[ppi] [ppiindia] PUISI SEBAGAI BENTENG [1]

** ppi-india **
PUISI SEBAGAI BENTENG [1]

Catatan Kesan Membaca Sanjak-Sanjak Mega Everistianawati

Catatan kesan ini saya tuliskan setelah membaca 27 puisi Mega Everistianti
[selanjutnya saya singkat dengan Mega] yang tersebar di milis koran-sastra,
panggung, dan bumimanusia yang kesemuanya dari yahoogroups.com. Sanjak
terakhir yang saya peroleh dari koran-sastra [25 Januari 2004] berjudul
"Kong Hei Fat Choi".

Umumnya ke-27 puisi yang saya baca dan saya jadikan bahan catatan ini
ditulis dalam bulan Januari 2004. Jika sekarang adalah tanggal 25 Januari
maka rata-rata Mega telah menulis satu sanjak setiap hari. Dari segi
tingkat produktivitas nampak benar bahwa Mega termasuk penyair yang
produktif. Bahkan bisa dikatakan sangat produktif. Melalui produktivitas
begini bisa diharapkan kematangan dan penyempurnaan tekhnis berpuisi sebagai
praktek bersastra, akan mungkin dicapai oleh Mega, apalagi jika ia sadar
dalam pencarian dan penyempurnaan terus-menerus. Kematangan dan
kesempuraaan terus-menerus tekhnik bersastra ini akan tercapai melalui
praktek sadar bersastra [dalam hal ini berpuisi] serta menjadi pintu terbuka
bagi harapan jika
kita sepakat akan teori kuantitas melahirkan kualitas. Termasuk dalam
praktek berpuisi guna mencapai tingkat-tingkat lebih tinggi, tidak
terelakkan kerja keras  melakukan secara sadar macam-macam
percobaan bentuk dalam menuangkan pikiran dan perasaannya yang seperti arus
deras mengalir dengan dahsyat tak tertahankan. Juga melakukan studi banding,
kegiatant-kegiatan yang saya sebut sebagai proses berpuisi dan belajar dari
praktek.

Mengapa saya katakan seperti arus deras mengalir dengan dahsyat? Hal ini
sesuai dengan pernyataan Mega sendiri bahwa:

"Puisi bagi saya terlahir secara spontan...menuruti keinginan batin saya"
[dari sepucuk surat Mega kepada JJK].

Dan saya kira arus deras yang menggelitik "keinginan batin" Mega akan terus
mengalir dahsyat  karena ia dalam kehidupan sehari-hari patut melaga secara
mandiri
segala persoalan kehidupan yang mengusik bahkan membantingnya dengan keras
tanpa belas kasihan.
Perlagaan inilah kemudian yang mengusik "keinginan batin" dan mendorong
"spontanitas" Mega berpuisi, sehingga secara nalar, produktivitas berkarya
ini akan berkembang. Karya-karya baru yang lebih berbobot dan kian indah
merupakan janji Mega yang bisa dipercayai. Dengan demikian kitapun tidak
meragukan hadirnya seorang penyair perempuan baru di dunia sastra negeri ini
sebab  penyair menjadi penyair karena ia berkarya dan karyanya adalah puisi.

Syarat lain yang pasti membantu Mega dalam bersastra adalah
kerendahan-hatinya untuk belajar dari orang lain tanpa kepongahan
sedikitpun. "Saya masih dalam proses belajar dan ingin jadi penyair",
ujarnya dalam sepucuk surat kepada saya. Ia ingin jadi penyair dan tidak
pernah
mengumumkan dengan suara lantang bahwa dirinya adalah seorang penyair
kecuali adanya keinginan menjadi menjadi penyair. Kerendahan hati adalah
modal sangat penting baik dalam dunia akademi maupun dalam dunia sastra-seni
atau dalam bidang apapun.

Sering saya merenung dan bertanya-tanya pada diri: Apakah kepongahan itu
bukannya tidak lepas dari pola pikir paternalistik dan militeristik yang
mendominasi pola pikir orang-orang di negeri kita? Pongah! Tidakkah ia
mengandung dugaan bahwa dirinya paling benar dan hebat lalu ingin
memaksakan, menekan dugaan itu pada orang lain? Tidakkah pongah itu erat
dengan tindak kekerasan, sekalipun baru pada taraf kata-kata? Mengatakan
seseorang "bajingan", "tai kucing", "otak ada di lutut", dan sejenisnya
apakah bukan tanda-tanda
dari kepongahan? Agaknya bagi orang pongah terlalu sulit untuk menuangkan
pikiran dengan menghargai lawan bicaranya.Mega jauh dari pola pikir dan
mentalitas begini.

SIAPAKAH MEGA?

Walaupun karya sastra dan sastrawannya seperti hubungan antar ibu dan anak,
artinya anak yang sudah dilahirkan kemudian menempuh jalan hidup sendiri
kadang jauh berbeda dari yang ditempuh oleh sang ibu yang melahirkannya
[tentu perbandingan akan selalu pincang!], sekalipun demikian suka tidak
suka, dimaui atau tidak, pengaruh lingkungan dan ibu akan meninggalkan tanda
pada si anak kandung. Kukira demikian juga halnya dengan puisi-puisi Mega.
Karena itu kukira sebelum memasuki lebih rinci puisi-puisi Mega terasa
keperluannya mengetahui secara singkat apa-siapa Mega yang sekarang berusia
38 tahun. Usia yang bukan lagi usia "Anak Berangkat Gede" [ABG] yang suka
berhahahahehe dan sangat berulah minta perhatian untuk dipandang hebat dan
jenial. Istilah berangkat atau baru gede ini saja menunjukkan bahwa anak
tersebut belum masuk kategori dewasa atau matang sebagai orang. Walaupun
memang ada kekecualian seperti misalnya Arthur Rimbaud, penyair Perancis,
yang pada usia 17 tahun sudah diakui dunia sastra negerinya sebagai pembidas
[lihat: Pierre Brunel, "Rimbaud", Librairie Générale Française, Paris 200].
Apakah Faiz usia 8 tahun yang banyak disanjung dalam berbagai tulisan
termasuk juga kekecualian? Biarlah waktu menjawab pertanyaan yang merupakan
salahsatu keajaiban dunia!

