[ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [6]

** ppi-india **
PUISI SEBAGAI BENTENG [6]

Catatan Kesan Membaca Sanjak-Sanjak Mega Everistianawati=20



"bila bosan kami merenung dan merenung
yang tinggal cuma jingting sebagai gunung"=20

"bunga-bunga persik jatuh ke air bening
dunia lain dari bumi, langit lain dari langit insani"=20

Li Bai


Kembali kepada pertanyaan George Mounin "Apakah puisi telah mati?[ Georges =
Mounin, "Po=E9sie et Soc=E9t=E9", Presses Universitaires de France, Paris, =
1968, hlm. 76-88], atau pertanyaan Eugenio Montale di depan Akademi Sweida =
[12 Deselber 1975]:  "Puisi, masihkah ia mempunyai kemungkinan?" oleh gejal=
a menderasnya "puisi gelap" dan "kegelapan puisi", saya kira pertanyaan-per=
tanyaan tersebut bukan disebabkan oleh kecemasan bahwa puisi akan melenyap =
dari kehidupan, tapi lebih merupakana cara kedua penulis itu mengajukan kri=
tik mereka. Sebab puisi akan tetap berada di tengah kehidupan. Di samping a=
danya puisi yang ditulis oleh "putera-putera raja" ,  di samping itu tentu =
tetap ada puisi yang ditulis oleh anak manusia untuk kepentingan manusia. P=
uisi, seperti halnya bentuk sastra-seni lainnya selalu menyertai kehidupan =
manusia. Pada awal sejarah penyertaan sastra-seni terhadap kehidupan manusi=
a, orang tidak memperdebatkan sastra-seni untuk apa, tidak juga memperdebat=
kan apakah perlu tidak tanda nasional atau berpolitik atau hingar-bingar me=
mpersoalkan soal-soal tekhnis yang terus-menerus meningkat dalam kegiatan p=
raktek berkesenian. Ketika itu sastra-seni diam-diam menyertai dan melayani=
 kehdiupan manusia dalam segala kegiatannya. Hingar-bingar itu lebih banyak=
 terjadi ketika munculnya "putera-puteri raja" terjun ke dunia sastra-seni =
dibarengi oleh hasrat menjadi "lapisan tersendiri" yang jauh berada di atas=
 puncak piramida dan enggan mengakui karya-karya "anak manusia" sebagai kar=
ya sastra-seni. Jika kita mengganggap bahwa di negeri ini terdapat juga aru=
s demikian dan tidak sedikit "puisi gelap", maka pertanyaan Georges Mounin =
dan Eugenio Montale, boleh jadi layak diperhatikan. Sebab pertanyaan bersif=
at kritik di atas, tentu bukanlah berarti kedua penanya menolak sastra-seni=
 yang bermutu atau memerosotkan taraf kesenian, tapi bagaimana sastra-seni =
kembali ke fungsinya sebagai ia ada pada awal sejarah kelahirannya. Berkemb=
angnya dan dikembangkannya "puisi gelap" dan "kegelapan puisi" langsung tid=
ak langsung memisahkan sastra-seni dari kehidupan dan menempatkannya tidak =
lebih dari kelereng permainan "putera-puteri raja" yang mempunyai kepenting=
an tersendiri berbeda dengan kepentingan "anak manusia".=20

Seperti  telah saya katakan di atas, karya sastra-seni yang bemutu atau ber=
mutu tinggi tidak pernah hanya indah bentuknya saja tapi hampa isi. Karya y=
ang bermutu dan yang bermutu tinggi selalu perpaduan laras antara kedalaman=
 isi dan keindahan wadah atau bentuk, masalah yang sejak zaman Yunani Kuno =
(cq. Ionians dan Pythagorians] dijabarkan dengan istilah "matter and form" =
[lihat: W.K. C. Guthrie, "The Greek Philosophers", Harper& Row Publishers, =
New York, 1950, hlm.22-42].=20

Kedalaman isi muncul dari pengenalan masalah. Pengenalan masalah bermula da=
ri pengamatan, penelitian dan pembandingan. Hanya dengan memiliki pengenala=
n relatif kaya dan menyeluruh ini maka sang seniman mampu membuat analisa y=
ang menukik hingga hakekat dan menjadikan gejala sebagai pengantar ke kedal=
aman masalah. Karena itu menciptakan karya-karya bermutu  bukanlah permaina=
n main kelereng tapi dicapai dengan usaha dan kerja keras. Para konsumen ke=
senian, termasuk puisi akan segera mengenal dalam tidaknya analisa seniman,=
 besar tidaknya sumbangan seniman melalui karyanya kepada kehidupan. Pada p=
uisi dalam tidaknya, luas sempitnya segi pandang seniman dalam menganalisa =
masalah bisa nampak dari pilihan kata yang digunakan. Masalah analisa ini p=
ernah disinggung oleh Li Bai, penyair klasik Tiongkok dalam kata-kata:

"bila bosan kami merenung dan merenung
yang tinggal cuma jingting sebagai gunung"=20

"bunga-bunga persik jatuh ke air bening
dunia lain dari bumi, langit lain dari langit insani"=20=20

Hanya bermain-main di permukaan tanpa penukikan maka kita tidak akan mampu =
memahami bumi dan lain lain dari langit insani" dan "Jingting" tidak lebih =
sebuah gunung gundukan batu belaka.=20

Untuk menjelaskan apa yang saya maksudkan, saya mulai dari contoh syair di =
bawah ini:=20

"berakit-rakit ke hulu
berenang-renang kemudian
bersakit-sakit dahulu
bersenang-senang kemudian"=20

Ide sentral atau pesan utama syair ini, saya kira adalah menganjurkan kerja=
 keras tanpa takut susah-payah dan lelah, menyarankan sebuah etos kerja yan=
g disimpulkan dari pengalaman generasi. Agar pesan ini menjadi nyaman diter=
ima maka ia dikomunikasikan dengan bentuk syair, genre sastra umum pada sua=
tu periode. Sebagai sari pengalaman generasi, saya kira ide sentralnya mema=
ng menyentuh hakekat. Selain menganjurkan suatu etos kerja yang dinamis, ia=
 juga mengandung sikap optimistis dalam menghadapi kesulitan dalam bentuk a=
papun. Sikap hidup yang terdapat di dalam isi syair tersebut bukanlah sikap=
 pasif, tanpa prakarsa ataupun eskapisme. Sikap ini akan menjadi sangat men=
arik jika dibandingkan dengan pola pikir dan sikap mental anak bangsa kita =
di zaman sekarang yang mengukur keberhasilan dengan uang. Menempatkan uang =
sebagai raja. Jika membandingkan dua zaman tersebut maka nampak adanya perg=
eseran nilai dalam masyarakat kita. Syair di atas, saya kira, tidak hanya b=
erhenti di permukaan masalah atau gejala, tetapi sudah menyelam dalam hingg=
a ke dasar lubuk untuk menggenggam yang hakiki.=20

Metode berkarya semacam ini juga dilakukan oleh Cak Durasim ketika ia mengu=
capkan gurindamnya:

"pagupon umahe dara
melu nipon tambah sengsara"=20

Oleh bait ini maka nyawa Cak Durasim dibinasakan oleh militerisme Jepang ya=
ng pada waktu itu menduduki Indonesia.=20

Bait Cak Durasim ini selain mencerminkan keadaan Indonesia di bawah pendudu=
kan militerisme Jepang, ia juga menggambarkan sikap mental bangsa Indonesia=
 yang menolak tunduk kepada penindasan, tapi yang oleh sementara pakar dini=
lai sebagai bangsa penurut. Karya sastra-seni adalah sebuah dokumen sejarah=
 pola pikir dan mentalitas sebuah bangsa sesungguhnya, terutama karya-karya=
 para sastrawan-seniman yang tidak steril narsisik. Dan memang sastrawan-se=
niman yang tidak steril narsisik [st=E9rilement narcissique] akan selalu me=
nyatukan diri dengan kehidupan karena mereka bukan "putera-puteri raja" tap=
i adalah "anak manusia".=20

Apakah sastrawan-seniman yang "anak manusia"  mentabukan diri dari tema cin=
ta? Tentu saja tidak. Ambil sebagai contoh syair di bawah ini yang diciptak=
an oleh leluhur kita:=20

"dari mana datangnya lintah
dari sawah turun ke kali
dari mana datangnya cinta
dari mata turun ke hati"

Apa yang ditunjukkan oleh syair di atas? Saya kira, syair di atas menunjukk=
an cara pandang materialis dialektis yang hidup di kalangan rakyat luas. Ba=
hwa ide selalu mempunyai dasar materinya. Dengan kata lain, bahwa keadaan s=
osial menentukan pikiran orang. Semuanya tidak terjadi secara kebetulan. Id=
e ini disampaikan melalui trma cinta, tapi cinta digali dan dilihat secara =
lebih dalam dan jauh sehingga penyair anonimnya sampai pada kesimpulan bahw=
a cinta itu datang: "dari mata turun ke hati". "Mata" merupakan simbol real=
ita atau dasar materinya sedangkan "hati" tidak lain dari lambang pikiran d=
an perasaan yang tumbuh di atas dasar materi tersebut. Cinta, hubungan lela=
ki perempuan adalah bagian dari kehidupan. Mengapa mesti ditabukan? Masalah=
nya: Bagaimana tema ini ditulis. Bagaimana melihat dan menganalisa masalah =
cinta dan hubungan lelaki perempuan bahkan seks itu, apakah sebatas datar p=
ermukaan ataukah menukiknya lebih dalam dan jauh? Saya kira bagaimana menga=
ngkat dan mengolah tema-tema ini akan memperlihat mata tidaknya, dewasa tid=
aknya, cupet luasnya pengetahuan dan daya analisa seorang penulis.=20

Paul Eluard yang tidak sedikit menulis tentang cinta, perempuan, seks, hubu=
ngan lelaki-perempuan, dalam hal ini menggunakan metode yang disebut oleh J=
ean-Pierre Jacques sebagai metode "lingkaran konsentrik" [cercles concentri=
que] atau "centrifique" dan "desentralisasi lingkaran" [lihat: Jean-Pierre =
Jacques, 1957:59]. Artinya lingkaran metamorfasa yang digunakan oleh penyai=
r yang bermula dengan "lingkaran konsentrik" atau sentrifik didesentralisas=
ikan sehingga ruang lingkup dan jangkauannya terus meluas dan meninggi. Den=
gan demikian isi puisi dibebaskan ke angkasa raya yang luas.  Sehinga ketik=
a penyair bertutur tentang perempuan, tentang wajah, mata, dada kekasihnya =
dan sebagainya, metafora itu harus didesentralisasikan dan dibebaskan dari =
ujud fisik sanjak sehingga penafsirannya bisa bisa melayang jauh ke angkasa=
 raya yang luas. Angkasa raya luas itu, saya kira, tidak lain dari hakekat =
itu sendiri. [lihat juga: Jean-Pierre Richard, "Onze Etudes Sur la Po=E9sie=
 Moderne", Editions du Seuil, Paris, 1964, 363 hlm.].

Metode ini pun saya kira, bisa diterapkan guna memahami lebih jauh sanjak C=
hairil Anwar ini:


AKU=20

kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu=20
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedang itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa ,kubawa berlari
Berlari=20
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

[Dari: Chairil Anwar,"Deru Campur Debu", Dian Rakyat, Jakarta, 1993,hlm. 7]=
.=20

Mencari kebenaran dari kenyataan, menangkap hakekat dari gejala yang sebena=
rnya tidak lepas dari metode berpikir dan pandangan filsafat seseorang, aga=
knya juga digunakan oleh Amartya  Sen, ekonom pemenang Nobel 1998.=20

Dari hasil penelitian mendalam mengenai bencana kelaparan besar di Bengal [=
1943], Ethiopia [1973 dan 1974], Bangladesh [1974], dan negara-negara Sahar=
a [1968-1973], Sen menulis  buku yang menjadi sebuah karya klasik: "Poverty=
 and Famine". Dalam buku ini Sen membuktikan bahwa bencana kelaparan lebih =
banyak disebabkan oleh faktor-faktor sosial dan ekonomi, macam sistem admin=
istrasi dan pengelolaan distribusi pangan, ketimbang kelangkaan persediaan =
pangan atau kegagalan panen [lihat: Amartya Sen, "Demokrasi Tidak Bisa Memb=
erantas Kemiskinan", Mizan Media Utama, Jakarta, September 2000, hlm.21. Li=
hat juga: Robert Nozick, "State and Utopia, Oxford:Basil Blackwell, 1974]. =
Kesimpulan teoritis Sen di atas merupakan sesuatu yang jauh lebih hakiki da=
ri yang umum dikatakan sebab kelaparan dan kemiskinan dan yang umumnya tida=
k beranjak dari gejala sehingga tidak lebih dari sebuah potret tanpa  mengu=
rai buhul kemelut.=20

Tentu saja cara penulisan karya sastra dan karya ilmiah memang dua jenis ka=
rya yang berbeda. Hanya yang ingin saya katakan di sini bahwa metode mengga=
pai dan mengangkat hakekat dari gejala, mencari kebenaran dari kenyataan, b=
oleh jadi   merupakan metode yang berlaku umum, tanpa kecuali untuk para sa=
strawan-seniman yang menolak bermain-main di datar permukaan saja.=20

Bagaimana Mega dalam 50 sanjaknya menterapkan metode pendekatan ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kembali saya turunkan  puisi-puisi yang suda=
h saya ketengahkan di bagian terdahulu, yaitu:


BENARKAH WINTER MEMBEKUKAN RASAKU?

:A.W.


entah apa yang akan kutuliskan dalam puisiku
saat dinginnya musim dingin membekukan seluruh rasaku
atau biarlah pikiranku saja yang mengembara menelusuri sudut kota
sementara tubuh menyerap hangat tungku perapian
tak kuharapkan dirimu mendekapku, ini hanya mimpi yang meletihkan
karena jarak melintas nyata dan kita masih tak berdaya

Hongkong, Winter.

[Dari: Milis Panggung 20 Desember 2003].

Dari puisi "Benarkah Winter Membekukan Rasaku?", saya dapatkan adalah suasa=
na dingin winter dan kerinduan seorang perempuan kepada kekasih yang berada=
 sangat jauh dari dirinya. Rindu ini demikian menderanya. Bagaimana ia meng=
hadapi kenyataan itu? Perempuan itu pasrah pada kenyataan karena "ini hanya=
 mimpi yang meletihkan/karena jarak melintas nyata dan kita masih tak berda=
ya". Pertanyaan yang mencoba menggali hakekat mengenai keadaan ini juga  ti=
dak saya dengarkan dari penyair. Beda misalnya dengan Chairil Anwar dalam s=
anjak di bawah ini:=20

SIA-SIA

Penghabisan kali kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau terbarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita  sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta ? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi

[Dari: Deru Campur Debu", hlm. 12].

Dalam sanjak ini, Chairil mempertanyakan apakah gerangan cinta itu? Ia masi=
h mencari jawab dan hakekatnya sampai-sampai karena ia "tak mau memberi" ja=
di "mampus" "dikoyak-koyak sepi". Dengan berkata "Mampus kau dikoyak-koyak =
sep", terasa pada saya, seakan-akan Chairil meneterawakan dirinya, tapi tet=
ap tak menyerah. Ia merasakan kesepian yang mengoyak-ngoyak dirinya sebagai=
 sebagian dari kenyataan kehidupan yang patut dihadapi. Sedangkan Mega dala=
m kesepiannya bersikap "ini hanya mimpi yang meletihkan
karena jarak melintas nyata dan kita masih tak berdaya".

Jika menggunakan metode "cercles concentriques atau centrifique dan desentr=
alisasi yang dikemukakan oleh Jean-Peirre Jacques untuk memahami sanjak Meg=
a ini, maka saya melihat kepada pola pikir dan sikap mental orang Indonesia=
 dewasa ini setelah lebih dari tiga dasawarsa di bawah kekuasaan Orde Baru =
yang militeristik. Dari segi latar sejarah, terbayang perbedaan latar sejar=
ah antara Chairil dan Mega. Chairil hidup pada saat rakyat Indonesia mengha=
lau kolonialisme sedangkan Mega hidup dan besar di bawah Orde Baru di mana =
bertanya merupakan sesuatu yang dianggap subversif dan mengucapkan "Tidak!"=
 sudah dianggap berbahaya dan membangkang . Penyair yang tumbuh dalam kondi=
si sosial-politik dan budaya Orde Baru tidak bakal dengan sederhana mencuci=
 tubuh jiwanya dari daki-daki lama. Demikian pun rakyat Indonesia. Dari seg=
i ini boleh jadi sanjak Mega di atas adalah lukisan wajah mental rakyat neg=
eri ini. Sedang kekasih yang jauh adalah lambang harapan. Malangnya harapan=
 hanya membuat jiwa diri lelah. Dalam kondisi mental dan psikhologis sepert=
i ini maka tidak heran tidak sedikit yang memimpikan kembalinya Orba lamban=
g militerisme dan otoritarianisme sebagai jalan keluar memintas. Sehingga C=
hairil dan Mega menghadapi "sia-sia" dengan dua sikap mental yang berbeda,w=
alaupun keduanya menerma "sia-sia" itu sebagai kenyataan.

Pengungkapan Mega memang bercirikan kesederhanaan. Biasanya keserhanaan ini=
 akan menjadi lebih kuat jika penyair sanggup mengangkat nilai yang hakiki =
seperti  halnya Li Bai dalam kutipan di atas. Bila kita tak bisa menangkap =
hakekat maka "yang  tinggal cuma jingting sebagai gunung" secara fisik. Cha=
iril sendiri sering tidak kalah sederhananya, seperti "kita memburu arti" a=
gar "sekali berarti sudah itu mati" dan dalam "memburu" arti ini Chairil be=
rkata "aku mau hidup seribu tahun lagi"!. Kesederhanaan ungkapan  yang didu=
kung oleh kemampuan menangkap hakekat akan membuat puitisitas sanjak menjad=
i berganda kekuatannya, menjadikan "puisi sebagai puisi" jika menggunakan i=
stilah Amarzan Ismail Hamid, lengkap dengan fungsi puitiknya.

Kekuatan puisi Moyank di bawah ini justru terletak pada kedalaman renungann=
ya yang dituangkan dengan memelihara unsur-unsur puitisitas.

PIERRE TOMBALE

kita menabur bunga
di atas pusara
-- siapa yang mati?

pada batu nisan
bertuliskan:
TUHAN

[Dari Milis Bumi Manusia, 27 Januari 2004]

Bandingkan dengan sanjak Mega di bawah ini:

MENJEMPUT RINDU DARI BALIK WAKTU

tatapku kosong merangkak pada bentang jarak
letih batinku sudah mampu kau tangkap
lewat angin kau belai rambutku dahaga rindu tereguk

Hongkong, 2004.

Sanjak ini memang puitis tapi Mega nampaknya belum merenungi suasana batinn=
ya yang lelah dan kekosongan tatapannya yang merangkak pada bentang jarak m=
erindukan belaian kasihsayang.

Dalam menghadapi kesepian dan kerinduan serupa ketika melalukan malam di  s=
ebuah pegunungan, Chairil sekalipun tak bisa memberi jawaban masih bertanya=
 mencari hakekat. Bertanya dan bisa merumuskan pertanyaan memang sesuatu ya=
ng tidak gampang karena itu bisa tidaknya mengemukakan pertanyaan yang baik=
 selalu layak mendapat penghargaan.Lebih-lebih jika mencoba mengetengahkan =
jawabnya sekalipun baru pada taraf hipotesa.

Inilah yang dikatakan oleh Chairil Anwar di tengah kesunyian malam pegunung=
an.

MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku bertanya: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

[Dari: Deru Campur Debu, hlm. 27].

Spontanitas, keinginan batin dan hakekat, saya kira ketiganya tidak kontrad=
iktif sama sekali. Permasalahan yang kita renungkan dan renungkan seperti y=
ang dikatakan oleh Li Bai, seperti air terbendung lambat laun mencari jalan=
 mengalirnya. Ketika sanjak ditulis seakan-akan hasil spontanitas, pada gal=
ibnya ia bukanlah sebuah spontanitas 100% tetapi setelah melalui perjalanan=
 waktu dan proses dalam batin kita. Dengan ini saya ingin mengatakan bahwa =
sesungguhnya spontanitas dan keinginan batin itu tidak lepas dari kerja per=
enungan. Hasil perenungan erat tingkatnya dengan diri kita sendiri. Di sini=
lah penyair sebagai individu perlu terus-menerus meningkatkan kadar diri. K=
arya adalah kaca diri kita sendiri. Ia tidak berdusta dan tidak mendustai s=
iapapun, juga tidak mendustai diri penyair itu sendiri.=20

Paris, Januari 2004.
-------------------
JJ.KUSNI

[Bersambung.....]


[Non-text portions of this message have been removed]


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
 Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=3D5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

Yahoo! Groups Links

To visit your group on the web, go to:
 http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

To unsubscribe from this group, send an email to:
 ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

Your use of Yahoo! Groups is subject to:
 http://docs.yahoo.com/info/terms/=20



Other related posts: