[ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [4]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 28 Jan 2004 09:37:11 +0100
** ppi-india **
PUISI SEBAGAI BENTENG [4]
Catatan Kesan Membaca Sanjak-Sanjak Mega Everistianawati
"Ketika saya mendapat ilham kata-kata dengan sendirinya menetes dari batin
saya dan menyusun sendiri menjadi sajak".
[Subagio Sastrowardojo, "Mengapa Saya Menulis Sajak", in: "Keroncong
Motinggo", Pustaka Jaya, Jakarta, 1975, hlm. 105].
Kata-kata yang sitat di atas, diucapkan oleh alm. Subagio Sastrowardojo
ketika ia berbicara tentang proses kreatifnya dalam berpuisi. Dari
pengalaman tersebut nampak bahwa "germ idea" atau benih gagasan, jika
menggunakan istilah Henry James, akan menemukan sendirinya wadah diri yang
serasi. Hal begini juga telah ditunjukkan oleh sejarah satra-seni Perancis,
seperti yaang dikatakan oleh Christine Cholet, profesor sastra klasik dan
Bruno Doucey, profesor sastra modern Prancis ketika berbicara tentang
gerakan sastra-seni pada zaman Baroque: "... estetika Baroque berangkat,
seperti yang ditulis oleh penyair Jean Orizet, dari "penjungkirbalikan
pikiran, bentuk dan selera" [Christine Cholet & Bruno Doucey, " Poésie
lyrique", Editions Gallimard, Paris, 2002, hlm. 65]. Ketika terjadi
penjungkirbalikkan pikiran maka benih gagasan itu pun akan dengan sendirinya
menemukan bentuk diri yang serasi. Saya kira hal ini jugalah yang dialami
oleh Chairil Anwar melalui sanjak-sanjaknya yang antara lain terkumpul dalam
antologi "Deru Campur Debu" [Dian Rakyat, Jakarta, 1993].
Agaknya proses kreatif Mega sebagai penyair pun tidak jauh dari apa yang
dialami oleh Subagio Sastrowardojo dan proses yang dikatakan oleh Christine
Chollet dan Bruno Doucey di atas. Sebab seperti dkatakannya sendiri dalam
sepucuk surat kepada saya, Mega menulis: " Puisi saya biasanya terlahir
secara spontan. Saya menulis puisi menuruti keinginan batin saya. Saya tidak
pernah membatasi diri saya dengan aturan yang saya buat sendiri.Misalnnya
saya menulis puisi harus begini, harus begitu!".
Istilah "keinginan batin" yang digunakan oleh Mega mengingatkan saya kepada
istilah "bayangan batin" yang digunakan oleh Subagio Sastrowardojo. Peranan
"bayangan batin" ini dalam kelahiran sebuah puisi dijelaskan oleh Subagio
dalam kata-kata:
".. sajak ditulis dari penglihatan bayangan-bayangan batin itu. Bayangan itu
tampak-hilang di luar rencana yang kita sengaja. Kita tidak dapat mengatakan
kepada diri kita: Sekarang saya mau menulis sajak tentang hal ini atau
itu... dan kemudian menghasilkan karangan pada hari itu atau keesokan
harinya. Bayangan-bayangan itu timbul pada waktu saya terlibat secara
emosionil pada sesuatu peristiwa atau pada waktu jiwa saya sedang tenang dan
hening" [Subagio Sastrowardojo, 1975:105].
"Keinginan batin" atau "bayangan batin" ini menemukan bentuk diri dalam
puisi di luar rancangan dan kerangka teori apapun. Ia tidak bisa dipagar
dan dirancang. Bait-bait, irama dan unsur-unsur sanjak lainnya pun
ditentukan oleh benih gagasan [germ idea] dan bayangan atau keinginan batin
tersebut. Demikian pula pada sanjak-sanjak Mega.
Kalau pengamatan saya benar, bayangan atau keinginan batin yang disertai
oleh iklim emosi tertentu pula akan mempengaruhi dan bahkan memberikan irama
tertentu kepada sebuah sanjak. Melankolisme biasanya menggunakan baris-baris
panjang yang berirama sendu, sedangkan puisi kontemplatif dan pemberontakan
serta yang sejenisnya banyak menggunakan kalimat-kalimat singkat padat.
Untuk menjelaskan apa yang saya maksudkan maka saya menggunakan dua buah
puisi Chairil Anwar di bawah ini:
CERITA BUAT DIEN TAMAELA
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan
Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebyut beta punya nama.
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.
Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau....
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.
Bandingkan suasana batin dan emosi yang membentuk melodinya sendiri sanjak
berikut dan bandingkan dengan irama sanjak "Cerita Kepada Dien Tamaela" di
atas:
SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat sri ayati
Ini kali tiak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
[Dari: Chairil Anwar, "Deru Campur Debu", Dian Rakyat, Jakarta, 1993].
Yang ingin saya katakan melalui kedua contoh di atas, bagaimana saling
hubungan antara germ ide [benih gagasan] bayangan batin, keinginan batin dan
irama atau melodi semua puisi. Betapa besar dan menentukan peranan yang
pertama atas yang terakhir. Untuk lebih bisa memahami bayangan batin dan
irama tersebut, kiranya menjadi tidak terelakkan pembaca dihimbauj untuk
mengetahui latar sejarah penyair dan kelahiran sanjak tersebut sekalipun
sanjak memang setelah disiarkan akan menempuh jalan hidupnya sendiri. Dengan
cara demikian maka pesan yang disampaikan penyair bisa maksimal tertangkap.
Kalau kita memahami latarbelakang sejarah kehidupan Mega seperti yang sudah
secara singkat dituturkan di atas, maka adalah suatu kewajaran dan bisa
dipahami jika lagu sanjaknya bernada sendu penuh dengan melankolisme.
Melankoli, umum menngungkapkan diri dalam baris-baris panjang merdu. Contoh
lain boleh jadi bisa kita ambil dari irama lagu-lagu Vietnam. Negeri ini
terus-menerus dilanda perang selama lebih dari tiga dasawarsa dan
menyebabkan penderitaan luar biasa terhadap rakyat. Desa-desa kosong dari
lelaki dewasa. Yang tertinggal hanyalah anak-anak kecil, lelaki cacat dan
para perempuan yang menjadi tumpuan produksi. Betapa pun sebuah lagu itu,
seperti misalnya "Bebaskan Vietnam Selatan" [Giaphong Mien Nâm], liriknya
penuh pemberontakan dan dimaksudkan untuk menggugah semangat perlawanan,
tapi karena pengalaman, keinginan batin dan suasana emosi penuh duka, tetap
saja melodinya berwarna sendu sehingga sebagai karya lagu tersebut nampak
kurang padu. Berbeda misalnya dengan lagu "Dan Bao" yang memang bertutur
tentang kepahitan hidup rakyat Vietnam pada masa perang terus-menerus.
Bisakah dikatakan bahwa pada irama suatu karya sejarahpun tercatat? Atau
irama adalah catatan sejarah juga dan mempunyai sejarah sendiri?!
Mega dengan pengalamannya di jalan raya kehidupan yang pahit, dengan suasana
perasaan dan keinginan batin, menemukan ungkapan dirinya dalam puisi-puisi
berkalimat panjang-panjang atau lukisan-lukisan dengan latar kabut sedangkan
cahaya merah matahari menampakkan diri dalam sepuhan warna tipis samar. Dari
segi ini Mega berhasil memadukan antara keinginan batin, suasana perasaan
dan irama sanjaknya.
Tapi irama dan melodi hanyalah salah satu unsur saja pada bentuk sebuah
puisi.
Paris, Januari 2004.
-------------------
JJ.KUSNI
[Bersambung.....]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [4]