Terkadang usia yang cukup berjumlah tidak kecilpun, tidak serta-merta
menjadi isyarat
kedewasaan dan kematangan seseorang sebagai manusia dan penyair. Menjadi
dewasa tidaklah
gampang apalagi jika kita "berkubang" atau berdengung seperti kumbang  di
menara tinggi warna gading  yang
jauh dari kenyataan keras kehidupan.

Mega lahir di Jakarta 38 tahun lalu, dan pergi ke Malang untuk mengikuti
kuliah di IKIP Malang. Selama kuliah ia sangat aktif dalam kegiatan
sastra-seni sampai-sampai kuliahnya terbengkalai. Tapi dari kegiatan ini ia
bisa main piano yang kemudian memungkinkan dirinya menjadi guru piano
sebagai salahsatu sumber penghasilan di Hongkong di mana sekarang ia tinggal
sejak 1992.

Ketika di Malang, Mega bertemu dengan seorang lelaki dan mereka kawin. Dari
perkawinan ini, lahir seorang anak lelaki yang sangat disayanginya, bernama
Bima Dirgantera Vristayawan. Malangnya perkawinan ini berakhir dengan
perceraian dan  setelah itu, Mega merantau ke Hongkong sampai
sekarang. Di rantau ia mengatasi segala persoalan seorang diri secara
mandiri.

Menggunakan sisa waktunya, di Hongkong, ia mendatangi perpustakaan demi
perpustakaan  dan  melanjutkan kemampuannya dalam
seni lukis dengan mengikuti kursus Chinese Painting. Apa yang didapatkannya
dari kursus ini nampak berpengaruh dalam karya lukis Mega seperti misalnya
pada "Dialog Dua Burung". Karya-karya lukisnya sering memperlihatkan  warna
kelabu penuh duka dan misteri, warna dari masa silam dan kegarangan hidup di
rantau yang patut ia laga dengan semangat tidak menyerah.

Mega dengan demikian bisa dikatakan sebagai seniman berkebolehan banyak.

Latar kehidupan di atas semuanya tercermin dalam sanjak-sanjak Mega secara
langsung. Puisinya adalah kaca atau potret kehidupan Mega sendiri dari mana
kita bisa mengenal apa siapa dirinya.

Saya ambil sebagai contoh sanjak Mega berikut yang melukiskan nasib
perkawinannya:


PERNIKAHAN

:Lelakiku


sudah kuterima pinangannya dengan lingkar cincin di jari manisku
deru angin dan nyanyian ombak adalah saksinya
kupersembahkan utuh tubuhku untuknya
hingga kelak dialah yang berhak menyetubuhiku

tak ada pesta di pernikahan hening mengambang
kerna detak jam dinding membelah pekat malam
ini malam pertama di ranjang kupasrahkan diri
gumuli lumat habis tubuh meski tanpa desah

kini akulah istri kesunyian itu
kerna sudah kuterima pinangannya
di pelaminan dinikahinya diriku
dengan kesunyian tak akan pernah ada perceraian.

[Dari: Milis Panggung, 28 Desember 2003].

Dari sanjak-sanjak Mega, termasuk dari sanjak "Perkawinan" di atas,  kita
pun
bisa melihat contoh kongkret tentang apa bagaimana hubungan antara sastra
dan kenyataan atau realita. Bagaimana ilham atau inspirasi itu lahir dan
tumbuh serta mengujudkan diri dalam karya seni. Saya tidak tahu persis sejak
kapan Mega menulis puisi, tapi mengamati 27 sanjak yang saya kumpulkan dari
sana-sini nampak ia bukanlah orang asing di dunia perpuisian. Ia menyenangi
sanjak-sanjak Rendra.

Dalam bidang musik, Mega menyukai lagu-lagu klasik dan sering memainkannya
di piano. Ia tidak menyukai hingar-bingar lagu pop. Bisakah kesukaan dan
ketidaksukaan ini kita ambil sebagai isyarat keseriusan Mega sebagai seniman
yang berkebolehan banyak? Inikah kunci rahasia yang menjelaskan, selainnya
pahitnya kehidupan, mengapa Mega lalu nampak tidak asing dalam dunia
perpuisian?

Keseriusan bersastra sangat menentukan gagal tidaknya seorang penyair
mengembangkan diri sebagai penyair. Keseriusan sebagai penyair ini
diperlihatkan antara lain oleh alm. Agam Wispi yang sampai ajalnya tiba
hidup dari sanjak. Demikian juga Rendra sanggup menderita demi hidup sebagai
penyair .

[Bersambung....]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

Yahoo! Groups Links

To visit your group on the web, go to:
 http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

To unsubscribe from this group, send an email to:
 ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

Your use of Yahoo! Groups is subject to:
 http://docs.yahoo.com/info/terms/ 



Other related posts: