[ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [5]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Thu, 29 Jan 2004 08:45:35 +0100
** ppi-india **
PUISI SEBAGAI BENTENG [5]
Catatan Kesan Membaca Sanjak-Sanjak Mega Everistianawati
"Apakah puisi telah mati?
[ Georges Mounin, "Poésie et Socété", Presses Universitaires de France,
Paris, 1968, hlm. 76-88].
"Puisi, masihkah ia mempunyai kemungkinan?"
Eugenio Montale [12 Desember 1975].
Irama ditentukan oleh kata, fundamen dari kalimat yang kemudian menyusun
bait, dan dari bait membangun rangkuman sanjak. Jika pendapat ini benar maka
bagi puisi, kata merupakan hal yang paling esensil, bisa dibandingkan
sebagai fundamen dari sebuah bangunan puisi. Melalui kata, irama dibentuk,
dengan kata, citra dibayangkan, dengan kata, imajinasi dikembangkan dan
melalui kata pula seluruh perasaan dan pikiran yang berangkat dari keinginan
atau bayangan batin dan benih gagasan diujudkan serta dikomunikasikan. Oleh
sebab itu kekayaan kosakata akan sangat membantu penyair dalam menuangkan
bayangan dan keinginan batin serta benih gagasannya. Makin kaya kosakata
seorang penyair makin terbantu ia menemukan pilihan kata yang benar-benar
mendekati benih gagasan dan keinginan batinnya. Banyak cara untuk memperkaya
isi lumbung kosa-kata, yang di sini masalahnya tidak saya masuki lebih
lanjut. Dari lumbung kosakatanya, sang penyair bisa memilih semau hati
dengan mempertimbangkan ketepatan dan irama atau unsur-unsur persajakan
lainnya [saya membedakannya dengan sanjak] sesuai dengan tuntutan
"puitisitas [poeticité] dan fungsi puitik [fonction poétique] bahasa yang
merupakan sentral dunia perpuisian", jika menggunakan istilah Stéphane
Santerres-Sarkany, profesor sastra dan ilmu humanuria pada Universitas de
Provence & Universitas Carleton, Ottawa. [lihat: Stéphane Santerres-Sarkany,
"Théorie de la Littérature", Presses Universitaires de France, Paris, 1990,
hlm. 98-99]. Terjaga tidaknya "puitisitas dan fungsi puisi" pada sebuah
puisi yang oleh penyair dan editor senior Majalah Tempo, Jakarta, Amarzan
Ismail Hamid disebut sebagai "puisi sebagai puisi".
Tema politik, tema, sosial dan apapun yang diolah dan diangkat oleh penyair,
jika ia ingin karyanya tetap mempunyai nilai sebagai puisi, maka ia
selayaknya mempertahankan kadar puitisitas dan fungsi puitik ini.
Jika puisi adalah merupakan pengungkap padat puitis dari benih gagasan dan
bayangan atau keinginan batin, maka ia dituntut untuk melakukan pilihan kata
yang serapi dan setepat mungkin. Kemampuan memilih kata mempunyai berbagai
kemungkinan, paling tidak dua, yaitu citra yang dibayangkan melalui
perbandingan-perbandingan yang digunakan melalui pilihan kata-kata menjadi
terang gamblang, sedangkan kemungkinan lain, perbandingan-perbandingannya
malah menciptakan kegelapan gambaran bagi para pembaca puisi sehingga tak
gampang dipahami untuk tidak mengatakan tidak bisa dimengerti sama sekali
kecuali oleh penyairnya sendiri. Puisi-puisi begini saya namakan sebagai
"puisi gelap" karena membawa kita pada kegelapan. Kegelapan puisi gelap
lambat-laun akan membawa puisi ke daerah pengasingan jauh dari masyarakat
atau menempatkan diri sebagai mahluk tersendiri dari masyarakat manusia.
Puisi gelap begini oleh Paul Eluard, penyair Perancis kelahiran St. Denis,
pinggiran Paris, disebut sebagai "poésie involontaire" sedangkan jenis lain
yang terang dinamakannya "poésie intentionnelle". [Lihat: Jean-Pierre
Jacques, "Poésies Eluard", Hatier, Paris, 1982, hlm.28-29].
Puisi gelap ini memang pernah hampir mendominasi suatu periode sejarah
perpuisian Perancis sehingga Georges Mounin, pengajar sastra pada
Universitas Aix -en-Provence, sampai mempertanyakan "Apakah puisi telah
mati? [Lihat: Georges Mounin, "Poésie et Socété", Presses Universitaires de
France, Paris, 1968, hlm. 76-88]. Pertanyaan senada juga pernah diajukan
oleh Eugenio Montal, penerima Hadiah Nobel sastra dalam pidato penerimaan
hadiahnya di depan Akademi Swedia [12 Desember 1975]:
" Puisi, masihkah ia mempunyai kemungkinan?"
[lihat: Stépahane Santerres-Sarkany, 1990:99].
Apakah dunia perpuisian Indonesia bebas dari kehadiran puisi gelap begini?
Masing-masing kita yang mengikuti perkembangan perpuisian negeri ini bisa
dipastikan telah mempunyai jawaban masing-masing. Apakah puisi gelap
diperlukan oleh Indonesia? Jawabannya terpulang kepada para penulis puisi
dan para pembaca puisi. Hanya saja saya mengkhawatirkan jika puisi gelap
mendominasi dunia puisi Indonesia maka di kalangan masyarakat akan timbul
prasangka-prasangka negatif yang berdampak mengucilkan diri di puncak
piramida masyarakat yang dihuni oleh secuil kecil belaka. Sebagai acuan,
saya ingin mengetengahkan sikap penyair Paul Eluard ketika ia berbicara
tentang "Pekerjaan Penyair" [Le Travail du Poète] dengan mengatakan:
"Saya bukanlah seorang putera raja, saya adalah seorang anak manusia"
[lihat: Jean-Pierre Jacques, 1982:28].
Jika kita kembali kepada puisi-puisi Mega, tergolong ke dalam kategori
manakah puisi-puisinya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin menurunkan kembali puisi-puisi
berikut:
BENARKAH WINTER MEMBEKUKAN RASAKU?
:A.W.
entah apa yang akan kutuliskan dalam puisiku
saat dinginnya musim dingin membekukan seluruh rasaku
atau biarlah pikiranku saja yang mengembara menelusuri sudut kota
sementara tubuh menyerap hangat tungku perapian
tak kuharapkan dirimu mendekapku, ini hanya mimpi yang meletihkan
karena jarak melintas nyata dan kita masih tak berdaya
Hongkong, Winter.
[Dari: Milis Panggung 20 Desember 2003].
LAGU NINA BOBOK
kekasihku ingin rasanya kuninabobokkan mentari agar lelap lebih lama
bukankah pada malamku kita pintal benang kasih
jadikan mantel penghangat kerinduan ini
dingin di luar janganlah bekukan hati kita
mungkin cinta akan mengalir pelan
Hongkong, Januari 2004.
Setelah membaca kedua sanjak pendek di atas, demikian juga 48 puisi-puisi
Mega yang lain yang saya jadikan landasan tulisan ini, saya sama sekali
tidak dibawa ke ruang gelap pekat sehingga harus meraba-raba mencari makna
dan pesan yang ingin disampaikan. Paling tidak dengan 50 puisi [jumlah ini
bertambah terus ketika saya menulis catatan ini!], yang sekarang saya
punyai, nampak bahwa Mega tidak pernah berbelok arah menuju ke
lorong-lorong puisi gelap. Ia konsisten di jalan puisi yang disebut oleh
Paul Eluard sebagai "poésie intentionnelle". Entah dalam perkembangan
selanjutnya.
Citra bandingan yang dilukiskannya melalui pilihan kata-katanya, cukup ajeg,
nyata dalam artian gampang terbayang dan juga tidak simpang siur, meloncat
dari satu bandingan ke bandingan yang terlalu berlainan. Misalnya dari
sanjak ini:
BENARKAH WINTER MEMBEKUKAN RASAKU?
:A.W.
entah apa yang akan kutuliskan dalam puisiku
saat dinginnya musim dingin membekukan seluruh rasaku
atau biarlah pikiranku saja yang mengembara menelusuri sudut kota
sementara tubuh menyerap hangat tungku perapian
tak kuharapkan dirimu mendekapku, ini hanya mimpi yang meletihkan
karena jarak melintas nyata dan kita masih tak berdaya
Hongkong, Winter.
[Dari: Milis Panggung 20 Desember 2003].
Setelah membaca puisi ini, kita akan tanpa kesulitan membayangkan keadaan
penyair yang adalah seorang puteri katulistiwa berada di tengah-tengah
terpaan musuim dingin. Tubuh terasa beku ketika dingin musim menyusup hingga
ke belulang. Yang tidak beku hanyalah pikiran dan perasan penyair yang
mengelana sudut-sudut kota dan ke tempat-tempat yang jauh. Pada saat
demikian, penyair teringat dan diusik oleh rindu akan kekasihnya yang jauh.
Di hadapan keadaan begini, penyair mengambil sikap realistis, tidak
mengembangkan bayangannya karena "hanya meletihkan". Memang sikap realistis
dan suasana dilukiskan oleh Mega hampir secara realistis juga tanpa
menggunakan metafora-metafora rumit kecuali "dingin", "beku", "jarak", yang
sangat gampang dipahami. Dan semua metafora itu berada dalam satu jalur utuh
yang disebut oleh oleh Jean-Pierre Jacques sebagai "keutuhan dan kestabilan
leksikal" pada puisi. Apakah "musim dingin" dan "kekasih" juga merupakan
lambang untuk sesuatu hal yang lain, hal ini pembaca bebas menafsirkannya.
Dan kebebasan menafsir inilah yang disebut oleh Stéphane Santerres-Sarkany
sebagai "kedaulatan pembaca", la souverainité du lecteur. [1990:58].
Gambaran bayangan yang ditampilkan oleh Mega melalui kata-kata pilihannya
sangat urut, ajeg dan tidak meloncat-loncat atau berpindah-pindah.
Hal serupa juga saya dapatkan pada sanjak Moyank berikut:
PIERRE TOMBALE
kita menabur bunga
di atas pusara
-- siapa yang mati?
pada batu nisan
bertuliskan:
TUHAN
[Dari Milis Bumi Manusia, 27 Januari 2004]
Atau pada sanjak Evy, saudara perempuan Mega yang juga menekuni masalah
sastra, berikut:
MENGEJAR WAKTU
ada suara berjalan di serambi
kudekati semakin jauh
kukejar semakin jatuh
aku katakan kepadanya
ini hari hampir senja
Menjelang Imlek, Januari 2004.
Contoh lain adalah sanjak Mega berikut:
MENJEMPUT RINDU DARI BALIK WAKTU
tatapku kosong merangkak pada bentang jarak
letih batinku sudah mampu kau tangkap
lewat angin kau belai rambutku dahaga rindu tereguk
Hongkong, 2004.
Pada sanjak ini, entah sadar atau tidak, tapi nampak ada perkembangan baru,
yaitu terdapatnya persajakan yang cukup kaya pada baris "tatapku kosong
merangkak pada bentang jarak". Huruf "k" terdapat pada kata "tatapku",
berlanjut pada "kosong", "merangkak" dan "jarak". Sedangkan huruf "p" yang
tidak jauh bunyinya dari "b" terdapat pada kata "tatapku", "pada" dan
bentang". Karena keadaan demikianlah maka pada baris pertama sanjak ini,
saya mendapatkan persajakan yang kaya.
Tapi ketika memperhatikan satu per satu 50 puisi Mega yang ada di tangan
saya sekarang,
nampak dalam berpuisi Mega seakan-akan masih kurang memperhatikan
persajakan, entah itu sajak
awal, tengah atau akhir. Kebanyakan dari 50 sanjak Mega tersebut berirama
sama dan bertema sama: duka dan cinta hidupnya dengan berlaga mati-hidup
untuk jadi anak manusia yang manusiawi. Kurang ada variasi padahal jalan
raya kehidupan menyediakan permasalahan yang tak terbilang untuk digarap dan
diangkat. Saya juga tidak melihat usaha Mega untuk mencoba menggunakan
bentuk-bentuk baru dari yang sudah dilakukannya. Kepadatan ungkapan pun
seperti dinomor duakannya. Boleh jadi hal demikian ia lakukan sesuai dengan
proses kreatif yang dikatakannya bersandar pada "spontanitas" sesuai dengan
"keinginan batin" dan menolak patokan-patokan yang membatasi kebebasannya
mencipta. Melakukan pilihan kata dan memperhatikan unsur-unsur puitisitas
serta fungsi puitik bahasa memang memerlukan kesabaran dan ketekunan.
Misalnya dari puisi "Benarkah Winter Membekukan Rasaku?", pemilihan kata
"melintas" untuk sebuah jarak ataukah kata merentang atau membentang, tentu
keputusan pilihan akan tergantung pada berbagai pertimbangan.
Mempertimbangkan untuk sampai memutuskan perlu kecermatan dan ketekunan
serta ketajaman analisa puitik. Ini adalah hak sastrawan-seniman
masing-masing. Ini adalah pilihan dan sikap
bersastra masing-masing sastrawan. Hanya saja jika seorang sastrawan dan
seniman mau mencapai tingkat kualitas pengungkapan lebih tinggi, boleh jadi
percobaan-percobaan sebagai ujud pencarian baik dalam bentuk maupun dalam
pemikiran, tetap akan sangat berguna. Sama bergunanya dengan usaha belajar,
membanding, meneliti dan mengamati yang cermat serta menggunakan standar
tertinggi untuk diri sendiri. Saya kawatir jika mengabaikan hal-hal ini,
sastrawan-seniman gampang terperosok dalam lobang besar dalam bernama
stagnasi! Rutin dan rutinisme akan menghentikan laju kreativitas pada
tingkat begitu-begitu saja.
Sesungguhnya saya ingin memahami seorang sastrawan-seniman itu adalah
seorang pencari tak pernah jeda kecuali oleh malam hidupnya.Usaha beginilah
yang saya gambarkan sebagai kegelisahan dan atau perjalanan tak berujung.
Melalui pilihan kata-kata seperti halnya pilihan warna pada sebuah lukisan
[lihat: Manilo Brusatin, "Histoire des Couleurs", Flammarion, Paris, 1986]
dan perbandingan yang digunakan untuk melukiskan suatu citra penyampai
bayangan dan keinginan batin yang berangkat dari benih gagasan, kita bisa
mengetahui pandangan sastrawan-seniman tentang masyarakat, kehidupan dan
berbagai masalah. Dalam tidak, ada tidak analisanya, atau hanya sebatas
hamparan potret, saya kira, akan turut menentukan mutu sebuah karya. Entah
karena keterbatasan pengetahuan, maka saya tidak pernah mendapatkan suatu
karya bermutu tinggi jika berhenti hanya permukaan masalah. Sastra-seni
justru menjadi sebuah "republik merdeka" dan diperhitungkan oleh kekuasaan
"cité" [politik] justru karena daya analisa yang dituangkan secara artistik.
Dalam konteks ini, puisi gelap tidak punya relevansi. Demikian pula halnya
dengan karya-karya yang disebut oleh Jean-Pierre Jacques sebagai "puisi
steril narsisik" , [Jean-Pierre Jacques, 1982:31].
Apakah yang diharapkan dari seniman "steril narsisik" dan yang menjadikan
diri sebagai ,"putera raja" dan bukan sebagai ,"anak manusia"? Bagi
orang-orang jenis ini, boleh jadi sastra-seni tidak lain dari kelereng
permainan kanak-kanak saja. Kanak-kanak yang sesekali menjerit girang oleh
satu dua kali keberhasilannya di lapangan kelerang. Kadang kita dengarkan
mereka bertengkar dan ribut sendiri dengan gaung-gema hingar-bingar saling
caci berebut hebat sendiri. Kelereng bukanlah sastra-seni tentu saja.
Demikianpun puisi! Kelereng tak bisa menjadi benteng.
Paris, Januari 2004.
-------------------
JJ.KUSNI
[Bersambung.....]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [5]