[ppi] [ppiindia] Paradigma Rakyat Dalam Pemilu 2004

** ppi-india **
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=81284

Paradigma Rakyat Dalam Pemilu 2004
Oleh M Saekhan Muchith

Persoalan politik selalu berubah sesuai dengan dinamika perkembangan dan
tuntutan kehidupan masyarakat. Politik selalu mengandung dua dimensi, yaitu
upaya mempengaruhi atau merayu rakyat agar bersedia memberi dukungan suara
(mencoblos) dalam pemilu dan kerelaan, keihlasan atau kerendahan rakyat
untuk memberikan suaranya saat pemilu berlangsung. Bagi elit politik, agar
bisa menarik dukungan dari rakyat, mereka memberi janji atau argumentasi
yang menyentuh hati rakyat, walaupun janji-janji itu hanya tinggal janji
(omong kosong) tanpa ada realisasi sedikit pun. Satu-satunya pertimbangan
mengapa rakyat bersedia memilih (mencoblos) tanda gambar dalam pemilu adalah
agar para elit politik bersedia membela, memperjuangkan dan memihak kepada
rakyat kecil pada saat rakyat kecil memiliki problem kehidupan.
Pertanyaan yang pantas dikemukakan, apakah harapan rakyat dapat terpenuhi
setelah rakyat memilih parpol dalam pemilu? Seberapa besar partai politik
mampu memenuhi harapan rakyat? Benarkah janji-janji para elit parpol dapat
direalisasikan setelah elit politik itu duduk dalam lingkungan kekuasaan?
Inilah beberapa pertanyaan yang pantas dijadikan pertimbangan rakyat sebelum
mereka menjatuhkan pilihannya kepada salah satu partai politik, khususnya
dalam menghadapi pemilu tahun 2004.


Dinamika Masyarakat


Pertanyaan di atas memang seharusnya disadari oleh rakyat sebelum
menjatuhkan pilihannya terhadap salah satu partai politik, karena di tahun
2004 ini sudah pasti muncul dinamika, tantangan dan problem kehidupan yang
sangat berat, rumit dan kompleks. Rakyat tidak akan mampu menghadapi sendiri
tanpa bantuan atau pembelaan dari pihak atau komponen lain, seperti elit
politik. Dengan demikian rakyat mutlak perlu bantuan, baik secara moral
maupun materiil agar bisa tetap survive dalam menjalani beban kehidupan di
masa mendatang.
Pemilu tahun 2004, rakyat tidak butuh lagi figur pemimpin dan wakil rakyat
yang hanya bisa memberikan janji-janji palsu atau kemampuan retorika
apologis. Rakyat butuh bantuan dan perjuangan yang nyata dan efektif untuk
meringankan beban penderitaan kehidupan. Bahkan rakyat juga tidak begitu
membutuhkan banyaknya aturan, norma, undang-undang yang muluk-muluk. Sebaik
apa pun undang-undang kalau tidak diikuti dengan itikat baik (moral) dalam
mengimplementasikannya maka undang-undang itu tidak akan berarti apa-apa
bagi kehidupan rakyat.
Kaum buruh tidak akan puas hanya diberikan banyaknya aturan atau
undang-undang yang mengatur tatacara kerja mereka. Yang dibutuhkan buruh
adalah bagaimana upah minimum regional (UMR) bisa digunakan untuk memenuhi
standar kebutuhan pokok minimal dalam kehidupannya, dalam bekerja tidak
mudah dibohongi atau ditipu oleh perusahaan dan diperlukan secara manusiawi
sebagai layaknya manusia.
Para petani yang diharapkan bukan banyaknya jenis bibit dan pupuk yang
beredar di pasaran, kebutuhan esensial petani adalah bagaimana para petani
bisa menjual dengan mudah hasil pertaniannya dengan standar harga yang
stabil, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya. Walaupun jenis
pupuk dan bibit banyak beredar di pasar tetapi kalau para petani kesulitan
menjual hasil pertaniannya, kalaupun mudah menjual tetapi dengan harga yang
sangat rendah maka harapan dan kebutuhan petani itu berarti tidak terpenuhi.
Para nelayan tidak hanya mengharapkan banyaknya fasilitas untuk menangkap
ikan di laut, justru yang sangat dibutuhkan adalah bagaimana para nelayan
itu tidak diganggu atau dimonopoli oleh sekelompok tertentu dalam menangkap
ikan di laut. Para nelayan juga sangat membutuhkan kemudahan menjual hasil
tangkapan itu dengan mudah dan harga yang sesuai dengan kebutuhan dalam
kehidupannya. Masyarakat yang terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) atau
para pengangguran hanya membutuhkan satu hal, yaitu bagaimana mereka itu
bisa bekerja dengan cepat sehingga mereka bisa menambah penghasilan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Tahun 2004 ini sudah mulai masuk era perdagangan bebas Asia (AFTA). Tahun
ini rakyat "dipaksa" mampu melakukan kompetisi (persaingan) secara sehat,
obyektif, jujur dan bertanggung jawab. Konsekuensi yang harus dipenuhi
adalah rakyat harus memiliki keterampilan, etos kerja, semangat tinggi,
tidak kenal lelah dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada di
sekitarnya.
Dengan demikian tahun 2004 pantas disebut tahun beban sekaligus peluang
untuk berkembang atau tenggelam bersama waktu. Artinya, siapa pun yang
memiliki kualitas tinggi akan bertahan hidup; sebaliknya yang tidak memiliki
kemampuan untuk bersaing akan kalah dan terpuruk. Salah satu untuk memberi
support (dukungan) bisa dilakukan oleh para elit politik, para wakil rakyat
yang duduk di dalam sistem struktur partai politik maupun struktur birokrasi
pemerintahan, baik menjelang pemilu maupun pasca pemilu.


Paradigma Berpolitik


Istilah berpolitik mengandung maksud adanya kesediaan, kesiapan, kemauan,
keikhlasan dan ketulusan rakyat dalam memilih (mencoblos) partai politik
dalam pemilu, khususnsya pemilu tahun 2004 yang akan dilaksanakan tanggal 5
april. Pilihan rakyat terhadap partai politik akan sangat berpengaruh dalam
meringankan atau membantu penyelesaian berbagai problem yang dimiliki dalam
kehidupan. Jangan sampai pilihan rakyat terhadap salah satu parpol malah
memberatkan problem atau tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam kehidupan
sosialnya.
Memilih partai harus partai yang benar-benar dapat membantu, memperjuangkan
dan berpihak kepada kepentingan rakyat dalam artian bisa mensejahterakan
rakyat setelah mereka duduk dalam jabatan struktur kekuasaan. Jika rakyat
menganggap tidak ada satu pun yang pantas untuk dipilih, maka tidak bisa
disalahkan bila rakyat mengambil keputusan untuk tidak memilih (mencoblos)
partai politik dalam pemilu tahun 2004 alias golput.
Pertimbangan utama dalam memilih partai politik bukan saatnya lagi berdasar
pada alasan ideologis-normatif, yaitu hanya karena ada persamaan kelompok,
organisasi, ideologi dan agama/keyakinan. Pertimbangan utama harus
didasarkan pada alasan rasionalitas ekonomis pragmatis. Artinya, rakyat akan
memilih hanya kepada partai politik yang benar-benar mampu menunjukkan
kepada rakyat dengan kinerja nyata bahwa partai politik itu mampu membantu
dan mensejahterakan rakyat. Kemampuan itu tidak cukup ditunjukkan dengan
ucapan atau argumentasi apologis pada saat kampanye (menjelang pemilu)
melainkan harus ditunjukkan dengan bantuan dan perjuangan nyata, baik
menjelang pemilu maupun pascapemilu selama lima tahun ke depan.
Rakyat jangan hanya memilih PDIP disebabkan karena figur Megawati seorang
putri Bung Karno dan PDIP memiliki jargon membela wong cilik; warga NU juga
jangan sampai memilih PKB karena pertimbangan PKB disebut-sebut partainya
warga NU, rakyat Indonesia tidak tepat kalau memilih PPP hanya karena PPP
itu berasaskan Islam. Begitu juga warga Muhammadiyah, tidak proporsional
kalau mereka menjatuhkan pilihan politik PAN hanya karena alasan PAN
dipimpin oleh mantan Ketua Umum Muhammadiyah. Akan menyesal, bila rakyat
memilih Partai Golkar disebabkan mereka pensiunan PNS (pegawai negeri sipil)
atau TNI (Tentara Nasional Indonesia).
Pertimbangan memilih salah satu partai politik dengan menggunakan landasan
seperti itu jelas tidak akan mampu menyelesaikan problem penderitaan rakyat
yang semakin hari semakin bertambah berat. Implikasi rakyat memilih dengan
pertimbangan ideologis normatif juga akan berpengaruh pada kurang dewasanya
partai politik dalam memperjuangkan aspirasi rakyat dan cenderung akan
terjebak pada issu-issu tradisional yang hanya berakhir pada kebohongan elit
politik kepada rakyat.


Kontrak Sosial-Politik


Menghadapi pemilu tahun 2004, rakyat harus berani dan bisa melakukan kontrak
sosial politik dengan masing-masing elit politik. Sebelum pemilu berlangsung
rakyat terlebih dahulu perlu menyusun rencana, daftar, program atau agenda
problem yang harus diselesaikan atau diperjuangkan masing-masing partai
politik setelah mereka berhasil menduduki jabatan politik, baik di lembaga
legislatif maupun eksekutif. Kontrak sosial-politik harus dibuat secara
resmi, termasuk bentuk-bentuk sanksi bila partai politik itu mengkhianati
kesepakatan yang disusun dalam naskah perjanjian atau kontrak
sosial-politik. Silahkan masing-masing elemen rakyat menyusun kontrak
sosial-politik sesuai dengan agenda problem yang dimiliki. Bisa jadi kontrak
sosial-politik itu berbeda-beda sesuai dengan jenis profesi yang ada,
seperti petani berbeda dengan nelayan, PNS berbeda dengan buruh, mahasiswa
berbeda dengan kalangan birokrat atau pengusaha dan lain sebagainya. Partai
manapun dan siapa pun tokohnya kalau mereka berani "teken" kontrak dan
berjanji akan memperjuanhgkan sesuai dengan isi kontrak tersebut, itulah
yang wajib dipilih (dicoblos) dalam pemilu tahun 2004.
Apa pun partainya dan siapa pun tokohnya bila tidak bersedia menandatangani
kontrak sosial politik dengan rakyat maka rakyat harus mengucapkan "selamat
tinggal" partai politik. Paradigma seperti inilah yang pantas dilakukan oleh
rakyat Indonesia, khususnya dalam menghadapi Pemilu 2004, kontrak seperti
ini yang bisa menjadi salah satu cara mengeleminir kebohongan dan janji
palsu dari para elit politik. Urusan politik adalah urusan kesejahteraan,
ketenangan dan ketenteraman sosial. Bila berpolitik tetapi tidak membawa
berkah pada kesejahteraan kehidupan rakyat maka lebih baik tidak perlu
berpolitik. ***
(M Saekhan Muchith, SA Ag M Pd adalah dosen STAIN Kudus,
aktivis Lakpesdam NU Kabupaten Kudus, Jateng).



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: