[ppi] [ppiindia] Partai Islam dan Wajah Baru Indonesia
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 17 Apr 2004 09:05:43 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0404/16/opi02.html
Partai Islam dan Wajah Baru Indonesia
Oleh Arief R Arofah
Pemilu 2004 telah berhasil menyajikan wajah baru Indonesia dalam pentas
perpolitikan. Ini ditandai dengan lahirnya partai politik yang tidak lagi
menggunakan agama sebagai sentimen utamanya. Isu-isu yang dihembuskan pada
saat-saat kampanye juga tidak lagi menggiring agama pada domain politik
praksis. Dalam konteks partai Islam, Islam tidak lagi dijadikan senjata
pamungkas untuk mendulang legitimasi dan simpati umat.
Berbeda dengan Pemilu 1999, di mana Islam - baik secara ideologi maupun
tidak - acapkali dijadikan martil untuk mendirikan partai atau menggalang
massa sebanyak mungkin. Lahirnya PKB, PPP, PAN, PK(S), PBB dan PNU(I)
merupakan buah Pemilu 1999 yang melekatkan Islam sebagai asas atau sumber
dukungannya. Pada Pemilu 2004, praktis hanya Partai Bintang Reformasi (PBR)
yang lahir sebagi satu-satunya partai Islam.
Pada tataran isu politik, nyaris tak terdengar adanya eksploitasi agama
(Islam) sebagai alat penjaringan massa. Justru yang mengemuka adalah isu
kerakyatan serta program kerja secara umum. Berbeda dengan pemilu sebelumnya
yang kerap menjadikan agama sebagai komoditas utama. Mulai dari iming-iming
untuk mendirikan negara Islam, penegakan syari`at Islam, larangan presiden
perempuan, sampai fatwa politik untuk mendukung parta-partai Islam.
Kegagalan Eksprimentasi
Berkurangnya minat mendirikan partai Islam dan menjauhnya agama pada ranah
isu-isu politik paling tidak menandaskan beberapa hal. Pertama, tumbuhnya
kedewasaan politik rakyat dan elite partai Islam. Kedewasan ini tumbuh
akibat pengalaman pahit masa lalu yang menunjukkan dengan banyaknya
partai-partai Islam, terbukti kekuatan umat Islam terpecah pada banyak
simpul kepentingan. Malah dengan banyaknya partai Islam, konstituen menjadi
bingung untuk menentukan pilihan politik mereka. Masing-masing elite
agama -yang terjun panggung politik-- mengampanyekan partainya sebagai yang
terbaik dan didukung banyak ulama.
Selain itu, kedewasaan rakyat Indonesia (sebagian besar umat Islam) sudah
semakin tinggi untuk tidak lagi terjebak pada partai yang mengatasnamakan
agama. Sudah terbukti bahwa partai-partai Islam hanya banyak mengumbar janji
tatkala kepentingan mereka ingin dibela, namun ketika dihadapkan pada
permasalahan keseharian umat, mereka malah menyembunyikan tangan. Rakyat
sudah lelah melihat tarik-menarik kepentingan petinggi partai politik,
sementara di sisi lain problem hidup mereka ditelantarkan.
Kedua, sikap realistis partai Islam. Dengan menjual isu-isu agama secara
tidak bertanggung jawab, konstituen bukan malah semakin tertarik dengan
partai Islam, justru mereka semakin emoh mendukung mereka. Hal ini karena
citra buruk partai Islam yang tidak lagi konsisten dengan garis perjuangan
mereka. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dapat dijadikan contoh dari hal
ini. Partai ini dengan jelas-jelas telah menodai ikrar politiknya tatkala
menerima tampuk kepemimpinan wakil presiden di bawah presiden perempuan,
padahal pada kampanye tahun 1999 mereka mengharamkan kepemimpinan perempuan.
Dari gejala kurang sehat itulah, partai Islam mulai realistis untuk tidak
lagi mengeluarkan jargon agama untuk menarik simpati. Selain mereka
kesulitan mewujudkan janji, mereka juga sadar bahwa agama tidak semestinya
digiring ke wilayah politik yang abu-abu.
