[ppi] [ppiindia] Paket Ceper
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 25 Jan 2004 23:29:00 +0100
** ppi-india **
http://www.suaramerdeka.com/harian/0401/26/kha1.htm
Suara Merdeka
Senin, 26 Januari 2004 Karangan Khas
Paket Capres dan Cawapres
Oleh: Chusnan Maghribi
DI tengah hiruk-pikuk 24 partai politik (parpol) mempersiapkan segala
sesuatunya untuk mengikuti pemilihan anggota legislatif awal April 2004,
parpol-parpol besar khususnya kini juga bersiap meraih sukses dalam perebutan
kursi presiden dan wakil presiden Oktober mendatang. Mereka sibuk
berkonsolidasi, baik internal maupun eksternal, untuk menetapkan paket calon
presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) terbaiknya. Komisi
Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 1 Mei 2004 sebagai dimulainya sejumlah parpol
besar melaporkan pasangan capres-cawapresnya.
Pemilihan presiden beserta wakilnya tahun ini memang sangat istimewa.
Sebab untuk pertama kalinya dalam sejarah NKRI mereka dipilih langsung oleh
rakyat. Beda dari presiden dan wapres sebelumnya yang dipilih PPKI (Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia), MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sementara), dan MPR.
Sejak merdeka 17 Agustus 1945, Indonesia memiliki lima presiden, empat
dari kalangan sipil (Soekarno, Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati) dan
satu berasal dari militer (Soeharto). Jika rentang waktunya dihitung, masa
pemerintahan presiden sipil 28 tahun (1945-1967 dan 1998-2004), sedangkan
militer 31 tahun (1967-1998).
Sementara itu, wapresnya sebanyak sembilan orang, enam dari sipil
(Mohammad Hatta, Sultan Hamengku Buwono IX, Adam Malik, BJ Habibie, Megawati,
dan Hamzah Haz) dan tiga militer (Soedarmono, Umar Wirahadikusumah, dan Try
Sutrisno). Dua wapres (Habibie dan Megawati) berhasil naik pangkat menduduki
kursi presiden akibat pengunduran diri dan pemecatan (oleh MPR) presiden
sebelumnya.
Dalam kurun waktu 57 tahun, tercatat Gus Dur dan Megawati betul-betul
maju sampai pemilihan final di MPR sebagai capres (1999), sedangkan sebagai
cawapres, cuma Hamzah Haz dan Akbar Tandjung (2001). Selebihnya dipilih secara
aklamasi.
Terkait dengan isu Jawa-luar Jawa, dari lima presiden hanya satu yang
berasal dari luar Jawa (Habibie, Sulawesi Selatan), sedangkan empat sisanya
dari Jawa. Untuk wapres, dari sembilan wapres empat di antaranya dari luar Jawa
(Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat) dengan
masa kekuasaan sekitar 19 tahun. Selebihnya dari Jawa dengan masa kekuasaan 21
tahun. Selama sekitar 16 tahun (1956-1971 dan 1998-1999) RI tak mempunyai
wapres.
Dari segi ideologi, Habibie dan Gus Dur tercatat mewakili sosok presiden
religius, meski keduanya membungkus religiositasnya dalam tampilan
nasionalis-religius. Selebihnya berideologi nasionalis murni. Di jajaran
wapres, tripel H (Hatta, Habibie, dan Hamzah) mewakili sosok religius, baik
puritan maupun setengah puritan. Sisanya nasionalis murni.
Dalam konteks itu, politik aliran sebagai pertimbangan parpol menetapkan
capres-cawapresnya cukup menarik untuk diperhatikan. Barangkali yang paling
getol mengangkat wacana paket capres-cawapres nasionalis religius adalah PDI- P
dengan mencari cawapres dari kalangan nasionalis, religius saja, atau
nasionalis-religius sekaligus.
Sementara itu, Partai Golkar mengedepankan konvensi nasional guna
menjaring paket capres-cawapres dari bawah. Pola ini pernah digunakan Golkar
pada era Orba, saat Harmoko menyatakan rakyat mencalonkan Soeharto sebagai
capres tunggal melalui survei dua bulan pada 1997.
Polling Sugeng Sarjadi Syndicated dan Dr Arief Budiman Maret 2003
mengeluarkan sejumlah kalkulasi pemilihan capres dan cawapres 2004. Keduanya
mencantumkan kriteria nasionalis-religius sebagai tolok ukur, baik di tingkat
elite parpol maupun dari kehendak publik yang tercermin dalam hasil polling.
Dengan begitu, elite dan masyarakat seolah masih larut dalam paradigma lama
bahwa ukuran kemenangan politik sipil ditentukan oleh gabungan dua aliran besar
di Indonesia itu. Hal ini menunjukkan betapa teori sirkulasi elite belum
berubah, setidaknya sejak 1959.
Intervensi pola sipil-militer dan militer-militer selama 31 tahun seakan
tak berpengaruh apa-apa, di tengah isyarat makin kuatnya aspirasi kembali ke
era Soeharto dan militer di kalangan masyarakat menengah ke bawah sekarang.
Paket capres-cawapres nasionalis religius tadi seakan mengasumsikan yang
nasionalis bukan religius, sedangkan yang religius bukan nasionalis. Keduanya
diposisikan diametral dan divergen/berbeda (Indra J Piliang, CSIS, 2003).
Padahal perlu dibongkar kembali apakah nasionalisme itu aliran, paham ataukah
ideologi yang pantas disandingkan dengan aliran religi demi tujuan-tujuan
politik.
Apakah pakem ini merupakan tipikal signifikan dalam proses modernisasi
sistem politik Indonesia, mengingat kalangan nasionalis-religius jauh dari
kebijakan yang seharusnya diambil saat memerintah?
Di banyak negara luar, kalau ideologi itu mendikotomikan antara liberal
dan sosialis, kelompok liberal dengan partai buruh, atau antara demokrat dan
konservatif, pengaruhnya langsung tampak pada pengambilan kebijaksanaan. Di
negara kita, berbagai kebijakan yang diambil juga bersentuhan dengan paham atau
ideologi yang dianut, meski sering menonjolkan sisi personal, bukan basis
ideologi parpol pendukungnya.
Presiden Habibie dikenal liberal dalam regulasi politiknya, termasuk
dalam penyelesaian Timor Timur, dan kebiasaan peluk ciumnya. Gus Dur cenderung
populis, terutama dalam pemberian otonomi khusus Aceh dan Papua. Soekarno
terkenal antipasar bebas, sedangkan Soeharto proliberalisasi pasar.
Itu maksudnya, pada masa-masa tersebut setiap presiden mampu memengaruhi
pilihan-pilihan kebijakan yang diambil, termasuk menyangkut hubungan luar
negeri, meski bukan dalam arti paham atau ideologi yang dianut. Terkait dengan
Islam, misalnya, Gus Dur membiarkan banyak kelompok Islam berdemo sampai ke
Istana Negara. Adapun Megawati bersikap keras dengan melakukan penahanan, tapi
faktor nasionalis-Islam terus diusung dengan simbol utama Hamzah Haz.
Walaupun menggabungkan dua kekuatan sekaligus (nasionalis-religius),
rezim Megawati-Hamzah tak tampak bisa mengarahkan pemerintahannya selaras
kriteria itu. Tipikal nasionalis tulen semacam Soekarno tak kelihatan di diri
Megawati, khususnya di bidang ekonomi. Sementara itu, ciri religiositas juga
tak menonjol, baik dalam arti perhatian terhadap masyarakat marginal maupun
dalam usaha meredam beragam kegiatan amoral seperti perjudian, pornografi,
narkoba, sampai kebobrokan moral pengusaha dan pemerintah. Penerapan Syariat
Islam di Nanggroe Aceh Darussalam hanya meneruskan kebijakan Gus Dur.
Lantas, untuk menetapkan paket capres-cawapres oleh masing-masing parpol
besar khususnya, model koalisi apa yang mesti dibangun? Sebaiknya, model
politik aliran ditinggalkan. Begitu halnya pola dikotomi sipil-militer,
Jawa-luar Jawa, serta jargon Orla-Orba-Reformasi.
Empat wapres yang dinilai cukup berhasil (Hatta, Sultan HB IX, Adam
Malik, dan Habibie) berasal dari sipil. Keempatnya juga bukan mewakili unsur
magis dan tradisional, melainkan unsur rasionalitas, pengetahuan, empirisme,
dan profesionalisme.
Dikotomi Orla-Orba juga tak relevan. Sultan HB IX, misalnya, dapat
menjaga jarak dari dua orde yang dekat dengannya dengan membenahi sektor sosial
dan budaya kemasyarakatan. Adam Malik pernah berjasa dalam pembangunan hubungan
politik luar negeri, khususnya di tingkat ASEAN, walau melintasi dua orde.
Kalangan sipil pun banyak berperan dalam membidani kelahiran NKRI. Bila
dihitung nama per nama, itu bisa menjadi sebuah deretan panjang. Mulai dari
Soekarno, Hatta, Moh Yamin, sampai Agus Salim dan Soedjatmoko.
Karena itu, penetapan capres-cawapres dengan hanya mematok dari kalangan
parpol saja sangatlah tidak bijaksana. Indra J Piliang bahkan menyebutnya
sebentuk arogansi. Meski UUD 1945 menegaskan capres-cawapres berasal dari
parpol atau gabungan parpol, hal itu hanya sebagai perantara. Penjaringan
capres-cawapres hendaknya terarah pada pemberian kesempatan bagi anak-anak
bangsa terbaik untuk menyampaikan visi, misi, prestasi, keahlian hingga isu-isu
human interest, sebagai bentuk pengumpulan collective idea dan collective power
di tubuh nation state RI.
Model konvensi nasional yang ditempuh Partai Golkar untuk menjaring
capres-cawapres terbaik 2004, barangkali model yang pas untuk menetapkan paket
capres-cawapres yang ideal dan terbaik bagi parpol-parpol besar. Ke depan, tak
ada salahnya kalau model konvensi nasional itu juga ditempuh parpol selain
Golkar untuk menetapkan paket capres-cawapres terbaiknya. Toh, Partai Demokrat
dan Republik di Amerika Serikat, negeri yang acap kali dijadikan parameter
kematangan praktik demokrasi, sama-sama menggelar konvensi nasional guna
menetapkan pasangan capres-cawapres terbaiknya untuk memenangkan pemilihan
presiden secara langsung yang digelar sekali dalam empat tahun itu. (18i)
-Chusnan Maghribi, peminat masalah politik CIIS di Yogyakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Paket Ceper