompensasi
kenaikan harga BBM
terhadap jumlah penduduk miskin. Dalam kesimpulannya,
mereka yakin bahwa
kompensasi kenaikan harga BBM yang disalurkan langsung
ke rakyat miskin akan
mengurangi pertumbuhan penduduk miskin akibat kenaikan
harga BBM.
Menurut Ketua Freedom Institute Rizal Mallarangeng,
sikap mendukung
kebijakan kenaikan harga BBM tersebut didasarkan pada
pertimbangan logis.
Yakni, hasil kajian LPEM UI terhadap kondisi keuangan
negara serta dampak
sosial kompensasi kenaikan harga BBM terhadap jumlah
penduduk miskin.
"Ada sikap pro-kontra menyikapi rencana kenaikan harga
BBM. Dan, kami
termasuk yang pro dengan alasan jelas dan sudah kami
paparkan di iklan
tersebut," tegasnya.
Rizal membantah bahwa pemaparan hasil kajian LPEM UI
tersebut bertujuan
menyelamatkan citra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
dan kabinetnya.
Apalagi, beberapa nama personal di Freedom Institute
merupakan orang dekat
presiden. "Kakak saya (Andi Mallarangeng) dan Dino
(Dino Patti Djalal)
memang all the president?s man. Tapi, mereka kan juga
penulis buku dan
intelektual. Ada juga kalangan independen seperti
Goenawan Mohamad. Intinya,
paparan itu bukan untuk tujuan personal, tapi dukungan
terhadap kebijakan,"
jelasnya.
Ekonom UI Chatib Basri menyatakan bahwa pihaknya hanya
mengorganisasi ide
pembuatan iklan dukungan terhadap kenaikan harga BBM.
Semua dukungan
terhadap kenaikan harga BBM didasari pada logika yang
dimiliki Freedom
Institute serta dirinya.
"Kami sederhana saja kok. Kita pembayar pajak, pajak
itu untuk memberikan
subsidi, dan subsidi untuk kelas menengah. Sedangkan
penduduk miskin sulit
sekolah," katanya kepada koran ini.
Chatib tidak mau mengomentari secara detail mengenai
pilihan Freedom
Institute yang mendukung kebijakan pemerintah
menaikkan harga BBM. Padahal,
kenaikan harga BBM saat ini menjadi kontroversi di
masyarakat. Dia mengaku
bahwa namanya memang ada dalam iklan di sebuah koran
harian di Jakarta.
"Saya di Freedom di bagian penerbitan buku. Tapi, saya
bisa mengomentari itu
secara pribadi," ujarnya.
Dia mengatakan, tidak ada bukti empiris yang
mengatakan bahwa kenaikan harga
BBM akan menyengsarakan rakyat dalam waktu lama.
Chatib mencontohkan pada
2002, yang menurut dia, sebagai kenaikan BBM
tertinggi, yaitu 54 persen.
Akibatnya, pada Januari 2002, terjadi inflasi 1,9
persen dan Februari 2002
inflasi turun menjadi 1,4 persen. "Bulan Maret 2002,
malah terjadi deflasi
minus 0,23 persen," katanya.
Chatib membenarkan bahwa kenaikan BBM itu pasti akan
menaikkan harga. Hanya,
Chatib menilai selama ini masyarakat Indonesia bias
dalam menilai
permasalahan itu. Semua berkaca pada warga kaya atau
menengah yang
mengonsumsi barang-barang yang naik harganya. Padahal,
masih banyak
masyarakat di desa yang menggunakan kayu bakar.
"Mereka (orang desa, Red)
juga hanya menggunakan sepeda," ungkapnya.
Dia menilai selama ini, kenaikan BBM yang diiringi
naiknya inflasi terjadi
karena adanya kenaikan harga beras. Seharusnya, kata
dia, Bulog melakukan
operasi. Kalau harga beras tidak stabil karena harga
BBM naik, keran impor
beras dibuka untuk sementara. "Setelah normal, keran
impor harus segera
ditutup," kilahnya.
Chatib kembali memberi data bahwa setiap hari negara
memberikan subsidi
untuk BBM Rp 200 miliar. Padahal, subsidi tersebut
lebih banyak dimanfaatkan
orang kaya dan para penyelundup. "Bisa dibayangkan
jika subsidi setiap
harinya untuk pelayanan puskesmas atau pendidikan,"
ungkapnya.
Lebih lanjut, Chatib mengetahui konsekuensi kenaikan
BBM tersebut. Dia
menyadari, ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan
kenaikan BBM itu.
"Subsidi akan lebih baik dipindahkan ke masalah
pendidikan dan kesehatan
untuk masyarakat. Saya membayangkan BBM naik, tapi
sekolah gratis," ujarnya.
Sementar itu, menurut Ulil Abshar-Abdalla, dirinya
menandatangani petisi
untuk mendukung kebijakan kenaikan harga BBM karena
menilai pemberian
subsidi merupakan keputusan yang tidak masuk akal.
"Kami ingin memberi
pencerahan pada masyarakat bahwa pencabutan subsidi
bukan berarti
antirakyat," katanya.
Dia menyampaikan, petisi tersebut bertujuan untuk
mengingatkan masyarakat
pada beberapa hal yang kurang populer di balik
kebijakan pemberian subsidi
BBM selama ini. Di antaranya, subsidi BBM selama ini
salah sasaran karena
lebih banyak dinikmati industri dan kalangan menengah
ke atas.
"Selain itu, Indonesia saat ini sudah menjadi negara
pengimpor minyak
mentah. Jadi, tidak masuk akal memberi harga murah
bagi sumber energi yang
semakin langka. Kebijakan subsidi justru membuat
masyatakat boros
menggunakan BBM," katanya.
Ulil juga tak membantah bahwa petisi tersebut
diiklankan untuk mendukung
pasangan SBY-Kalla. Menurut dia, keputusan pemerintah
tentang pencabutan
subsidi sudah tepat sehingga harus didukung. "Kami
dari kalangan intelektual
mendukung secara ide terhadap kebijakan pencabutan
subsidi BBM. Saya sendiri
tidak takut dicap mendukung pemerintah. Kalau
pemerintah bertindak benar,
mengapa takut dicap mendukung pemerintah," tegasnya.
(noe/dja)
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Easier than ever with enhanced search. Learn more.
http://info.mail.yahoo.com/mail_250
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
- Follow-Ups:
- [ppi] Re: [ppiindia] Pemihakan SEMAKIN JELAS
- From: radityo djadjoeri
- [ppi] [ppiindia] Kang Sejo Melihat Tuhan
- From: Lina Dahlan
- References:
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Pemihakan SEMAKIN JELAS
- » [ppi] Re: [ppiindia] Pemihakan SEMAKIN JELAS
- [ppi] Re: [ppiindia] Pemihakan SEMAKIN JELAS
- From: radityo djadjoeri
- [ppi] [ppiindia] Kang Sejo Melihat Tuhan
- From: Lina Dahlan