[ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [3]

** ppi-india **
PUISI SEBAGAI BENTENG [3]

Catatan Kesan Membaca Sanjak-Sanjak Mega Everistianawati

"sepanjang jalan besar
kugenggam kau pada tangan
aku janganlah kau bentak
cinta jangan diluluhlantak"

[Li Po, "Sepanjang Jalan Besar"]

Di sepanjang jalan besar kehidupannya yang berbadai, Mega bukan makin
melemah tapi justru sebaliknya makin tegar, makin percaya pada kesanggupan
dirinya untuk jadi manusia yang manusiawi. Suka duka, bantingan demi
bantingan di sepanjang jalan besar kehidupan tidak merabunkan mata jiwanya.
Sekalipun samar-samar dan jauh, penyair seperti yang dikatakan oleh Langston
Hughes:

"I see the island
Still ahead somehow"

dan

"Wave of sorrow
take me there"

Penderitaan,harapan dan cintanya kepada hidup menyatu dalam batinnya dan ia
ungkapkan secara spontan dalam denting nada piano, gores-gores lukisan di
kanvas serta puisi. Sehingga karya seni bagi penyair tidak lain ungkapan
diri yang langsung dan utuh tanpa terbelit dalam kegelapan ekspresi. Dengan
mengungkapkan diri melalui karya-karyanya, Mega telah membebaskan diri
sehingga puisi dan karya-karya seni Mega lainnya berfungsi sebagai puisi dan
karya pembebasan. Puisi dan karya pergulatan hidup-mati. Dengan puisi ia
melawan hardikan dan bantingan kegarangan hidup. Melawan untuk menang dan
bukan untuk kalah demi cintanya akan hidup yang manusiawi. Sehingga nampak
bahwa puisi dan karya-karya seni Mega lainnya, merupakan benteng dalam
perlagaan. Benteng untuk bertahan dan melakukan serangan strategis ofensif
tidak lagi srategis defensif! Karya sastra-seni bagi Mega berangkat dari
kehidupan dan untuk kehidupan. Bercirikan tanda-tanda hidup dan bukan hanya
berputar-putar dalam lingkaran pencarian artistik hampa yang sering
dilakukan oleh kalangan mapan jauh dari benturan kegarangan. Dengan demikian
sayapun menjadi sangat sulit memahami pandangan yang megatakan bahwa
sastra-seni bisa bebas dari kehidupan. Jika bangsa dan negeri merupakan
sebuah ruang di mana hidup masyarakat manusia tertentu, bisakah ciri ruang
hidup ini ditiadakan atas nama universalisme sastra-seni? Tidakkah
universalisme terletak pada kemampuan sastrawan-seniman menangkapnya dari
tanda-tanda khusus ruang yang dihidupinya, dan bukan dengan menghapuskan
ruang serta tanda-tandanya. Tak pernah ada manusia hidup tanpa ruang.

Mungkin kita bisa mengambil perbandingan ilmu sejarah. Dari sejarah ruang
geografis tertentu melalui metode perbandingan kita mungkin memahami hukum
umum sejarah. Artinya ruang tertentu merupakan fenomena yang mengantar kita
ke hakekat. Dalam hal ini Mega sudah memberikan contoh kongkret.

Melalui kegagalan perkawinan dan pengalaman getir sepanjang jalan besar
kehidupan, sebagai fenomena, akhirnya Mega sampai pada kesimpulan bahwa
"dengan kesunyian tak akan pernah ada perceraian" atau "Duka adalah
sahabat", ujar almarhum Agam Wispi.

Hal lain yang merupakan ciri puisi Mega adalah kepekaan perasaannya.
Kepekaan yang melahirkan setiakawan, mencoba memahami orang lain dalam
artian toleransi. Kepekaan inipun bersumber satu yaitu kepahitan perjalanan
yang dia tempuh. Kepahitan orang lain dirasakannya dengan dalam sebagai mana
dukanya sendiri. Sementara tidak sedikit orang yang mencoba memanjat ke
ketinggian dengan menaiki bangkai orang lain, tidak hemat kata dan sikap
dengan meluncurkan damak-damak sumpitan beripuh caci-maki tanpa
tanggungjawab atau atas nama suatu prinsip sambil berseru meminta pengakuan
sebagai orang berbudaya atau merasakan diri tanpa cela. Padahal hidup dan
manusia sungguh tidak pernah merupakan hal yang sederhana. Selalu merupakan
teka-teki tak usai ditebak. Sastra-seni justru bergulat dengan teka-teki
jenis ini.

Sikap solider, toleran dan peka ini nampak misalnya pada sanjak berikut:

SELAMAT ULANG TAHUN
:Dody/Moyank

berjalan terseok di antara ribuan kerikil tajam
darah mengalir dari sela jemari kaki
berulang kali badai mencoba menghempasmu ke jurang terjal
tapi kulihat kau tetap bertahan meskipun telah terbuang

hati terkoyak, cinta yang kau damba mencabik perih
seperti pesakitan acap kali kau jadikan makian

samar kudengar puisi mengalir dari suaramu
desah angin panta, debur ombak yang berlarian di antara sepi
lolong serigala dari hutan seberang jerit tangis hatimu
entah apa petikan jemariku pada dawai ziter bisa mengiringi lagumu
lukisan tak selalu bertoreh warna hitam
ambil pelangi sematkan di lembar harimu!

(Dari: Milis Panggung, 09 Januari 2004].

Di hadapan kesulitan orang lain, penyair bersimpati dan mencoba melakukan
apa yang dia bisa untuk membantu mereka. Mencoba agar dalam kegelapan mereka
bisa melihat bahwa sekecil apapun selalu tetapi ada secercah cahaya.

Sedangkan terhadap mereka yang suka mencerca tanpa kepekaan terhadap
perasaan dan keadaan orang lain, Mega menulis:

........................
"tak usah kau umbar cerau kata
yang tak kau mengerti maknanya
semua jadi bual belaka
dan tak seorangpun menikmatinya"

(Dari: "Cermin Diri" , Milis Koran-Sastra, 12 Januari 2004].

Sikap mencerca dan tidak mau memahami keadaan dan perasaan orang lain,
ketiadaan tenggang-menenggang dan menterapkan hukum rimba pada kehidupan
masyarakat manusia, dinilai orang Mega sebagai sikap menertawai diri
sendiri, sikap yang tidak mau "bercermin di telaga/jiwa yang tak abadi".

Yang dianjurkan oleh puisi-puisi Mega nampak adalah bagaimana kita sesama
anak manusia bisa saling mencintai, dan berangkat dari cinta ini,
bersolidaritas dan tenggang rasa, mencoba saling mengerti, saling menghargai
untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat serta diri
sendiri.Usaha agung mulia yang tak bisa dilakukan seorang diri, jika
menggunakan istilah penyair klasik Tiongkok Li Po merupakan "jalan besar"
yang kita tempuh bersama. Di "sepanjang jalan besar" ini sepatutnya kita
saling menggengam tangan dan tidak saling membentak agar "cinta jangan
diluluhlantak". Untuk ke mana?

Pertanyaan ini dijawab oleh Mega dalam sanjaknya di bawah ini:


IJINKAN AKU TUHAN

Tuhan
boleh kupinjam langitmu?
untuk kujadikan kanvas lukisanku
seperti Tuhan melukiskan bayangku di bawah sinar rembulan

kan kusibak gumpan awan, oh ini endapan aimataku
saat hidupku dicincang belati kehidupan
biar kulukis mentari
kerna Tuhan selalu menyembunyikannya dari hidupku

[Dari: www.sarikata.com, 28 Januari 2004]

"Melukis mentari!" agar bumi benar-benar bisa jadi tempat hidup anak manusia
secara manusiawi, itulah yang dirindukan dan ditawarkan oleh Mega sebagai
ajakan. Hidup, tidakkah memang sebuah kanvas raksasa yang dilukis oleh
tangan-tangan kita?

Isi begini merupakan ciri lain daripada puisi-puisi Mega, salah satu tema
utama yang digarap oleh Mega.

Dari ciri-ciri isi di atas, maka lahirlah ciri khusus pada bentuk
sanjak-sanjak Mega.

Paris, Januari 2004.
-------------------
JJ.KUSNI


[Bersambung.....]







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

Yahoo! Groups Links

To visit your group on the web, go to:
 http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

To unsubscribe from this group, send an email to:
 ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

Your use of Yahoo! Groups is subject to:
 http://docs.yahoo.com/info/terms/ 



Other related posts: