[ppi] [ppiindia] Optimisme Vs Pesimisme Penguatan Ekonomi
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 27 Apr 2006 03:19:29 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/4/27/o3.htm
Perekonomian nasional dalam beberapa waktu ke depan tampaknya masih akan
mengalami banyak ancaman. Di antaranya masalah perseteruan antara buruh,
pengusaha dan pemerintah akibat tidak satunya persepsi tentang revisi UU
Ketenagakerjaan.
---------------------------------
Optimisme Vs Pesimisme Penguatan Ekonomi
Oleh Dr. Ida Bagus Raka Suardana, S.E., M.M.
PADA triwulan I 2006, perekonomian Indonesia menunjukkan ada geliat perbaikan
dilihat dari beberapa indikator, misalnya pertumbuhan sekitar 4,58 persen atau
sedikit lebih tinggi dari prediksi awal Bank Indonesia (BI) sebesar 4,35
persen, menguatnya nilai tukar rupiah yang cukup signifikan yakni menyentuh
level di bawah 9.000 per dolar AS, cadangan devisa yang hampir Rp 400 trilyun,
inflasi yang berada pada level 12,92 persen, dan neraca pembayaran yang
mengalami surplus. Di pasar bursa, pada akhir minggu lalu Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) mengukir rekor tertinggi pada poin 1.355,013. Tentu semua
indikator ekonomi itu memberi angin segar dan melegakan masyarakat, khususnya
pelaku ekonomi. Namun, apakah hal itu akan bisa terus berlanjut?
---------------------------------------------
Dari pihak BI selaku otoritas moneter tetap optimis akan menguatnya
perekonomian nasional, karena perbaikan ekonomi diakibatkan oleh kondisi
ekonomi global yang tampaknya lebih kondusif dan kinerja neraca pembayaran yang
terus diprediksikan membaik serta intensifnya upaya pemerintah memperbaiki
iklim investasi. Demikian juga Produk Domestik Bruto (PDB) 2006 diperkirakan
tumbuh lebih tinggi sehingga mendekati batas atas kisaran proyeksi 5,0-5,7
persen. Di samping itu, membaiknya koordinasi antara pemerintah dan BI
memberikan dampak positif serta berhasil memulihkan pasar, yang secara tidak
langsung memberi tekanan yang kuat terhadap nilai tukar rupiah.
Penguatan Temporer
Beberapa pihak meragukan keberlanjutan perbaikan ekonomi nasional yang versi BI
tersebut. Di antaranya oleh beberapa pengamat dan lembaga keuangan
internasional seperti Asia Development Bank (ADB). Seperti menguatnya rupiah,
dianggap bukan disebabkan oleh membaiknya fundamental perekonomian, tetapi
lebih banyak dikarenakan masuknya dana asing yang memborong saham dan obligasi,
sehingga sifatnya temporer atau sementara. Jika dana masuk karena investasi
real, seperti dana-dana dari long-term invesment yang berupa pendirian pabrik
atau pendirian perusahaan, maka menguatnya rupiah kemungkinan bisa berlangsung
lama.
Di sisi lain, optimisme BI tentang penguatan rupiah yang dianggap sebagai
kinerja perekonomian nasional mengalami perbaikan tampaknya belum diikuti oleh
perbaikan di sektor riil, terbukti dengan penyerapan kredit yang masih rendah
sehingga tidak akan berdampak luas bagi perekonomian nasional.
Berbeda dengan BI, lembaga keuangan internasional seperti ADB malah pesimis
dengan perbaikan ekonomi Indonesia tahun 2006 ini. Jika pemerintah
memproyeksikan pertumbuhan 6,2 persen dan BI 5,8 persen, maka ADB hanya
memprediksikan tumbuh paling tinggi sekitar 5,4 persen. Lambannya laju
pertumbuhan disebabkan oleh rendahnya konsumsi swasta karena suku bunga dan
tingkat inflasi yang masih cukup tinggi, yang berakibat pada semakin banyaknya
pengangguran.
ADB memperkirakan setelah tahun 2007 baru pertumbuhan bisa di atas 6 persen.
Untuk inflasi, diproyeksikan pada akhir 2006 sekitar 8 persen dengan rata-rata
14 persen, setelah itu baru turun menjadi 7 persen dengan asumsi kenaikan harga
berlangsung secara bertahap. Di pihak lain, pada tahun ini pemerintah Indonesia
harus melunasi pokok dan bunga utang luar negeri senilai 9,4 milyar dolar AS,
yang berarti setara dengan 14 persen penerimaan ekspor dan 30 persen lebih
besar dari pembayaran utang tahun 2005.
Ekspansi Melambat
Dari aspek lain, ada data yang menunjukkan dari sisi permintaan ekspansi
mengalami kelambatan pada triwulan I 2006. Melambatnya ekspansi diperkirakan
dari rendahnya pertumbuhan permintaan domestik, meski net ekspor masih
cenderung meningkat. Beberapa faktor yang mempengaruhi melambatnya ekspansi,
seperti belum membaiknya iklim investasi meskipun paket kebijakan investasi
telah dikeluarkan, serta masih berlangsungnya daya beli masyarakat yang melemah
sejak akhir tahun 2005. Kondisi permintaan domestik tersebut tentunya berakibat
pada semakin terbatasnya peningkatan kapasitas perekonomian.
Dari sisi penawaran, sektor ekonomi yang diperkirakan mengalami kelambatan
cukup signifikan adalah sektor industri pengolahan, perdagangan serta sektor
transportasi dan komunikasi. Meski demikian, ada yang menggembirakan dari dunia
perbankan, yakni mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan kinerja yang dapat
dilihat dari peningkatan jumlah dana pihak ketiga (DPK), walaupun belum sampai
pada jumlah yang diharapkan.
Dari fenomena optimis dan pesimis di atas, sebenarnya yang paling penting bagi
suatu perekomian adalah stabilitas, sebab stabilitas adalah prasyarat bagi
pembangunan ekonomi. Meskipun begitu, harus disadari bahwa stabilitas bukanlah
tujuan akhir, sebab hanya merupakan sarana yang pada akhirnya harus dapat
menciptakan pertumbuhan dan perluasan kesempatan kerja. Para pelaku ekonomi,
misalnya, tidak menginginkan penguatan maupun pelemahan rupiah yang
berfluktuasi tajam. Bagi mereka yang terpenting adalah nilai rupiah stabil,
meskipun misalnya levelnya agak tinggi. Sebab, pergerakan nilai tukar yang
turun naiknya terlalu sering dan tajam, akan menyulitkan pengusaha untuk
memproyeksikan berbagai hal, terutama menyangkut anggaran dan perhitungan harga
jual suatu produk.
Banyak Ancaman
Perekonomian nasional dalam beberapa waktu ke depan tampaknya masih akan
mengalami banyak ancaman. Di antaranya masalah perseteruan antara buruh,
pengusaha dan pemerintah akibat tidak satunya persepsi tentang revisi UU
Ketenagakerjaan. Meski untuk sementara belum mengganggu perekonomian secara
nasional, namun jika berlanjut terus tentu mau tak mau akan mempengaruhi
stabilitas ekonomi nasional. Saat ini sebenarnya pihak pengusaha tampaknya
mengalami tekanan yang berat, sebab tiga unsur biaya produksi yaitu biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik mengalami peningkatan
-- yang tentu berpengaruh terhadap harga pokok dan harga jual -- sementara di
pihak lain daya beli masyarakat menurun. Jelas bayang-bayang kerugian akan
menghantui propek berusaha mereka.
Hal lain yang perlu diwaspadai oleh perekonomian nasional adalah menyangkut
masih tingginya harga minyak serta berlanjutnya kebijakan moneter ketat di
tataran global. Menko Perekonomian berserta menteri yang berada di bidang
perekomian selaku otoritas kebijakan fiskal, dan pihak BI selaku otoritas
kebijakan moneter, harus jeli melihat gejala-gejala yang akan mengganggu
perekonomian nasional itu untuk mempertimbangkan kebijakan yang akan diambil
apabila gejala perbaikan ekonomi diharapkan berlanjut. Seperti berbagai paket
kebijakan yang telah dikeluarkan pada triwulan I 2006, harusnya sudah
dievaluasi awal, sudahkah berjalan efektif?
Jika tak diantisipasi dengan kebijakan secara cepat dan tepat serta
dilakukannya pengevaluasian awal berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan,
maka jelas akan berdampak bagi pertumbuhan ekonomi, dan ujung-ujungnya tentu
kinerja ekonomi nasional dianggap tidak berhasil. Efek lanjutannya adalah,
pemerintah yang berkuasa saat ini tentu akan dianggap gagal.
Penulis, Ketua Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengabdian Masyarakat (LP3M)
Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Optimisme Vs Pesimisme Penguatan Ekonomi