[ppi] [ppiindia] Pembacaan Historis Jihad yang Terlalu Tekstual
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 27 Jul 2005 20:13:33 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/27/opi01.html
Pembacaan Historis Jihad yang Terlalu Tekstual
Oleh
Yusuf Burhanudin
Munculnya kekerasan, terorisme, konflik antaragama yang tak kunjung usai,
meminta perenungan tiada henti bagi umat Islam. Kekerasan acap menggunakan
dalih agama sebagai pembenar. Dengan memaknai kenyataaan peperangan dalam jihad
historis sebagai hukum legal untuk menindas dan membantai kelompok lain yang
berbeda.
Saya cenderung menyebut tipologi jihad di atas tidak lebih sebagai melegitimasi
kekerasan - karena konteks historis yang berbeda-berdasarkan doktrin agama.
Doktrin agama ideal dan otentik pada hakikatnya mesti menyesuaikan diri dengan
setting dan kesejarahan masyarakat tertentu dalam masa tertentu pula. Di sini
kita mesti membedakan jihad doktrin (jihad yang diperintahkan agama) dengan
jihad historis di mana intrepetasi sejarah memonopoli pengertian jihad secara
tunggal.
Peperangan Rasulullah dan para sahabatnya, menurut pemahaman di atas, merupakan
makna jihad yang selaras dan satu-satunya. Akibatnya, terminologi ini merasa
harus dihadirkan setiap saat meski dalam kondisi damai. Seolah nuansa sebilah
pedang dan pekik 'Allahu Akbar' adalah wajah Islam yang heroik dan dikehendaki
Rasulullah Saw.
Kita mesti lebih mencermati jihad historis ini mengingat tidak semua jihad tipe
ini berlandaskan ijtihad yang benar. Tetapi, lebih didasarkan pada pertimbangan
politik dan kekuasaan. Seperti dalam perang Shiffin/Jamal antara pasukan Ali
bin Abi Thalib dan Mu'awiyyah (40-41 H.) di mana Siti Aisyah berada di
dalamnya. Peperangan ini memakan korban banyak dari kedua belah pihak umat
Islam. Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah, dua ulama besar, tewas
dalam peperangan itu.
Akibat, Bukan Sebab
Jihad doktrin dalam arti perang, tiada lain bentuk kekerasan balik sebagai
upaya pembelaan diri atas berbagai penindasan dan penganiayaan yang bersifat
fisik secara massal. Inilah kondisi di mana jihad dalam arti salah satunya,
direstui. Meski dalam pelaksanannya, banyak kode etik yang mesti dipatuhi
seperti tidak boleh membunuh orang tua, pemuka agama (rahib maupun pendeta),
anak-anak, wanita, merusak tempat ibadah, membakar tanam-tanaman, maupun
menyembelih binatang kecuali untuk dimakan.
Jihad perang yang disyariatkan bukanlah menyerang rakyat sipil tak berdosa,
melainkan kamp-kamp militer musuh. Pendeknya, jihad perang adalah akibat bukan
sebab. Jihad bukanlah menghalalkan kekerasan demi menegakkan syariat Islam
melainkan muncul ketika ada penganiayaan oleh pihak lain.
Jangankan kekerasan, pemaksaan apapun yang dilakukan umat Islam terhadap umat
lain adalah terlarang. Fenomena inilah yang disebut Alquran sebagai ikrah,
memaksakan kehendak pada orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan. Islam
melarang ikrah -meminjam istilah M. Imarah, pemikir Muslim Mesir-karena hanya
menunjuk kedunguan dan ketidakcerdasan umat Islam dalam beragama.
Pengingkaran dalam pengamalan syariat agama, tidak selamanya mesti dilawan
dengan kekerasan. Pilihan yang pertama tiada lain bentuk ekspresi skeptis
pemeluk beragama dalam menyikapi berbagai patologi sosial. Sebuah kondisi di
mana agama kehilangan akal sehat. Alquran menyuruh kita berdakwah dengan cara
yang bijak. Dalam berdialog dengan umat lain, Alquran juga menyuruh kita
melakukannya dengan cara yang lebih baik.
Terlalu Tekstual
Apabila agama menyuruh berbuat amar ma'ruf nahyi munkar, sama sekali bukanlah
rekomendasi agama untuk bersikap keras dan anarkis. Tetapi pengertian yang
memaknakan peran check and balance agama dalam mengawasi berbagai patologi
sosial yang muncul ke permukaan. Terlebih dalam konteks negara yang beradab,
seyogianya juga dengan keharusan menghormati asas-asas konstitusi sebagai
bentuk kesepakatan etis dan kontrak sosial bersama.
Jelas kekerasan bukan murni berasal dari doktrin agama (baca: Islam doktrin),
melainkan dari pembacaan historis jihad yang terlalu tekstual. Perlu pembacaan
ulang secara seksama perjalanan sejarah umat Islam selama ini terutama setelah
Rasulullah Saw. Wafat, di mana instabilitas politik kerap mewarnai perjalanan
umat Islam.
Hal ini penting agar kita tidak terjebak mengikuti akibat yang terjadi, tetapi
lebih kepada mempelajari berbagai penyebab yang mengitarinya agar kemudian
konflik antarsesama itu bisa dihindari sejak dini. Saat ini kita hidup di masa
perdamaian dan kesejajaran semua bangsa dan umat manusia lebih sering
berkumandang.
Sebagai pengibrah sejarah yang cerdas, hendaknya kita tidak terperosok ke
lubang yang sama lebih dari dua kali. Kita mesti berani beranjak dari sejarah
perang dan ekspansif ke era perdamaian.
Kenyataan di atas mengamanahkan kepada kita bagaimana menerjemahkan secara arif
kondisi "kekerasan absolut" dan "perdamaian absolut". Artinya, apapun yang
terjadi Islam harus bersikap keras terhadap yang lain maupun pemahaman. Apapun
yang terjadi Islam harus tunduk kepada penganiayaan pihak lain semata alasan
perdamaian.
Dua sikap ini tidak mencerminkan keadilan dan kesejajaran kemanusiaan yang
justru terselip rapih dalam ajaran Islam.
Penulis adalah Ketua Umum Perwakilan PERSIS Mesir.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
- Follow-Ups:
- [ppi] Ada apa di Balik Bom London dst....
- From: muslim imin
- [ppi] Ada apa di balik bon London dst...
- From: muslim imin
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Pembacaan Historis Jihad yang Terlalu Tekstual
- [ppi] Ada apa di Balik Bom London dst....
- From: muslim imin
- [ppi] Ada apa di balik bon London dst...
- From: muslim imin