[ppi] [ppiindia] Pajak, Moralitas dan Insentif

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **



Pajak, Moralitas dan Insentif 
Oleh Mohamad Ikhsan Modjo 

Problem perpajakan di negeri ini dapat diibaratkan satu penyakit
kronis. Ia sudah berlangsung lama, sistemik dan menjalar kemana-mana. 

Bila tidak percaya, datanglah ke salah satu kantor pajak di Jakarta
pada saat musim pengembalian (restitusi) pajak tahun buku di
Indonesia. Bila anda sedikit rapi, necis dan berdasi, maka disana akan
terlihat betapa kasat matanya korupsi dan penyelewengan di negeri ini.
Anda akan melihat para petugas pajak tidak ada ubahnya dengan buaya
darat yang saling berebutan menerkam mangsa. "Sama saya saja pak, sama
saya saja.....",  mereka akan berkata dan saling beradu paling keras,
karena siapa paling tangkas, paling banyak menerima suap dan jatah
korupsi.

Juga, jangan kaget kalau ada yang membawa satu dua peti uang tunai
ratusan juta rupiah yang kemudian di hitung di depan mata anda. Karena
semua setoran atau pungli memang harus dilakukan dengan uang tunai
untuk meniadakan barang bukti, "maaf tidak terima transfer atau check,
ini sudah menjadi cara kerja kami". 

Semua praktek biadab ini terjadi serba telanjang bulat dan sudah
berjalan sejak tahun kuda. Tidak pernah ada upaya serius untuk
memperbaiki karena hasil korupsi biasanya dibagi rata. Tentunya dengan
skala berbeda, tergantung kepada kegesitan dan lokasi dimana para
pelayan (pemangsa) masyarakat itu berada.

Jadi, bukan hal luar biasa kalau ada semacam semangat lebih baik jadi
kroco di pusat ketimbang pejabat di pelosok yang tidak ada mangsanya.
Juga jangan tersendak bila dikatakan penyelewengan pajak setiap
tahunnya lebih dari Rp. 300 triliun, atau bila target pajak di APBN
hanyalah macan kertas yang kadang sekedar angan-angan. Semua sudah
tradisi yang seakan tidak perlu digugat dan dipersoalkan.

Masalahnya, bagaimana membenahi carut-marutnya perpajakan nasional ini? 

Benahi moral dan berikan insentif!  Begitu tegas pemerintah. 

Maka, dikhotbahkanlah moral pada setiap kesempatan baik resmi atau
tidak resmi. Tidak lupa tentu saja diundang seorang kyai kondang untuk
memberikan kuliah agama di Dirjen Pajak. Tentunya dengan harapan
banyak yang akan bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Sayang, manusia bukanlah malaikat. Kadang keinginan menambah istri,
rumah, mobil, dan deposito di bank adalah lebih besar ketimbang rasa
takut akan neraka. Himbauan dan penyegaran rohani hanyalah selingan di
antara tuntutan duniawi yang tidak berbatas dan sulit terpuaskan. 

Tidak mengejutkan bila satu dua hari saja terasa ada perbaikan,
selebihnya semua berjalan seperti biasa. Semua menanti pensiun dan
saat harta cukup untuk tujuh turunan baru berjanji tidak lagi korupsi. 

Demikian pula, karena pengusaha adalah mahluk paling malas di negeri
ini menurut pemerintah. Maka untuk membangkitkan semangat mereka perlu
ada berbagai insentif. Mulai dari upah buruh yang ditekan, pemotongan
hutang hingga pemutihan pajak.  Pemerintah memandang dunia usaha dan
investasi perlu dibangunkan kembali melalui tax amnesty. Dengan
harapan kali ini mereka tidak berbohong lagi. 

Akibatnya, pengusaha di negeri ini menjadi manja. Mereka selalu
menanti insentif serta kemurahan hati pemerintah. Celakanya, rakyat
juga tidak berdaya dan hanya bisa menurut. 

Namun apa benar faktor moral dan insentif masalahnya? Bukankah percuma
bicara moral bila institusi masihlah lemah. Tidak ada gunanya nasehat
bila semua buta mata tutup telinga. Orang yang bermoral sudah
dipinggirkan secara alamiah. Sementara yang bejat dan bermental korup
justru terpelihara bahkan di usung tinggi. 

Kebobrokan institusi adalah masalah sistem.Administrasi perpajakan di
negara ini sangatlah merepotkan. Dan prosesnya pun dimonopoli secara
sepihak. Akuntabilitas bisa dikatakan lemah bahkan hampir tidak ada.
Terlalu banyak wewenang diberikan kepada para birokrat untuk
menetapkan pajak tertanggung tanpa adanya transparansi dan mekanisme
banding yang sederhana. 

Tapi, di negara ini segala sesuatu memang harus dipersulit. Karena
dengan mempersulit bisa didapatkan duit. 

Begitu pula insentif. Ini hanya pengulangan cerita lama yang pasti
berakhir dengan klise yang sama. Insentif adalah sinyal salah kepada
orang yang salah. Dengan kebobrokan sistemik maka korupsi yang justru
akan bertambah. Karena insetif adalah pilih kasih. Dan seribu satu
alasan bisa diciptakan. Yang ujungnya lagi-lagi manipulasi. Insentif
tidak layak demi satu keadilan. Bahkan tidak ada jaminan partisipasi
mengingat hukum masih bisa dibeli.

Penyakit kronis memerlukan terapi mendasar sampai ke akarnya. Terapi
kejut berupa insentif ibarat usapan balsam pada borok yang mengangga
dan bernanah. Pemutihan pajak adalah mekanisme tambal sulam. Yang
tidak lebih dari ikrar ketidakmampuan memberikan alternatif dan
pembenahan ke dalam.

Ironis memang sikap pemerintah. Di satu pihak ingin mendapat pajak
yang tinggi, di pihak lain tidak mau mengkaji secara lebih serius dan
melakukan perubahan sistematis perpajakan nasional yang memang
beresiko politik tinggi. 

Makin lama pola perpajakan yang ada dipertahankan, makin parah problem
sistemik dan akan makin sengsara nasib rakyat di negeri ini.
Ketidakpuasan dan rasa ketidakadilan sudah lama menggumpal pada
seluruh anak negeri. Mereka saat ini masih menunggu dan berharap akan
ada perubahan dan keberanian untuk melakukannya. 











------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: