[ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [7]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sat, 31 Jan 2004 07:41:43 +0100
** ppi-india **
PUISI SEBAGAI BENTENG [7]
Catatan Kesan Membaca Sanjak-Sanjak Mega Everistianawati
"Pada aslinya semua karya merupakan sebuah proyek yang dirumuskan oleh
kata-kata"
Alain Fleischer
"Benar bahwa saya bicara, saya beteriak. Tetapi saya tidak pernah vulger.
Kevulgeran hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah".
Vahid Halilhodzic
Dari: Harian Le Monde, Paris,30 Januari 2004.
Ucapan-ucapan di atas yang saya jadikan motto untuk tulisan ini
memperlihatkan arti penting kata. Untuk sebuah puisi, kata merupakan
fundamen dari segala fundamen. Selama yang disebut puisi masih menggunakan
bahasa sebagai sarana pengungkap pikir dan rasa penyair, maka kata merupakan
basis utama bagi puisi. Ada memang usaha sementara orang yang mencoba
melukis bentuk segi empat dan menyebut segi empat kosong itu sebagai puisi.
Ada pula yang merangkaikan tanda-tanda baca pada bahasa, kemudian menyebut
tanda-tanda baca serta huruf-huruf yang disusun sedemikian rupa sebagai
puisi. Percobaan-percobaan begini masih belum berhasil menggeser peranan
kata sebagai basis puisi, kata sebagai penampung pikiran dan perasaan
pengguna bahasa. Dan eksperimen-eksperimen di atas, entah atas nama gerakan
pembidas (avant garde) atau entah apalagi, masih saja tidak bisa atau belum
berhasil mendominasi dunia perpuisian! Tidak pernah saya temukan dalam
sejarah perpuisian dunia sampai hari ini bahwa pembaruan puisi dilakukan di
luar penggunaan bahasa dan kata sebagai dasarnya. Boleh jadi hal ini
disebabkan oleh keterbatasan pengenalan dan pengetahuan saya. Yang sering
saya dapatkan, justru tidak sedikit orang yang kurang cermat memilih kata
untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkan sehingga mengacaukan
komunikasi dengan pihak lain. Kekacauan dan ketidakcermatan demikian, jika
diusut-usut berpangkal pada ketidak selesaian pikiran, bahkan kekacauan pada
benih gagasan (germ idea) pada si pembicara atau dalam hal ini si penyair.
Alasan saya tidak lain bertolak dari pandangan bahwa kata mengandung
pengertian-pengertian tertentu yang sudah disepakati oleh kelompok pemakai
bahasa tertentu di ruang dan waktu tertentu. Dengan mengatakan hal ini saya
ingin menunjukkan bahwa kata dan pengertiannya bersifat dinamis tetapi tetap
tidak anarkhis dalam artian bisa ditafsirkan sekehendak si pemakai tanpa
menggubris kesepakatan dalam masyarakat.Dari penggunaan dan pilihan kata,
akan segera diketahui kemampuan dan tingkat pengenalan serta taraf
keselesaian gasasan si pemakai kata dan bahasa. Keadaan begini oleh para
tetua kita dirumuskan dalam kata-kata: "bahasa menunjukkan bangsa" atau
pepatah "begitu ikan meloncat sudah kita kenal jantan betinanya".
Demikianpun pada puisi. Pembaca puisi yang berpengalaman akan segera
mengenal "jam terbang" seorang penyair atau yang menyebut dan mengaku diri
penyair. Dari sanjaknya kita pun bisa segera tahu tingkat gagasan dan
pengetahuan si penyair, daya analisanya dan pandangan anutannya, bahkan
warna jiwa si penulis. Apakah ia seorang yang "syok-syokan model anak
berangkat gede" yang banyak ulah minta perhatian dan pengakuan, atau
"berkarakter paternalistik" ataukah militeristik, dan sebagainya.... Sanjak
adalah wajah jiwa dan pikiran penyairnya. Karena kata merupakan dasar puisi
maka semuanya itu akan tercermin dan terungkap melalui kata yang dia pilih.
Jika seseorang yang mengaku diri penyair dan budayawan tapi sering memilih
kata-kata kasar dan kata makian seperti "tai kucing", "bajingan", dan
"kata-kata mutiara" lainnya yang sejenis, dari pilihan kata-kata tersebut si
pembaca puisi atau tulisan akan segera mengenal warna jiwa si penyair atau
si penulis sekalipun ia menyebut diri berbudaya dan beradab. Jika
menggunakan kata-kata Vahid Halilhidzic pilihan kata demikian merupakan ujud
dari "kevulgeran" dan "kevulgeran hanya dilakukan oleh orang-orang yang
lemah" atau dalam kata-kata Lu Sin, pengarang Tiongkok, "caci-maki bukan
kekuatan tetapi tanda ketidakberdayaan".
Berdasarkan pandangan di atas, maka pilihan kata menjadi sangat mendasar
bagi sebuah puisi sebagai pengungkap "bayangan batin", keinginan batin" dan
"germ idea" (benih gagasan). Dari segi ini maka saya melihat bahwa kata
merupakan kualitas. Kata menunjukkan kualitas seseorang secara polos. Kata
menelanjangi diri pemakainya.
Uraian di atas mencoba melihat arti dan pentingnya pilihan kata pada puisi
dari segi sarana penampung gagasan.
Dari segi bentuk puisi, kata dan pilihan kata masih juga memainkan peranan
mempengaruhi bentuk puisi itu secara keseluruhan. Irama dan metafora juga
dibentuk melalui kata. Bahkan Françis Ponge, penyair Perancis, dengan konsep
"logoscope"nya, memandang kata itu sebagai "logos", sebagai "sebuah subyek
yang bernyawa dan berjiwa." [lihat: "Entretiens de Françis Ponge Avec
Philippe Solers", Gallimard/Seuil, Paris,1970, hlm. 59]. Sedangkan Mallarme,
penyair Perancis lainnya, mengatakan bahwa huruf mati dan huruf hidup pada
kata bisa diibarat sebagai daging pada manusia" [Ibid]."Dalam pekerjaan
pekerjaan saya di bidang perpuisian hal demikian saya rasakan sekali",
tambah Mallarme [Ibid]. Ponge mengambil kata "souvenir" sebagai contoh.
Dalam kata "souvenir" ini terdapat huruf hidup o, u, e, i di samping huruf
mati s, v, n, r. Ponge melihat huruf hidup pada kata "souvenir" itu sebagai
"daging" sedangkan huruf-huruf mati sebagai "tulangnya". [Ibid].
Dari contoh Ponge ini nampak bagaimana kata dan kata yang dipilih di samping
menentukan kemampuannya mewadahi benih gagasan, keinginan batin dan bayangan
batin, juga menentukan irama sanjak tersebut. Selain itu dari suara kata dan
huruf turut menentukan pembentukan citra.
Lagi-lagi dari penjelasan demikian nampak betapa kata dan kata yang dipilih
untuk digunakan akan menentukan mutu puisi, baik dari segi bentuk, maupun
dari segi gagasan. Karena itu maka saya kembali pada hipotesa bahwa kata
merupakan kualitas. Kata menunjukkan kualitas sebuah puisi.
Melalui kata pula penyair bisa memberikan sumbangan berarti kepada
perkembangan maju sebuah bahasa, terutama bahasa yang digunakannya sebagai
sarana berpuisi. Sekalipun penyair mempunyai "kebebasan berpuisi", tapi
kebebasan berpuisi tidak sama sebangun dengan menggunakan bahasa secara
seenak hati sampai-sampai pada perusakan bahasa. Sastra adalah seni bahasa.
Merusak bahasa atas nama "kebebasan berpuisi" saya kira suatu sikap yang
membelakangi sikap kesusastraan dan kepenyairan.
Bagaimana dalam hal ini sikap Mega ketika berpuisi? Mega memang seperti yang
dikatakannya sendiri "tidak membangun pagar diri dalam berkreasi". Tapi ia
memang bukan perusak bahasa, dan Mega memang berusaha cermat dalam memilih
serta menggunakan kata.Hanya terkadang nampak ia kurang sabar oleh dominasi
gelora perasaannya. Iapun tidak sabar lagi untuk memeriksa kembali apa yang
sudah ditulis. Pada saat inilah maka terjadi ketidakcermatan.
Agar berbicara secara kongkret maka kuangkat kembali sanjak berikut:
BENARKAH WINTER MEMBEKUKAN RASAKU?
:A.W.
entah apa yang akan kutuliskan dalam puisiku
saat dinginnya musim dingin membekukan seluruh rasaku
atau biarlah pikiranku saja yang mengembara menelusuri sudut kota
sementara tubuh menyerap hangat tungku perapian
tak kuharapkan dirimu mendekapku, ini hanya mimpi yang meletihkan
karena jarak melintas nyata dan kita masih tak berdaya
Hongkong, Winter.
[Dari: Milis Panggung 20 Desember 2003].
Sebagai bahan pembicaraan maka saya hanya mengambil baris-baris berikut:
"tak kuharapkan dirimu mendekapku, ini hanya mimpi yang meletihkan
karena jarak melintas nyata dan kita masih tak berdaya"
Baris "...ini hanya mimpi yang meletihkan" seandainya Mega punya kesabaran,
mungkin kata "yang" bisa dibuang dan tinggal kalimat "ini hanya mimpi
meletihkan" sehingga terdapat sajak awal [aliterasi] yang langsung
berdekatan. Kalimatpun jadi padat. Masalah kepadatan kalimat saya singgung
karena kepadatan merupakan salah satu hal yang selalu dituntut oleh puisi.
Contoh lain lagi dari ketidaksabaran Mega dalam memilih kata, nampak pada
baris berikut:
"karena jarak melintas nyata dan kita masih tak berdaya"
Dari baris ini saya pertanyakan: Mana yang lebih kena antara kata "melintas"
dan "merentang"? Dari segi bunyi, suara "tas" tidak menmbayangkan hamparan
lebar luas mencakrawala, tapi memperdengarkan suara letusan atau langkah
kaki orang lewat dan menginjak sesuatu hingga pecah dan mengeluarkan suara
"tas" lalu melenyap. Sedangkan dengan kata merentang, yang berakhir dengan
"tang", menggambarkan gaung panjang dan jauh, melukiskan suatu hamparan
padang yang memisah dua sisi. Bunyi "tang" akan lebih didukung lagi kekuatan
citranya jika "jarak" diganti dengan "ruang". Kata "ruang"pun mungkin lebih
mengandung makna filosofis daripada kata "jarak".
Dengan contoh-contoh ini, saya tidak memperdebatkan tepat tidaknya pandangan
saya , tapi lebih terletak pada keinginan menunjukkan betapa pentingnya
pilihan kata, termasuk bunyi dan dampak bunyi kata pada sebuah puisi.
Pentingnya masalah kata dan pilihan kata pada puisi sebenarnya sudah juga
disadari oleh Mega. Hal ini terbukti ketika ia menyiarkan kembali sanjaknya
berjudul "Ijinkan Aku Tuhan" yang telah disiarkan oleh website "Sarikata"
pada 28 Januari 2004.
Versi puisi ini yang disiarkan oleh "Sarikata" adalah sebagai berikut:
IJINKAN AKU TUHAN
Tuhan
boleh kupinjam langitmu?
untuk kujadikan kanvas lukisanku
seperti Tuhan melukis bayangku di bawah sinar rembulan
Kan kusibak gumpalan awan, oh ini endapan airmataku
saat hidup dicincang belati kehidupan
biar kulukis pelangi Tuhan walau warnanya kelabu saja
karena cuma itu yang Tuhan beri
Yaumatei 2004.
Sanjak ini melalui berbagai milis sastra, kemudian dua baris terakhir telah
dikoreksi oleh Mega, yang membuat isi puisi ini berobah secara drastis, dan
menunjukkan perkembangan baru dalam pemikiran Mega sekaligus menunjukkan
betapa Mega tidak berhenti berpikir dan mencari yang kemudian dia tuangkan
dalam pilihan kata-kata baru. Dua baris terakhir yang berbunyi:
"biar kulukis pelangi Tuhan walau warnanya kelabu saja
karena cuma itu yang Tuhan beri"
dirobah oleh Mega menjadi:
"biar kulukis mentari
karena Tuhan selalu menyembunyikannya dari hidupku".
Perobahan dua baris terakhir ini, bagi saya, sekaligus memperlihatkan bahwa
Mega memang tidak memasang "pagar-pagar diri" bagi kreativitas dan dunia
pemikiran serta jiwanya yang lelah tapi terus mencari dan melangkah dan
melangkah di jalan kembara tak berujung. Dengan keberanian mengkoreksi puisi
dan pikirannya sendiri, maka bisa diharapkan puisi-puisi dan karya-karya
Mega di bidang lain [cq.lukis dan musik], benar-benar bisa jadi benteng
tangguh kehidupan, seperti yang juga diucapkan oleh Francis Ponge bahwa
"sastra adalah senjata" untuk memanusiawikan manusia, masyarakat dan
kehidupan dan sastrawan jadinya tidak lain daripada seorang
"panarung",warrior atau guerrier [lihat: Entretiens de Francis Ponge Avc
Phillipe Sollers", Gallimard/ Seuil, Paris,1970, hlm.56 dan 50].
Paris, Januari 2004.
-------------------
JJ. KUSNI
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [7]