[ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [2]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Tue, 27 Jan 2004 06:32:26 +0100
** ppi-india **
PUISI SEBAGAI BENTENG [2]
Catatan Kesan Membaca Sanjak-Sanjak Mega Everistianawati
"I see the island
Still ahead somehow
..............................
Wave of sorrow,
Take me there"
[Dari: Langston Hughes, "Island" in: "Selected Poems Langston Hughes",
Vintage Books Editon, New York, May 1974].
Latarbelakang kehidupan yang pahit dan keras membanting-banting tak kenal
belas kasihan seperti di atas telah meninggalkan tanda dalam pada
sanjak-sanjak Mega sehingga membuat puisi Mega terutama bercirikan
melankolisme kesedihan.
Melankolisme ini terasa dan terdapat pada hampir seluruh puisi Mega yang
saya gunakan sebagai bahan catatan ini, berjumlah 28 rangkum [karena kemarin
saya bisa memperoleh lagi satu kwatrin Mega yang terbaru]. Ciri ini
melekat pada tema apa saja yang diolah penyair, entah ketika ia bertutur
tentang seorang anak kecil, tentang ibunya, tentang kampung halaman yang
lama ia tinggal ataupun ketika ia bercerita tentang seorang tokoh lelaki
yang miskin papa tapi jatuh hati pada seorang perempuan seperti di bawah
ini:
LELAKI
seorang lelaki mengetuk pintu hatiku di senja buram
wajahnya kusam pasi jantung hatinya remuk menetes darah segar
tubuhnya kurus tak terurus bibirnya hitam mengering
setangkai mawar kering letih digenggam jarinya.
[Dari: Milis Panggung, 28 Desember 2003].
Atau seperti yang terdapat dalam sanjak berikut:
MENIKAH DENGAN BAYANGAN
walau bisaku cuma menikah dengan bayangan
boleh kubertanya padamu
"gaun pengantin warna apa yang kau suka?"
sebab bila kupakai gaun pengantin berwarna putih
kuragu kau tak mengenaliku
bukankah pernikahan kita di balik awan?
Hongkong, Musim Gugur 2003
Sanjak sedih ini melukiskan sebuah kisah percintaan dan dilanjutkan dengan
perkawinan tetapi hanya berlangsung dalam imajinasi. Tak obah sebuah
percintaan dan perkawinan "di balik awan". Percintaan dan perkawinan tak
menentu.
Orang yang biasa terbanting jatuh dan bangun kembali melangkah akan paham
bahwa melankoli ini bukanlah suatu kecengengan tapi melukiskan betapa
kehidupan ini sesungguhnya sangat garang dan sama sekali tidak ramah. Yang
sudah jauh melakukan pertarungan panjang dan terus-menerus melawan
kegarangan ini, pasti tidak akan menertawakan melankolisme begini tapi jika
masih punya rasa manusiawi mereka akan bersetiakawan. Kejatuhan dan
kekalahan merupakan hal biasa dalam kehidupan, tapi yang tidak juga amat
biasa adalah kemampuan untuk kembali bangkit lalu terus melangkah.
Kekalahan dan kejatuhan, dahsyatnya kegarangan hidup mendera penyair antara
lain tertuang misalnya dalam salah sebuah baris sanjak "Pernikahan":
"dengan kesunyian takkan pernah ada perceraian"
yang dalam kata-kata almarhum penyair Agam Wispi "duka adalah sahabat
sejati"
Kegetiran demi kegetiran yang menimpa penyair telah demikian berat membebani
pundaknya sehingga oleh
"beban dipundak nyaris menghilangkan matahari dari hidupku" [Dari:
"Kenangan" dalam Milis Koran-Sastra, 12 Januari 2004].
Di satu segi kepahitan hidup ini memang bersifat pribadi tetapi seorang
individu hidup dalam sebuah masyarakat manusia, sehingga tidak terlalu
keliru kiranya jika mengatakan kepahitan hidup pribadi ini juga cerminan
dari keadaan masyarakat. Dan penyair agaknya memang melihat duka yang
diderita oleh negeri dan bangsanya. Ini tertuang dalam sanjak "Makan Siang"
di mana antara lain penyair menulis:
"di luar bangunan kaku, manusia dikejar waktu
kudengar ceritamu tentang bocah gelandangan yang menatap sayu
juga pengemis yang termangu mendekam di pangkuan bunda pertiwi"
[Dari Milis Koran-Sastra, 23 Januari 2004].
Sebagai akibat deraan dan bantingan hidup yang garang ini, penyair bukan
hanya merasa letih fisik yang menyebabkan ia sempat masuk rumah sakit tetapi
telah sangat meletihkan jiwanya.
Keadaan ini dituangkan oleh penyair melalui tersinanya di bawah ini:
MENJEMPUT RINDU DARI BALIK WAKTU
tatapku kosong merangkak pada bentang jarak
letih batinku sudah mampu kau tangkap
lewat angin kau belai rambutku, dahaga rindu tereguk
Hongkong 2004.
Sementara suasana batin yang dialami selama opname di Yaumatei tahun 2003,
ia lukiskan antara dalam baris-baris sanjak "Lebih Manis Ada Bunga":
"tubuhku kian rata dengankasur membeku tak sempat beringsut
mungkin sebentar lagi letihku jadi ringan
ku kan terbang seperti kapas menatapmu tak mampu menyapa"
Tapi kesulitan demi kesulitan bertubi menimpanya, tidak membuat penyair
putusasa. Penyair mencintai kehidupan dan mau hidup layak sebagai anak
manusia yang manusiawi. Kesulitan tidak merabunkan mata hati penyair. Sikap
ini ia tulis antara lain dalam sanjak "Selamat Ulang Tahun" yang ia tujukan
kepada Dody/Moyank:
"lukisan tak selalu bertoreh warna hitam
ambil pelangi sematkan di lembar harimu"
[Dari Milis Panggung 09 Januari 2004].
Atau dalam sanjak "Kucari Kau" yang antara lain berkata:
"senja jatuh di garis pantai sat ragaku terkapar di atas pasir putih
harapan".
Atau dalam sanjak "Kung Hei Fat Choi":
"esok lusa lembar tahun baru dengan semangat kian menggebu" [Dari Milis Bumi
Manusia, 25 Januari 2004].
Kegelapan tidak membunuh optimisme penyair, sebaliknya kepahitan dan deraan
hidup yang garang mengeraskan tekad dan semangat tarungnya untuk
memanusiawikan diri. Dengan demikian optimisme dan semangat bertarung untuk
memanusiawi diri dan kehidupan merupakan ciri lain lagi dari puisi-puisi
Mega.
Memelihara optimisme dan semangat tarung dari kejatuhan dan kekalahan
bukanlah hal sederhana yang boleh jadi tidak gampang dipahami oleh orang
yang jauh dari gamparan deras kegarangan hidup. Boleh jadi mengobah
melankolisme, mengobah kesedihan menjadi kekuatan melaga duka merupakan
sesuatu yang patut kita teladani dari semangat penyair dan tokoh-tokoh yang
disenandungkannya. Dan pergulatan untuk
memanusiawikan diri ini oleh Mega dijadikannya juga sebagai salah satu
mataair
bening karyanya. Ilham diperolehnya dari kehidupan yang garang dan dari
pergulatan memang-kalah melawan kegarangan. Dalam duka dan keletihan jiwa
serta fisiknya, penyair dengan
ungkapannya sendiri berkata seperti halnya Langston Hughes bersikap dan
melihat terang keadaan jalan yang ditempuhnya:
"I see the island
Still ahead somehow
..............................
Wave of sorrow,
Take me there".
[Bersambung.....]
Paris, Januari 2004.
-------------------
JJ.KUSNI
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [2]