[ppi] [ppiindia] Partai Golkar Kembali
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 12 Apr 2004 23:11:49 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0404/13/utama/964224.htm
Selasa, 13 April 2004
Partai Golkar Kembali
- Kuasai 23 Provinsi, PDI-P 4 Provinsi
Jakarta, Kompas - Partai Golongan Karya (Golkar) yang selama 32 tahun ikut
menopang rezim Orde Baru bersama militer dan birokrasi, berpeluang besar
untuk kembali menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Berdasarkan
perhitungan suara sementara hingga Senin (12/4) pukul 23.30, dari 81,4 juta
suara dari 147 juta pemilih yang masuk di Pusat Tabulasi Nasional Pemilu
(TNP) Partai Golkar memperoleh 16,8 juta suara dan menguasai 23 provinsi
dari 32 provinsi di Tanah Air.
Partai yang sedang berkuasa, PDI Perjuangan yang pada Pemilu 1999 menguasai
11 provinsi memperoleh 16,3 juta suara. Kemenangan PDIP hanya tersisa di
empat provinsi yakni Bali, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Maluku. Perolehan
suara di Maluku masih bisa berubah mengingat suara yang masuk dari Maluku
baru 5.152 suara dari 786.735 pemilih. PDIP kehilangan suara di Sumut,
Sumsel, Lampung, DKI Jakarta, Kalteng dan Kaltim yang pada Pemilu 1999
dimenangkannya.
DKI Jakarta yang menjadi barometer politik nasional direbut Partai Keadilan
Sejahtera dan Partai Demokrat yang masih bersaing.
Partai Kebangkitan Bangsa menguasai Jatim dan Partai Persatuan Pembangunan
memenangkan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Partai Bulan Bintang untuk
sementara unggul di Bangka Belitung. Partai Damai Sejahtera unggul di Irian
Jaya Barat. Namun suara yang masuk dari Irian Jaya Barat masih terlalu kecil
yakni 1.101 suara dan 343.252 pemilih.
Namun demikian, hasil resmi Pemilu Legislatif masih harus ditunggu tiga
pekan ke depan sambil menunggu hasil penghitungan manual yang dilakukan KPU
dan akan diumumkan pada 28 April 2004. Penghitungan suara melalui sistem
komputer KPU ini juga banyak dipersoalkan berbagai kalangan. Kemenangan
Partai Golkar itu juga bukan berarti otomatis Golkar akan meraih kursi
Presiden yang dipilih secara langsung 5 Juli 2004. Partai Golkar sendiri
baru menetapkan calon presidennya pada 20 April.
Hingga Senin pukul 23.00, belum ada satupun caleg yang mampu menembus
Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Hidayat Nurwahid caleg dari Daerah Pemilihan
Jakarta II mendapat suara 234.489, Guruh Sukarnoputra (PDIP) untuk Jatim VI
memperoleh 144.326 suara, Made Urip (PDIP) untuk Bali mendapat 137.238, Ali
Masykur Musa (PKB) untuk Jatim VI mendapat 132.354. Yang menarik, caleg PKB
nomor urut 4 Abdullah Azwar Anas untuk Jatim III mampu memperoleh 126.068
suara jauh meninggalkan suara yang diperoleh caleg dengan nomor urut kecil.
Sudah diprediksi
Kemenangan Partai Golkar (pada masa Orde Baru disebut Golongan Karya dan
sebelumnya Sekber Golkar) sudah diprediksi dalam beberapa jajak pendapat.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) memprediksi Partai Golkar meraih 23,2 persen
suara sedang PDIP 17,5 persen suara. Survei itu dilakukan 18-24 Maret 2004.
Sedang survei yang dilakukan Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan
Ekonomi Sosial (LP3ES) bersama National Democratic Institute) dengan
metodologi quick count memprediksi kembangkitan kembali Partai Golkar dengan
perolehan suara 22,7 persen dan PDI-P 18,8 persen. Quick count
diselenggarakan bersamaan dengan Pemilu 5 April di 1.416 Tempat Pemungutan
Suara.
Ketua Badan Pengendali Pemenangan Pemilu Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar
Slamet Effendy Yusuf menyatakan keyakinannya dari penghitungan sendiri,
Partai Golkar akan memenangi pemilu legislatif.
Menurut dia, hingga Senin pagi, menurut penghitungan sendiri, Golkar telah
memperoleh 94 "kursi murni" dari 550 kursi DPR. "Kursi murni" yang dimaksud
adalah hasil konversi dari perolehan popular vote yang melebihi BPP di
masing-masing daerah pemilihan.
Sementara Wakil Sekjen DPP PDI-P Pramono Anung mengatakan, partainya
mengakui bahwa perolehan suara partainya ada kecenderungan menurun. Namun,
ia tetap masih menunggu hasil rekapitulasi manual yang segera dilakukan KPU.
Ia mengatakan kecenderungan turunnya suara PDIP adalah kenyataan yang harus
diterima. Perolehan suara PDIP itu terkait dengan citra parpol, citra caleg
dan kinerja caleg selama ini. "Itu sangat berbeda dengan pemilihan
Presiden/Wapres secara langsung yang mengandalkan ketokohan," kata Pramono.
Manajemen lebih baik
Kecenderungan menangnya Partai Golkar, menurut pengamat politik Arbi Sanit,
lebih disebabkan karena kegagalan PDI-P mengatasi berbagai masalah yang
dihadapi rakyat. "PDI-P kalah karena kelalaian PDI-P untuk menepati janji.
Banyak kebijakan yang tidak sesuai kehendak rakyat. Misalnya Gubernur
Sutiyoso dipertahankan. Ketika berkuasa Sutiyoso menginjak rakyat dan PDI-P
diam saja. Itu memberikan kesan PDIP pembohong,," katanya.
Selain itu, organisasi Partai Golkar harus diakui kuat terutama di luar Jawa
dan di Pulau Jawa. "Saya kira mereka cukup uang ketimbang partai lain. Yang
penting lagi tampaknya masyarakat yang rindu Orde Baru yang menyatakan Orba
lebih baik larinya ke Golkar, bukan ke Partai Karya Peduli Bangsa," katanya.
Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia Muhammad Qodari menjelaskan
kecenderungan menangnya Partai Golkar itu bisa dijelaskan dari dua sisi.
Dari sisi partai, dapat dikatakan bahwa Partai Golkar yang paling matang
secara organisasi. Walaupun tidak sedang berkuasa, Partai Golkar
menyelenggarakan organisasi dengan maksimal. Sebelum kampanye, Partai Golkar
yang paling awal melaksanakan pelatihan juru kampanye secara struktural dan
sistematis.
Dari sisi masyarakat, menurut Qodari, dalam Pemilu 1999 PDI-P memenangi
pemilu karena masyarakat kecewa dengan Orde Baru yang dimanifestasikan
dengan ketidakpercayaan kepada Golkar. Namun, setelah lima tahun reformasi
dan tiga tahun PDI-P berkuasa, mereka tidak puas. "Mereka merasa kok
kondisinya tidak lebih baik dari Orde Baru, terutama masalah ekonomi yang
menjadi kebutuhan riil masyarakat bawah," ujarnya.
Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir indikator ekonomi sebetulnya
cukup membaik. Pertumbuhan ekonomi mencapai 4 persen, tetapi masyarakat
masih belum puas karena yang menikmati baru kalangan menengah ke atas.
Pertumbuhan 4 persen dinilai belum cukup, mereka ingin pertumbuhan ekonomi 8
persen seperti Orde Baru.
"Semua ini produk kegagalan pemerintah PDI-P dalam mengkomunikasikan
perbaikan. Komunikasi politiknya lemah. Iklan moncong putih yang dominan,
tapi isinya kosong. Kalau saya yang diminta membuat iklan, pertama saya akan
bercerita perbaikan ekonomi, baru kemudian ajakan memilih PDIP," kata
Qodari.
Masa depan reformasi
Tentang masa depan reformasi, menurut Qodari, tergantung cara mendefinisikan
reformasi. Kalau reformasi didefinisikan transisi menuju demokrasi, Partai
Golkar tidak bisa memutar jarum jam sejarah menuju sistem politik otoriter,
karena Indonesia sudah berjalan dalam rel yang baru. "Partai Golkar yang
harus menyesuaikan dengan reformasi. Tetapi tampaknya mereka sudah berusaha
mengakomodasi perubahan dengan cara menghilangkan dewan pembina. Mereka
mendukung amandemen UUD dan mendukung pemilihan langsung," katanya.
Kalau berbicara reformasi ekonomi, suka tidak suka harus mengakui 35 tahun
hanya tiga partai yang mendominasi, Golkar 30 tahun, Partai Kebangkitan
Bangsa 2 tahun, dan PDI-P 3 tahun. "Golkar sadar, kalau ingin berkuasa harus
berhasil secara ekonomi," ujarnya.
Menurut Qodari, yang menjadi persoalan adalah korupsi kolusi dan nepotisme.
Di sinilah yang mengkhawatirkan karena melihat sejarah masa lampau 35 tahun
terakhir, KKN terjadi di bawah Golkar, dua tahun di bawah PKB KKN minim, dan
marak lagi ketika PDI-P berkuasa.
"Jika Golkar berkuasa lagi, maka KKN dikhawatirkan mendominasi lagi. Tetapi
kita tidak menolak kehendak masyarakat. Karena itu Golkar harus kita kontrol
supaya jangan sampai kembali ke zaman Orde Baru. Kita harus mengawasinya
habis-habisan," kata Qodari.
Tentang masa depan reformasi, Arbi Sanit justru balik mempertanyakan partai
mana yang pernah konsisten melaksanakan reformasi ini. Menurut dia,
sekalipun ada keinginan kuat melaksanakan reformasi dari partai semacam PAN,
tetapi PAN adalah partai kecil. Partai Golkar melaksanakan reformasi ala
Golkar, PDI-P melaksanakan reformasi yang kompromistis.
"Reformasi itu paling tidak membutuhkan dua prasyarat yaitu konsistensi
sikap dan dukungan yang memadai. Dua prasyarat ini belum terpenuhi, sehingga
reformasi tidak jalan," katanya (idr/bur/bdm)
artai Golkar Kembali
- Kuasai 23 Provinsi, PDI-P 4 Provinsi
Jakarta, Kompas - Partai Golongan Karya (Golkar) yang selama 32 tahun ikut
menopang rezim Orde Baru bersama militer dan birokrasi, berpeluang besar
untuk kembali menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Berdasarkan
perhitungan suara sementara hingga Senin (12/4) pukul 23.30, dari 81,4 juta
suara dari 147 juta pemilih yang masuk di Pusat Tabulasi Nasional Pemilu
(TNP) Partai Golkar memperoleh 16,8 juta suara dan menguasai 23 provinsi
dari 32 provinsi di Tanah Air.
Partai yang sedang berkuasa, PDI Perjuangan yang pada Pemilu 1999 menguasai
11 provinsi memperoleh 16,3 juta suara. Kemenangan PDIP hanya tersisa di
empat provinsi yakni Bali, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Maluku. Perolehan
suara di Maluku masih bisa berubah mengingat suara yang masuk dari Maluku
baru 5.152 suara dari 786.735 pemilih. PDIP kehilangan suara di Sumut,
Sumsel, Lampung, DKI Jakarta, Kalteng dan Kaltim yang pada Pemilu 1999
dimenangkannya.
DKI Jakarta yang menjadi barometer politik nasional direbut Partai Keadilan
Sejahtera dan Partai Demokrat yang masih bersaing.
Partai Kebangkitan Bangsa menguasai Jatim dan Partai Persatuan Pembangunan
memenangkan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Partai Bulan Bintang untuk
sementara unggul di Bangka Belitung. Partai Damai Sejahtera unggul di Irian
Jaya Barat. Namun suara yang masuk dari Irian Jaya Barat masih terlalu kecil
yakni 1.101 suara dan 343.252 pemilih.
Namun demikian, hasil resmi Pemilu Legislatif masih harus ditunggu tiga
pekan ke depan sambil menunggu hasil penghitungan manual yang dilakukan KPU
dan akan diumumkan pada 28 April 2004. Penghitungan suara melalui sistem
komputer KPU ini juga banyak dipersoalkan berbagai kalangan. Kemenangan
Partai Golkar itu juga bukan berarti otomatis Golkar akan meraih kursi
Presiden yang dipilih secara langsung 5 Juli 2004. Partai Golkar sendiri
baru menetapkan calon presidennya pada 20 April.
Hingga Senin pukul 23.00, belum ada satupun caleg yang mampu menembus
Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Hidayat Nurwahid caleg dari Daerah Pemilihan
Jakarta II mendapat suara 234.489, Guruh Sukarnoputra (PDIP) untuk Jatim VI
memperoleh 144.326 suara, Made Urip (PDIP) untuk Bali mendapat 137.238, Ali
Masykur Musa (PKB) untuk Jatim VI mendapat 132.354. Yang menarik, caleg PKB
nomor urut 4 Abdullah Azwar Anas untuk Jatim III mampu memperoleh 126.068
suara jauh meninggalkan suara yang diperoleh caleg dengan nomor urut kecil.
Sudah diprediksi
Kemenangan Partai Golkar (pada masa Orde Baru disebut Golongan Karya dan
sebelumnya Sekber Golkar) sudah diprediksi dalam beberapa jajak pendapat.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) memprediksi Partai Golkar meraih 23,2 persen
suara sedang PDIP 17,5 persen suara. Survei itu dilakukan 18-24 Maret 2004.
Sedang survei yang dilakukan Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan
Ekonomi Sosial (LP3ES) bersama National Democratic Institute) dengan
metodologi quick count memprediksi kembangkitan kembali Partai Golkar dengan
perolehan suara 22,7 persen dan PDI-P 18,8 persen. Quick count
diselenggarakan bersamaan dengan Pemilu 5 April di 1.416 Tempat Pemungutan
Suara.
Ketua Badan Pengendali Pemenangan Pemilu Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar
Slamet Effendy Yusuf menyatakan keyakinannya dari penghitungan sendiri,
Partai Golkar akan memenangi pemilu legislatif.
Menurut dia, hingga Senin pagi, menurut penghitungan sendiri, Golkar telah
memperoleh 94 "kursi murni" dari 550 kursi DPR. "Kursi murni" yang dimaksud
adalah hasil konversi dari perolehan popular vote yang melebihi BPP di
masing-masing daerah pemilihan.
Sementara Wakil Sekjen DPP PDI-P Pramono Anung mengatakan, partainya
mengakui bahwa perolehan suara partainya ada kecenderungan menurun. Namun,
ia tetap masih menunggu hasil rekapitulasi manual yang segera dilakukan KPU.
Ia mengatakan kecenderungan turunnya suara PDIP adalah kenyataan yang harus
diterima. Perolehan suara PDIP itu terkait dengan citra parpol, citra caleg
dan kinerja caleg selama ini. "Itu sangat berbeda dengan pemilihan
Presiden/Wapres secara langsung yang mengandalkan ketokohan," kata Pramono.
Manajemen lebih baik
Kecenderungan menangnya Partai Golkar, menurut pengamat politik Arbi Sanit,
lebih disebabkan karena kegagalan PDI-P mengatasi berbagai masalah yang
dihadapi rakyat. "PDI-P kalah karena kelalaian PDI-P untuk menepati janji.
Banyak kebijakan yang tidak sesuai kehendak rakyat. Misalnya Gubernur
Sutiyoso dipertahankan. Ketika berkuasa Sutiyoso menginjak rakyat dan PDI-P
diam saja. Itu memberikan kesan PDIP pembohong,," katanya.
Selain itu, organisasi Partai Golkar harus diakui kuat terutama di luar Jawa
dan di Pulau Jawa. "Saya kira mereka cukup uang ketimbang partai lain. Yang
penting lagi tampaknya masyarakat yang rindu Orde Baru yang menyatakan Orba
lebih baik larinya ke Golkar, bukan ke Partai Karya Peduli Bangsa," katanya.
Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia Muhammad Qodari menjelaskan
kecenderungan menangnya Partai Golkar itu bisa dijelaskan dari dua sisi.
Dari sisi partai, dapat dikatakan bahwa Partai Golkar yang paling matang
secara organisasi. Walaupun tidak sedang berkuasa, Partai Golkar
menyelenggarakan organisasi dengan maksimal. Sebelum kampanye, Partai Golkar
yang paling awal melaksanakan pelatihan juru kampanye secara struktural dan
sistematis.
Dari sisi masyarakat, menurut Qodari, dalam Pemilu 1999 PDI-P memenangi
pemilu karena masyarakat kecewa dengan Orde Baru yang dimanifestasikan
dengan ketidakpercayaan kepada Golkar. Namun, setelah lima tahun reformasi
dan tiga tahun PDI-P berkuasa, mereka tidak puas. "Mereka merasa kok
kondisinya tidak lebih baik dari Orde Baru, terutama masalah ekonomi yang
menjadi kebutuhan riil masyarakat bawah," ujarnya.
Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir indikator ekonomi sebetulnya
cukup membaik. Pertumbuhan ekonomi mencapai 4 persen, tetapi masyarakat
masih belum puas karena yang menikmati baru kalangan menengah ke atas.
Pertumbuhan 4 persen dinilai belum cukup, mereka ingin pertumbuhan ekonomi 8
persen seperti Orde Baru.
"Semua ini produk kegagalan pemerintah PDI-P dalam mengkomunikasikan
perbaikan. Komunikasi politiknya lemah. Iklan moncong putih yang dominan,
tapi isinya kosong. Kalau saya yang diminta membuat iklan, pertama saya akan
bercerita perbaikan ekonomi, baru kemudian ajakan memilih PDIP," kata
Qodari.
Masa depan reformasi
Tentang masa depan reformasi, menurut Qodari, tergantung cara mendefinisikan
reformasi. Kalau reformasi didefinisikan transisi menuju demokrasi, Partai
Golkar tidak bisa memutar jarum jam sejarah menuju sistem politik otoriter,
karena Indonesia sudah berjalan dalam rel yang baru. "Partai Golkar yang
harus menyesuaikan dengan reformasi. Tetapi tampaknya mereka sudah berusaha
mengakomodasi perubahan dengan cara menghilangkan dewan pembina. Mereka
mendukung amandemen UUD dan mendukung pemilihan langsung," katanya.
Kalau berbicara reformasi ekonomi, suka tidak suka harus mengakui 35 tahun
hanya tiga partai yang mendominasi, Golkar 30 tahun, Partai Kebangkitan
Bangsa 2 tahun, dan PDI-P 3 tahun. "Golkar sadar, kalau ingin berkuasa harus
berhasil secara ekonomi," ujarnya.
Menurut Qodari, yang menjadi persoalan adalah korupsi kolusi dan nepotisme.
Di sinilah yang mengkhawatirkan karena melihat sejarah masa lampau 35 tahun
terakhir, KKN terjadi di bawah Golkar, dua tahun di bawah PKB KKN minim, dan
marak lagi ketika PDI-P berkuasa.
"Jika Golkar berkuasa lagi, maka KKN dikhawatirkan mendominasi lagi. Tetapi
kita tidak menolak kehendak masyarakat. Karena itu Golkar harus kita kontrol
supaya jangan sampai kembali ke zaman Orde Baru. Kita harus mengawasinya
habis-habisan," kata Qodari.
Tentang masa depan reformasi, Arbi Sanit justru balik mempertanyakan partai
mana yang pernah konsisten melaksanakan reformasi ini. Menurut dia,
sekalipun ada keinginan kuat melaksanakan reformasi dari partai semacam PAN,
tetapi PAN adalah partai kecil. Partai Golkar melaksanakan reformasi ala
Golkar, PDI-P melaksanakan reformasi yang kompromistis.
"Reformasi itu paling tidak membutuhkan dua prasyarat yaitu konsistensi
sikap dan dukungan yang memadai. Dua prasyarat ini belum terpenuhi, sehingga
reformasi tidak jalan," katanya (idr/bur/bdm)
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Partai Golkar Kembali