Ketiga, kegagalan eksperimentasi politik Islam. Sebenarnya, apa yang
dilakukan oleh partai Islam pada pemilu 1999 dengan mengedepankan ekspresi
dan artikulasi Islam yang bersifat absolutis dan legal-formal merupakan
cerminan dari artikulasi politik Islam periode 1940-1960 yang ditandai oleh
kegagalan mereka untuk menjadikan Islam sebagai ideologi negara.
Kegagalan ini pun kembali didapat tatkala rezim Orde Baru tidak bersikap
lebih baik dari Orde Lama dalam melihat gerakan politik Islam. Rezim ini
memperlakukan partai Islam secara represif serta menutup celah bagi dialog
Islam dalam kaitannya dengan politik dan negara. Maka, ketika angin
reformasi berhembus kencang dan menumbangkan Orde Baru, umat Islam terjebak
pada euforia politik yang tidak pada semestinya.
Euforia politik inilah yang pada akhirnya mengandaskan keinginan partai
Islam 1999 untuk menata kembali puing-puing politik Islam yang berserakan.
Ironisnya, partai Islam pun kembali menuai kegagalan dengan tidak
diperolehnya suara mutlak di dewan perwakilan dan janji-janji politik Islam
tidak pernah berwujud. Kegagalan ini semakin menambah daftar kegagalan dan
rapor merah partai Islam.
Indonesia baru
Melihat kegagalan-kegagalan politik Islam di tahun 1999 dan sebelumnya,
kiranya petinggi umat Islam mulai kurang bergairah untuk kembali menampilkan
Islam dalam bentuk partai politik dan jargo-jargon agama pada Pemilu 2004
ini. Selain tidak ampuh untuk menjaring masa yang banyak, partai Islam
agaknya `malu` untuk terjerembab kembali pada kegagalan-kegagalan masa lalu.
Menghadapi Pemilu 2004, partai Islam tampaknya mulai dewasa untuk lebih
merapikan langkah politik dan gerakan mereka. Mengiringi langkah partai
politik tersebut, sumbangan pemikiran berikut kiranya dapat menambah
perbendaharaan langkah-langkah ke depan partai politik Islam.
Sudah saatnya para petinggi partai Islam duduk bersama untuk mendialogkan
dan menuntaskan format politik Islam. Dialog ini, meminjam istilah Bahtiar
Effendy (2003), bukan dimaksudkan untuk mengulangi hal-hal lama, tetapi
mengartikulasikanya dalam konteks yang lebih baru. Dengan bahasa lain,
partai Islam seharusnya mulai memikirkan secara serius format politik Islam
dengan tidak lagi mengedepankan simbol dan jargon, melainkan format yang
lebih konstruktif dan mengarah pada terjadinya konvergensi dan kompromi
politik.
Langkah berikutnya, aktualisasi gerakan secara serempak dan kompak dalam
arena politik. Kejadian-kejadian masa lalu kiranya menjadi pelajaran
berharga, dan bahwa kesatuan tujuan merupakan modal utama untuk memperoleh
simpati khalayak umat. Saling gontok antarsesama partai Islam tidak saja
membuang-buang energi, namun juga kurang elegan serta dapat melemahkan diri
sendiri.
Yang terpenting di atas semua itu adalah mengutamakan kepentingan bangsa di
atas kepentingan primordial agama. Rumusan negara kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) yang digagas pendiri bangsa sudah merupakan bentuk final
dan ideal bagi bangunan Indonesia Raya yang terdiri dari beragam etnis,
golongan dan agama. Memaksakan berdirinya negara Islam Indonesia
berlandaskan syari`at, secara tidak langsung berarti memaksakan ajaran
tertentu untuk dipeluk secara bersama.
Yang selayaknya dipikirkan partai Islam adalah bagaimana memberikan
sumbangsih positif-konstruktif bagi bangunan Indonesia ke depan. Tentunya
berlandaskan Pancasila sebagai dasar negara. Dengan demikian, wajah baru
Indonesia pada Pemilu 2004 ini akan senantiasa melekat dan dikenang
selamanya oleh seluruh rakyat Indonesia. Dan tentunya akan menambah harum
nama partai Islam di pentas politik nasional.
Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir Pemikiran Politik Islam UIN, Jakarta,
Koordinator Lembaga Studi Islam Progresif (LSIP).
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Partai Islam dan Wajah Baru Indonesia